Pagi menjelang dengan suara berisik yang membuat Aisyah terusik. Efek obat tidur yang ia minum membuat tidurnya sangat lelap tanpa menghiraukan apa pun. Aisyah memang selalu menyediakan obat tidur saat dirinya benar-benar lelah, tapi mata yang tidak mau tertutup. Hal itu sering terjadi saat dirinya masih bekerja. Matanya sangat mengantuk tapi tidak mau tertutup, hal yang akan membuat mata teduh itu perih. Apalagi semalam ia diliputi rasa gugup sekaligus takut akan kehadiran Dandi di dalam kamarnya, membuat Aisyah lebih memilih menggunakan obat tidur sebagai alternatif. Tidak peduli Dandi akan melakukan apa, toh dirinya sudah tidak suci lagi karena laki-laki yang saat ini telah resmi menjadi suaminya.
Aisyah mungkin belum sadar sepenuhnya bagaimana posisi dia saat ini yang masih berada dalam pelukan sang suami yang ia benci. Padahal Dandi sangat tampan dengan sifat royal yang tidak diragukan. Namun, tetap saja hatinya sudah tertutup untuk laki-laki itu. Perasaannya sudah selesai saat dulu laki-laki itu memilih wanita bernama Vina. Karena pada saat itu tanpa ragu sedikit pun Dandi pergi dengan menggenggam tangan wanita pemilik melon besar yang menggantung indah di tubuhnya.
Dandi pasti akan kehabisan napas saat wajahnya dalam himpitan buah yang menggantung empuk itu. Membayangkan hal itu membuat Aisyah geli sendiri dan cukup insecure karena miliknya yang pas-pasan. Tanpa sadar Aisyah memukul d**a suaminya karena kesal saat membayangkan jika laki-laki yang telah mengambil alih tanggungjawab atas dirinya dari sang ayah sering tidur dengan wanita lain. Karena hal itulah Aisyah baru menyadari jika dirinya sedang memeluk Dandi, bukan si Lentur alias guling kesayangan yang selalu ia jadikan tempat pelampiasan emosi, karena yang ia pukul keras tidak empuk seperti si Lentur.
Perempuan cantik itu melipat kedua bibirnya ke dalam atas apa yang ia lakukan barusan. Ia berniat untuk kabur sebelum Dandi bangun, karena sungguh Aisyah tidak ingin Dandi tahu dengan posisi mereka saat ini.
"Mau ke mana?" tanya Dandi dengan memegang tangan sang istri yang tadi ada di atas tubuhnya.
Dandi sudah bangun saat Aisyah mengusap-usap bagian depan tubuhnya. Lelaki itu sengaja membiarkan sang istri yang sedang mengoceh tidak jelas karena kesal akan hubungan mereka dulu. Dandi tersenyum mendengar bagaimana kesalnya Aisyah atas perbuatannya dulu.
"Aku mau bangun, udah siang. Lepasin," jawab Aisyah ketus.
"Tapi aku masih mau tidur."
Bukannya menurut Dandi justru memeluk tubuh yang cukup seksi itu. Menyembunyikan wajah Aisyah pada dadanya yang membuat Aisyah berontak.
"Aku mau ke dapur, Dandi. Ini udah siang, malu."
"Pengantin baru dilarang ke dapur. Aku kedinginan, sebagai selimut kamu harus menghangatkan aku."
"Matiin AC nya, pake selimutnya kalau dingin. Ngapain kamu meluk aku," balas Aisyah dengan membalikkan tubuhnya kesal.
Usahanya dalam melepaskan diri dari pelukan sang suami gagal, karena bagaimanapun tenaganya akan kalah oleh Dandi. Namun, untuk melihat wajah Dandi rasanya Aisyah tidak sudi, maka dari itu membelakangi adalah jalan terbaik agar emosinya tidak tinggi. Namun, ternyata tindakan yang ia lakukan salah besar, karena dengan posisi seperti itu Aisyah justru merasakan sesuatu yang mengganjal di bawah perut Dandi. Tangan laki-laki itu juga kini tidak diam dengan perlahan masuk ke dalam baju tidur yang Aisyah gunakan. Merayap masuk dengan perlahan seperti ular yang sedang berjalan. Menggenggam melon kecil seukuran tangannya yang masih mengkal secara perlahan. Aisyah hanya diam dengan apa yang Dandi lakukan. Akan tetapi, saat Dandi memainkan puncak kecil yang laki-laki itu belum tahu warnanya Aisyah merasa tidak kuat karena geli dengan sensasi berbeda. Mengusap, memilin memutar puncak kecilnya membuat napas Aisyah sedikit memburu. Mulut Dandi juga tidak tinggal diam dengan meniup bagian leher sang istri. Hal itu membuat Aisyah semakin berontak menahan segala rasa yang ada.
"Kita sudah sah menjadi suami istri, Ais. Aku juga belum mendapatkan hakku sebagai suami di malam pertama. Tidak ada yang salah jika aku memintanya sekarang, karena kamu juga merasakan bagaimana dia merindukan sarang untuk berteduh."
Kata-kata yang diiringi dengan jilatan pada leher Aisyah membuat wanita itu semakin tidak karuan. Benci, marah, geli dengan menahan sesuatu berbaur menjadi satu.
"Lakukan apa pun yang ingin kamu lakukan, karena aku sudah tidak ada harga dirinya di depanmu. Aku tidak akan menolak, aku akan melayanimu bagaimanapun cara dan posisinya. Karena aku adalah wanita yang kamu beli, buka kamu nikahi."
Aisyah berpikir jika dirinya bukan dinikahi tapi dibeli dengan harta yang Dandi miliki. Ya, jika bukan karena uang mungkin Dandi tidak akan pernah mendapatkan Aisyah kembali. Dengan uang Dandi menekan hidup keluarganya. Dengan uang Dandi tidak pernah merasakan dinginnya lantai penjara atas apa yang sudah diperbuat olehnya karena uang jaminan. Dengan uang pula ia memisahkan dirinya dan Rifki, karena jika mereka memiliki harta, mungkin tidak akan ditindas oleh Dandi seperti saat ini. Kesucian yang diambil paksa membuat Aisyah selalu menganggap dirinya hina, hingga sekarang apa pun yang dilakukan oleh Dandi adalah kewajiban yang harus ia lakukan sebagai wanita penghibur, bukan kewajiban sebagai seorang istri.
Dandi yang sudah dikuasai nafsu tidak memperdulikan apa yang Aisyah katakan. Saat diliputi nafsu Dandi tidak akan bisa berpikir dan mendengar dengan baik karena hormon testosteron yang harus segera di keluarkan. Dandi akan merasakan pusing seharian jika nafsunya tidak segera disalurkan.
Pagi itu menjadi pagi sangat indah untuk Dandi yang bisa membuang bibit unggulnya pada tempat yang tepat, bukan pada pengaman yang lalu ia buang setelah selesai. Menyalurkan nafsu yang begitu menggebu dengan permainan yang hebat, membuat Dandi puas setelah dua kali bermain.
Tidak seperti pengantin yang terpaksa pada umumnya, Aisyah menepati perkataannya yang akan melayani Dandi dengan baik. Aisyah mengimbangi permainan Dandi yang menggebu. Bermain layaknya profesional walaupun masih belajar agar laki-laki itu puas dengan service yang ia berikan. Hidupnya sudah terlanjur hina bahkan sebelum menikah. Sekarang tidak ada yang perlu membuatnya malu untuk berbuat apa yang bisa menyenangkan hati Tuan-nya. Apalagi Dandi sudah memasang peredam suara, jadi mereka bisa berteriak sepuasnya saat bermain.
"Terima kasih, Sayang. Sarapan yang sangat nikmat," puji Dandi dengan mengecup puncak kecil yang seperti menantang mulutnya, sama seperti saat pertama kali ia menyudahi aksi bejatnya.
"Apa kamu puas?" tanya Aisyah dengan menarik napasnya dalam.
Lelah bercampur marah yang diiringi rasa nikmat adalah perpaduan sempurna untuk hati yang kecewa. Aisyah tidak munafik jika apa yang baru saja mereka lakukan adalah sebuah kenikmatan dunia. Aisyah juga tentu marah karena kenikmatan itulah yang menghancurkan semua mimpi indahnya bersama laki-laki yang ia cintai.
"Sangat puas. Kamu terlalu nikmat hingga membuat dia kembali terlelap tanpa daya."
Dandi menutupi tubuh Aisyah yang mengekspos bagian gunungnya. Mungkin saking lemas Aisyah dalam melayaninya hingga Aisyah tidak mampu menggerakkan tangan untuk mengambil selimut.
"Kenapa ditutup?" tanya Aisyah dengan senyum miring.
"Aku tidak akan membiarkanmu beranjak dari tempat tidur jika melon ini tetap terbuka," jawab Dandi dengan memeluk tubuh polos sang istri.
"Itulah kelemahan kamu, Dandi. Kamu tidak bisa melihat sesuatu yang sedikit saja terbuka. Tapi tidak apa, aku memang pelacurmu, jadi kamu bebas berbuat apa pun."
"Kamu istriku, Ais. Bukan pelacurku. Aku menikahimu secara resmi, jangan pernah berkata jika kamu adalah wanita penghibur ku."
Walaupun berkelakuan tidak baik, tetap saja Dandi tidak suka Aisyah menyebut dirinya sebagai wanita malam. Mereka menikah secara resmi yang mendapatkan bukti nikah dati departemen agama.
"Tapi jika bukan karena uangmu kita tidak mungkin menikah. Aku sudah pasti menikah dengan kekasihku, dan pagi ini akan menjadi pagi paling bahagia untukku."
Aisyah tidak memperdulikan bagaimana perasaan Dandi, toh laki-laki itu juga tidak peduli akan perasaannya. Mereka impas bukan? Sama-sama tidak peduli pada perasaan satu sama lain.
"Salahkan kenapa kalian miskin hingga bisa aku hancurkan. Pergilah, Ais. Kamu membuatku emosi."
Sudah berusaha menahan emosi demi memperbaiki hubungan, tapi nyatanya Dandi tidak bisa hanya karena perkataan Aisyah yang seharusnya menikah dengan Rifki. Padahal ia sudah merendahkan diri bahkan menggelar pesta mewah, tapi Aisyah tidak bisa menghargai itu semua membuat emosinya kembali naik. Susah sekali memang yang namanya mengendalikan emosi, apalagi untuk Dandi yang masih dalam tahap belajar.