Keesokan harinya, seorang perempuan tengah mematut dirinya di depan cermin persegi panjang yang melekat di dinding samping pintu kamarnya. Kemeja putih dilapisi blazer single breasted dan rok span dengan warna senada dipadukan dengan kitten heels, dapat menunjukkan bahwa ia sudah siap untuk melamar pekerjaan. Hari ini wajah perempuan itu dihiasi dengan riasan yang dipoles tipis, tampak alami dan tentu menambah kecantikan wajahnya. Ia yang tak lain adalah Kasya langsung tersenyum bahagia lantaran akan pergi ke tempat kerja barunya. Semoga saja Kasya diterima dan satu lagi doa yang ia panjatkan, yaitu tidak dipertemukan dengan bos seperti Pak Broto. Mengingat mantan atasannya itu membuat senyum Kasya pudar dan tanpa disadari tarikan napas panjang ia lakukan demi menenangkan dirinya dari luapan emosi yang tidak diperlukan untuk saat ini.
Tepat pukul 7.30 Kasya melajukan motor matic-nya menuju alamat yang dikirimkan oleh Verrel tadi malam. Memang jaraknya tidaklah sejauh perusahaannya yang dulu. Hanya perlu melewati empat lampu lalu lintas. Namun, jalan menuju tempat kerja barunya sangatlah macet. Kasya menggerutu lantaran banyak orang yang membunyikan klakson di saat semua kendaraan tidak ada yang bergerak. Untung saja macet itu tak berlangsung lama dengan bantuan polisi yang mengatur padatnya kendaraan di pagi hari ini.
Begitu sampai di depan pagar kayu cokelat yang tampak elegan, dirinya termenung lantaran bangunan di depannya bukanlah sebuah perkantoran bertingkat, namun dapat dikatakan sebuah restoran bertingkat dengan papan nama bertuliskan WilResto. Sekali lagi Kasya memastikan alamat di ponsel miliknya, memang benar itulah tempat yang ia tuju.
Sebuah foto tampilan depan restoran, ia kirimkan kepada lelaki si pemberi alamat. Tidak lama, pesan balasan Kasya terima dan isinya semakin membuatnya bingung. Baru saja ingin menanyakan kepada satpam yang sedari tadi memandanginya, sebuah pesan ia terima lagi dari orang yang sama.
Jang Verrel
Masuk aja. Ruangannya di lantai 4.
“Ada yang perlu saya bantu, Non?” tanya lelaki paruh baya dengan ramahnya.
Kasya tersenyum. “Saya ingin mendaftar untuk bekerja di sini, Pak.”
Kerutan di kening bapak itu semakin bertambah, sebab seingatnya tempatnya bekerja sekarang tidak membuka lowongan pekerjaan. “Maaf, Non. Tapi sekarang tidak ada lowongan kerja di sini.”
Perempuan itu pun semakin bingung. “Kata teman saya, di sini butuh karyawan baru, Pak.”
“Siapa nama teman Non?”
Begitu Kasya menyebutkan nama lengkap Verrel, raut kebingungan dari satpam itu hilang tergantikan dengan senyum mengembang.
“Saya baru ingat, Non. Pak Verrel ada kasih pesan ke saya. Silakan masuk dan langsung ke lantai 4, di situ tempat Pak Will,” ujar satpam itu sembari menunjuk arah pintu berbahan kaca restoran menggunakan jari jempolnya.
Kasya mengucapkan terima kasih lalu melajukan motornya ke arah parkiran yang hanya terdapat beberapa motor. Bukan artinya restoran yang instagramable itu sepi akan pelanggan, tetapi hampir semua penikmat makanan itu menaiki kendaraan mewah roda empat.
Saat Kasya berjalan memasuki restoran yang memiliki pintu kaca terbuka otomatis itu, dirinya langsung di sambut dengan aroma yang memanjakan hidung dan tanpa sadar Kasya menelan ludahnya. Tanaman merambat di dinding bebatuan yang dialiri air begitu menyejukkan mata. Beberapa tanaman berukuran besar juga di letakkan di setiap sudut ruangan. Kasya takjub dengan desain interior dari restoran ini.
Perempuan itu melanjutkan langkahnya menaiki eskalator menuju lantai dua. Belum hilang rasa kagumnya akan dekorasi di lantai satu, kini Kasya semakin terpukau memandangi sekeliling lantai dua yang tak kalah indah dari lantai sebelumnya. Dapat di katakan dekorasi kali ini menggunakan desain akuarium. Berbagai jenis ikan warna-warni dengan ukuran yang berbeda-beda dan batu karang yang sangat indah menjadi penyempurna akuarium yang dijadikan sebagai latar lantai. Kasya sampai ngeri untuk meletakkan kakinya di atas kaca, terbayang tiba-tiba kaca akan pecah.
Beberapa menit setelah berjongkok memandangi ikan di bawah kakinya, Kasya memutuskan untuk naik lagi ke lantai tiga. Baru saja menjejakkan kakinya di lantai itu, Kasya dikejutkan dengan api besar yang bagaikan ingin menerkam seseorang yang membuatnya. Kini, perempuan dengan wajah kaget itu disuguhi pemandangan beberapa orang berbaju putih yang tengah sibuk menyiapkan hidangan. Tidak hanya Kasya, beberapa orang yang menunggu makanan mereka juga ikut melihat aksi sang koki yang dengan lihainya menggunakan sebilah pisau.
“Ini sangat berbeda sama tempat gue makan biasanya,” tutur Kasya kepada dirinya sendiri. “Nggak ada warteg yang gue kunjungi semewah tempat ini,” sambungnya.
Tidak ada lagi eskalator sejauh mata Kasya memandang. Ia berusaha mengingat-ingat di lantai berapakah ia sekarang berada. Tak lama, tepukan pelan di pundaknya berhasil membuyarkan hitungan Kasya.
“Ada yang perlu saya bantu?” tanya seorang gadis bersanggul dengan hairnet pita yang berpakaian layaknya seorang waiteress biasanya.
Kasya terlihat kikuk beberapa saat. “E-eh saya ingin menemui Pak Wil, lewat mana ya?”
Waiteress ber-name tag Carla tersenyum ramah. “Mbak ke arah sana, lalu naik ke lantai atas dengan lift,” jawabnya dengan senyum yang masih tersungging sembari menunjuk ke arah kanan sebelah dapur terbuka.
Tidak lagi menunggu, Kasya langsung menuju sebuah lift setelah berterima kasih kepada Carla. Hanya terdapat dua tombol di dalam lift, yaitu tombol dengan arah ke bawah dan arah ke atas. Kasya pun tak perlu waktu lama hingga lift itu membawanya ke lantai teratas.
Berbeda dari lantai-lantai sebelumnya, tempat yang ia pijak sekarang terlihat begitu sederhana dengan kedua ujung lorong dibatasi kaca hingga sinar mentari di pagi hari ini menerpa wajah cantik Kasya dari lorong sebelah kanan. Terdapat satu pintu kayu di arah kiri dan Kasya pun mendekati ruangan itu untuk menemui seseorang yang kemungkinan besar menjadi atasan barunya. Ya walaupun Kasya masih memikirkan pekerjaan apa yang dapat ia lakukan di sebuah restoran mewah. Tidak masuk akal jika pekerjaan yang Verrel tawarkan kemarin adalah sebagai seorang koki.
Ketukan tiga kali belum mendapat jawaban yang memperbolehkan Kasya untuk membuka pintu. Sekali lagi Kasya mengetuk pintu dan akhirnya terdengar suara seorang lelaki yang memperbolehkan dia untuk masuk. Saat pintu kayu itu terbuka sempurna, Kasya dibuat terkejut dengan isi ruangan itu.
“Lama banget sih lo datangnya. Cepat bantu gue beresin ruang tamu,” ujar lelaki dari ruangan lain yang Kasya tebak adalah kamar tidur.
Kasya tidak menyahut dan masih termenung melihat barang-barang berserakan, pakaian yang dibiarkan saja di atas lantai, bungkus makanan ringan dengan remahan-remahannya pun bertebaran di seluruh ruangan.
“Gue kira ini ruangan kantor, ternyata hanya tempat tinggal seekor sultan kecoak,” gumam Kasya.
“Pokoknya semua harus rapi ya, Rel. kalau nggak, gaji lo gue potong,” ancam lelaki tadi.
TV, sofa, pantry, dan lain-lainnya membuat Kasya tahu bahwa ini bukanlah ruangan kantor, namun merupakan tempat tinggal seseorang. Kasya tidak memikirkan hal lain. Tangannya begitu saja mengambil sampah-sampah yang ada dan merapikan semuanya sebisa mungkin. Setidaknya Pak Broto termasuk orang yang pembersih, tidak seperti calon atasannya ini. Entahlah, terselip keraguan di hati Kasya saat ini apakah benar ada lowongan kerja di tempat yang telah membuatnya beberapa kali terkejut dan terpukau di pagi ini. Tidak butuh lama bagi Kasya membuat ruangan yang begitu berantakan ini menjadi tempat yang layak untuk dihuni. Keringat membasahi wajahnya dan tiba-tiba lelaki yang sibuk di ruangan lain keluar sembari membawa pakaian kotor.
“Rel, lo tumben cep—”
Kasya baru saja ingin membalikkan tubuhnya, tetapi terhenti saat lelaki tadi berteriak hingga membuatnya terkejut bukan main.
“JAAAAANGAAAAAN! JANGAN BERGERAK! JANGAN BERBALIK!”
Tanpa tersadar Kasya telah menelan ludahnya seiring dengan kedua tangan yang otomatis terangkat layaknya perampok yang terpojok karena teriakan polisi. Sungguh perempuan yang berniat membantu calon atasannya itu begitu bingung lantaran hampir dua menit berlalu namun tidak terdengar suara apa pun dari arah belakang.
“Lo apain Verrel?” Suara rendah menusuk pendengaran Kasya. Seketika dirinya meremang dikarenakan suara itu terdengar sangat dekat dengannya. Tak lama Kasya tahu bahwa lelaki itu tepat berada di belakang. Ia tahu dari deru napas yang terhembus mengenai leher jenjangnya.
“Sa-saya disuruh Verrel untuk menemui Bapak,” ujar Kasya dengan suara setengah tertahan. Namun, hanya berselang beberapa detik, perempuan yang masih mengangkat tangannya itu langsung berbalik hingga pemandangan pertama yang ia lihat adalah d**a bidang seorang lelaki yang membuat perempuan tergoda untuk menyentuhnya. Ya, begitu juga Kasya, karena dirinya masih tidak menghilangkan kebiasaannya sedari dulu, yaitu menyukai lelaki tampan. Tubuh yang ideal adalah bonusnya.
“Ternyata lo!” Kasya segera menurunkan kedua tangannya dan menghela napas berat. “Pantesan gue merasa gak asing sama kejorokan ini. Gue pergi dulu. Mau nyiksa si Verrel,” lanjutnya.
Lelaki yang bertelanjang d**a itu tidak bergerak dari tempatnya hingga menghalangi Kasya untuk berjalan ke arah pintu keluar. Tidak mau memusingkan lelaki itu, Kasya bergeser ke kanan untuk pergi, tapi makhluk hidup di depannya seolah-olah menjadi bayangan cermin dirinya sehingga Kasya menghunuskan pandangan tajam pada lelaki di hadapannya. Begitu Kasya berpindah ke kiri, lagi-lagi gerakannya diikuti sampai akhirnya Kasya berdiri di tempat sambil bersedekap.
“Kenapa?” tanya Kasya dengan mendongakkan kepala lantaran tinggi badan yang berbeda jauh.
Lelaki yang tadinya menunjukkan raut cemas pada akhirnya menunjukkan senyum yang menampakkan lesung pipit sebelah kanan. Ia merendahkan tubuh dengan meletakkan kedua tangan yang bertumpu pada lututnya.
“Kenapa pergi? Pasti Verrel ada maksud lain makanya lo ada di sini sekarang,” ujar lelaki itu dengan wajah yang hanya beberapa senti jaraknya dengan wajah Kasya.
“Bukan apa-apa. Gue pergi dulu ya,” pamit Kasya seraya menggeser tubuh yang menghalanginya.
Namun, langkah Kasya tertahan karena pergelangan kirinya dipegang erat oleh lelaki itu. Baru saja membuka mulut tanpa ada suara yang keluar, deringan ponsel menarik atensi mereka berdua. Lelaki itu merogoh saku celana jeans miliknya dan segera menggeser tombol hijau tanpa melepaskan pegangannya pada pergelangan Kasya. Diam sejenak sampai balasan oke dilontarkan oleh si penerima panggilan.
Kasya heran melihat wajah lelaki di depannya terlihat kecewa setelah menerima panggilan telepon. “Kenapa?” tanya Kasya untuk memuaskan rasa penasaran yang muncul.
“Sia-sia beresin rumah, yang ditunggu nggak jadi datang.”
Kasya hanya mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut. Itu memang bukan urusannya. Kemudian dirinya ditarik sampai di depan sofa. Kasya langsung duduk dengan pemilik rumah di sebelah kirinya.
“Kenapa?” tanya lelaki itu.
“Apa? Nggak ada apa-apa,” jawab Kasya singkat.
“Sejak kapan main rahasia-rahasiaan sama gue?”
Percakapan itu mulai membuat Kasya jengah. Hari ini penuh dengan kejutan yang dimulai dari tempat kerja yang ternyata adalah sebuah restoran, dekorasi menakjubkan dengan ikan berenang di lantai, tempat tinggal yang dikiranya adalah ruangan kantor, dan yang terakhir adalah calon atasan yang ternyata adalah seseorang yang dulunya sempat singgah di hatinya. Memang perasaannya kepada sang mantan sudah sepenuhnya hilang, tidak ada rasa benci atau pun suka. Hanya saja Kasya tidak menyangka akan bertemu lagi dengannya, yang bernama lengkap Darren Willio. Lelaki di sampingnya berbicara seolah-olah mereka tidak pernah berpisah sekian lama.
