Mengundurkan Diri

1828 Kata
Tok-tok-tok! Pak Broto mempersilakan Kasya untuk masuk. Begitu melihat wajah Kasya, Pak Broto mulai memasang tampang garangnya. “Desain yang saya suruh kemarin sudah selesai?” tanyanya langsung tanpa menyuruh Kasya untuk duduk terlebih dahulu. “Belum, Pak,” jawab Kasya dengan seramah mungkin. “Saya sudah bilang selesaikan dalam kurun waktu seminggu!” bentak Pak Broto. Kasya mengernyit, sebab ia sangat ingat jika atasannya itu memberi waktu selama dua minggu. Dihitung sampai hari ini, baru terlewat lima hari. “Waktu yang Bapak berikan dua minggu, Pak. Ini baru hari kelima,” jawabnya dengan intonasi yang meninggi. “Kamu membantah ucapan saya? Kamu pikir saya pikun? Walau umur saya tidak muda lagi, tapi saya tetap menawan dan selalu mengingat kata-kata yang keluar dari mulut saya!” pekik Pak Broto sambil menggebrak meja. Kasya tidak tahu bagaimana di hari-hari sebelumnya ia selalu bisa mengontrol emosi marah saat berhadapan dengan atasannya ini. Namun, untuk hari ini dan saat ini juga, Kasya merasa kesabarannya sudah habis sampai ke dasar. Tidak ada lagi senyum palsu, tidak ada lagi kepala yang menunduk, tidak ada lagi kata maaf yang tidak seharusnya terlontar. Perempuan berumur seperempat abad itu menunjukkan ekspresi yang mewakili perasaannya saat ini. “Saya katakan sekali lagi, Pak. Bapak memberikan waktu dua minggu ke saya untuk menyelesaikan desain untuk unit baru. Saat itu hari Senin dan Bapak hari itu terlambat karena ban mobil Bapak bocor. Di hari itu juga Risman baru menyelesaikan desain miliknya dan Bapak mentraktir seluruh karyawan divisi kita. Pulang dari restoran, Bapak langsung memanggil saya dan memberikan tugas itu. Dan hari ini adalah hari Jumat yang artinya baru lima hari terlewat,” jelas Kasya dengan memberikan sorotan menghunus tajam kepada Pak Broto. “Ti-tidak. Kamu yang salah ingat. I-itu sudah tiga minggu yang lalu,” kelit Pak Broto. Perempuan berambut sebahu itu menghela napas sekali. Ketukan stiletto heals miliknya menggema di dalam ruangan yang hampir seluruhnya didindingi dengan kaca. Dirinya mendekat dan semakin mendekat hingga tubuhnya sudah berimpitan dengan meja berbahan dasar kayu blockteak. Suara gebrakan nyaring berhasil membuat Pak Broto tertegun. Tampang sangarnya tegantikan dengan wajah ketakutan lantaran melihat perempuan bertubuh mungil di depannya menunjukkan ekspresi tak terdefinisikan. “Mau a-apa kamu?” tanya Pak Broto seraya mendorong ke belakang kursi ergonomis yang didudukinya. “Saya akan secepatnya mengumpulkan apa yang Bapak inginkan,” tutur Kasya tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Pak Broto. Lelaki tua berkumis itu bersedekap. “Bagus! Itu yang saya inginkan. Seharusnya kamu menurut saja dengan apa yang saya katakan,” ucap Pak Broto sambil menarik sebelah sudut bibirnya. Terkesan sombong dan meremehkan orang yang sedang berbicara dengannya. “Baik! Hari ini juga seorang Kasya Allea akan mengumpulkan surat pengunduran diri kepada Bapak.” Kalau saja manusia bisa kehilangan nyawanya karena sorotan menghunus tajam dari orang lain, maka saat itu juga Pak Broto tidak bernapas lagi. Harga diri Pak Broto sebagai pria dipertaruhkan sekarang. Tidak mungkin ia takut dan tunduk oleh seorang perempuan seperti Kasya yang memiliki tubuh kecil dan hanya bisa melontarkan kata-kata menusuk kepada orang lain. Lagi-lagi Pak Broto menggebrak meja di depannya. Seolah-olah gebrakan itu sebagai tanda dimulainya perang antara dirinya dan Kasya. “Silahkan saja! Kamu pikir setelah keluar dari perusahaan ini kamu bisa menemukan pekerjaan begitu saja? Tidak segampang itu, wahai anak muda.” Pak Broto memberikan seringaiannya. Tak mau mengalah, Kasya kembali menggebrak meja hingga Pak Broto kembali dibuat terkejut. “Maafkan saya, wahai orang tua. Kesabaran saya sudah habis untuk menghadapi Bapak. Lebih baik saya mengundurkan diri sekarang dan saya pastikan tidak akan muncul lagi dihadapan Bapak.” Keringat dingin membasahi kening dan pelipis pria itu. Walau ia sangat tidak menyukai sikap Kasya, tetapi tak bisa dipungkiri ia mengakui betapa baiknya kinerja Kasya untuk perusahaan. Sangat disayangkan jika perusahaan kehilangan karyawan yang memiliki keuletan dan kedisiplinan tinggi. “Ka-kamu yakin?” Kasya mundur selangkah. “Lebih dari yakin. Saya permisi, Pak.” Kasya berbalik dan berhenti sejenak setelah membuka pintu. “Saya ingin mengatakannya dari dulu.” “Apa?” tanya Pak Broto. “Seharusnya Bapak tahu diri kalau wajah yang Bapak agung-agungkan itu tidak tampan. Terakhir, bau badan Bapak sungguh membuat hidung saya tersiksa. Itu saja, Pak. Sekali lagi, saya permisi.” Ucapan Kasya diakhiri dengan pintu yang ditutup sekuat tenaga. “Saya tidak pernah tahu ada perempuan pemberani dan sejujur itu.” Saat itu juga Pak Broto merasakan jantungnya berdegup kencang. “Sungguh mempesona ….” lirihnya. Semakin memikirkannya, Kasya semakin kesal pada dirinya sendiri. Ia terus menggerutu lantaran telah kalah melawan emosinya sendiri. Tidak ada yang bisa Kasya lakukan sekarang, selain mengetik surat pengunduran diri. Meskipun ada rasa penyesalan, tapi sebagian dari dirinya merasa lega karena lepas dari pekerjaan yang terus menekan mentalnya. “Lo beneran mau mengundurkan diri, Sya? Serius?” tanya Indri yang tampak kalut. Kasya merespons sekenanya. “Iya.” “Oke!” Indri langsung saja menarikan jari-jemarinya di atas keyboard. Tidak berlangsung lama, ia kembali menoleh ke Kasya yang juga sibuk dengan komputernya. “Udah selesai? Ayo ke ruangan bos.” Wajah Indri yang berseri-seri berhasil membuat Kasya semakin kesal. “Gue mau ngumpulin surat pengunduran diri, bukan proposal,” ujar Kasya seraya menekan tulisan print di layar monitor dengan tetikusnya. “Iya, gue tau. Ini surat pengunduran diri gue juga udah selesai.” Netranya begitu berbinar melihat selembar kertas, seakan-akan itu adalah surat cinta yang didapatkan dari lelaki idaman. “Indri Trishella Utami! Jangan bilang ke gue kalau lo juga mau ngelakuin hal gila yang baru aja buat gue menyesal!” Kasya menepuk jidatnya setelah melihat Indri mengangguk-angguk bersemangat. Kasya bingung harus berbuat apa. Indri, sahabatnya itu selalu melakukan hal gila dalam keadaan sadar. Tidak pernah ada penyesalan dari setiap perbuatannya. *** Memang manusia tak lepas dari yang namanya masalah. Begitu juga dengan wanita yang menyandang status pengangguran saat ini. Iya, Kasya dirundungi masalah akibat dari kesalahannya sendiri. Sekarang, yang dapat perempuan itu lakukan hanyalah memutar otak untuk mendapatkan pekerjaan baru. Terhitung hampir selama empat jam Kasya mengotak-atik ponsel guna mencari lowongan yang sekiranya bisa menampung dan menghasilkan uang untuknya. Selama itu juga Kasya tak menemukan satu pun yang cocok dengan keahlian yang dia punya. Terselip keinginan untuk menyerah, tapi saat itu juga bayang-bayang kesengsaraan menghampirinya. Bagaimana pun, orang dewasa harus bekerja untuk tetap hidup di dunia yang kata orang sangatlah kejam. Seketika Kasya merasakan sakit di bagian perut, seolah-olah ususnya melilit bagaikan simpul tali pramuka. Ini tanda-tanda kalau dirinya akan memasuki siklus bulanan alami yang terjadi pada wanita. Helaan napas Kasya lakukan lantaran tak menemukan persediaan pembalut di laci nakasnya. Maka dia harus bergegas ke supermarket sebelum cairan amis tak terkendali keluar begitu saja. “KASYA?!” pekik seseorang yang berhasil mengejutkan Kasya. Perempuan itu menoleh ke sumber suara yang memanggil namanya. Dahinya mengernyit saat manik matanya melihat sosok laki-laki berpakaian santai sambil membawa kotak yang menggambarkan lelaki sixpack dengan celana dalam. Kasya masih mematung sampai sosok itu mendekat kepadanya. “Lo Kasya, ‘kan?” tanya lelaki itu dengan wajah yang tampak begitu gembira. Hanya respons anggukan yang Kasya berikan. Otaknya masih berusaha mengingat siapa gerangan lelaki bermata sipit dengan rambut bermodel front puff. “Siapa, ya?” Kotak berisi tiga celana dalam dibiarkan jatuh begitu saja, lalu lelaki itu menyerbu Kasya dengan memberi pelukan erat. “Gue nggak nyangka bakal