Makiel menuruni tangga dengan kaos putih ketat yang mencetak tubuh berototnya. Wajahnya masih kucel karena belum mandi dan langsung ke bawah setelah gosok gigi. Ekspresinya sangat kesal ketika melihat 3 orang yang tadi mengganggunya itu sudah duduk rapi di ruang tamu.
Mereka adalah sahabat baik Makiel. Dia dan mereka sering disebut The Devils. Sebuah grup yang beranggotakan Makiel Zander McKennedy, Alarick Kaslov Damian, Darren Valentino Reinhard, dan Felix Wilkinson.
Mereka berempat adalah pengusaha terkenal di California, dan LA adalah istana mereka. Tidak ada yang tidak kenal mereka di negeri ini. Dari nenek moyang sampai keturunan mereka, selalu menjadi sorotan media. Jika mengambil kalimat dari istrinya Felix, The Devils bahkan bisa menyaingi berita BTS. Jika BTS adalah boy band terkenal, The Devils adalah boy brand terkenal.
4 penguasa yang masih muda dan sukses dalam jalannya, siapa yang tidak tertarik? Apalagi tubuh dan wajah mereka bahkan memiliki harga jual walaupun tidak dipergunakan untuk hal tersebut.
Mereka memiliki panggilan mereka sendiri. Alarick, Si Berengsek Tampan yang sering disebut Bastard Devil. Darren, Si Dingin Keren yang sering disebut Cold Devil. Dan Felix, walaupun Makiel enggan mengakuinya, Felix adalah Si Sexy Tampan yang sering disebut Hot Devil. Dan Makiel, adalah pria ambisius yang sering disebut Si Gila Tampan atau Crazy Devil.
Makiel membuang napasnya pelan. Dia duduk di hadapan teman-temannya yang terlihat tenang-tenang saja. "Ada urusan apa kalian ke sini?" Tanyanya, tidak menyembunyikan kekesalannya sedikit pun.
"Mana wanita itu?" Tanya Alarick sambil melihat-lihat ke arah tangga.
"Ya, dia tidak ikut turun?" Tanya Felix kemudian, ikut menatap ke arah tangga. Sedangkan Darren, tidak dapat dipungkiri bahwa pria itu juga ikut melirik tangga sesekali.
"Hentikan!! Apa kalian tidak malu?! Kalian sudah menikah!" Kesal Makiel melihat teman-temannya itu sangat penasaran pada Sharena.
"Kenapa kau sinis begitu? Kita hanya penasaran."
"Benar. Wanita itu sangat cantik. Dan dadanya... Woah, besar sekali."
"Lebih besar d**a Anna," Darren untuk pertama kalinya ikut dalam pembicaraan teman-temannya. "Walaupun memang, wajahnya lebih cantik."
Emosi Makiel kini sudah berada di ubun-ubun. "Benarkah?! Kalau begitu, mau bertukar? Bagaimana jika Anna kau berikan padaku, dan wanita jalang itu kuberikan padamu?!"
"Walaupun kau menyewaku, aku tetap bukan milikmu, Tuan Makiel."
Suara itu kini membuat 4 orang di sana mengalihkan perhatian mereka pada wanita yang sedang menuruni tangga. Seolah ada sinar matahari yang tiba-tiba muncul, wanita yang menggunakan kemeja putih kebesaran itu terlihat sangat bersinar ketika menuruni tangga. Tak ada satu pun pria yang ada di sana, yang bisa mengalihkan perhatian mereka dari wanita itu.
"Hey! Siapa yang menyuruhmu keluar? Dan siapa yang membiarkanmu memakai pakaianku?!" Kesal Makiel sambil melirik teman-temannya yang masih terpaku dan juga Sharena yang menebarkan pesonanya.
Sharena hanya tersenyum. Dia terus turun dan menghampiri tempat 4 pria itu berada. Sampai di sana, Sharena duduk di tempat Makiel, tepatnya di pangkuan pria itu dengan duduk miring. Kaki telanjangnya berada di sandaran sofa yang diduduki Makiel.
"Woah Valerie tidak pernah begitu padaku." Kata Alarick dengan takjub.
"Felly juga," balas Felix dengan sedih. "Hanya ketika dia hamil saja, dia berani duduk di pangkuanku."
Sharena tersenyum menggoda ketika melihat wajah kesal Makiel. "Dan Tuan Makiel, kau tahu aku tidak menerima pria yang menikah. Kecuali..." Sharena menghentikan ucapannya dan menatap 3 pria yang masih menatapnya itu. "... Dengan duda."
3 pria yang menatapnya itu langsung berubah masam.
"Jaga ucapanmu!" Kesal Makiel. "Kau pikir, mereka mau melepaskan wanita mereka demi dirimu?"
"Makiel benar."
"Aku setuju dengan Kiel."
"Ya, memangnya kau siapa huh?!"
Sharena mendelik. Dia tersenyum culas. "Kalau begitu, seharusnya kalian semua menjaga mata kalian dan mulut kalian. Berani-beraninya pria bersuami menatap p******a wanita lain tanpa berkedip."
"Kapan aku melakukannya?!"
"A-aku hanya terkejut dan tak bisa mengalihkan mata."
"Wanita itu benar. Kalian mata keranjang."
"Darren!! Kau pun menikmatinya tadi!"
"Ya! Dan jangan lupakan matamu yang tidak berkedip ketika wanita itu turun tangga."
"Yang penting aku tidak mengubah ekspresi seperti orang mesum."
"Aku tidak m***m!!"
"Ya! Kita hanya k-kagum saja! Siapa sangka wanita cupu itu terlihat sangat berbeda sekarang!"
Sharena kali ini berkedip. Dia memperbaiki duduknya menjadi membelakangi Makiel. "Kalian..., Mengenalku?" Tanyanya, menghentikan perdebatan ketiga orang di sana.
"Sudah kubilang, kau menggilaiku dulu." Sombong Makiel.
Sharena menatap Makiel sejenak, dan merasa cemas ketika melihat senyum jahil pria itu.
"Tentu saja kami kenal," kata Alarick, membuat Sharena menatap Alarick kembali. "Hey! Jangan bilang kau melupakan pria keren dan kaya sepertiku?! Seperti kami?!"
Sharena hanya diam kembali. Dia menyilangkan kakinya dan duduk bersandar di d**a Makiel. Wajahnya terlihat berpikir, tidak mempedulikan reaksi Makiel yang kali ini menegang karena perlakuan Sharena.
Sementara mereka kembali ribut karena Sharena yang tidak mengingat orang-orang berduit seperti mereka, Sharena memikirkan kenapa juga dia tidak mengingat para pria seperti mereka.
Makiel, Felix, Alarick, Darren, dan Si Cupu. Apakah... Mereka berlima terlibat dengan takdir yang buruk di masa lalu?
***
Makiel menelan ludahnya dengan susah payah ketika ia masuk kamar dan disuguhi oleh pemandangan yang luar biasa indah.
Ya, sangat indah karena wanita yang semalam menghabiskan malam dengan Makiel itu, kini sedang menggunakan pakaian yang baru saja Makiel beli. Tepatnya, wanita itu sedang menggunakan celana dalamnya dengan tubuh yang sudah telanjang sedari tadi.
Sial, Makiel ingin menerjang wanita itu sekali lagi.
Benar juga. Kenapa Makiel tidak langsung menerjang wanita itu saja? Sharena kan jalang. Sudah sepantasnya Makiel menyewa wanita itu berkali-kali dan lagipula, Makiel kan membayar Sharena untuk itu.
"Sebaiknya, kita jangan bertemu lagi."
Ucapan itu membuat Makiel yang sudah selangkah menghampiri Sharena, kini terhenti dan menatap heran pada wanita yang sedang duduk di tepi kasur sambil memakai stocking hitam. "Apa?" Tanya Makiel, refleks.
