Rani sedang memikirkan tentang ide yang dibuatnya sendiri. Bagaimana tari pengantin itu? Seperti apa caranya. Karena jika wedding dance harusnya diadakan pada malam hari, bukan siang hari seperti ini.
Rani memilihkan gaun ala India sebagai gaun untuk acara yang dibuatnya. Seketika ide muncul saat melihat gaun berwarna merah tersebut. Ya, Rani akan meminta Aisyah dan Dandi untuk berdansa ala India, tidak peduli ini siang hari, yang penting acaranya meriah dengan bantuan para bridesmaid yang memang masih tahap ABG, jadi mereka tidak akan malu saat akan menari.
"Pake baju India, Teh."
Titah Rani pada MUA. Percuma bertanya pada Aisyah, karena sahabatnya itu tidak akan mau memilih dan hanya akan menurut.
"Dandi sini," panggil Rani saat keluar kamar dan melihat Dandi sedang memainkan ponselnya.
"Males, mau ngapain juga?" tanya Dandi dengan mata yang tetap fokus pada ponsel.
"Ini buat kelangsungan acara kamu ya, jadi kamu harus nurut. Sekarang ganti baju sana," perintah Rani yang seperti tidak didengar oleh Dandi.
Mendengar jika semua demi kelancaran acaranya mau tidak mau Dandi menurut apa yang diperintahkan oleh Rani. Sebenarnya ia malas jika harus memakai pakaian ala India yang lumayan berat menurutnya. Apalagi ia harus memakai turban yang ada mutiara-mutiaranya. Sungguh rasanya ia tidak percaya diri walaupun ketampanannya tidak berubah.
Setelah memastikan Dandi pergi berganti baju, Rani bergegas memanggil para bridesmaids & groomsman yang baru datang untuk memberikan instruksi. Bermodalkan aplikasi pemutar video Rani mengarahkan mereka untuk memeriahkan acara agar tidak terlalu kaku, sebelum resepsi. Karena saat resepsi nanti akan full acara penerimaan tamu sebagai ucapan selamat yang akan di iringi oleh grup band musik pop. Di sesi itu juga akan ada foto-foto, game tamu undangan yang di acak untuk bernyanyi yang akan mendapatkan hadiah. Karena Dandi yang begitu menyukai anak kecil, saat resepsi nanti yang mengiring pengantin ke pelaminan adalah para bocah berusia lima tahun yang berpasangan.
***
Dengan gerak cepat MUA yang dibantu satu asisten dan juga Rani retouch wajah Aisyah hanya memerlukan waktu tiga puluh menit hingga Aisyah memakai gaun pengantin ala India. Begitupun dengan Dandi yang sudah siap.
Mereka mulai keluar dengan bergandengan tangan. Dandi tersenyum dengan bangga dan gagah. Sedangkan Aisyah hanya tersenyum samar dengan mata sembab yang masih menyisakan sedikit bengkak. Dandi melambaikan tangan seolah dirinya idol yang sedang bertemu dengan para fans. Memang banyak dari mereka bersorak saat pengantin memasuki area pelaminan.
"Baik, stop dulu. Mari kita masuk pada acara tari pengantin. Peraturannya di sini, kedua mempelai menari dengan di iringi oleh musik India yang akan dikelilingi oleh para bridesmaids dan groomsman dengan cara berputar. Untuk ibu-ibu dan bapak-bapak yang ingin ikut serta silahkan siapkan uang untuk menyawer."
Semua yang ikut acara itu mulai bersiap. Lima belas menit pertama acara santai dan ramai dengan tari yang seadanya dari pengantin. Acara yang seharusnya menjadi ajang seru-seruan dengan saweran seadanya, menjadi seperti acara panas saat Tibe merasa kalah ada satu keluarga dari Aisyah menyawer dengan nominal dua puluh ribuan beberapa lembar. Tibe mengeluarkan uang lima puluh ribuan entah berapa lembar, hal yang membuat acara semakin meriah karena sorak dari para tamu yang ikut mengambil uang saweran. Bahkan para bridesmaids dan groomsman yang mengelilingi pengantin kalah oleh para tamu yang berebut uang saweran.
Aisyah yang sedari tadi tersenyum samar kini mulai tertawa saat melihat anak-anak kecil berebut uang saweran. Ia bahkan terdorong hingga berada dalam pelukan Dandi tanpa sadar. Hal itu membuat Dandi tersenyum. Sesekali Dandi mengangkat Aisyah saat uang dilemparkan oleh keluarga, dan mereka diserbu anak-anak.
Acara berlangsung hingga pukul setengah dua belas siang karena banyaknya saweran. Setelah itu pengantin beristirahat sebelum resepsi dimulai pada jam dua siang hingga jam sembilan malam.
Acaranya memang di kampung, tapi untuk menghindari istrinya yang akan terlalu lelah Dandi memilih konsep seperti di gedung yang terdapat waktu istirahat untuk pengantin.
***
Gaun yang Dandi pilih hanya tiga, satu kebaya akad, kedua gaun ala India, ketiga ball gown. Gaun ala India harusnya di pakai saat resepsi pertama, dan ball gown dipakai saat resepsi malam hari. Namun, karena acara dadakan yang diperintahkan Rani, jadi MUA harus kembali mengambil satu gaun untuk resepsi pertama yang diadakan pada jam dua siang hingga lima sore. Gaun dengan model A line dress yang cocok untuk semua bentuk tubuh menjadi gaun pilihan Aisyah. Karena waktu yang sudah tidak memungkinkan jika untuk mencoba satu persatu.
Aisyah merasakan sedikit kebahagiaan karena meriahnya acara, hingga ia bisa tersenyum lepas tanpa paksaan yang sungguh memberatkan. Walaupun bukan pernikahan impiannya, tetapi Aisyah tidak memungkiri jika ia terkesan dengan acara yang dibuat oleh Dandi, walau dengan waktu yang singkat. Namun, kembali lagi jika uang sudah bekerja, bahkan hal tidak mungkin pun akan menjadi mungkin.
Waktu istirahat pengantin digunakan untuk makan siang. Mereka hanya berdua di dalam kamar, membuat Aisyah salah tingkah karena tidak terbiasa. Sedangkan Dandi justru langsung merebahkan diri di atas kasur yang kini sudah terasa empuk.
"Mau aku bantu bukain?" tanya Dandi saat melihat Aisyah yang sedang duduk di depan meja rias.
Kain saree yang menutup kepalanya, seperti menghalangi wajah cantik sang istri. Juga banyaknya riasan membuat Dandi merasa jika Aisyah pasti berat membawa itu semua. Dandi baru menyadari mengapa kain saree itu terus menutup kepala Aisyah saat acara tadi, ternyata rambutnya hanya dilapisi kain agar tidak berantakan dan tidak di rias sama sekali. Dandi tidak akan marah, karena memang waktu yang tidak memungkinkan untuk merias rambut. Dandi akan berterima kasih kepada Rani dan MUA yang dengan sigap menyelamatkan wajah Aisyah dari make-up yang berantakan.
"Tolong cabut pentul yang ada di belakang," pinta Aisyah yang ingin melepaskan kain penutup kepalanya itu.
Banyaknya barang-barang yang ada di kamar membuat kamar itu terasa panas, walaupun AC sudah menyala sedari tadi. Aisyah tidak akan jual mahal dengan mengatakan tidak membutuhkan bantuan, padahal ia sangat kesulitan. Lagi pula ia meminta tolong pada suaminya sendiri, walaupun lelaki itu ia benci. Namun, mau tidak mau, ikhlas tidak ikhlas ia harus tetap menerima karena semua sudah terjadi.
"Udah. Bajunya mau sekalian enggak? tanya Dandi dengan memeluknya dari belakang.
"Enggak usah macem-macem, sebentar lagi aku mau kembali di make-up. Kamu enggak malu banyak orang?" tanya Aisyah kembali ketus.
"Apa sih? Orang aku cuma mau bantuin kamu, pikiran kamu harus dibersihin itu biar enggak ngeres mulu," jawab Dandi dengan kembali ke kasur.
Baru saja ia merebahkan diri dengan nyaman, pintu kamar yang sekarang telah di akuisisi olehnya ada yang mengetuk, membuatnya cukup kesal karena istrinya tidak mau bangun dengan alasan sedang repot.
Dandi berjalan untuk membuka pintu, niat hati ia akan memarahi orang yang sudah berani mengganggu waktu istirahatnya yang berharga.
"Maaf ibu ganggu. Ini makan siang buat kalian berdua, jangan sampai perut kosong karena acara masih harus dilanjutkan."
Melihat sikap lemah lembut mertuanya membuat Dandi tidak jadi marah. Seandainya Aisyah bisa lembut seperti itu Dandi pasti akan memperlakukannya dengan baik. Namun, sayang istrinya itu terlalu judes untuknya yang tidak sabaran. Hingga membuat Dandi selalu emosi dibuatnya. Jika bukan karena cinta, Dandi tidak akan rela sampai melakukan hal hina hanya untuk menyalurkan nafsu.
Lelaki itu bisa mendapatkan wanita dengan tubuh menggoda jika hanya untuk menyalurkan nafsu. Namun, karena ia mencintai Aisyah dan jalan yang ditempuhnya buntu, sehingga ia harus melakukan hal hina dengan cara memperkosa.
"Makasih, Bu."
Ibu mertuanya langsung pergi, dan Dandi langsung masuk dengan membawa nampan cukup besar dengan dua porsi nasi lengkap dan lauk pauknya.
"Makan dulu, perut kita gak boleh kosong, acara masih panjang."
Tidak seperti pasangan pengantin yang sedang merayakan hari bahagia. Seharusnya mereka saling menyuapi di acara makan pertama mereka sebagai sepasang suami istri. Namun, jangankan saling menyuapi, mereka bahkan makan secara terpisah tempat. Dandi di atas kasur, sedangkan Aisyah tetap di depan meja rias.
Mungkin Dandi sedang menjaga mood istrinya agar acara mereka tidak kembali berantakan seperti tadi. Sehingga Dandi tidak memaksa Aisyah untuk menemaninya makan.