Prolog
Mungkin, ini tidak masuk akal. Namun sungguh, 1 tahun sudah Makiel impoten semenjak ia disuruh memanjat pagar karena Valerie—istri dari sahabatnya, Alarick—yang ngidam. Makiel tidak bisa tidur dengan wanita mana pun. Dahulu, dia bisa meniduri tua atau muda. Siapapun wanita yang mampu membangkitkan gairahnya. Namun sekarang, Makiel bukan apa-apa dengan kejantanannya yang tidak bisa berdiri. Dulu, dia bisa memuaskan wanita manapun dengan kejantanannya. Namun sekarang, mengeras sedikit saja tidak bisa. Tentu wanita yang sudah b******u dengannya langsung pergi dan mengira Makiel gay. Makiel bahkan merasa bersyukur jika dia gay. Setidaknya kejantanannya tetap bangun. Namun kejantanannya tetap tidur walaupun dia melihat laki-laki ataupun perempuan.
"Sialan. Ke mana teman-temanku saat aku kena musibah seperti ini???" geram Makiel di sebuah bar yang ia sering kunjungi dengan teman-temannya dulu. Makiel meminum birnya dengan sekali tegukan. Tegukan sloki, tentunya.
Seorang bartender datang dan mengisikan air saat Makiel memanggilnya. "Butuh pelampiasan, tuan? Wajah Anda terlihat kusut seolah tidak pernah menyemburkan sperma." Katanya.
Makiel mendengus sinis dan kembali minum alkoholnya dalam sekali tegukan. "Lebih dari itu, aku merasa galau karena tidak ada yang menemaniku saat aku terkena musibah “tidak pernah menyemburkan s****a”." Katanya sambil memberikan tanda kutip di akhir ucapannya.
"Kenapa Anda tidak tidur dengan Sharena Christin saja? Dia terkenal dapat memuaskan lelaki sampai lemas."
Makiel mendengus. "p*****r manapun tidak dapat membuatku puas."
"Ini berbeda. Dia berbeda. Dia tidak tidur dengan sembarangan orang. Sekali membayar, Anda harus merogoh puluhan juta dollar untuk menyewanya."
"Sombong sekali."
"Dan panas. Itulah pesonanya."
Makiel hanya mengangkat alisnya sambil kembali meminum minumannya.
"Itu orangnya. Dia sepertinya baru datang." Kata bartender tersebut membuat Makiel membalikkan badannya dan terpana seketika.
Bukan karena terpana akan kecantikan, namun terpana karena ia mengenal wajah itu. Hanya wajahnya tanpa nama dari wanita itu yang sekarang dia tahu namanya adalah Sharena. Mata Makiel membola melihat perubahan wanita itu. "Si Cupu??" bisiknya tidak percaya.
"Sangat seksi, bukan?"
Makiel terdiam. Otaknya memutar ke masa lalu di mana wanita yang berjalan memasuki kelab itu masih menjadi seseorang yang dikenalinya dengan Si Cupu, lalu membandingkan dengan perubahannya yang sekarang. Disaat otaknya memutar dan terpaku pada wanita itu, tanpa Makiel sadari, kejantanannya mulai menegang perlahan.
"Tuan, yang di bawah terlihat sesak." Kata bartender tersebut, membuat Makiel tersentak dan menatap ke arah kejantanannya yang menyesak, lalu melemas perlahan.
Makiel berdecak kesal. "Apaan itu! Kenapa sebentar sekali tegangnya?"
Bartender itu terkekeh pelan. "Tuan, bukannya itu tanda agar Anda harus berhubungan dengan Sharen? Bisa jadi, Anda tegang kembali ketika Sharen melakukan aksinya menggoda Anda."
Makiel mengerjap sekali, kemudian menatap bartender itu dengan senyum yang perlahan muncul, dan juga anggukkan kepala pelan, seolah setuju. "Ya, kau benar," ucapnya menyeringai. Matanya kembali menatap Sharena yang kini berlenggak-lenggok di atas lantai dansa. "Aku akan tidur dengannya."
Hanya saja, Makiel tidak tahu jika mendekati Sharena, sama saja membuka hal yang tak seharusnya diketahui oleh Makiel dan bahkan Sharena sendiri.