Kelemahan Dandi

1373 Kata
Cinta adalah rasa indah yang hadir tanpa diminta, kebahagiaan yang ditunggu setiap waktu saat hati kian menggebu. Cinta butuh perjuangan untuk meluluhkan orang yang diinginkan, tapi juga bukan dengan paksaan yang justru menimbulkan rasa salah dalam sebuah hubungan. Perjuangan Dandi yang salah justru membuat Aisyah salah dalam mengartikan cintanya. Bukannya terkesan Aisyah justru membenci apa yang Dandi lakukan, bahkan untuk hal baik sekalipun. Karena semua diawali dengan kesalahan, hingga rasanya tidak percaya saat Dandi melakukan kebaikan. Bukan hanya Dandi yang bisa menyiksa Aisyah secara batin. Aisyah juga bisa menyiksa Dandi secara nafsu dengan mempermainkan semua titik kelemahan Dandi dengan sensual, membuat Dandi lemah tidak berdaya dengan napas yang memburu. Keadaan Dandi yang masih shirtless memudahkan Aisyah yang ingin menggodanya. "Kamu mau apa, Ais?" Ekspresi Dandi tak ubahnya seperti seorang gadis yang akan dilecehkan oleh seorang laki-laki. Aisyah baru tahu jika rasanya menyenangkan saat melihat musuh dalam ketakutan. Mungkin seperti ini yang Dandi rasakan saat melakukan penghinaan padanya. Aisyah menyentuh dengan perlahan hingga membuat Dandi rasanya melayang, seperti saat Dandi menyentuhnya. Mencari titik-titik kelemahan Dandi dengan senyuman miring saat melihat ekspresi laki-laki yang sedang diliputi hasrat yang menggebu. "Ais berhenti," pinta Dandi dengan suara parau. Seperti kebahagiaan tersendiri saat melihat Dandi tersiksa oleh hawa nafsunya. Ekspresi yang sama saat Aisyah dilanda nafsu efek dari obat yang Dandi berikan dan ditambah dengan puncak melon yang Dandi mainkan. Tangannya meremas bantal, kakinya tidak mau diam, kepalanya menengadah ke atas menahan rasa yang menggebu. Aisyah hanya memainkan puncak kecil yang ada di atas dadanya tanpa bantuan obat perangsang, tapi Dandi sudah seperti itu. Entah bagaimana jika Aisyah memberikan Dandi obat sialan itu, mungkin Dandi akan berubah seperti singa yang melihat mangsa. Perlahan tangan kanan Aisyah naik meraba leher dan juga telinganya, membuat Dandi semakin menjadi-jadi dengan erangannya. "Kamu lemah, Dandi." Bisikan penghinaan dari Aisyah tidak didengar oleh Dandi yang semakin melayang saat lidah Aisyah menyentuh telinganya. Aisyah sangat agresif membuat Dandi kewalahan karena rayuannya. "Cukup, Ais." Itu hanyalah kata agar Aisyah menghentikan aksinya. Namun, tubuhnya tidak bisa berhenti bereaksi atas apa yang istrinya lakukan. Rasa lapar yang tadi sempat menyerang hilang tergantikan oleh nafsu yang menggebu. "Jangan banyak bicara dan nikmatilah." Tanpa perasaan Aisyah memasukkan melonnya pada mulut Dandi yang membuat Dandi cukup gelagapan. Mereka sama-sama memainkan apa yang harus mereka mainkan untuk memberikan kenikmatan. Untuk yang ketiga kalinya mereka kembali berteriak dalam kenikmatan yang halal. Dandi puas dengan merebahkan dirinya di sebelah Aisyah. Sedangkan Aisyah kembali menarik sudut bibirnya melihat bagaimana lemahnya Dandi dalam menahan hasrat. Pantas saja dulu laki-laki itu selalu merengek meminta berhubungan, karena memang kelemahannya benar-benar hanya soal nafsu. Mungkin saat nafsunya datang kambing yang di make-up pun akan terlihat seksi oleh Dandi.bAisyah membalikkan tubuh untuk menghadap Dandi. Suaminya itu masih mengeluarkan napas dengan menggebu atas permainan yang sebenarnya membuat Aisyah lelah. "Bagaimana, Tuanku? Apakah kau puas dengan servis yang aku berikan?" tanya Aisyah dengan tangan yang kembali bergerilya. "Cukup, Ais. Kita sudah melakukannya tiga kali, aku tidak mau sampai membuatmu tidak bisa berjalan." Dandi menggenggam tangan istrinya yang kembali jahil dengan meraba-raba area d**a. Puncak kecil itu adalah kelemahannya, dan entah darimana Aisyah mengetahui itu sehingga ia senang sekali bermain di sana. "Aku yang tidak akan bisa berjalan apa kamu yang lemah?" tanya Aisyah dengan berbisik lembut yang membuat geli. Mendengar ledekan Aisyah membuat darah Dandi naik seketika. Dandi paling tidak suka diremehkan apalagi urusan ranjang. Ia perkasa tanpa perlu diragukan. Dandi hanya takut istrinya kelelahan jika dirinya tetap mengikuti nafsu. "Jangan asal bicara, Aisyah. Aku tidak lemah, aku bisa saja menyiksamu dengan nafsuku, tapi aku tidak mau terjadi apa-apa padamu. Jangan terus memancing emosiku," balas Dandi dengan mencengkram kedua pipi Aisyah. "Tapi faktanya kamu memang telah menyiksaku dari kemarin-kemarin," balas Aisyah tanpa takut. "Berdoalah semoga aku bisa sabar dalam menghadapi sikapmu." Setelah mengatakan itu Dandi melepaskan cengkeramannya. Menutupi tubuh dengan selimut seperti anak kecil yang merajuk. Menghiraukan rasa lapar yang mulai kembali menyerang perutnya. Tanpa mempedulikan Dandi yang sedang merajuk, Aisyah lebih memilih beranjak dari kasur dan mempersiapkan makanan untuk suaminya itu. Sudah dingin memang, tapi tetap Aisyah berikan daripada ia harus mengambil yang baru yang rasanya sungguh malas. "Kamu tidak lapar?" tanya Aisyah dengan menyimpan makanan di atas meja riasnya. Dandi membuka selimut dengan cepat, memperlihatkan wajah kesalnya seperti anak kecil yang kembali lagi tidak diperhatikan oleh Aisyah. Tanpa kata ia mengambil air minum terlebih dahulu, karena tenggorokannya sangat kering. Setelah itu barulah Dandi mengambil piring berisi makanan yang porsinya seperti kuli. "Ayo kita mandi," ajak Dandi setelah menghabiskan makanannya. "Aku sudah mandi tadi. Apa jadinya kalau aku mandi lagi," jawab Aisyah yang kini sibuk membuka kado. "Setidaknya temani aku ke kamar mandi. Siapkan peralatan mandi ku," balas Dandi yang ingin dilayani layaknya seorang suami. "Aku sudah mempersiapkan semuanya di sana, Dandi. Kamu tinggal membawa itu semua," tunjuk Aisyah pada peralatan mandi milik Dandi. "Temani aku, di luar ramai sekali." "kamu tidak mungkin malu, 'kan?" "Sedikit." "Wow! Seorang, Dandi! Memiliki rasa malu juga ternyata," ledek Aisyah dengan bertepuk tangan. "Sudahlah, Ais. Jangan terus menerus memancing emosiku," balas Dandi lelah dengan perdebatan mereka. "Baiklah, Tuanku. Mari, akan saya antar anda ke kolam pemandian." Dandi menarik napas lelah, berjalan lebih dulu dengan tangan yang mengacak rambut Aisyah. Hal itu membuat Aisyah kesal karena rambutnya jadi berantakan. Dandi juga tidak membawa peralatan mandinya, yang artinya harus Aisyah yang membawa. "Sabar, Ais. Pertahankan sikapmu, tidak boleh terlihat lemah. Kamu harus bahagia." Aisyah memotivasi dirinya sendiri agar tidak terlalu merasa tertekan. Tangisnya hanya akan ia tunjukkan di depan Sang Pencipta, bukan di depan Dandi yang hanya bisa menghina. Walau berulang kali Dandi mengatakan bahwa semua yang laki-laki itu lakukan atas nama cinta, entah mengapa bagi Aisyah itu semua hanya tipuan agar dirinya luluh dan hal itu tidak boleh terjadi. Setidaknya Aisyah tahu titik terlemah Dandi yang tidak bisa menahan nafsu. Sekarang yang harus Aisyah lakukan adalah sama seperti Dandi, yaitu belajar menahan emosi, karena jujur saja setiap kali melihat wajah Dandi bawaannya Aisyah selalu emosi. Begitulah saat hati telah dirasuki oleh benci. Karena memang benar seribu kebaikan akan tertutup oleh satu keburukan. Sama seperti Dandi yang telah melakukan satu kesalahan pada Aisyah, sehingga membuat Aisyah memutuskannya. Apalagi dengan sifat Dandi yang selalu tidak terima kekalahan, membuat kesalahan yang seharusnya ia perbaiki malah ia tambah lagi. Bertambah pula kebencian Aisyah padanya. Namun, Dandi tidak memahami itu, karena yang ia tahu hanyalah bagaimana cara agar Aisyah menjadi miliknya, bukan orang lain. "Mana?" pinta Dandi pada peralatan mandi yang dibawa Aisyah dengan. Dandi sudah masuk ke dalam kamar mandi saat Aisyah baru saja sampai di dapur dengan handuk menggantung di tangannya. Bukan semakin sepi, di dapur rumahnya justru semakin ramai. Tradisi di kampungnya setiap selesai hajatan barang-barang berupa sembako akan dibagikan pada masyarakat sebagai bentuk terima kasih walaupun tidak banyak. Bukan hanya sekadar uang, karena itu bentuk kerukunan warga. Satu orang membagikan beras pada setiap kantong plastik hitam masing-masing lima liter. Satu orang membagikan sayuran, satu orang membagikan sisa kue. Aisyah melihat kurang lebih ada dua puluh kantong plastik yang sudah terisi dengan masing-masing isian berikut amplop yang sudah ibunya siapkan. "Duhai senangnya pengantin baru. La-la-la-la-la." Rani datang dengan menyanyikan lagu qasidah tentang pengantin baru yang membuat Aisyah mendelik tajam. Entah datang darimana mahkluk satu itu, tiba-tiba ada di belakang Aisyah dan bernyanyi dengan suara cemprengnya. "Mangkanya Ran cepet cari jodoh, biar ngerasain gimana senengnya jadi pengantin baru. Tuh liat, mandi aja ditungguin. Takut Aa nya dikarungin ibu-ibu ya?" ledek ibu-ibu yang sedang membagikan pisang pada setiap plastik. "Kemaren udah dapet satu, tapi pas mau deketin ada anak kecil manggil ayah. Yasudah aku mundur alon-alon," balas Rani santai. Rani adalah tipe manusia yang tidak mau memikirkan hal yang tidak penting dalam hidupnya. Seperti para ibu-ibu julid yang sering sekali bertanya kapan ia menikah. Namun, saat emosinya sedang tidak stabil maka setiap pertanyaan yang tidak penting akan dijawab pedas olehnya, apalagi tentang jodoh. Rani pernah menjawab dengan emosi dulu. "Kalau saya nikah emang ibu-ibu yang mau modalin? Repot amat ngurusin hidup orang. Ngebiayain enggak, bikin pusing iya." Itulah jawaban saat ia ditanya dalam keadaan emosi, setelah ditempat kerja ia mendapatkan omelan dari bigboss. "Sayang, handuknya mana?" teriak Dandi yang membuat ibu-ibu kemabli riuh. Rasanya ingin sekali Aisyah melakban mulut lemes Dandi yang seenaknya memanggil sayang di depan umun, membuat Aisyah malu dan juga mendapatkan wajah Rani yang menyebalkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN