Karena Aku mencintaimu

1236 Kata
Aisyah beranjak setelah mendapat pengusiran dari suaminya. Sakit pada inti tubuhnya tidak sebanding dengan hancur perasaannya. Aisyah terlalu lemah dalam menangani patah hati, sehingga ia hanya bisa menangis atas keadaan yang menimpanya. Wanita cantik yang kini terlihat berantakan itu mengambil satu persatu pakaian yang tadi dibuang oleh Dandi. Menyisir rambut yang cukup berantakan sebelum ia keluar menuju kamar mandi. Sedangkan Dandi melanjutkan tidurnya setelah berhasil menidurkan adik kecilnya yang sempat berontak. Mendebat Aisyah sama saja mempermainkan emosinya yang mudah terpancing. Lagipula laki-laki itu tidak cukup tidur satu minggu terakhir karena memikirkan semua hal tentang pernikahan. Berbeda sekali dengan Aisyah yang justru tidak memikirkan apa pun, walau selama satu minggu terakhir Aisyah mengkonsumsi obat tidur lebih dari tiga kali karena kesedihan yang mendalam. Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, terlalu siang untuk Aisyah keluar kamar. Sewaktu kerja jika Aisyah keluar kamar lewat dari jam tujuh pagi, itu tandanya Aisyah lembur. Karena paling siang Aisyah keluar saat jam menunjukkan angka tujuh. Sebagai anak sulung sudah pasti ia harus menjadi dewasa sejak kecil, karena ia tidak bisa bermanja pada siapapun apalagi dalam kondisi ekonomi yang pas-pasan. Sehingga ia harus bertanggungjawab atas keadaan rumah saat kedua orangtuanya bekerja. Malu rasanya keluar kamar di jam delapan pagi, apalagi banyak orang yang sedang beberes di rumahnya. "Sarapannya mau di mana, Nak?" tanya Sari saat berpapasan dengan Aisyah di dapur. "Nanti Ais bawa ke kamar aja, Bu." "Aduh, pengantin baru mah sarapan aja di kamar. Masih malu kalau suap-suapan," celetuk ibu-ibu dengan mulut yang memang sudah bocor. "Dandi nya masih tidur, Bu." Setelah tersenyum menanggapi omongan tidak berfaedah dari tetangganya Aisyah meneruskan langkah menuju kamar mandi. Ia harus segera membersihkan diri dari noda yang telah Dandi berikan pada tubuhnya. Cukup lama Aisyah di kamar mandi, karena ia bukan hanya sekadar membersihkan tubuhnya melainkan merenung meratapi kehidupannya yang sungguh menyedihkan. Rasanya masih seperti mimpi ia harus menikah dengan mantan yang sudah ia tinggalkan. Aisyah bahkan menyabuni tubuhnya berkali-kali seperti ingin menghilangkan kotoran yang melekat. Sampai pada saat adiknya mengetuk pintu karena ingin membuang hajat. "Kak! Abi kebelet nih, cepetan dong!" teriak Abidzar adik bungsunya. "Bentar lagi," balas Aisyah yang dengan segera memakai baju. "Lama dih!" balasnya tidak sabar. Begitu Aisyah keluar anak berusia delapan tahun itu langsung masuk bahkan menyenggol bahunya, membuat Aisyah ingin rasanya marah jika tidak mengingat banyak orang. "Ini sarapannya." Sari menyerahkan tampah plastik yang tidak terlalu besar pada Aisyah. Di atasnya terdapat satu piring nasi, satu piring lauk dan satu piring kecil sayur. Untuk air sendiri di kamar Aisyah sudah ada satu kardus air mineral dalam bentuk gelas, jadi tidak perlu membawanya. "Makasih, Bu." Aisyah berjalan kembali menuju kamarnya. Melihat Dandi yang masih sibuk dengan mimpinya membuat senyum miring wanita itu kembali hadir. Ia menyimpan tampah di atas kursi plastik bekas pakai Dandi semalam. Aisyah berjalan menuju meja rias untuk mengaplikasikan perawatan wajah rutinnya, tidak mengganggu Dandi yang sepertinya sangat lelah setelah banyaknya kegiatan. Setelah selesai Aisyah memakan sarapannya sendiri menggunakan piring sayur, karena Aisyah pikir Dandi tidak menyukai sayur. Aisyah mengambil seperempat nasi yang ada di piring, mengambil satu potong ayam kecap untuk menu sarapannya. "Lelah, Tuhan. Harusnya pagi ini adalah pagi paling indah karena statusku pengantin baru. Andaikan bersama Rifki," kata Aisyah dalam hatinya dengan menghembuskan napas lelah. Sarapannya ditemani dengan kehampaan dan rasa sepi yang begitu nyata. Handphonenya tidak lagi berbunyi seperti dulu saat Rifki yang selalu menemaninya sarapan melalui sambungan telepon. Kebahagiaan singkat yang begitu nyata walaupun sekarang hanya tinggal cerita. Dandi dengan segala sifat posesif menghapus semua kenangannya bersama Rifki, bahkan juga mematahkan kartunya dan mengganti dengan kartu baru dan Aisyah hanya diam melihat itu semua. Sarapan yang hanya sedikit saja Aisyah tidak bisa menghabiskan karena semua terasa hambar. Melihat anak kecil sedang bergotong royong membersihkan halaman rumahnya membuat Aisyah tersenyum. Dulu saat kecil Aisyah sering membayangkan betapa bahagia dan keren menjadi orang dewasa. Tidak ada yang mengatur, memiliki uang sendiri untuk hal apa pun yang mereka inginkan, berpacaran dan melakukan hal menyenangkan tanpa larangan. Sekarang saat dewasa wanita cantik itu justru ingin seperti anak kecil yang tidak memiliki beban hidup. Bermain sepuas mereka, berteman dengan riang tanpa ada batasan laki-laki maupun perempuan, tertawa dalam hal sepele dan masih banyak lainnya. "Aku kangen kamu, Ki." Hidup memang selucu itu, manusia tidak pernah puas dengan apa yang mereka miliki. Seperti para wanita di kampungnya yang ingin menjadi Aisyah karena bisa menikah dengan Dandi yang tidak hanya rupawan dari segi tampang, tapi juga dompet. Hal yang justru berbanding terbalik dengan Aisyah yang justru ingin melepaskan diri dari laki-laki kurang waras itu. Benar kata orang, kita tidak akan pernah tahu kenikmatan ataupun kesengsaraan seperti apa yang mereka rasakan jika tidak kita miliki. Karena semua hal akan kita ketahui saat kita hidup bersama dalam segala hal. Aisyah sedang memikirkan bagaimana hidupnya setelah ini. Apakah ia akan akur dengan mertua atau justru sebaliknya seperti banyak cerita teman-temannya yang sudah menikah. Di mana hidup dengan mertua seperti uji coba masuk neraka sebelum menutup mata. Apalagi dengan sikap dan sifat mertuanya yang sudah tidak diragukan lagi kesombongannya. Wanita itu banyak bertanya apakah ia mampu menghadapi kedua pasangan paruh baya itu? Menghadapi Dandi saja rasanya ia sudah mau menyerah, apalagi ditambah ia harus menghadapi mereka. "Jam berapa ini?" tanya Dandi dengan menundukkan kepalanya menahan kantuk. Aisyah tahu apa saja yang dilakukan oleh suaminya sebelum mereka menikah. Bagaimana lelahnya Dandi dalam mempersiapkan pernikahan yang tidak bisa melonggarkan sedikit rantai kebencian di hatinya. "Jam sembilan lewat," jawabnya dengan tetap menatap ke luar jendela. "Aku mau mandi." "Kamu bukan anak kecil yang harus memberitahu apa yang harus kamu lakukan. Kamu juga bukan mayat yang harus aku mandikan," balas Aisyah tidak peduli. "Kamu istriku, Ais. Seharusnya kamu mempersiapkan semua kebutuhanku," balas Dandi dengan mata yang sudah cukup segar. "Aku pelacurmu, bukan pelayanmu apalagi istrimu. Tugasku hanya melayani mu di ranjang, bukan untuk yang lainnya." "Jangan terus menguji emosiku, Aisyah. Aku tidak pernah sekalipun menganggap kamu sebagai pemuas nafsuku. Jika pun benar itu wajar karena sekarang kamu itu istriku, tempat yang halal untukku menyalurkan nafsu." "Jangan berbicara seolah kamu tahu apa itu halal dan haram," balas Aisyah sengit. "Kita sudah menikah, jadi apa pun yang kita lakukan atau aku inginkan atas dirimu itu halal, Aisyah. Dan haram jika aku menyalurkan nafsu pada wanita lain." "Dan jika kamu tahu menyalurkan nafsu pada wanita lain itu haram, kenapa kamu tidur dengan banyak wanita? Kenapa kamu selalu meminta berhubungan ranjang saat ikatan kita belum halal? Bahkan dengan teganya kamu memperkosa, merekam sekaligus mengancam ku. Kenapa?" teriak Aisyah dengan airmata yang kembali membanjiri pipinya. Aisyah mengeluarkan semua emosi yang selama ini ia pendam dengan cara diam. Dia bisa berteriak sepuasnya tanpa perlu khawatir akan didengar oleh orang lain. Satu hal yang sangat ia syukuri dari pemberian Dandi. "Karena aku mencintaimu, Aisyah. Aku juga tidak bisa menahan nafsuku jika sudah datang akibat stress karena pekerjaan. Dan jika aku tidak melakukan semua itu aku tidak akan bisa memilikimu. Kenapa kamu juga tidak pernah mengerti itu?" tanya Dandi dengan frustasi. "Kamu tahu, Dandi. Sejak kejadian itu aku selalu merasa kotor dan hina. Sekarang aku bahkan rela jika kamu hanya menjadikan ku sebagai wanita penghibur tanpa perlu kamu bayar. Dan aku pastikan itu hanya berlaku padamu," balas Aisyah yang kini mendekati Dandi dengan sensual. "Aku minta maaf untuk itu. Jangan begini, aku mencintaimu." Melihat Aisyah yang saat ini justru menggoda dengan cara meraba membuat Dandi tidak mau menyentuhnya. Bukan pernikahan seperti ini yang Dandi mau, tapi kenapa istrinya selalu berpikir buruk tentangnya yang hanya ingin bahagia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN