Rifki & Cintanya

1872 Kata
Airmata kian deras membasahi pipi saat merasakan sakit yang teramat pada jantung. Bukan lagi tentang rasa, tapi tentang kesucian yang direnggut paksa hingga meninggalkan noda. Rasa itu ada, cinta itu nyata, tapi harapan telah sirna saat cinta terhalang noda. Aisyah yakin jika Rifki tidak akan sudi untuk tetap melanjutkan pernikahan dengan dirinya yang sudah tidak memiliki kebanggaan. Hidupnya hancur, mimpinya lebur. Angan indah untuk merajut rumah tangga bersama sang kekasih hilang saat diri terasa hina. Satu tahun Aisyah mengumpulkan serpihan hatinya agar kembali utuh. Empat bulan Aisyah merasakan kebahagiaan sempurna. Dan sekarang, wanita itu harus kembali merasakan pahit karena sepertinya nestapa tak lagi sungkan menyapa. Tidak bisa dijelaskan rasanya bagaimana, karena seolah semua percuma tanpa bisa berbuat apa-apa. Hatinya kembali hancur, kehormatannya sebagai wanita tak lagi ada setelah di ambil paksa. Airmata hanyalah sarana dalam menyalurkan rasa kecewa pada semesta yang seolah bahagia melihat ia menderita. "Apa kamu sudah puas, Dandi?" tanya wanita yang masih dalam keadaan polos dengan nada bergetar. Lelah menghadapi manusia seperti Dandi. Bahasa manusia tidak mampu membuatnya mengerti akan sebuah perasaan yang bukanlah mainan. Hidup yang bergelimang harta membuatnya lupa cara memanusiakan manusia. Hingga baginya sebuah raga hanyalah bahan untuknya tertawa. "Aku tidak akan pernah puas, Sayang. Kamu lebih nikmat dari yang aku bayangkan," jawab Dandi dengan mengecup bahu polos wanita yang sebenarnya masih sangat ia cintai. "Kamu laki-laki paling jahat yang pernah aku kenal, Dandi. Laki-laki egois yang menganggap semua hanyalah mainan. Tolong lepaskan aku, atau lebih baik bunuh saja aku untuk memuaskan keinginan mu." Airmatanya kembali mengalir deras dengan tergugu menahan sakit yang teramat. Hidupnya sudah tidak lagi memiliki harapan untuk bahagia jika terus ia paksakan. Meninggalkan dunia adalah pilihan terbaik saat diri merasa hampa. Untuk apa hidup jika penuh dengan nestapa. "Untuk mendapatkan mu aku sudah merendahkan hargi diriku, menurunkan egoku juga mengeluarkan uang. Aku tidak akan menyia-nyiakan semua hal yang telah aku lakukan jika harus melepaskanmu. Jika bisa membunuhmu maka sudah kulakukan dari kemarin. Aku hanya ingin kita kembali menjalin kasih. Aku tidak mungkin melakukan sejauh ini jika kamu menuruti keinginanku. Sikapmu melukai harga diriku. Kamu menolak ku dua kali dan menerima lamaran si miskin. Salahkan keangkuhan mu untuk semua yang terjadi padamu. Pergilah sejauh mungkin jika kamu ingin melihat semua keluargamu menanggung akibatnya." Aisyah bungkam, tidak tahu harus menjawab apalagi. Dandi terlalu berkuasa dari dirinya yang putus asa. Perasaan tak bisa dipaksakan karena hanya akan membuat terluka. Namun, Dandi tidak mengerti akan hal itu. Baginya semua harus ia dapatkan tanpa peduli apa yang ia lakukan. *** Wahai cinta, mengapa kau menyapa jika hanya untuk menggores luka. Mengapa kau datang jika hanya sebagai penentang. Semesta tak memberinya bahagia dengan luka tak kasat mata, membuat jiwa dipenuhi dengan luka. Aisyah merasa langkahnya berat dan menyakitkan saat akan menemui sang kekasih yang sebentar lagi akan membencinya. Seperti duri yang menusuk setiap ayunan kaki yang terus membuat luka. Disaat orang lain memiliki pilihan dalam menentukan hidup, Aisyah justru terjerumus pada cinta yang salah dari seorang laki-laki. "Kamu yakin, Ais?" tanya Rani tetangga sekaligus sahabat Aisyah. Aisyah meminta Rani menemani untuk bertemu dengan Rifki di rumahnya. Aisyah akan memutuskan pertunangan mereka karena keadaan, bukan kemauan sebelum keluarga Dandi datang ke rumahnya. Rifki tinggal sendiri di rumahnya yang tidak terlalu besar karena Rifki merupakan yatim piatu. "Mau tidak mau, Ran. Aku tidak mau menyusahkan semua orang atas perbuatan laki-laki sialan itu. Cukup aku yang menderita," jawab Aisyah dengan menarik napas berusaha tegar walaupun rasanya sangat menyakitkan. "Yang sabar, Ais. Semoga semuanya segera berakhir." "Ya, Dandi akan mengakhiri semuanya hanya jika ia mendapatkan apa yang ia inginkan." Mereka meneruskan langkah yang tinggal sedikit lagi. Pintu rumah Rifki terbuka seolah sudah menyambut kedatangan mereka. Aisyah sempat menghentikan langkah, airmata menetes kembali mengingat bayangan indah akan hancur setelah ini. Wanita itu menarik napas dalam dan menghapus air yang tiba-tiba keluar tanpa izin. Rani menggenggam tangan dan mengusap bahunya memberi semangat . Rani mengerti beratnya menjadi Aisyah walaupun tak merasakan. "Hei, kok enggak ngabarin mau ke sini? Abis nangis ya?" tanya Rifki saat mengetahui siapa yang datang dengan mata sembab walaupun sudah berusaha ditutupi dengan make-up. Cukup kaget karena ini pertama kali Aisyah datang ke rumahnya. Rifki membawa kedua wanita yang ia sayangi menuju ruang tamu kecil du rumahnya. Rani juga sahabatnya, ia menyayangi gadis itu seperti pada adiknya sendiri. "Langsung aja, Ki. Ada yang mau aku omongin sama kamu," balas Aisyah langsung. "Aku ambil minum dulu ya, tunggu sebentar." Tanpa menunggu jawaban Rifki langsung pergi ke dapur untuk membuat minuman. Perasaannya tidak enak, Rifki takut terjadi apa-apa pada sang kekasih. Ia harus tenang sebelum mendengar apa yang akan disampaikan Aisyah. Kebetulan Rifki sedang membuat es mangga kweni yang di campur dengan gula merah. "Minum dulu, kebetulan aku baru bikin. Aku tambahin es batu biar enak." "Aku mau ngomong serius, Ki. Aku minta maaf," balas Aisyah tidak menghiraukan tawaran Rifki. "Aku enggak mau denger kabar buruk, Ais. Perasaan aku enggak enak dari semalam," balas Rifki dengan menatap mata sang kekasih. "Tapi ini memang kabar buruk. Maaf aku enggak bisa nikah sama kamu." Bagai tersambar petir di siang hari, perkataan Aisyah tidak bisa diterima oleh Rifki. Pertanyaan kenapa dan mengapa seketika memenuhi otaknya. Mereka sudah sepakat dan saling mencintai. Walaupun pernikahan hanya sederhana, tapi itu kemauan Aisyah, dan Rifki hanya akan menuruti semua keinginan wanitanya. "Kenapa, Ais? Kenapa? Apa yang buat kita enggak bisa menikah? Kamu udah setuju. Apa alasannya?" Rasanya tidak terima mendengar pemutusan hubungan yang sudah dibicarakan oleh dua keluarga berakhir tanpa alasan pasti. Rifki sudah bahagia, harinya sudah semakin cerah setelah mendung yang selalu ada. Melihat Aisyah menangis tergugu Rifki yakin pasti ada masalah dan bukan atas kemauan dirinya. Rani yang sedari tadi hanya diam dan melihat Aisyah tidak bisa bicara mengambil alih. Rani akan menjelaskan secara garis besar cerita yang sudah Aisyah sampaikan padanya. "Aku aja yang ngomong, Ais. Gini, Ki. Semalam Aisyah diculik terus dinodai sama Dandi. Bukan cuma itu, b******n itu juga merekam aksinya yang cuma nunjukin wajah, Aisyah. Dandi juga mengancam akan menyebarkan video itu ke warga kalau sampai Aisyah kembali menolaknya dan meneruskan pernikahan sama kamu." Mendengar penjelasan Rani membuat Rifki segera bangkit dan memeluk Aisyah. Bukan merasa jijik karena perempuan itu sudah tidak suci. Dandi justru tidak tega dan merasa bersalah karena tidak bisa menjaganya. Rifki menangis dengan mengecup kepala sang kekasih. Tidak menyangka wanita yang dicintainya mengalami hal berat, karena dirinya yang tidak bisa menjemput saat pulang kerja. "Maafin aku, Sayang. Aku enggak bisa jagain kamu," ujar Rifki dengan mengeratkan pelukannya. "Aku kotor, Ki. Aku enggak pantas sama kamu," racau Aisyah berusaha melepaskan pelukan laki-laki yang dicintainya. "Hey.. Hey.. Tenang dulu, Ais. Kamu enggak kotor, enggak ada perempuan kotor di dunia ini. Kita akan tetap menikah apapun keadaan kamu." Aisyah diam mendengar perkataan Rifki, begitu pun dengan Rani yang cukup terkejut. Bertanya apakah mereka tidak salah dengar jika Rifki tetap mau menerima Aisyah walaupun sudah ternoda. "Enggak, Ki. Kita enggak bisa menikah. Aku enggak pantas buat kamu, kamu bisa menikah dengan wanita lain. Aku harus menikah dengan laki-laki sialan itu." "Kita akan tetap menikah, Ais. Aku yang akan ke rumah Dandi dan memintanya menghapus video itu. Bila perlu kita lapor polisi biar dia jera." "Percuma, Ki. Dandi bisa membeli hukum dengan uangnya. Dia paling di penjara satu hari dengan jaminan. Sama kayak kasus dia yang menghilangkan nyawa anak Pak Sukarman warga desa sebelah," timpal Rani mengingatkan siapa Dandi. "Aku yang ke sana buat ngomong sama dia. Aku mau minta bapak buat nemenin. Kamu tenang ya, semuanya akan baik-baik aja. Jangan pernah anggap kamu kotor, kamu bersih. Kita bakalan tetap menikah." Aisyah tidak menjawab, ia hanya diam dengan masih sesenggukan menahan tangis. Semoga saja apa yang Rifki katakan menjadi kenyataan, walaupun ia ragu dan merasa tidak pantas. Rifki laki-laki baik dan bertanggungjawab, seharusnya ia bisa mendapatkan yang lebih baik dan tentunya suci. Salahkan dirinya yang egois walaupun hina tetap mendamba laki-laki seperti Rifki. Sejujurnya Aisyah tidak percaya dengan perkataan Rifki yang tetap menerimanya walaupun sudah ternoda. Aisyah hanya berpasrah jika semua itu hanya sandiwara, yang terpenting ia sudah jujur tentang keadaannya yang sekarang. Rifki mengantarkan Aisyah dan Rani pulang, sekaligus Rifki ingin mengajak Sulaiman untuk ke rumah Dandi. Rifki akan meminta pada Dandi untuk menghapus rekaman video milik Aisyah. Rifki bukan berkata bohong dengan dia yang akan tetap menerima Aisyah walaupun dalam keadaan tak utuh. Rifki mencintai Aisyah bukan karena keperawanannya, tapi karena memang tulus dari hati. Tidak peduli Aisyah gadis atau bukan, yang penting wanita yang dicintainya tidak menjual diri. Kehormatannya hilang karena dipaksa, bukan sukarela atas dasar suka sama suka. "Bapak bisa antar Iki ke rumah, Dandi? Kita bicarakan masalah ini." "Apakah kamu benar mau menerima Aisyah apa adanya, Ki? Bapak juga takut Dandi akan menyulitkan kamu jika terus bersama anak Bapak." Sulaiman juga menginginkan Rifki menjadi menantunya, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa jika uang sudah berbicara. Percuma dan hanya akan menghabiskan tenaga dan juga pikiran. "InsyaAllah enggak, Pak. Kita coba dulu." Dua lelaki berbeda usia itu berangkat bersama menggunakan motor Rifki. Tidak akan mudah mengingat bagaimana sifat Dandi, tapi mereka harus mencoba. "Ada apa kalian kemari?" tanya Tibe dengan bertolak pinggang. "Kami ingin bertemu Dandi, Pak. Apakah Dandi ada di rumah?" tanya Rifki dengan tetap mempertahankan sikap sopan santunnya. "Jangan masuk, kalian di luar saja. Nanti saya panggilkan." Tibe langsung masuk untuk memanggil Dandi. Saat orang lain mempersilahkan tamunya masuk, berbeda dengan Tibe yang justru melarang karena takut sofa mahalnya kotor. Mereka tidak akan mampu mengganti biaya laundry jika sampai kotor. "Aku kira siapa? Ternyata manusia tidak penting dan calon bapak mertuaku. Ada apa?" tanya Dandi tanpa sopan santun pada Bapak wanita yang diinginkannya. "Langsung saja, Dandi. Saya sudah tahu semua yang kamu lakukan pada, Aisyah. Entah apa tujuan kamu, yang pasti saya sangat mencintai dia. Saya hanya meminta kamu agar tidak lagi mengganggu kekasih saya. Hapus rekaman video saat kamu melecehkan Aisyah, saya tidak akan membawa ini ke jalur hukum." Rifki langsung to do point menyampaikan apa yang harus ia katakan. Bukannya Rifki tidak marah, karena jika digambarkan saat ini perasaan Rifki seperti kobaran api yang siap melahap seseorang. Namun, Rifki tidak bisa berbuat apa-apa saat keluarga sang kekasih terancam jika ia melakukan sesuatu. Untuk mencari ketentraman bersama, lebih baik Rifki diam dengan menerima kenyataan. "Bapak mohon nak, Dandi. Lepaskan Aisyah karena mereka sebentar lagi akan menikah," mohon Sulaiman pada laki-laki yang tidak pernah ia terima sebagai menantunya. "Wow! Aku sangat terharu dengan kisah cinta kalian. Sayangnya aku tidak bisa melupakan bahkan ketagihan dengan tubuh seksi Aisyah yang sangat nikmat. Suaranya yang mendesah menahan nikmat tidak bisa ku lupakan. Apa kau ingin melihat bagaimana wajah Aisyah saat menahan nikmat?" tanya Dandi dengan sengaja mempermainkan Rifki. Mendengar perkataan Dandi dengan penuh bayangan membuat Rifki mengepalkan kedua tangannya. "b*****t! Aku sudah meminta padamu secara baik-baik, tapi memang kau binatang yang tidak mengerti bahasa manusia." Rifki marah dengan menggebrak meja. "Hey, Sialan! Siapa kau berani menggertak anakku. Pergi sebelum aku hancurkan kepalamu." Tibe membentak Rifki yang telah berani menggertak Dandi. Tibe tidak pernah mengizinkan siapapun menggertak anak Satu-satunya. "Kau dengar? Percuma kau kemari, karena aku akan tetap menikah dengan, Aisyah. Jika sampai kalian berani menolak ku lagi, jangan salahkan aku video Aisyah akan tersebar luas dan membuat keluarga kalian sengsara." Tidak bisa berbuat apa-apa Sulaiman mengajak Rifki pulang. Percuma berbicara dengan manusia yang mendewakan uang, karena semua bisa dibeli dengan uang oleh mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN