Nadine berlari menyusuri lorong rumah sakit, setelah hampir satu jam dirinya menangisi keadaan yang menyudutkan hatinya, ia mendapat telepon dari mertuanya kalau Daniel masuk rumah sakit, suaminya menabrak pembatas jalan dan masuk kedalam jurang. Nadine memaksakan kakinya untuk berjalan lebih cepat, tubuhnya bergetar, entah sudah berapa kali ia tersandung kakinya sendiri, entah sudah berapa banyak kata maaf yang keluar dari mulutnya setelah menabrak orang. Air matanya mengalir begitu deras, bahkan lebih deras saat Dimas meng-ikhlaskannya. Nadine mengibas-kibaskan tangannya yang sedari tadi terasa kebas. Ia menarik nafas dalam sebelum melanjutkan langkahnya menemui suaminya “mami….” Nadine menghampiri mertuanya, memeluknya erat, bahakn tubuhnya lebih bergetar dari sebelumnya. “kamu y

