Asha tercengang menatap betapa estetiknya rumah yang ia kunjungi sekarang. Setelah di klarifikasi tadi, Cyra percaya bahwa ini bukan rumah Dosennya. Kalau rumah sendiri, 'kan bisa langsung masuk. Buktinya tadi tidak, masih ketuk pintu dan Nunggu dibukain kok. Cyra mengingat percakapan singkat sepuluh menit yang lalu. "Ini benar rumah, Bapak?" "Bukan." "Terus kenapa kita ke sini?" Zaffar meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. "Diam saja kamu." Mau tidak mau Cyra menurut saja. Ia sekarang tengah berdiri di samping Zaffar yang sedang asik memainkan ponsel, sampai saat ini Cyra tidak tahu siapa yang mereka tunggu. "Pak, masih lama?" bisik Cyra. "Sabar." Cyra mencebikkan bibirnya, ia sebal juga. Pasalnya ia merasa tidak enak, masuk ke rumah orang dengan pakaian basah. Di tambah, i