"Aku merasa jika kita memiliki takdir yang buruk." Kata Sharena sambil berdiri dari duduknya dan menaikkan stocking hingga paha.
Makiel membeku di tempatnya. Matanya menatap lurus pada wanita yang sedang meraih rok pendek di hadapannya itu. Merasa terhina, Makiel berdecih. "Siapa juga yang ingin bertemu denganmu?! A-aku baru saja ingin mengatakan hal itu!" Kesalnya pada Sharena.
Sharena memakai branya sambil menatap Makiel dan mengangguk. "Baguslah. Jangan sapa aku di mana pun kita bertemu."
"Woah sialan! Ini pertama kalinya aku mendengar hal itu! Pertama kalinya! Kau pikir siapa dirimu hah?! Berani-beraninya mengatakan hal tersebut padaku! Aku bahkan membayarmu lebih banyak dari pada orang lain!" Oceh Makiel panjang lebar.
Sungguh, walaupun sahabat-sahabatnya selalu menghina Makiel dan juga membullynya, mereka bahkan tidak pernah berani mengatakan hal semenyebalkan Sharena. Dan lagi, teman-teman Makiel adalah orang yang terhormat. Sedangkan Sharena? Wanita jalang yang memiliki arogansi tinggi. Orang rendahan yang berani-beraninya merendahkan Makiel!
Cih, hanya membuat kejantanan Makiel berdiri saja, wanita itu sudah seberani ini!
"Kau cepatlah angkat kaki dari rumahku. Orang rendahan sepertimu akan membuat rumah ini sangat kotor." Kesal Makiel, membalas perlakuan buruk Sharena padanya.
Sharena mengabaikan dan mengambil tasnya beserta ponselnya yang tergeletak di meja. "Itu yang sedang kulakukan," ucapnya, sambil melangkah mendekati Makiel. Tepatnya, karena Makiel berdiri di depan pintu, maka Sharena berjalan ke sana.
"Ah ya," Sharena berhenti tepat di depan Makiel. Dia mengacungkan ponselnya di depan wajah Makiel. "Aku akan memblokir nomormu. Jangan tersinggung. Kau boleh memblokir nomorku juga."
Emosi Makiel bergemuruh kencang di dalam dirinya. Sungguh, Makiel tidak pernah seemosi ini dalam hidupnya. Sementara Sharena berjalan melewatinya, Makiel berbalik dengan tangannya yang terkepal di kedua sisi tubuhnya. "AKU YANG AKAN MEMBLOKIRMU, TAHU! AKU AKAN MEMBLOKIRMU LEBIH DULU!! AKU AKAN MEMBLOKIRMU SEKARANG!!"
Sharena yang sudah berjalan jauh hanya mengangkat satu tangannya yang masih memegang ponsel, tanpa berbalik seolah Makiel hanya remahan nasi yang pantas untuk diabaikan.
Emosi Makiel makin membumbung ketika wanita itu menghilang di balik pintu. "SIALAN!!" teriaknya sekuat tenaga. d**a Makiel bahkan naik turun karenanya. "Dia yang jalang, kenapa aku yang merasa sangat rendah?!"
***
Beberapa bulan kemudian
Sebuah gosip bahwa Makiel kembali meniduri banyak wanita sudah mulai tersebar di sepanjang Los Angeles. Jika dilihat dari banyaknya gosip itu disebar, ada kemungkinan bahwa seluruh wanita dan bahkan pria di LA sudah mendengar berita dari mulut ke mulut itu. Dan bisa ditebak, sebentar lagi mungkin ada artikel tentang Makiel di berita saking banyaknya berita itu disebar.
Sedangkan si topik berita itu sendiri hanya senyam senyum sambil menggosok dagunya dengan kasar. Memainkan bulu-bulu kasar yang terdapat di sana.
"Apa maksud dari rumor yang kau sebar sendiri ini?" Tanya Alarick, menatap heran pada Makiel yang duduk di sofa kantor milik Darren. Tepat di hadapan pria itu.
Ya, saat ini tiga anggota The Devils sedang berkumpul sedangkan Felix sendiri sedang mengurus anak-anaknya di rumah. Pria satu itu, yang dulu seperti kembar tak terpisahkan dengan Makiel, kini menjadi seorang ayah yang sangat menyayangi keluarga. Dan lagi, dia satu-satunya pria yang banyak berkorban untuk wanita daripada anggota The Devils yang lain.
Jika Darren dan Alarick senasib karena sama-sama ditinggalkan lebih dulu, Felix membuat skenario agar Felly yang meninggalkan pria itu demi kebahagiaan wanitanya. Sungguh sangat mendewasakan pria yang suka menguji orang itu.
"Apa kau sedang jatuh cinta atau sesuatu?" Tanya Alarick kemudian, mengundang tawa Makiel yang menggema di dalam ruang kantor Darren. Tentu saja, suaranya sungguh mengagetkan kedua pria di sana.
"Kau bercanda? Aku tidak jatuh cinta! HAHAHA!"
"Kau memaksakan diri untuk tertawa." Pernyataan dari Darren.
"Tidak! Aku tidak!" Kata Makiel sambil tertawa kaku. "Kau ingat ucapanku? Seorang Makiel jatuh cinta? Hey, itu akan menjadi sebuah keajaiban dunia ke delapan!"
Alarick mendelik. "Kau ini kapan dewasanya sih?! Olaf saja sekarang sudah dewasa."
"Olaf? Siapa Olaf?"
"Kau tidak menonton Frozen 2? Olaf sudah dewasa di sana."
"Kau gila?! Mana mungkin aku menonton film pembodohan itu!"
"Benar kan? Itu pembodohan bukan? Tapi percayalah, ketika jatuh cinta, saat wanitamu meminta hal terkonyol sekalipun, kau tidak akan bisa menolaknya."
"Itu sih kau saja yang jadi b***k cinta. Darren mungkin tidak."
"Hey, Anna-nya Darren yang mengajak istriku pergi menonton film itu!"
"Benarkah? Angel-ku? Kenapa Angel-ku tidak menghubungiku? Aku pasti akan menemani kesayanganku itu."
Mendengar nama istrinya disebut sedemikian mesranya oleh sang sahabat, Darren menatap Makiel dengan pandangan tajam. "Kau pikir istriku itu akan pergi dengan siapa." Tanyanya datar.
"Dengan masa depannya." Ucap Makiel sambil menunjuk dirinya sendiri.
Dan dokumen pun melayang ke arah kepala Makiel.
"Bawahanku! Jangan menyia-nyiakan kertas!" Ucap Alarick, dan dokumen pun kemudian melayang tepat di wajah Alarick. "Sial! Punya bawahan menyebalkan sepertimu seharusnya sudah kupecat dari lama."
"Diamlah! Kalian ini dari dulu suka sekali menggangguku! Apa aku harus menggunakan pengawal juga di kantorku sendiri?!" Kesal Darren pada 2 sahabatnya itu.
"Hey! Ini kantorku! Kau bawahanku! Kau mengusir bosmu sendiri?! Kau ingin kupecat?!"
"Pecat saja."
"Tidak jadi. Kau terlalu berguna," kata Alarick kemudian, ia berdeham pelan. Dia mengalihkan pandangannya ketika Darren tersenyum sinis sambil memiringkan kepala seolah menantang. Alarick kembali menatap Makiel. "Intinya, kau akan melakukan banyak pembodohan ketika sudah jatuh cinta. Seperti kau sekarang ini. Apa kau sungguh sudah kembali meniduri wanita lain?"
"Tentu saja! Kamarin bahkan aku berpesta seks dengan banyak wanita."
"Benarkah?"
"Dan pria."
Alarick mendelik mendengar ucapan Makiel. "Baiklah jika begitu. Apa kau puas melakukannya?"
"Tentu saja," kata Makiel. "Tentu saja aku puas."
"Kau ingat saat aku menolak pernyataan bahwa aku menyukai Valerie?"
"Tidak."
Alarick melotot. "Intinya!" Kesal Alarick. "Yang sekarang kau lakukan ini, sama sepertiku. Meyakinkan diri sendiri."
"Maaf saja, aku memang benar-benar puas dengan pesta seks kemarin."
"Kebahagiaan itu dibuat, bukan dicari," ucapan itu bukan datang dari Alarick maupun Darren, tapi dari Felix yang baru saja datang tanpa salam dan mengetuk pintu. Pria itu membuang napas kasar saat duduk di samping Makiel. "Kau mencari kebahagiaan, Kiel. Dan kau akan kecewa saat tidak menemukannya."
"Ceritamu sudah tamat, Felix. Berhentilah berbicara tentang kebahagiaan," kesal Makiel sambil mendelik. "Lagipula, kenapa kalian jadi berbicara sepuitis ini, sih?! Dulu kita masih menganggap cinta itu omong kosong!"
"Ya, karena itulah, orang-orang seperti kita ini seharusnya tidak pantas untuk dicintai," kata Felix sambil mengedikkan bahunya. "Mungkin, jika dulu aku tidak menganggap cinta adalah sesuatu yang remeh, Felly tidak akan terluka sedalam itu. Aku tidak akan merasa bersalah hingga saat ini. Lelaki seperti kita ini, terlalu egois untuk melepaskan orang yang mencintai kita. Namun, kenapa saat sudah memiliki, kita masih egois dan menyakiti perasaan orang yang mencintai kita?"
Alarick mengangguk menyetujui. "Felix benar. Entah kenapa, sampai sekarang aku masih merasa tidak cukup baik untuk dicintai oleh Valerie."
"Aku pun merasa begitu," kata Darren kemudian. "Berkali-kali aku menyakiti Anna di masa lalu. Wanita yang satu itu benar-benar tidak tertebak. Dia terlalu mandiri dibalik sikap menyebalkannya. Kehilangan Anna saat itu membuatku sadar jika aku tidak boleh melewatkan seharipun dengan menyakitinya. Jika tidak, aku akan menyesal karenanya."
"Ya Tuhan! Aku merasa terasingkan di sini."
"Ya Tuhan, Makiel menyebut Ya Tuhan! Apa aku bermimpi? Makiel, siapa Tuhanmu?" Ucap Felix dengan berlebihan.
Makiel mendelik. "Aku tidak punya, tapi semua manusia pasti akan menyebut Ya Tuhan walaupun tidak punya."
"Kiel benar. Hari ini aku bertemu setan, dan aku menyebut Ya Tuhan." Kata Darren sambil mengangguk.
"Ya, aku juga menikah di gereja 2 kali," kata Alarick sambil tertawa. "Omong-omong, kau serius bertemu dengan setan, Darren?"
"Tentu saja. Kan kalian setannya." Kata Darren dengan datar, membuat Alarick menghilangkan tawanya seketika.
"Pembicaraan kita ini random sekali," kata Makiel sambil mendelik. "Bukannya aku adalah si pengganggu? Kenapa jadi kalian yang menggangguku?"
"Kau menggangguku, Bodoh! Tidak ada yang mengganggumu! Kau yang mendatangiku dan membuatku terganggu! Dasar bodoh!" Kesal Darren pada Makiel.
"Hey!! Berhentilah memperjelas seperti itu!"
"Bodoh! Makiel bodoh!"
"Apa hanya aku saja yang merasakannya atau kau memang menyebalkan sekarang?"
"Suatu saat, aku akan membalasmu! Kau lihat saja nanti!"
"Oh jadi kau mendendam padaku, sekarang?!"
"Semua di ruangan ini mendendam padamu!"
"Aku tidak. Kiel tidak mengganggu Felly."
"Tentu saja aku tidak mengganggu kembaranku."
"Aku masih ingat saat aku sudah hampir memasuki Valerie dan pria bodoh ini memasuki kamarku tanpa izin."
"Memangnya aku tahu kau sedang melakukan aktivitas menyenangkan, huh?!"
"Aku takkan melupakan saat kau menyebutku pengkhianat ketika Annabelle menyatakan cintanya padaku. Dia yang istriku kenapa aku yang disebut pengkhianat?!"
"Cinta membuatku gila, Darren. Wajarkan saja."
"Kau tidak berhak mencintai istriku!"
"Baiklah, aku akan menunggu dia menjadi janda."
"Sialan!"
"Darren!! Apa yang akan kau lakukan dengan laptop kantorku?!" Pekik Alarick melihat Darren sudah berdiri dari kursi kerjanya yang jauh itu dengan tangan yang sudah mengangkat laptop. "Duduk dan kerjakan pekerjaanmu—baik! Aku diam! Kau ini sangat tidak sensitif sekali. Aku hanya bercanda." Ucapan Alarick terpotong saat Darren mengalihkan haluannya jadi ke arah Alarick.
"Kiel, apa kau tahu ciri-ciri orang jatuh cinta?" Tanya Felix.
"Apa aku harus mengetahuinya?" Ucap Makiel sambil membuang wajahnya walaupun telinganya dia pasang lebar-lebar.
"Pertama, kau selalu penasaran akan dirinya."
"Hey, kau pikir aku akan mendengarkan ucapanmu?"
"Apa yang dia lakukan? Sedang apa? Kenapa dia melakukan itu? Apa dia menyukaiku? Mengapa dia tidak menghubungiku? Mengapa dia tidak menyukaiku? Pertanyaan semacam itu, pasti pernah mampir di kepalamu."
Makiel mendengus. "Kenapa aku harus berpikir seperti itu?! Tidak ada kerjaan sekali! Dia bahkan berkata kalau kita memiliki takdir yang buruk."
Felix tersenyum miring. "Jika kau ada di dekatnya, kau hanya akan melihatnya terus seolah di sana hanya ada kau dan dia."
"Sedari kemarin aku tidak melihatnya! Untuk apa aku terus melihat seseorang yang tidak ada?!"
"Terkadang, suaramu akan bergetar saking gugupnya berduaan bersama dia."
"Itu mungkin kau saja yang merasakannya. Kemarin aku normal-normal saja, tidak bergetar sama sekali."
"Menatapnya dengan jangka waktu yang lama, membuatmu tidak tahan dan ingin segera menyentuhnya."
"AHAHAHA itu normal untuk semua pria!"
"Kau akan terus teringat padanya, bahkan kenangan terkecil sekalipun akan menjadi kenangan indah buatmu."
"Kapan aku melakukannya?! Mengingat namanya saja tidak. Siapa sih namanya? Syahrini ya? Mirip dengan nama istri pengusaha Jepang itu."
"Kau akan dengan sengaja pura-pura tidak suka padanya."
"Kapan aku melakukannya?! Aku memang tidak menyukai wanita itu! Kita hanya baru tidur sekali—dua kali jika dihitung dengan masa lalu. Menurutmu, wanita jalang itu seberarti itu untukku? Cih!"
"Dan yang paling penting—"
"Felix, hentikan saja. Ucapanmu sangat tidak berguna."
"—jika kau memikirkannya saat mendengar ucapanku, itu berarti kau benar-benar menyukai wanita itu."
Makiel terdiam. Kepalanya segera menatap teman-temannya satu persatu yang tersenyum miring pada Makiel.
"Felix tidak mengatakan nama siapapun saat mengucapkan pernyataan itu, Kiel," kata Alarick sambil menyenderkan tubuhnya ke sandaran sofa. "Ah..., Darren. Sepertinya balas dendam kita akan segera terlaksana."
Makiel menelan ludahnya dengan susah payah. Napasnya berembus kasar ketika berteriak. "TIDAK!!!"