Aara dilanjutkan dengan penandatanganan berkas-berkas yang tadi telah dijelaskan oleh penghulu. Petugas dari KUA itu kembali memberikan wejangan pada sepasang manusia yang kini telah resmi menjadi suami istri. Orang lain yang melihat acara berpikir jika mereka berdua sangat bahagia, terutama Aisyah yang mendapatkan mahar yang begitu besar. Namun, pada kenyataannya harta tidak bisa membeli kebahagiaan seorang Aisyah Khairunnisa, karena hatinya tertawan pada laki-laki yang telah pergi.
Aisyah yang hanya memberikan senyum samar justru dianggap anggun oleh orang yang melihatnya. Sedangkan orang-orang yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi hanya bisa tersenyum samar dengan prihatin atas apa yang dirasakan oleh Aisyah. Setelah penandatangan dokumen selesai lanjut pada prosesi sungkem yang membuat suasana sedih.
“Ibu, terima kasih atas semua pengorbanan dan semua hal yang telah ibu lakukan kepadaku.
Maaf apabila selama ini belum bisa menjadi anak yang berbakti dan patuh. Saat ini aku bersimpuh di pangkuanmu sebagai tanda bakti atas segala pengorbananmu yang sangat mulia.Izinkan aku untuk mengarungi kehidupan rumah tangga bersama pendamping yang sudah disiapkan Allah menjadi jodoh terbaikku. Doakan agar dapat mengarungi bahtera rumah tangga dan menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah.”
"Silahkan bergeser ke sebelah, Aa, Teteh. Untuk permohonan maaf pada ayahanda tercinta yang telah dengan rela mengorbankan harinya demi ananda tercinta."
Aisyah merasa tidak sanggup walaupun hanya untuk bergeser. Tubuhnya seperti jelly yang sangat lentur sehingga tak mampu tegak. Napasnya sesak akibat tangis yang begitu hebat.
"Ayah, terima kasih telah merawat Ananda hingga hari ini. Terima kasih telah menafkahi kami sekeluarga dengan nafkah yang baik. Terima kasih telah menjadi Ayah yang terbaik untukku dan telah memberikan pendidikan terbaik untukku. Ananda mohon maaf apabila selalu merepotkan Ayah dan belum bisa menjadi putri yang baik dan membanggakan. Ananda mohon izin untuk memulai hidup baru bersama orang yang telah Ananda pilih sebagai pasangan sehidup semati.
Doakan kami menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah dan dikaruniai keturunan yang saleh dan salehah serta membanggakan.”
Aisyah dengan hatinya yang luka tidak memikirkan riasannya yang menjadi berantakan karena menangis tanpa ditahan lagi. Bukan hanya meminta maaf pada kedua orang tua layaknya sebagai anak yang tanggung jawabnya sudah diambil oleh sang suami. Aisyah lebih merasa bersalah pada keadaan karena bukan hanya dirinya yang terluka, tapi kedua orangtuanya juga. Bagaimanapun memiliki besan seperti keluarga Tibe yang selalu menghina keluarga mereka akan menjadi tekanan batin bagi kedua orangtuanya.
Lama sekali Aisyah menangis saat sungkem pada orangtuanya, hingga MC kehabisan kata-kata karena melebihi narasi yang sudah ia buat.
Tiba saatnya mereka bertukar posisi untuk meminta restu pada mertua masing-masing. Raut wajah Tibe dan Tini terlihat biasa saja, karena memang mereka yang sudah tidak menyukai Aisyah. Jika anaknya bisa dicegah, sudah bisa dipastikan mereka tidak akan pernah mau memberikan restu untuk pernikahan itu. Namun, kembali lagi semua demi anak kesayangan mereka, hingga mereka harus menerima Aisyah sebagai menantu. Melihat penampilan Aisyah yang sudah kacau Rani meminta untuk narasinya dilangsungkan saja.
“Ibu, Ayah. Ini adalah kali pertama kami bersimpuh di pangkuanmu dan resmi menjadi putri dan putra juga bagian dari keluargamu. Ananda memohon doa restu dari Ibu dan dukungannya agar kami senantiasa melangkah dalam kebenaran. Tolong ingatkan dan bimbing kami jika melangkah menuju jurang kesalahan. Karena pada hari ini kami telah berikrar untuk mengarungi kehidupan rumah tangga dan menjalankan ibadah sepanjang hidup. Ibu, Ayah beritahu kami dengan budaya keluargamu, ajari kami dengan adat istiadatmu, dan ajak kami untuk bisa beradaptasi dalam keluarga besarmu. Dan tak lupa doakan kami agar bisa menggapai keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.”