ketemu lagi sama lo, Sya. Gue temen sebangku lo. Ingat, nggak?” ujar lelaki itu sembari menaik turunkan alisnya. Sontak mata Kasya melebar sempurna. “Jang? Wah … ternyata lo. Tambah ganteng ya lo sekarang.” Kasya tak peduli dengan pembalut yang sudah jatuh. Ia membalas memeluk teman lamanya tak kalah erat. “Jang apa? Gue udah pernah bilang ya, panggil Verrel! By the way, sekarang lo kerja atau lanjut kuliah?” tanya Verrel dengan antusias. Terlalu banyak yang ingin Verrel ketahui mengenai seorang Kasya yang sebagai mantan teman sebangkunya dulu. “Kerja, tapi kemaren gue udah resign,” jawab Kasya berubah lesu. “Lah? Kenapa?” Mereka mulai berjalan beriringan ke arah kasir. Kasya mendengus. “Nggak cocok sama bosnya.” Verrel mengangguk mengerti. “Jadi sekarang lo pengangguran?” tanyanya lagi sambil menyerahkan barang kepada gadis penjaga kasir. “Ya begitulah,” jawab Kasya sekenanya sembari ikut menyerahkan barang yang dibawanya. Penjaga kasir tampak bingung melihat dua orang pelanggan yang asyik dengan dunianya sendiri. Ia tambah bingung saat menerima pembalut dari si lelaki dan celana dalam pria dari si wanita. Semburat merah muncul di kedua belah pipinya. Sungguh romantis pikir si penjaga kasir. “Digabung, Mas, Mbak?” “Kantong pisah, bayar sama.” Kasya melirik Verrel dari sudut matanya. Meskipun Verrel mengalami perubahan secara fisik, tapi sikap lelaki itu masih saja sama seperti dulu. Sangat baik dan menyenangkan diajak bicara. “Lo mau gue bantu cariin kerja?” tanya Verrel memulai obrolan lagi setelah keluar dari supermarket. Manik mata itu berbinar-binar. “Nggak ngerepotin? Boleh dong,” ucap Kasya dengan sumringah. “Kebetulan temen yang merangkap jadi bos gue lagi butuh karyawan baru. Gue minta w******p lo kalau gitu. Balik rumah nanti gue chat alamatnya ke lo.” Ponsel ber-casing hitam disodorkan ke Kasya. “Tapi kerja apaan?” tanya Kasya was-was. Maklum, Verrel konyolnya sebelas-dua belas dengan Indri. “Pekerjaan mudah. Gajinya di atas tujuh juta. Lumayan, ‘kan? Jadi langsung datang aja ya besok.” Kasya membalas dengan mengangguk. “Makasih ya, Rel. kalau gitu gue balik duluan.” Baru beberapa kali melangkah, Kasya dikejutkan dengan tangan yang melingkar begitu saja di perutnya. Ia menoleh cepat ke arah belakang. “Pasti lo tadi buru-buru ngambil pembalut karena gak lagi pakai, ‘kan?” ujar Verrel sembari menyimpul lengan sweater miliknya. Bagi sebagian perempuan, membicarakan masa menstruasi adalah sesuatu yang memalukan, tapi Kasya termasuk di sebagian yang lain. Sederhana, perempuan pasti akan mengalaminya dan semua manusia tau itu, pikir Kasya. Verrel melangkah mundur. “Maaf ya, karena gue ajak omong terus, lo jadi gak bisa nahan lagi.” Raut itu menunjukkan penyesalan terdalam. “Apa yang ditahan? Nggak bisa ditahan, Rel. itu keluar begitu aja,” ucap Kasya sambil mengeratkan sweater biru dongker di perutnya. “Serius? Gue pikir selama ini cewek keluarinnya sesuai kemauan mereka, apalagi udah pakai pembalut.” Kasya menatap dalam manik hitam pekat milik lelaki di depannya. Tidak ada kebohongan yang tersembunyi. Mata itu hanya menyiratkan kebodohan hakiki. “Apa semua lelaki berpikiran sama kayak lo, Rel?” tanya Kasya dengan tampang serius. Verrel mengedikkan bahunya. “Nggak tau, dulu si Darren bilang ke gue kayak gitu waktu lo tembus. Katanya cewek itu mentang-mentang ada pembalut, seenaknya keluar,” jawab Verrel lalu menyengir dengan wajah tak berdosa. Darren! Kasya terlempar keingatan masa lalunya. Bayang-bayang kebersamaannya dengan mantan kekasih kembali membuatnya merasa sesak. Meskipun begitu, terlalu banyak kenangan indah yang bisa menyembuhkan luka di akhir ceritanya bersama Darren. Tanpa ia sadari, seulas senyum terbit di sudut bibirnya. Verrel tertegun melihat senyum indah yang begitu tulus terpampang jelas di wajah Kasya. senyuman itu menular padanya. Ia berharap, cinta lama sahabatnya akan kembali tumbuh menjadi cinta abadi sebentar lagi. Ini takdir kalian, gue pengen liat kalian bersama lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN