Hari ini Daniel tengah menyaksikan adegan paling krusial dalam hidupnya, selain akadnya sendiri, menjadi saksi pernikahan adik satu-satunya adalah momen yang mengharukan dalam hidupnya.
Rasanya terlalu cepat adik kecilnya itu menjadi milik orang lain, rasanya baru beberapa tahun yang lalu ia baku hantam dengan pria sialan yang berani menyakiti adiknya, rasanya terlalu sedikit momen yang ia ciptakan bersama adiknya.
Kini ia telah menjadi sosok yang baru, menjadi seorang istri dengan tanggung jawab baru pula. Ia melihat raut tegang mendominasi wajah Juan, seakan ia melihat dirinya dulu saat menikahi istrinya. Ia tau betul apa yang dirasakan oleh calon adik iparnya tapi semua terbayar lunas saat kata 'sah' terucapkan oleh para saksi.
Senyum bahagia terpancarakan seluruh orang yang hadir dalam prosesi akad, apalagi saat mempelai wanita keluar dari tempat persembunyiannya diringi dua wanita cantik yang selalu memberikan senyum tulus untuknya, siapalagi kalau bukan Nadine dan maminya, ketiga bidadari itu tampak anggun meski perbedaaan usia mereka.
Daniel Mengamati wajah sendu istrinya yang selalu memberikan pandangan menyejukkan. mata Nadine sedikit bengkak meskipun make up bisa sedikit menyamarkannya tapi mata Daniel terlalu tajam untuk menilai perbedaan pada tubuh sang istri.
Flashback on
“Aku ngetik nama kamu di Internet, sosmed. Isinya berita miring semua, bahkan kamu… kamu… di pegang-pegang banyak perempuan.”Nadine menundukkan kepalanya takut jika suaminya murka
Shit!
“Mas jangan mengumpat,” ucap Nadine setengah kaget.
“Kamu kekurangan pekerjaan sampai harus membaca berita begitu hah?”
“Lalu aku harus apa mas??Aku itu istrimu, aku ingin tau suami aku itu seperti apa. Aku ingin mengenali kamu seperti apa di mata orang lain, keluarganya, hal yang dia suka ataupun hal yang tidak dia suka, kamu sendiri menutup rapat itu semua dari aku mas, terkadang keluarga kamu menanyakan tentang kamu aku gak tau harus menjawab dengan apa, belum lagi sepupu kamu itu gencar memanas-manasi aku dengan menyombongkan dirinya lebih mengetahui dirimu mas, dari pada aku istri kamu.”
“Tapi tidak dengan media Nadine, kamu tau media itu terkadang melebih-lebihkan sesuatu agar bacaan mereka laku di pasar.”
“Lalu aku harus menjawab apa mas? ketika keluarga kamu bertanya? d Rasanya harga diriku sebagai istrimu tidak ada mas, bahkan aku baru mengetahui kalau kamu itu kembar dari sepupumu Siska itu, aku merasa tak berguna, keluarga mu hangat tapi terkadang bisa membakar ku. Aku tau, mas kamu menganggap pernikahan ini hanya main-main tapi setidaknya hargai sedikit saja aku sebagai istrimu.”
“Rendahkan suaramu Nadine! ini bukan di rumah, semua bisa mendengar apa yang kau bilang, aku tak mau ada yang tau kalau rumah tangga ini udah berantakan sedari awal.”
Nadine tak lagi menjawab ucapan suaminya, rasanya percuma karena Daniel takkan mau mendengarkan apa maunya. Nadine memilih tidur karena waktu sudah hampir menunjukkan pagi sementara dirinya belum tertidur barang sedikitpun.
Nadine merasakan pelukan serta usapan hangat dari suaminya, tak hanya itu ia juga merasakan kalau suaminya mengecup puncak kepalnya, ingin ia berbalik mendekap suaminya, tapi ia urungkan.
“Maaf aku salah. Nadine, suami kamu ini bukan orang yang mempunyai masa lalu yang baik ia penuh kekurangan, bahkan masa lalu yang kelam, kalau kamu ingin bertanya, tanyakan padaku jika aku bisa menjawab maka akan ku jawab tapi jika tidak bisa maka bersabarlah, jangan terlalu mempercayai media ku mohon. Karena kedepannya aku tak tau apa yang akan lebih dari berita yang kamu baca sekarang. Dan aku mohon jangan membahas tentang status pernikahan kita karena aku mulai nayaman dengan kamu, waktu kamu menghindar aku merasa kehilangan." Nadine tak menjawab, perempuan itu hanya berbalik membalas pelukan suaminya.
flashback off.
