10

1361 Kata
Chapter 10 Vanya melemparkan bantal ke arah pintu meskipun bantal yang dilemparkan tidak mengenai pintu, hanya melayang beberapa meter dari tempat tidurnya. Memiliki kamar yang terlalu besar ternyata menjengkelkan juga, terutama saat pintu diketuk dari luar Vanya tidak bisa membukanya sambil tetap memejamkan mata atau berteriak agar orang itu berhenti mengetuk pintu. Vanya mengentakkan kakinya ke lantai seraya mengumpat kemudian membuka pintu. "Apa kau tidak melihat tulisan di pintuku?" "Ini sudah jam sepuluh, Vanya," kata Ares seraya menatap Vanya yang tentu saja cemberut. "Memangnya siapa yang peduli pada jam? Ini Sabtu dan aku ingin tidur sepanjang hari, kalau perlu sampai Senin!" bentak Vanya seraya bermaksud menutup kembali pintu kamarnya. Dia sangat jengkel karena Ares tidak membaca tulisan di depan pintu kamarnya : JANGAN GANGGU VANYA! "Tidur terlalu lama tidak bagus untuk kesehatan dan tubuhmu perlu makan," kata Ares seraya tangannya menahan pintu kamar. Ares tidak tahu kalau tadi malam Vanya bermain Mobile Legends sampai jam lima pagi dan sebelum tidur Vanya sudah makan beberapa potong roti. "Aku tidak lapar dan bisakah kau tidak menggangguku? Apa kau tidak bisa membaca tulisan ini?" tanya Vanya seraya menunjuk tulisan yang ditempel pada daun pintu kamarnya. "Aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat." Ares menatap mata Vanya yang terlihat memiliki cekungan yang lumayan dalam. "Aku tidak ingin ke mana pun, aku mau tidur." Vanya meninggalkan Ares tanpa menutup pintu kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur dengan posisi tengkurap, sedangkan Ares menyusulnya dan pria itu duduk di tepi tempat tidur. "Aku ingin mengajakmu makan siang di Palm Restorante," kata Ares. Vanya menarik sebuah bantal dan melemparkannya kepada Ares, tidak terlalu kencang dan tepat mengenai d**a pria itu. "Ares, bisakah kau berhenti mengganggu waktu liburku?" Ares berbaring terlentang di samping Vanya dan matanya menatap langit-langit kamar. "Jam berapa tadi malam kau tidur?" "Apa hari liburku juga harus kau awasi?" "Kau bermain game sampai pagi?" Vanya mengangkat kepalanya dan menatap Ares dengan malas. "Kenapa kau tidak tidur di sini saja sekalian agar dapat mengawasiku dua puluh empat jam?" "Aku akan menyita ponselmu jam sepuluh malam kalau kau tidak menggunakan waktumu dengan benar," kata Ares dengan tegas tanpa menatap Vanya. Vanya menutup kedua belah telinganya menggunakan telapak tangannya. "Ya Tuhan! Kenapa kakak tiriku seperti seorang iblis?" Ares duduk dan meletakkan telapak tangannya di kepala Vanya lalu mengusap-usap dengan pelan. "Bangun dan bersiap, atau malam ini ponselmu kusita?" Vanya berguling ke samping dan melotot menatap Ares. "Aku akan mengingat ini, Ares!" Ares tersenyum penuh kemenangan dan sebelah alisnya terangkat. "Kau tidak punya pilihan jika berhadapan denganku." "Lihat saja, aku akan membalasmu!" ucap Vanya dan mau tidak mau bangkit dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Bukan karena Ares menang, tetapi demi ponselnya. Jika bukan karena benda itu Vanya tidak akan sudi menuruti Ares, sedikit pun tidak hingga Vanya terus menggerutu dan satu jam kemudian baru keluar dari kamarnya setelah sengaja berlama-lama bersiap. Vanya mengenakan bralette berwarna hitam lolos dipadukan dengan celana kain pendek kemudian mengenakan kemeja kain berbahan tipis dan lembut yang tidak dikancingkan, ia sengaja menjalinkan ujung bagian depan kemejanya sehingga perutnya yang rata terekspos dan memilih sneaker dari Balenciaga berwarna putih agar senada dengan pakaiannya. "Vanya, selamat pagi," ucap Raul. Ayah tiri Vanya berada di ruang santai lantai atas dan pria itu memangku iPad sedangkan Tania duduk berseberangan dengannya memegangi tumpukan kertas, keduanya tampaknya sedang serius mengerjakan sesuatu. Vanya tidak habis pikir karena sepertinya keduanya tidak memiliki hari libur, mereka bekerja dari Senin hingga Minggu. "Kudengar dari Ares kalau kalian mau pergi berjalan-jalan," kata Tania dan wanita itu bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Vanya. "Kalian cepat sekali akrab, ya?" Vanya ingin sekali melayangkan protes, bukan cepat akrab. Ia terpaksa pergi bersama Ares karena kakak tirinya itu iblis yang diktator. "Ya," desah Vanya dengan malas. Tania tersenyum senang. "Bersikaplah yang baik, Sayang." Dari raut wajah ibunya, Vanya yakin jika Ares telah berhasil mengambil hati ibunya karena jika tidak, bahkan Julio saja kesulitan untuk bertemu dengannya karena sikap sinis Tania. "Aku pergi dulu," ucap Vanya dengan nada dingin kemudian memasang earphone-nya dan menjauh. Lima belas menit kemudian mereka tiba di sebuah restoran bergaya modern yang berada di tepi barat kota Madrid dan ketika pelayan membukakan pintu ruang VIP, Vanya terkejut karena seseorang ternyata telah berada di sana. Wanita berparas cantik itu pastinya tidak asing bagi Vanya dan selama hidupnya, Vanya tidak pernah menyangka akan bertemu seorang Leya Jacson, apa lagi dalam sebuah ruangan yang privat. "Hai," sapa Leya dan wanita itu melemparkan senyum ramah seraya bangkit dari sofa. "Maaf, membuatmu menunggu," ucap Ares dan menghampiri Leya, menyapa dengan menempelkan pipi kanan dan kirinya di pipi Leya. "Jangan khawatir, aku memiliki waktu luang yang lumayan banyak hari ini," ucap Leya kemudian pandangannya beralih kepada Vanya. "Ini adik tirimu yang kau ceritakan itu?" Vanya merengut dan menatap Ares, berpikir jika Ares menceritakan kenakalannya kepada Leya dan tentunya dirinya merasa malu jika kelakuan buruknya diketahui oleh Leya. "Manis, bukan?" Ares tersenyum kepada Leya. "Vanya, kemarilah," ucapnya seraya melambaikan tangan kepada Vanya. "Hai, Vanya," sapa Leya seraya melambaikan tangannya di depan d**a dan tersenyum lebar. "Aku Leya Jackson." Vanya juga tersenyum. "Aku menonton beberapa filmmu." Leya mendekati Vanya dan meraih pergelangan tangan gadis itu. "Oh, ya?" "Ya. Meskipun aku bukan salah satu fansmu," ujar Vanya. Ares mengernyit karena cara Vanya yang blak-blakan dan berharap Leya tidak mengambil hati dengan ucapan Vanya. "Leya, maaf... maksud Vanya...." Leya mengibaskan tangannya di depan dagunya. "Bukan masalah, lagi pula Vanya memang tidak perlu menjadi salah satu dari mereka karena aku adalah temanmu." "Teman?" tanya Vanya seraya mengerjap-ngerjapkan matanya menatap Leya. Leya mengangguk dengan tegas. "Ya. Teman." "Syukurlah, karena jika kau pacarnya... aku harus mempertanyakan seleramu," ucap Vanya dengan nada ringan kemudian menyeringai seraya melirik Ares. "Kami sudah berteman selama tiga tahun, sepertinya." Leya terkekeh lembut kemudian mengajak Vanya duduk di sofa. "Apa kegiatanmu sekarang, Vanya?" "Aku masih sekolah, kelas tiga," jawab Vanya. "Ah, aku merindukan masa-masa sekolahku dulu meskipun aku benci semua mata pelajaran." "Kau membenci semua mata pelajaran?" Leya mengedikkan bahunya. "Aku lebih mencintai dunia akting, dan ingin total masuk ke dalamnya. Tetapi, orang tuaku ingin agar aku tetap mengutamakan pendidikan." "Apa kau juga menamatkan pendidikan di perkuliahan?" "Tentu saja. Meskipun saat itu aku merasa hampir menjadi gila karena banyaknya tugas. Ya Tuhan!" Leya menggeleng sembari menyeringai. "Omong-omong, apa kau sudah merencanakan ke mana kau akan melanjutkan kuliah?" "Aku ingin menjadi ahli keuangan," ucap Vanya. Ares yang sedang membaca menu yang disodorkan pelayanan mengalihkan pandangannya kepada Vanya dan cukup terkejut dengan ucapan Vanya, tetapi dia juga tersenyum karena Leya menjalankan tugasnya dengan sangat alami. Ares memuja bakat akting Leya. Ares kemudian mendengarkan Vanya dan Leya bercakap-cakap, cepat sekali akrab seperti teman lama yang lama tidak berjumpa. Vanya bahkan beberapa kali tertawa riang, sesuatu yang belum pernah Ares temui. Bahkan keduanya juga saling bertukar media sosial, mengambil foto berdua dan sepanjang menyantap makan siang di ruangan itu seolah hanya ada mereka. Ares seperti tidak berada di tengah-tengah mereka. "Vanya, berapa tinggi badanmu?" tanya Leya ketika mereka sudah selesai menyantap hidangan makan siang dan berniat meninggalkan tempat itu. Vanya terlihat berpikir beberapa detik. "Terakhir, mengukurnya mungkin saat aku masuk SMA, saat itu 170." Leya tersenyum. "Sepertinya kau bertambah sekitar lima cm. Apa kau pernah berniat untuk menjajal dunia modeling?" Vanya menggeleng, satu-satunya yang diinginkannya adalah tinggal bersama ayah, ibu, dan Julio. Atau jika tidak, menjauh dari ibunya, tinggal di tempat yang tidak seorang pun mengenalnya agar semua cibiran yang diterima karena ulah ibunya berakhir. Namun, berkumpul dengan keluarga yang lengkap adalah impian terbesar Vanya. "Aku tidak pernah memikirkannya, lagi pula aku tidak memiliki bakat berjalan di atas catwalk." Leya merangkul pundak Vanya dan mereka berjalan menuju pintu bersama-sama. "Kau bisa memulainya dari model katalog. Bagaimana?" Vanya menggeleng dan menyeringai. "Aku tidak ekspresif dan aku tidak cantik." "Siapa bilang kau tidak cantik? Kau memiliki postur yang sempurna untuk menjadi seorang model, Vanya. Begini saja, kau hubungi aku jika kau berminat, oke?" Ares yang berjalan di belakang Vanya dan Leya menggaruk bagian belakang kepalanya karena sepertinya Leya terlalu jauh memainkan sandiwara. Ia berdehem. "Leya, apa kau membawa mobil?" Leya menoleh kepada Ares. "Tentu saja." "Aku tidak akan pulang bersamamu, aku akan menggunakan taksi," ucap Vanya kepada Ares. "Aku menerima pesan teks dari ayahku, dia memintaku untuk datang ke rumahnya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN