Chapter 11
Ketika Vanya membuka pintu Bugatti yang dikemudikan Ares, Julio sedang menyiram pepohonan di area sekitar rumah. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Ares, Vanya keluar dari mobil lalu berlari ke arah Julio.
"Julio...." seru Vanya dan Julio segera melepaskan selang air yang dipegangnya kemudian merentangkan tangannya seraya menyongsong kedatangan Vanya.
"Aku merindukanmu," ucap Julio seraya memeluk Vanya.
"Aku sangat merindukanmu, di mana Papa?"
"Papa masih di tempat kerja," ucap Julio seraya melepaskan pelukannya kemudian mematikan kran air.
"Ada acara apa? Kenapa Papa mengundangku makan malam hari ini?" tanya Vanya.
Julio merangkul pundak Vanya dan mereka berjalan ke arah pintu masuk. "Jadi, kalau Papa tidak mengundangmu ke sini, kau tidak akan mengunjungi kami?"
Vanya menyeringai. "Kau tahu sendiri, 'kan? Aku kesulitan mendapatkan izin keluar rumah."
Julio terkekeh. "Tapi kau bisa melarikan diri kalau malam."
Vanya menyeringai. "Sekarang sepertinya tidak lagi."
"Kenapa?"
"Anak dari pria tua itu tinggal di rumah kami dan...."
"Evander?" tanya Julio.
"Namanya Ares, si iblis pengatur. Bukan Evander," kata Vanya dengan nada jengkel.
"Evander itu adik Ares."
"Hoh? Jadi, iblis itu punya adik? Aku yakin mereka sama-sama iblis."
"Dia bos promotorku," ujar Julio.
"Ares?" tanya Vanya terheran-heran.
"Ya."
Vanya menghela napasnya. "Mama memercayakan Ares untuk mengurusiku."
"Kalian sepertinya menjadi keluarga harmonis, ya?"
"Harmonis apa? Ares itu sok berkuasa dan sok bisa mengurus orang lain!"
Julio terkekeh dan mendorong pintu lalu mereka berjalan ke ruang makan, Julio kemudian mengambil dua botol minuman dingin dan mengajak Vanya untuk mengobrol di kamarnya.
Vanya berdiri di depan jendela kamar Julio, kedua sikunya ditumpukan di atas moulding jendela dan menatap halaman rumah yang luas. Rumah yang Julio tempati sekarang dibeli dari gajinya selama menjadi pembalap, tetapi Julio selalu menekankan jika keberhasilannya adalah juga berkat usaha ayah mereka. Bukan semata-mata karena usahanya sendiri.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Julio seraya mengulurkan botol berisi air dingin kepada Vanya yang segel penutupnya telah dibuka.
Vanya menerima botol itu dan dengan pelan berucap, "Aku masih berharap jika suatu saat Papa dan Mama bersama lagi seperti saat kita anak-anak."
Julio meletakkan telapak tangannya di atas kepala Vanya dan mengusap-usapnya dengan lembut. "Kontrakku akan berakhir setelah musim depan."
"Kau akan pindah?"
"Rencananya," jawab Julio dengan muram. "Kapan ujian sekolahmu?"
"Kurang dari tiga bulan," jawab Vanya kemudian beberapa terguk menikmati air dingin dari botol yang dipegangnya.
Julio beringsut dan meletakkan sikunya di moulding jendela seperti Vanya. "Mau tinggal bersamaku setelah lulus?"
"Mama tidak akan setuju," desah Vanya.
"Kau sudah dewasa, Vanya. Kau bisa menentukan sendiri apa pun yang kau inginkan."
"Itu cara pandang kita, tapi tidak dengan Mama."
Julio menatap wajah Vanya dari arah samping dan bibirnya mengulas senyum tipis. "Kau ingin kuliah di luar negeri, bukan?"
Vanya mendengus. "Sebenarnya itu hanya keinginan agar aku bisa lepas dari semua kekangan Mama."
"Lakukan saja," kata Julio dengan nada lembut. "Aku yang akan membiayai semua keperluanmu."
Vanya menghela napas dengan berat kemudian menegakkan tubuhnya dan menatap mata Julio lalu menggeleng pelan. "Jika aku kuliah di luar negeri, aku akan semakin jauh darimu dan Papa."
"Sudah kukatakan tadi kalau aku berencana pindah, kan?" kata Julio.
"Kau serius?"
"Ya."
"Bagaimana dengan Papa dan pekerjaanmu?"
Julio menegakkan tubuhnya dan berdiri di depan Vanya. Ditatapnya wajah Vanya dengan tatapan penuh kasih sayang, ia tersenyum seraya menyibakkan beberapa jumput rambut Vanya dan mendorongnya ke belakang. "Maafkan aku, selama ini aku sangat sibuk hingga tidak memiliki banyak waktu untukmu. Tapi percayalah, aku sedang memikirkan masa depan kita."
"Apa ada sesuatu yang belum kuketahui?" tanya Vanya.
"Ini mungkin akan sangat membuatmu terkejut jika kau mendengar langsung dari Papa."
"Maksudmu? Aku tidak mengerti."
Julio menghela napasnya dengan berat. "Papa sudah melamar Vanesa."
Air mata Vanya tergelincir ke pipinya, harapannya agar kedua orang tuanya kembali bersama sudah musnah. Julio sudah menduganya, Vanya pasti akan sulit menerima berita itu karena adiknya masih menaruh harapan ayah dan ibu mereka hidup rukun dan tinggal dalam satu rumah. Julio juga tidak munafik, dia pun memiliki impian seperti Vanya.
Namun, tentunya Julio lebih dewasa menyikapi jalan yang kini dipilih orang tuanya, dia tidak memaksakan keinginannya karena ayah dan ibu mereka berhak menentukan jalan kebahagiaan mereka masing-masing. Bagaimanapun percuma jika kedua orang tuanya bersama tetapi mereka tidak bahagia.
Ibunya adalah orang yang idealis dan perfeksionis, sedangkan ayahnya adalah orang yang cenderung santai. Satu-satunya yang kesamaan dalam diri mereka adalah memiliki sifat ambisius, sayangnya ambisi mereka berseberangan sehingga lambat laun membuat cinta di antara mereka dikalahkan oleh perbedaan misi.
Dimulai setelah menyelesaikan pendidikannya di universitas, Tania mulai sibuk dengan pekerjaannya yang menyita waktu, sedangkan Leandro yang merupakan ahli mesin juga fokus pada pekerjaan yang kebetulan sesuai dengan hobinya. Kemudian ketika Julio mulai memperlihatkan bakatnya, keretakan hubungan mereka menjadi semakin lebar dan puncaknya setelah tiga tahun Tania masuk ke dalam dunia politik. Hubungan ibu dan ayah mereka tidak dapat diselamatkan.
Leandro sudah berusaha memperbaiki hubungannya dengan Tania. Demi anak-anak. Dia bahkan mencoba melamar Tania, tetapi Tania yang tidak ingin Julio bergelut di dunia balap mengajukan syarat yang mustahil karena Julio sendiri mencintai dunia yang diperkenalkan ayahnya. Semuanya semakin kacau mana kala Tania diterpa gosip terlibat skandal dengan bosnya meskipun Tania tidak pernah menginformasi kebenaran gosip tersebut.
Julio memeluk Vanya, mengusap-usap punggung gadis itu dengan lembut. "Jangan khawatir, aku akan tetap ada untukmu. Aku tidak akan meninggalkanmu, kau tidak akan sendirian."
Vanya terisak di d**a Julio. "Kau juga akan menikah suatu saat nanti."
Julio mengerti ketakutan Vanya. Ibu dan ayah mereka pada akhirnya masing-masing memiliki keluarga baru, sedangkan mereka hanya bagian dari masa lalu. "Jangan khawatir, aku tidak akan menikahi wanita mana pun kecuali kau telah menemukan pria yang dapat kupercaya."
***
Ares berdiri di balkon rumah yang menghadap ke halaman depan, tangan kirinya memegangi gelas berisi wiski sedangkan tangan kanannya memegang ponsel yang ditempelkan ke telinganya.
"Bagaimana keadaan mama hari ini?" tanyanya kepada perawat yang dipercaya mengurus ibunya.
"Hari ini ibumu cukup stabil. Tekanan darahnya stabil, dan gula darahnya juga sangat normal."
"Lalu bagaimana dengan emosinya?"
"Dia tidak menunjukkan emosi yang berarti hari ini, mungkin karena hari ini jadwal kelas yoga sehingga ibumu lebih rileks."
Perselingkuhan ayahnya dengan Tania memang telah terindikasi sejak lama, tetapi perceraian sama sekali tidak pernah dibayangkan oleh ibunya mengingat panjangnya waktu yang telah mereka lalui. Sayangnya, ayahnya dibutakan oleh pesona Tania dan perceraian tidak dapat dihindarkan. Yang paling menampar ibunya adalah pernikahan mereka yang berselang kurang dari dua bulan sejak putusan pengadilan.
Ares menghela napasnya dengan berat. "Meskipun begitu, jangan sampai kau lengah, jangan biarkan ibuku sendirian terlalu lama."
"Kami di sini berusaha sebaik untuk ibumu, jangan khawatir," kata perawat itu. "Oh, iya. Ibumu setelah makan malam tadi mengatakan sangat merindukan adikmu."
"Aku akan memberitahu Evan agar menemui Mama besok," kata Ares kemudian memutuskan panggilan telepon dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
Ia baru saja hendak beranjak dari tempatnya berdiri, tetapi sorot cahaya lampu mobil yang memasuki pekarangan membuat Ares mengurungkan niatnya. Ia menopangkan lengannya di atas besi pembatas balkon dan mengamati Mercedes Benz C600 yang memasuki pekarangan rumah. Ares melihat Vanya keluar dari mobil itu dan disusul oleh Julio kemudian keduanya berbicara lalu Julio memeluk Vanya dengan cukup lama dan penuh kasih sayang.
Lima menit kemudian Vanya tiba di lantai atas dan Ares menyadari jika wajah gadis itu bersimbah air mata. Kening Ares berkerut, mungkinkah Vanya bertengkar dengan Julio?
Namun, sepertinya tidak karena saat keduanya berpelukan tidak terlihat jika ada perselisihan di antara kedua. Ares meninggalkan balkon dan meletakkan gelasnya ke atas meja etalase kemudian menyusul Vanya di kamarnya.
Gadis itu meringkuk seperti seekor kucing yang kedinginan di atas tempat tidur. Ares menutup pintu kamar dan mendekati Vanya.
"Vanya?" sapa Ares.
"Pergi kau dari sini!" bentak Vanya tanpa memalingkan wajahnya.
"Hei, ada apa? Kenapa kau menangis?" tanya Ares dengan nada sangat lunak.