BAB 1:SEKAR DAN LANGKAH MENUJU KOTA
Langit sore mulai meredup ketika Sekar duduk di tangga kayu depan rumahnya yang sederhana. Hembusan angin membawa aroma tanah basah dari sawah yang baru dipanen. Gadis 23 tahun itu memeluk lututnya sambil menatap jalan tanah di depan rumah, menunggu sesuatu—atau mungkin seseorang—yang bisa mengubah hidupnya.
"Bu, aku jadi berangkat besok ya," kata Sekar pelan, hampir seperti bisikan, kepada ibunya, Atun, yang sedang menjemur pakaian tak jauh dari sana.
Atun menoleh, mengusap keringat di pelipis. “Kota itu bukan tempat mainan, Sekar. Tapi kalau memang kamu yakin, Ibu cuma bisa berdoa.”
Sekar tersenyum, getir. Bukan semata ingin memperbaiki hidup. Tapi ada rasa penasaran yang selama ini ia pendam. Tentang dunia luar, tentang cinta, tentang kehidupan yang tak sekadar ladang dan kebun. Ayahnya, Taryono, hanya mengangguk saat mendengar kabar itu. Lelaki tua yang sudah letih oleh kerasnya hidup di desa. Ia tahu, Sekar butuh lebih dari sekadar sawah dan langit luas.
Esoknya, dengan koper kecil dan mimpi besar, Sekar menaiki bus menuju Jakarta. Kota yang selama ini hanya ia lihat dari layar televisi. Di pikirannya, ia akan tinggal bersama Tante Mira, bekerja, menabung, dan mungkin... jatuh cinta.
Namun tak satu pun dari rencananya berjalan sesuai harapan. Karena sejak langkah pertama di terminal, ada mata yang mengawasinya. Dan hidupnya akan berubah—dengan cara yang tak pernah ia bayangkan.
---