Aisyah berada di pelaminan hanya sampai jam setengah sembilan malam, kakinya sudah merasa sakit karena terlalu lama berdiri. Dandi sudah mengizinkan untuk istrinya beristirahat terlebih dahulu, karena ia masih harus menyambut para tamu yang terus berdatangan. Temannya banyak, anak buahnya bahkan kolega Dandi pun banyak, dan tidak mungkin Dandi tidak menemui mereka yang sudah jauh-jauh datang untuk memberikan selamat padanya.
"Widih! Langsung unboxing ini mah ntar malem," ledek teman semasa kuliahnya yang sudah lama tidak bertemu bernama Fajar.
"Enggak lah, kasian bini gue udah kecapean. Masih banyak malam-malam selanjutnya yang bikin hot saat stamina jos!" balas Dandi dengan menghisap rokok kesukaannya.
"Kasian apa karena udah enggak penasaran?" ledek Juna, yang nama panjangnya Junaidi.
Mereka bertiga saat kuliah memang satu server. Sama-sama penakluk, sama-sama playboy dan sama-sama nakal. Hingga obrolan mereka tanpa batas dan sensor.
"Yang ini susah, mangkanya gue nikahin. Sekarang aja dia marah sama gue. Kalau lu berdua pengen tahu, dia nikah sama gue karena terpaksa dan gue yang maksa."
Dengan bangga Dandi menceritakan tentang perjuangannya dalam mendapatkan Aisyah hingga pada tahap pernikahan. Untuk mendapatkan Aisyah Dandi bertaruh banyak, mulai dari harta, waktu, pikiran dan yang lebih parahnya harga diri, maka dari itu jika sampai ia tidak bisa menikah dengannya Dandi tentu tidak akan terima.
Sedangkan teman-temannya seakan tidak percaya jika yang sekarang sedang bercerita adalah Dandi sang casanova. Laki-laki yang bisa dengan mudah mendapatkan apa yang ia inginkan dari wanita.
"Lu serius?" tanya Fajar dengan mimik wajah tidak percaya.
"Dua rius malah. Lu bayangin gue ditolak dua kali, gue dibiarin tidur di depan rumahnya tanpa dikasih apapun. Ngeri enggak perjuangan gue?" tanya Dandi dengan kembali bangga atas perjuangannya sendiri.
"Abis itu baru dia mau?" tanya Juna masih sibuk dengan kacang garing yang sedari tadi ia kupas.
"Enggak lah. Masih kudu melewati beberapa proses sampe dia terpaksa nikah sama gue."
"Sadis! Ternyata sang pujangga bisa takluk juga karena cinta," ledek Fajar.
"Terus perjuangan lu apa lagi sampe dia mau?" Juna tidak akan berhenti bertanya hingga pada tahap penyelesaian cerita.
"Lu kepo! Mangkanya jatuh cinta, biar lu tau kalau perjuangan itu tidaklah mudah wahai anak muda."
Mendengar perkataan Dandi reflek kedua temannya melemparkan kacang karena kesal. Mereka saling terbuka, tidak ada yang ditutupi. Bahkan mereka sering melakukan kejahatan bersama semasa kuliah. Seperti meniduri wanita secara bersamaan hingga membuat wanita itu nyaris pingsan.
"Curiga sih gue," balas Fajar dengan menyilangkan kaki.
"Jujur nih ya, dia gue culik terus gw perkosa, gue rekam juga. Tapi belum sampe itu perjuangan gue, karena ternyata ada cowoknya yang masih mau nerima dia sampe minta gue ngehapus rekaman itu. Gue enggak mau dong, enak aja. Gue yang usaha buat dapetin dia, malah dia seenaknya mau nikahin."
Fajar dan Juna saling lirik saat mendengar cerita Dandi yang berbisik. Sepertinya mereka tidak salah dengar dan tidak salah mengartikan jika kali ini Dandi benar-benar mencintai bukan hanya sekadar obsesi. Mungkin itu yang disebut dengan sudah bertemu cintanya, karena biasanya Dandi hanya akan mempermainkan wanita saja.
"Ini ceritanya lu beneran cinta?" tanya Fajar masih kurang percaya.
"Bisa jadi," jawab Dandi dengan menengadahkan kepala pada sandaran kursi.
Dandi bukan perokok berat, ia hanya akan merokok saat bersama teman-temannya. Namun, sekali ia membuka bungkus rokok maka ia tidak akan berhenti sebelum habis satu bungkus. Karena rasanya tidak afdol jika satu bungkus tembakau itu tidak habis.
Mereka bertiga melanjutkan Obrolan hingga jam menunjukkan setengah sebelas malam. Tamu undangan masih ada saja yang datang dan menanyakan tentang Aisyah. Setelah Fajar dan Junaidi pulang barulah Dandi masuk ke dalam kamar.
Kamar yang semula penuh dengan barang milik MUA kini sudah rapi seperti sedia kala. Dandi tersenyum samar saat melihat Aisyah yang sudah meringkuk dibalik selimut berwarna navy dengan gambar benda langit. Dandi tidak mengganggu karena ia tahu pasti melelahkan dengan make-up tebal dan gaun yang besar. Dandi lebih memilih ke kamar mandi untuk menyegarkan badan yang terasa lengket juga gerah, membuatnya tidak nyaman.
Dandi membuka koper kecil yang sudah disiapkan oleh ibunya yang berisi semua kebutuhan Dandi saat berada di rumah mertuanya. Berganti baju dengan kaos biasa, setelah itu Dandi pergi ke kamar mandi dengan menenteng handuk. Dandi baru merasakan penyesalan mengapa ia tidak mengadakan resepsi di rumahnya atau di hotel sekalian. Agar saat lelah seperti ini ia bisa berendam di dalam bathtub dengan minyak aroma terapi.
"Udah malem, Dan. Nanti sakit mandi jam segini."
"Kalau enggak mandi Dandi enggak bisa tidur, Bu. Di dapur masih rame ya?" tanya Dandi pada ibu mertuanya.
"Masih pada beres-beres."
"Oh..."
Setelah itu Dandi melanjutkan perjalanannya menuju kamar mandi yang terletak di dapur. Di sana memang masih ramai para ibu-ibu dan bapak-bapak. Ada yang sedang beres- beres, ada yang sedang membuat kopi, ada yang masih memasak nasi.
Prinsip gotong royong di daerah mereka memang sangat kental, sehingga sebelum maupun sesudah acara di rumah pemilik hajat akan tetap ramai. Asalkan ada makanan dan kopi, semua akan aman terkendali.
"Mau makan enggak, Dan?" tanya seorang ibu-ibu yang baru selesai menghidangkan makanan untuk para bapak-bapak yang masih berada di luar.
Seserahan yang Dandi bawa sangat banyak dan tidak muat di dalam rumah yang juga penuh dengan barang-barang, sehingga semuanya harus disimpan dulu di luar, dan para tetangga itu akan bergadang sampai pagi untuk menjaga agar semuanya aman tanpa kehilangan.
"Enggak, Bu. Terima kasih," jawab Dandi dengan senyum dan kembali berjalan menuju kamar.
Sepertinya Aisyah sudah tertidur dengan lelap karena sekarang posisinya sudah berubah. Mungkin karena rasa lelah hingga istrinya itu melupakan rasa takut pada Dandi. Ya, Dandi mengetahui jika sebenarnya Aisyah takut padanya atas apa yang sudah laki-laki itu perbuat. Maka dari itu sebaik apa pun yang dilakukan Dandi rasanya percuma, karena perbuatan Dandi yang hina.
Dandi juga tidak langsung tidur, laki-laki itu memilih membawa kursi plastik ke samping jendela kecil yang memperlihatkan kesibukan di luar. Di sana para tukang sedang membongkar tenda dengan dibantu para pemuda, setelah mereka makan. Di daerah itu jika pembayaran tenda sudah lunas maka selesai acara akan langsung dibongkar, tapi jika belum lunas maka tenda tidak akan dibongkar hingga semua pembayaran selesai. Dandi dengan hartanya tidak mungkin menunggak pembayaran itu bukan?
Sebenarnya Dandi juga bingung akan perasaannya sendiri. Ia bahagia bisa menikah dengan Aisyah, walaupun dengan cara yang salah. Namun, di satu sisi Dandi juga merasa bersalah karena telah merebut paksa kebahagiaan istrinya. Namun, untuk melepaskan Aisyah begitu saja rasanya Dandi tidak mampu. Sehingga ia egois untuk tetap memilih Aisyah walaupun wanita itu seolah membencinya. Dandi akan mencoba meredam emosinya, agar Aisyah bisa luluh padanya. Dandi mengingat perkataan motivator tentang usaha yang tidak akan mengkhianati hasil, Dandi akan membuktikan itu.
Rasa kantuk yang menyerang mata rasanya sudah tidak bisa ditahan, sehingga Dandi menyudahi lamunannya dan ikut merebahkan diri bersama istri yang dicintainya. Mengingat sekarang mereka sudah resmi dan dengan bangga memanggil Aisyah dengan kata istri membuat Dandi tersenyum karena bahagia. Istrinya tidak terbiasa dengan AC, sehingga ia menyelimuti tubuh dengan selimut sampai leher, membuat Dandi kembali tersenyum. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Dandi memeluk Aisyah agar istrinya itu merasakan kehangatan, dan membuat pernikahan mereka berguna.
Orang bilang pasangan halal itu sama seperti selimut hidup bukan? Karena bisa menghangatkan tubuh saat kulit lawan jenis menempel. Dandi juga akan mempraktikkan itu, walaupun selama ini ia sering tidur berpelukan dengan wanita lain, tapi mungkin saja rasanya berbeda jika tidur dengan istri sendiri.