Diingatkan dan berusaha mengingat, perlahan Cyra dapat mengingatnya meski samar-samar. Ia semakin jijik melihat dirinya sendiri. Cyra sesekali memukul kepalanya, ia tidak peduli kepalanya yang kian terasa berat di bawah guyuran hujan deras. Ia tidak mau ingatan itu bersarang di otaknya terlalu lama. Cyra mengasihani dirinya sendiri karena terlalu lemah hingga tidak bisa melawan. Andai ia tidak kalah oleh dinginnya ruangan itu, dirinya akan tetap utuh sampai sekarang. Walaupun nantinya ia akan ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa, ia lebih rela. Nasi kini sudah menjadi bubur, tidak ada yang bisa ia lakukan lagi sekarang. Antara terima dan tidak terima, ia dipaksa harus terima. "Saya pikir, saya salah lihat." Cyra mendongak begitu ia mendengar suara orang berbicara di dekatnya di antar