“Ren, sekarang udah bertahun-tahun berlalu,” ucap Kasya yang berharap Darren dapat menangkap maksudnya.
“Terus?” tanya Darren sembari menunjukkan wajah polosnya.
“Kita nggak bertemu sekian lama. Kita di kelilingi orang baru, lingkungan baru, dan perasaan kita udah nggak sama lagi.”
Darren teringat dengan ucapannya beberapa tahun yang lalu.
Gue juga nggak bisa janji untuk kembali ke lo, Sya. Lo tahu … kita nggak akan bertemu sekian lama. Kita di kelilingi orang baru, lingkungan baru, dan mungkin … suatu saat nanti perasaan kita udah nggak sama lagi.
“Iya, gue tau. Tapi lo nggak dendam ‘kan sama gue? Lo sampai ingat kata-kata gue waktu dulu.” Darren sudah lelah dimusuhi oleh mantan yang sudah tak terhitung jumlahnya. Namun, lelaki itu berharap Kasya yang dia hapal nama dan kenangan-kenangan yang masih melekat diingatannya tidak menaruh dendam atau rasa benci padanya. Mantan terindah, itulah yang Darren tandai kepada sosok perempuan yang duduk di sampingnya.
“Nggak. Kata-kata itu yang buat gue bisa move on dari lo. Akhirnya yang lo ucapin dulu itu benar.”
Darren terkekeh pelan. “Dulu itu hanya sebuah kemungkinan yang terlintas dipikiran gue. Akhirnya kita ketemu lagi dan gue juga nggak nyangka kita jadi seperti ini.”
Kasya tersenyum dan tidak memberi respons lebih.
“Jadi, Verrel kenapa suruh lo ke sini?” tanya Darren dengan pertanyaan yang sebelumnya diabaikan.
“Gue butuh pekerjaan.” Kasya lalu menghela napas untuk kesekian kalinya dan itu merupakan kebiasaan ketika dirinya dilanda masalah dan akhirnya mengalami stres berat.
“Pekerjaan lama lo?”
“Nggak cocok, jadi gue resign. Bosnya nyebelin.”
“Sebelum lo resign, gue tebak lo ngata-ngatain dia dulu.” Darren tergelak sembari membayangkan Kasya semasa SMA dengan mulut pedasnya.
Kasya memicingkan matanya dan pikirannya mulai berspekulasi kalau Pak Broto merupakan mata-mata suruhan Darren. “Kok lo tau?”
“Itu udah jadi sifat lo, Sya. Lo nggak berubah,” ujar lelaki yang tidak berniat untuk memakai bajunya terlebih dahulu.
“Lo juga nggak berubah. Tetap jorok.” Tanpa tersadar sebuah senyuman terbit di bibir mereka.
“Jadi Verrel yang sangat baik hati itu pasti suruh lo datang dan jadi pekerja di sini.” Darren menyandarkan tubuhnya ke sofa dan menikmati langit biru terang dari dinding kaca di ruangan santainya.
“Verrel orangnya terlalu baik. Semua orang yang dia kenal dan butuh pekerjaan, dia bawa ke sini dan akhirnya semua jadi pekerja restoran ini. Tapi jujur aja, untuk saat ini gue nggak butuh karyawan baru,” ungkap Darren sejujur-jujurnya.
“Gue juga merasa nggak akan cocok kerja di restoran lo yang mewah ini. Gue tau … lo bakal jadi orang sukses, Ren.” Lagi-lagi seulas senyum Kasya berikan untuk sang mantan. “Gue balik dulu ya, Ren.” Segera Kasya bangkit dari duduknya dan berjalan ke pintu keluar.
Darren tidak bergerak dari duduknya dan masih menikmati pemandangan awan yang terbawa angin ke arah kanan. Sampai dirinya mendengar suara pintu yang terbuka, Darren dengan cepat memanggil nama perempuan yang berdiri di ambang pintu.
“Sya!”
Kasya mengernyit. “Iya?”
“Gue senang ketemu lagi sama lo.” Darren menghadap ke kiri dan memberikan senyum tulus sesuai dengan apa yang ia rasakan saat ini.
“Gue biasa aja.”
Perempuan pengangguran itu hilang di balik pintu dan tidak mendengar kekehan yang keluar dari mulut Darren.
“Bener-bener nggak berubah.”