Dandi yang terbiasa menggunakan kemudahan dalam kebutuhan sehari-hari cukup tersiksa saat berada di rumah Aisyah. Seperti mandi yang terbiasa menggunakan shower kini harus menggunakan gayung. Dandi yang selalu betah berlama-lama di dalam bathtub dengan aroma terapi sebagai penenang tidak ada di rumah Aisyah. Bahkan Dandi harus mengantri saat akan ke kamar mandi. Kamar mandi Aisyah bahkan haya berukuran 1,5x2 meter saja, setengahnya dari kamar mandi Dandi. Dari hal itulah Dandi sudah memutuskan jika mereka harus segera pindah ke rumahnya. Tidak mau berlama-lama di rumah sempit milik Sulaiman.
"Cie... Pengantin baru sayang-sayangan mulu kayak anak ayam," ledek Rani saat Dandi keluar dengan menggosokkan handuk di kepala.
"Kawin, Ran. Jangan cuma bisa ngeledekin orang doang," balas Dandi santai.
"Gimana aku mau ngedapetin jodoh, aku enggak dikasih kesempatan buat nyari cemceman kemaren."
Mengingat betapa sibuknya Rani kemarin membuatnya lupa tentang misi melirik kanan dan kiri untuk menemukan jodohnya yang masih tersasar. Kemarin jangankan mencari jodoh, mengatur acara saja Rani sudah kesusahan, sedangkan tidak ada yang bisa ia ajak bertukar pikiran selain MC yang cukup profesional.
"Ntar aku kasih bonus, amplop di kamar banyak noh. Mau bukain gak?" tawar Dandi.
Lagi-lagi Aisyah tersenyum miring mendengar perkataan Dandi. Semua mudah dengan uang, apalagi Rani yang sedari dulu sering mendapatkan sogokan. Sudah tidak akan menolak dan akan diam setelah mendapatkan uang.
"Widih! Kalau begini sih nyari jodohnya ditunda besok juga gak apa-apa deh," balas Rani semangat.
Aisyah mendahului mereka yang sedang membicarakan amplop. Ia tidak peduli dengan amplop yang masih belum dibuka karena terlalu banyak dan terlalu malas. Semalam ibunya menyimpan di pojok kamar dua kantong plastik warna merah tempat belanja ibu-ibu di pasar. Aisyah memang sengaja meminta Rani untuk membantunya mencatat nama, alamat dan isi di dalamnya, karena itu merupakan hutang yang harus dibayar nantinya. Lagipula sebenarnya lebih banyak amplop milik Dandi dibandingkan dengan miliknya. Karena tamu yang hadir juga 50% tamu Dandi, 30% tamu Aisyah dan 20% tamu orang tuanya.
"Ini buku sama pulpennya. Aku yang bukain aja, kamu yang ngitung."
Aisyah menyerahkan buku dan pulpen pada Rani untuk mencatat semuanya. Aisyah juga memberikan empat baskom berukuran sedang untuk menampung isi dari amplop-amplop itu sesuai nominal. Karena isinya beragam, dan mereka resepsi di kampung yang isi amplopnya kadang hanya lima ribu rupiah.
Hampir dua jam mereka bekerja sama untuk menyelesaikan semua amplop dengan isi beragam itu. Mulai dari nominal terbesar hingga logam lima ratus rupiah, membuat Dandi bingung karena tidak menyangka ada isi amplop yang hanya tujuh ribu lima ratus dan itu bukan hanya satu atau dua amplop. Entah maksud dan tujuannya apa. Apakah hanya jahil atau tidak memiliki uang tapi tetap mau datang.
"Baru tahu ada amplop isinya lima ratus perak," ucap Dandi dengan mengambil uang koin yang ia jadikan satu dengan jumlah lima.
"Namanya juga hajatan di kampung," balas Rani yang sudah selesai dengan tugasnya.
Hanya Dandi dan Rani yang mengobrol, sedangkan Aisyah lebih banyak diam dan sekarang fokus merapikan uang dengan nominal sepuluh ribu rupiah. Begitupun dengan Rani yang ikut merapikan dengan nominal lima ribu rupiah, sedangkan Dandi dengan nominal lima puluh ribu rupiah, karena untuk nominal seratus ribu sudah selesai.
"Jadi totalnya berapa? " Tanya Aisyah setelah Dandi menghitung semuanya.
"64.752.500 rupiah. Silahkan dihitung kembali, Nyonya."
Dandi menggeser tumpukan uang ke hadapan Aisyah. Membiarkan Aisyah kembali menghitung jumlahnya sekaligus di ikat menggunakan karet. Dandi memberikan semua uang itu pada Aisyah. Terserah untuk apa uang itu akan dipergunakan, karena semua itu sudah menjadi milik Aisyah. Dandi tidak akan mengambil seribu pun uang itu, walaupun sebagian besar amplop itu miliknya.
"Ini buat apa uangnya?" tanya Aisyah setelah semuanya benar-benar beres ia ikat.
"Terserah kamu, aku enggak mau ikut campur. Itu hak kamu," jawab Dandi dengan beranjak menuju ranjang.
"Tapi ini kebanyakan amplop punya kamu."
"Itu semua jadi punya kamu, tenang aja, itu bukan hutang kok. Walaupun itu hutang kasih aja catatannya ke aku, nanti kalau mereka resepsi aku yang bayar. Lagian temen-temen aku bukan kayak orang sini, ngasih amplop kok dijadiin hutang. Itu ditabung aja buat keperluan kamu, semuanya udah aku beresin kok."
"Aku belum," sela Rani yang pusing mendengar perdebatan mereka.
"Ini buat kamu."
Aisyah memberikan sebesar tiga juta rupiah pada Rani yang membuat gadis itu kalap. Gajinya saja tidak sampai segitu setiap bulannya."
"MasyaAllah ta barakallah. Banyak banget, ini serius?" tanya Rani tidak percaya.
"Iya, makasih ya udah sigap di acara kemarin. Kalau enggak ada kamu aku pasti udah malu," jawab Aisyah dengan merangkul bahu sahabatnya itu.
Di acara kemarin memang Rani orang yang paling sibuk demi kelancaran semuanya. Karena hanya Rani yang mengerti dan Aisyah percayakan. Untuk kedua orang tuanya sendiri sibuk menyambut tamu, sedangkan kedua adiknya masih kecil sehingga tidak bisa untuk diajak berdiskusi.
"Nanti aku tambahin lagi buat beli skincare biar glowing terus cepat dapet jodoh," tambah Dandi.
"Gak usah, ini udah cukup. Aku enggak mau ya disebut manfaatin temen," balas Rani tidak enak hati.
"So alim banget biasanya juga minta tambah," ledek Dandi yang membuat Rani nyengir kuda.
"Yaudah aku mau balik dulu. Enggak mau ganggu pengantin baru."
Tanpa mendengar jawaban keduanya Rani langsung meninggalkan kamar pengantin. Padahal Aisyah ingin menitipkan amplop untuk diberikan pada para pemuda pemudi yang ikut membantu dalam acaranya kemarin. Aisyah juga ingin meminta bantuan untuk membuka kado yang belum selesai, tapi sahabatnya itu justru langsung kabur karena sebenarnya Rani mendapatkan telepon entah dari siapa dan Aisyah mengetahui itu.
"Kadonya mau langsung dibuka?" tanya Dandi setelah amplop bekas masuk ke dalam plastik kembali.
"Udah kamu istirahat aja sana," usir Aisyah yang masih memiliki rasa kasihan.
Tanpa menjawab Dandi langsung berjalan menuju kasur. Aisyah begitu sibuk dengan kegiatannya membuka kado, tanpa sadar ia tidak mendengar ocehan Dandi. Saat ia melihat ternyata suaminya itu kembali memejamkan mata dengan tangan di bawah kepala. Aisyah tidak mengganggu, itu bahkan bagus untuk ketenangan dirinya. Dengan Dandi tidur setidaknya mereka tidak harus berdebat dan Dandi terlihat tampan. Aisyah merapikan sisa pembongkaran kado, membuang sampah kertas, menyapu dan menyusun kado yang ia dapatkan lebih dari lima puluh barang yang kebanyakan adalah sprei. Di kamarnya seperti orang yang akan berjualan sprei karena lebih dari dua puluh dengan berbagai motif.
Aisyah keluar kamar dengan membawa amplop yang harus ia bagikan untuk para pemuda yang kemarin membantunya. Wanita itu juga membawa dua kantong plastik yang berisi sampah amplop dan kertas kado. Namun, karena takut mendapatkan ledekan Aisyah lebih memilih memberikan itu pada orangtuanya, dan ia kembali ke kamar. Entah mengapa rasanya ia sangat malu untuk menunjukkan wajah di depan masyarakat, maka dari itu sekarang kamar adalah terbaik walaupun bukan lagi ternyaman karena adanya mahkluk lain di sana.
Sejujurnya Aisyah tidak bisa bebas di kamarnya sendiri karena adanya Dandi. Bukan karena malu, karena wanita itu sudah membuang jauh rasa malunya saat bersama Dandi. Lebih pada malas karena melihat Dandi dan laki-laki itu pasti melihat kelakuan dirinya.
Kamarnya yang sekarang adalah kamar impian Aisyah dengan segala pernak pernik dan juga memiliki peredam suara. Aisyah yang suka bernyanyi tidak jelas tapi malu untuk mengekspresikan begitu menginginkan peredam agar dirinya bebas berteriak. Namun, tidak ada kesenangan walaupun kamarnya sudah seperti yang ia inginkan. Sekarang saat masuk kamar ada Dandi yang memperhatikan, bukan ketenangan yang Aisyah impikan.
Kasur yang empuk sudah tidak bisa membuat tidurnya nyaman karena harus berbagi dengan suami yang ia benci. Kebencian Aisyah tidak sampai puncak, wanita itu hanya belum menerima dengan semua yang Dandi lakukan padanya yang sedang berbagi kasih dengan Rifki. Dandi juga yang telah menghinanya dengan cara paling hina, hingga membuat Aisyah tidak bisa menerima semua kebaikan laki-laki itu.
Saat melihat Dandi terlelap dengan begitu tenang ingin rasanya Aisyah menancapkan sesuatu pada perutnya, agar laki-laki itu menutup mata selamanya. Tidak peduli setampan dan sekaya apa Dandi, karena di hatinya bukan laki-laki itu, melainkan Rifki yang sekarang entah di mana.
Aisyah perempuan keras kepala yang tidak suka di atur, hatinya juga egois dengan tetap menginginkan Rifki dengan kondisinya yang sudah tidak lagi utuh, baik kemarin sampai hari ini dan mungkin seterusnya. Melihat Dandi dengan segala kesempurnaan dan kesenangan yang laki-laki itu tawarkan tidak membuat hari Aisyah tergoda, ia kukuh pada apa yang diinginkannya.
Aisyah juga cukup pendendam dengan gerak perlahan. Mengetahui kelemahan Dandi membuat Aisyah banyak menyusun rencana agar laki-laki itu tersiksa. Kemarin-kemarin Aisyah lemah karena tidak memiliki harta dan ditindas dengan mudah. Sekarang posisinya telah berubah, Dandi harus tunduk padanya walaupun hanya saat di bawah nafsu.
"Kamu harus tersiksa, Dandi." Senyum Aisyah saat melihat damainya wajah sang suami dalam tidur.