“mas? Kamu melamun?” tegur Nadine menyadarkan lamunan suaminya.
“Hah? kenapa? Sejak kapan kamu duduk di sini?”
“Dari tadi, kamu jangan melamun terus, Nasya sama suaminya mau sungkem, kamu nggak mau dampingi?" Daniel mengedarkan pandangannya.
“Aku ke sana sebentar yah.”
“Iya, jangan nangis nanti, malu. Kamu udah gede,” ucap Nadine menahan senyumnya.
Daniel mengangguk pelan, tak lupa mengecup lembut puncak kepala Nadine, entah sejak kapan ia mulai kecanduan mengecup istrinya.
wajahnya Nadine memanas disaat hampir seluruh tamu melihat tingkah suaminya tentu saja hal itu tak luput dari kedua orang tuanya, dan lihatlah senyum menggoda dari Raisya untuknya.
“Ciee yang masih malu-malu dicium suami sendiri, ngomong-ngomong udah ada kabar soal ponakan aku belum mba?”
“Apaan sih kamu dek, eh kakak lihat tadi kamu manja-manjaan sama cowo, jangan ganjen kamu yah!” elak nadine dengan mengubah topik pembicaraan.
“Sama cowo sendiri yah gak apa lah mbak, sama suami orang baru nggak boleh”
“Jangan lama-lama pacaran banyakin dosa, bila perlu besok langsung sah.”
“Mana bisa begitu. Semua butuh proses bu dokter, eh mba belum kenalan kan sama cowo Ara?” tanya Ara setelah melambaikan tangannya pada laki-laki yang sedang berjalan ke arah mereka.
“Sayang, kenalin kakak aku, pasti mba Nadine lupa sama kamu. Maklum pas nikahnya kemarin kan tamunya banyak banget.”
“Zaki mbak.” pemuda tersebut mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan, namun Nadine segera menyatukan tangannya tanpa menjawab jabatan tangan selain mahramnya.
“Nadine, saya kakak nya Ara. maaf tapi saya masih jaga wudhu” ucap Nadine dengan seulas senyum
“Gak masalah mba, Ara banyak cerita tentang sosok kakaknya yang salehah,” jawab Zaki tanpa merasa tersinggung.
“Kalau gitu mba nemuin mama sama papa dulu yah, kalian nikmatin acaranya yah, ajakin Zaki makan Ra, mba tinggal dulu yah," pamit Nadine pada kedua pasang kekasih tersebut, menuju orang tuanya yang duduk diantara para tamu.
“Mama sama pappa sampai jam berapa tadi?” tanya Nadine mencium tangan kedua orang tuanya.
“Jam 9 nang, kami kena macet hari jumat kan masih hari sekolah, alamat lah ngalah sama motor-motor nang,” jawab mama sambil merapikan make up Nadine yang sedikit berantakan.
“Gimana hubungan kamu dengan Daniel Nadine?” Tanya Masyu.
“Alhamdulillah baik pa meskipun kami masih proses perkenalan, mas Daniel juga memperbolehkan Nadine kembali bekerja di rumah sakit, jadi Nadine sekarang sudah mempunyai kesibukan kembali.”
“Bagus lah papa senang mendengarnya, semoga rumah tangga kalian tetap baik-baik saja selamanya.”
“Tapi kamu jangan lupa kewajiban mu sebagai istri yah nang, sekarang yang bertanggung jawab menjaga kamu itu Daniel bukan kami lagi.”
“Iya mah, Nadine ingat kok. Pah, ma kita menemui mempelai yok, sebentar lagi acara tepung tawar.”
“Ayok lah papa sama mama belum jumpa sama mertuamu.”
**
“Papa sama mama sudah makan?” Tanya daniel ramah pada kedua mertuanya sambil mencium tangan keduanya.
“Sudah, kami tadi langsung makan, bagaimana kabar kamu Daniel?"
“Baik pa Alhamdulillah, papa sama Mama sehat kanM” Tanya Daniel merangkul pinggang istrinya.
“Alhamdulillah kami baik, sering lah datang berkunjung mamanya Nadine sudah rindu pada putri sulungnya.” Praktis Masyu mendapat pelototan dari Rania karena dengan seenaknya menggunakan namanya.
“Iya pah, nanti kami cari waktu, Nadine sedang sibuk-sibuknya menjadi dokter kembali.”
***
“Mas, mau aku ambilin minum atau makan mas? Mas belum sarapan dari pagi, ini udah mau siang.”
“Nanti aja, setelah acara tepung tawar, kenapa? Kamu udah lapar?"
"Belum, tadi udah ganjel pakai buah juga." Daniel mengangguk pelan, menarik tangan Nadine ke pangkuannya, digenggamnya tangan istrinya itu, yang membuat Nadine menoleh ke arah suaminya.
“Aku tidak begitu dekat dengan Nasya, meski begitu ia tetap bermanja pada diriku. Aku pikir aku akan mudah merelakan dia pada suaminya, nyatanya sebagian hatiku belum bisa menerimanya."
"Semua laki-laki normal akan merasakan hal itu juga, sebelum kita menikah papa harus berkali-kali mensugesti dirinya sendiri kalau pilihannya sudah tepat. Aku tidak membandingkan mas dengan papa, tapi mencari contoh yang dekat aku tidak pernah mengenal dekat laki-laki selain papa." Pandangan keduanya bertemu, dan saling melempar senyum, ada perasaan hangat setiap kali melihat senyum indah milik istrinya.
“Mata kamu bengkak, pasti gara-gara tadi malam, maafin aku yah.” Pandangan keduanya saling mengunci satu sama lain hingga,
Krauk… krauk….
“Maaf.” Nadine menunduk malu bisa-bisanya perutnya berbunyi ketika seperti ini.
Daniel menahan senyumnya dan berusaha untuk tak terpengaruh melihat wajah malu istrinya yang menggemaskan. “Kita makan yuk, kasian cacing di perut kamu udah demo.”
“Tapi, tepung tawarnya?”
“Tidak masalah, yang tua-tua masih banyak.” Daniel menarik tangan istrinya menuju meja hidangan.
“Mas tadi pagi juga belum sarapan, mas mau sekalian Nadine ambilkan?”
“Kamu saja, aku belum lapar,” ucap Daniel menoleh sebentar, lalu kembali fokus pada ponselnya.
***
Sebenarnya Nadine ingin protes ketika fokus suaminya hanya pada ponselnya, meski tidak mengabaikan dirinya, laki-laki itu masih tetap menggubris setiap ucapannya meski seadanya. hari ini pernikahan adik nya tapi sepertinya pekerjaannya tidak bisa ia tinggalkan.
“Makan bareng Nadine aja buka mulutnya mas” Daniel menerima suapan dari Nadine, mereka makan di satu piring yang sama meski fokusnya masih pada ponselnya dan melayang kan sesekali senyum pada istrinya.
“Masih berasa pengantin baru nih ceritanya?” celetuk Yoga, yang baru bergabung bersama mereka.
“jomblo dilarang sirik,” ucap Daniel tak perduli dan melanjutkan makannya seperti memanasi sahabatnya itu.
“Kenalin aku Yoga sahabatnya bocah tengik satu ini, kita belum pernah bertemu, bahkan ketika kalian menikah aku tidak hadir berkat seseorang," ucap Yoga memperkenalkan diri.
"Saya Nadine, maaf tapi tangan saya sedang kotor," ucap Nadine tak enak hati lagi-lagi entah berapa kali ia menolak berjabat tangan.
“Kamu ketemu di mana perempuan seperti Nadine, Daniel? Tidak adil sekali laki-laki b******n seperti kau mendapat perempuan seperti Nadine, ngomong-ngomong kamu punya adik perempuan Nadine? bisa kenal kan pada ku?”
“Tuhan tidak pernah salah dalam memberi apapun kau jangan kecewa aku mendapatkan Nadine. saran ku sebaiknya kau move on dulu dari adik ku baru mencari perempuan lain, noh lihat Nasya saja udah bahagia, lah kau masih beta jomblo."
“Sialan kau Daniel, tapi kau benar juga, apa aku kacaukan saja pernikahan mereka? kenapa aku saja yang sekarang tidak memiliki siapapun? akh melihat kalian berdua perutku pun lapar, aku makan dulu, bye Nadine, kau bisa menghubungi ku kalau bosan dengan b*****h itu.”
"Sialan kau Yog." meski begitu Daniel tidak benar-benar marah ia tahu Yoga hanya bercanda, begitu pun dengan Nadine, ia tidak memikirkan ucapan Yoga.
“Jadi, Yoga sama Nasya pernah pacaran?" tanya Nadine pada setengah tak percaya.
“Pernah, cukup lama malah tapi yah mereka gak jodoh pisah gitu aja,” jawab Daniel santai dan melanjutkan makannya yang sempat tertunda kedatangan sahabatnya.