Dandi yang meminta maaf pada orang tua Aisyah yang juga sedih. Laki-laki itu meminta maaf dengan tulus pada kedua mertuanya. Sepasang paruh baya itu hanya diam tanpa bisa berkata apa pun, karena rasanya percuma setelah semua yang terjadi. Hanya doa yang mereka berikan untuk kebaikan anak dan menantunya nanti.
Bukan hanya pengantin memang yang ikut bersedih, melainkan banyak dari tamu undangan yang ikut merasakannya. Apalagi saat melihat tangis Aisyah yang begitu pilu membuat suasana semakin syahdu.
Dari sekian orang yang hadir dengan rasa sedih atas acara sungkeman, ada dua orang yang sangat khawatir melihat kondisi Aisyah, yaitu Rani dan MUA yang baru menyadari riasan Aisyah yang sudah sangat berantakan. Make-up yang luntur akibat airmata yang tiada henti, bahkan membanjiri wajah. Mata yang sembab, dan siger yang sedikit miring, membuat pengantin seperti terkena badai. Yakinlah mereka harus merombak ulang riasan Aisyah yang sudah tidak bisa tertolong dengan hanya retouch saja.
"Baik, terima kasih sekali lagi untuk bapak dan ibu yang sudah memberikan restu sekaligus maaf untuk kedua mempelai yang sedang berbahagia. Hadirin sekalian, acara berikutnya adalah tari pengantin. Namun, harus kita tunda sejenak karena pengantin harus mengganti kostum agar lebih luwes. Selama menunggu pengantin berganti kostum dipersilahkan untuk para tamu menikmati hidangan dan hiburan yang sudah tersedia."
Itu hanyalah alasan yang diperintahkan oleh Rani pada MC. Tidak mungkin rasanya melanjutkan acara dengan penampilan Aisyah yang berantakan. Acara tari pengantin sebenarnya tidak ada dalam daftar yang sudah disusun. Itu hanya ide spontan demi menyelamatkan penampilan. Beruntung Rani dengan segala kesigapan dan mengarahkan para bridesmaid dengan waktu yang sangat terbatas.
Jika ditanya siapa orang yang paling sibuk dalam acara tersebut sudah pasti Rani. Rani tidak ingin melihat sahabatnya malu, hingga ia harus dengan cepat menemukan ide saat waktu tidak memungkinkan.
Setelah pemberitahuan dari MC Rani bergegas menuntun Aisyah untuk kembali di rias. Berjalan dengan lemas yang diiringi tangis. Bukan seperti tangis pengantin, tapi lebih seperti tangis kehilangan membuat sebagian orang bingung. Namun, masyarakat tetaplah pada pemikiran yang hanya melihat hanya dari materi, hingga tetap berpikir jika itu adalah tangis bahagia bahkan mungkin saking bahagianya, hingga tangis Aisyah begitu pilu.
"Pantesan bisa dapetin A Dandi, perasaan Teh Ais lembut banget sih. Nangisnya sampe begini. MC nya juga bikin narasi sedih banget, udah tau kalau ada sangkut paut sama orang tua tuh kitanya pasti mewek."
Dengan gerak cepat untuk merapikan kembali penampilan Aisyah sang MUA terus mengoceh, bukan ocehan marah, melainkan kagum pada narasi dan kelembutan hati Aisyah hingga menangis tanpa memikirkan penampilan di hari bahagianya.
"Gaunnya mau pake yang mana dulu, Teh?" tanya MUA satunya lagi menunjukkan dua gaun yang seharusnya di pakai saat resepsi nanti.
Dalam daftar acara, setelah akad nikah dilanjutkan dengan prosesi ala adat Sunda lainnya. Seperti tarik bekakak, Kidung pengantin yang artinya penyerahan anak perempuan kepada laki-laki yang sudah resmi menjadi suaminya dengan cara digendong. Namun, karena keadaan tidak memungkinkan, jadi acara tersebut dibatalkan dan diganti dengan tari pengantin yang entah bagaimana, karena itu adalah ide spontan dari Rani demi menyelamatkan wajah sahabatnya. Sedikit bangga dengan otak cerdasnya yang selalu bisa digunakan pada saat-saat darurat.