Saat hati membeku tak ada lagi kata rindu padanya yang selalu menunggu. Saat cinta telah sirna tak ada lagi gelora yang membara. Balas dendam terbaik adalah dengan cara diam melihat semua tingkah orang yang kita benci. Membisu adalah jalan untuk menghindari perdebatan yang tiada ujung. Wanita itu pernah mencintai dengan hebat sebelum cintanya berkhianat. Menahan setiap ego yang ingin ia salurkan demi menjaga cinta yang penuh keributan.
Ya, dulu Aisyah selalu menahan setiap amarah yang ingin ia luapkan saat masih begitu menjaga cintanya bersama Dandi. Kisah cinta yang terkadang terhalang jarak membuatnya harus menahan semua rindu dan cemburu agar hubungan mereka tetap baik-baik saja.
Namun, saat cintanya di khianati tidak ada maaf bagi seorang Dandi. Mengingat bagaimana dengan teganya laki-laki itu memutuskan Aisyah tanpa perasaan, dan lebih memilih wanita lain hanya demi nafsu, membuat hati Aisyah begitu terluka.
Cinta Dandi tidak sekuat seperti cinta yang dimilikinya. Orang lain akan menganggapnya bodoh saat harus berpisah dengan Dandi. Akan tetapi, baginya percintaan bukan hanya memakai hati, di sana harus ada juga logika yang ikut serta. Agar di saat suatu hal terjadi ada logika yang menengahi. Karena terkadang jika hanya memakai hati akan terlalu mudah untuk dibodohi.
***
Hari mendebarkan akhirnya tiba. Hari di mana akan terucap janji suci di hadapan sang Maha Pencipta yang akan disahkan oleh para saksi. Hari di mana Dandi akan mengambil alih tanggungjawab hidup Aisyah dari bapaknya.
Dandi sudah lebih dari siap. Laki-laki berwajah tampan itu mengalami gelisah yang membuatnya hanya memejamkan mata dalam waktu dua jam saja, setelah tadi malam ia sempat ditemani sebotol minuman dengan alkohol rendah untuk menghilangkan rasa gelisah. Bangun pada pukul empat pagi karena Ia tidak bisa tidur.
Waktu terus berputar hingga tiba saatnya mempelai laki-laki tiba. Dandi datang dengan gagah diapit kedua orang tuanya. Warga yang menjadi pengiring pengantin berbaris rapi di belakang dengan masing-masing membawa barang seserahan yang akan memenuhi isi rumah.
Untung saja halaman rumah Aisyah dan tetangganya luas, sehingga udara terasa cukup dan tidak membuat sesak. Tidak ada tradisi khusus karena Dandi tidak mau ribet. Hanya ada pengalungan bunga melati oleh Sari pada calon menantunya. Setelah itu Dandi diambil alih oleh Sari dan Sulaiman dibawa ke dalam tenda tempat ijab qabul dikumandangkan.
Dandi merasa gugup luar biasa yang ia sembunyikan dengan senyuman. Tangannya sampai mengeluarkan keringat dingin saking gugupnya. Dandi menarik napas sebentar, ia tidak menyangka rasanya akan segugup itu. Dandi baru tahu rasanya saat akan melafalkan ijab qabul semenegangkan itu. Kemarin-kemarin laki-laki itu masih dengan sombongnya berkata jika itu adalah hal mudah. Namun, sekarang ia merasakan perasaan yang tidak bisa ia jabarkan.
"Siapa yang akan menjadi saksi?" tanya penghulu saat semuanya telah siap.
"Ustadz Sukri dari pihak wanita. Ustadz Idris dari pihak laki-laki yang akan menjadi saksi," jawab Sulaiman menunjuk laki-laki berumur sebagai saksi pernikahan anaknya.
"Baik, sekarang kita mulai saja ijab qabul nya. Sebelumnya saya mau menunjukkan surat menyuratnya dulu. Karena dokumennya sudah lengkap sebagai syarat pernikahan, jadi setelah ijab qabul langsung bisa mendapatkan surat nikah yang bentuknya seperti ini. Siapa yang mau menikahkan?" tanya Penghulu pada Sulaiman.
"Saya sendiri, Pak."
"Baik, kalau begitu kita coba dulu ya."
Pak penghulu mencontohkan tata cara menikahkan dan cara Dandi menerimanya. Terlihat sepele memang, tapi ternyata hal itu sangat sulit saat praktek secara langsung. Lidah keduanya seolah kelu dengan tangan yang sedikit tremor saat akan menikahkan dan menerima. Hingga proses percobaan saja memerlukan tiga kali sebelum resmi.
***
Aisyah mengintip dari balik gorden, mendengarkan dengan seksama lafalan ijab qabul yang sedang dikumandangkan oleh Dandi. Perasaannya campur aduk lebih pada sedih. Seperti mimpi di siang hari, ia menikah dengan laki-laki yang dibenci dengan segala tingkah lakunya. Tidak bisa dipungkiri Dandi adalah idaman para wanita dalam segi apapun. Namun, hati tidak bisa dipaksakan apalagi setelah sakit yang digoreskan dengan sengaja.
"Saya terima nikah dan kawinnya Aisyah Khairunnisa binti Bapak Sulaiman dengan mas kawin satu unit mobil, satu set perhiasan emas, uang tunai sebesar dua puluh tiga juta rupiah dibayar tunai!"
"Sah!"
Saat para saksi mengatakan sah, saat itu pula airmata wanita yang memakai siger dengan kecantikan sempurna telah resmi menjadi istri seorang Dandi Pramana. Dengan hati-hati ia hapus air yang jatuh menggunakan spons make-up pemberian MUA yang menyulap wajahnya.
Mas kawin dari Dandi memang membuat masyarakat melotot, karena di kampung mereka baru Aisyah satu-satunya yang mendapatkan mas kawin sebanyak itu. Namun, semua itu tidak membuat Aisyah senang apalagi bangga.
"Sabar." Walaupun buka dirinya yang ada di posisi Aisyah, tapi Rani bisa merasakan bagaimana hancurnya hati Aisyah.
"Sudah waktunya keluar, Nak."
Sari mendatangi anaknya, mengusap pundaknya dengan airmata yang ikut mengalir. Sebagai ibu tentu tidak tega melihat anaknya tersiksa dari sebuah hubungan yang tidak sama perasaannya. Namun, tanpa harta ia tidak bisa berbuat apa-apa, hingga harga dirinya pun bisa dibeli oleh orang kaya.
"Jangan nangis, Bu. Ais gak apa-apa."
"Sabar, Nak."
Setelah sama-sama menarik napas untuk meredakan perasaan, mereka keluar dengan diiringi tembang dari lagu Sunda khas pengantin. MC wanita dengan suara lembut meminta para hadirin berdiri saat Aisyah datang. Mereka menaburkan bunga mengiringi jalan Aisyah menuju Dandi, yang kini telah resmi menjadi suaminya.
Dandi tersenyum dengan bangga melihat betapa cantik wanita yang kini menjadi istrinya. Tidak ada yang tahu bagaimana perasaan Dandi yang sekarang justru ingin menangis. Walaupun pengantinnya tanpa senyum, hal itu tidak mengurangi kecantikan sang istri dengan riasan khas pengantin Sunda.
"Di sambut Aa istrinya," perintah MC membuyarkan lamunan Dandi.
Dengan segera Dandi mengulurkan tangan kanannya untuk menyambut sang istri. Seperti pada sinetron karena Dandi harus menunggu terlebih dahulu sebelum Aisyah mengulurkan tangan menerima sambutannya. Perasaan yang campur aduk membuat Dandi tak bisa menahan senyum walaupun tanpa balas dari sang istri. Menyebut kata istri pada Aisyah membuat Dandi berusaha keras dalam menahan senyum kebahagiaan. Cintanya tulus walaupun ia sadar semua yang dilakukannya penuh dengan kesalahan. Dandi hanya percaya jika ia bisa membuat Aisyah kembali mencintainya seperti dulu.
Sedangkan Aisyah tidak berbuat apa-apa bahkan hanya untuk sekadar senyum. Apalagi saat wanita dengan make-up yang membuatnya menjadi sangat cantik, melihat senyum Dandi yang ia yakini sedang menghina dirinya yang hanya bisa pasrah dengan apa yang laki-laki itu lakukan. Aisyah semakin membenci Dandi dengan segala ang laki-laki itu lakukan.
"Silahkan cium tangan suaminya, Cantik."
Aisyah hany menuruti semua yang MC arahkan. Ia menyalami tangan Dandi walaupun penuh dengan keterpaksaan.
"Dengan tali kasih kalian bersatu, dengan cinta kalian menjadi suami istri secara resmi. Hidup tak melulu tentang harta. Rindu tak melulu tentang cinta. Kejujuran adalah hal yang utama, agar rumah tangga damai sentosa. Saat hati tengah berbunga, mintalah Tuhan untuk tetap menjaga. Saat jiwa sedang lara, ingatlah Tuhan selalu ada."
Syair dari MC saat Aisyah menyalami tangan Dandi, mencium dengan rasa yang tidak bisa dijelaskan. Airmata yang menetes tanpa permisi menempel pada tangan Dandi, yang bisa dirasakan oleh laki-laki itu.
Bukan tidak peduli, Dandi hanya sudah memantapkan hati. Rasanya tidak salah saat ia ingin mengejar kebahagiaannya sendiri, bersama wanita yang dicintai.
"Cium kening istrinya, A."
Dandi yang memang tidak suka diperintah melirik tajam pada MC yang sedari tadi memerintahkannya ini dan itu. Walaupun kesal tetap ia lakukan karena saat ini adalah hari bahagianya.