Crazy 9 Kedua Kalinya?

2080 Kata
Ada peraturan yang mungkin sudah mutlak dan tidak dapat dirubah kembali dalam dunia ini. Yaitu; Satu, wanita selalu benar. Dua, jika wanita salah, maka kembali pada peraturan pertama. Begitulah isinya. Maka dari itu, Makiel selalu berpikir bahwa wanita itu merepotkan. Siapapun itu, mereka merepotkan. Dan Makiel tidak ingin ikut-ikutan teman-temannya yang menjadi b***k cinta. Yang bahkan tidak bisa mengatakan tidak kecuali pada keinginan egois para pria itu sendiri. Cih, hanya medium untuk melepaskan s****a saja, kenapa wanita harus semerepotkan ini? Dan kenapa juga Makiel ada di posisi ini? Posisi di mana dia menatapi wanita itu. Wanita yang sedang terdiam menatap televisi lurus-lurus dan tidak menghiraukan keberadaan Makiel yang memang agak jauh dari wanita itu. Sharena sedang di depan televisi, dan Makiel sedang makan di ujung meja. Padahal, Makiel sudah membeli makanan untuk wanita itu. Makiel juga berinisiatif mengambil piring dan menyimpannya di atas meja agar Sharena santai. Namun, lihat wanita itu sekarang. Padahal, harusnya Makiel yang marah. Tapi wanita itu yang mendiamkan Makiel. Sharena sendiri tidak fokus pada televisi. Tidak bisa fokus pada apapun selain pikirannya sendiri. Tidak dapat dipungkiri, jantungnya berdegup sangat kencang saat mendengar ucapan Karl padanya tadi. Tubuhnya juga sudah merinding sedari tadi. Selama ini, Sharena merasa aman. Selama ini, Sharena merasa bisa melakukan segalanya. Selama ini, Sharena memajang foto kartu nama Xavier untuk itu semua. Selama ada kartu itu, semuanya bisa Sharena dapatkan. Tapi kenapa bisa ada orang yang berani melakukan ini? Siapa sebenarnya? Jika orang itu bisa seberani ini, pasti ucapannya bukan main-main kan? Melihat Sharena yang diam saja sedari tadi, sukses membuat Makiel merasa gerah. Makiel kemudian berdeham, mencoba membuat Sharena beralih menatapnya namun tetap tidak berhasil. Makiel melotot melihatnya. "Wanita benar-benar merepotkan." Makiel akhirnya berdiri, mengabaikan makanannya dan menghampiri Sharena yang masih duduk diam tanpa menghiraukan keberadaan Makiel. "Heh, Cupu," panggil Makiel sambil duduk di samping Sharena. Sharena akhirnya keluar dari lamunannya. Dia mendelik saat menatap Makiel. Tangannya bergerak menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. "Siapa yang kau panggil Cupu?" "Tentu saja kau. Memangnya siapa lagi?" Balas Makiel sewot, dan hanya dibalas dengan wajah cemberut milik Sharena. "Ada peraturan yang wajib kau turuti di rumah ini." "Peraturan?" "Hm. Peraturan," jawab Makiel sambil memincingkan matanya pada Sharena. "Pertama, apa yang kubawa harus selalu kau terima. Itu kewajiban. Termasuk makanan itu." Tunjuk Makiel pada meja makan. Sharena mengerjap. "Makanan?" Tanyanya heran. Matanya menatap meja makan dan mendapati 2 piring steak di atas meja. Gara-gara melamun akibat dari ketakutan yang dialaminya, Sharena jadi tidak tahu apa yang sedang Makiel lakukan tadi. "Ah, aku tidak tahu kau membeli makanan." Sekarang bagian Makiel yang mendelik. "Tentu saja," sarkasnya. "Peraturan kedua, sangat wajib dilakukan. Pokoknya tidak boleh tidak dilakukan. Harus benar-benar dilakukan." Sharena mendengus geli mendengar ucapan tegas Makiel. "Apa itu?" "Tidak boleh mengabaikan keberadaanku." Kata Makiel dengan mata yang semakin memincing. Sharena kembali mendengus geli. Makiel ini, seperti anak kecil sekali. Dan lagi, harga dirinya sangat tinggi melebihi langit ke tujuh. Pria ini sangat tidak ingin diabaikan. Apalagi oleh jalang seperti Sharena. Pasti Makiel sangat terhina. Dengan gerakan menggoda, Sharena naik ke atas pangkuan Makiel tanpa izin. Dia melingkarkan tangannya pada leher Makiel. "Lalu, yang ketiga?" "Yang ketiga..." Kali ini Makiel tidak bisa berpikir jernih. Kemarahannya juga menghilang entah ke mana. Dia hanya terfokus pada rasa b****g seksi Sharena yang menempel di pahanya. Makiel menelan ludahnya dengan susah payah. Kejantanannya yang impoten kali ini memberontak. Walaupun belum mengeras, rasa ngilu itu mulai terasa saat memikirkan seluruh tubuh Sharena yang telanjang saat sedang bercinta dengannya. "... Akan kupikirkan nanti." Makiel meraih belakang kepala Sharena, menyatukan bibir keduanya dan melumat lembut bibir wanita yang ada di pangkuannya kini. Sharena tersenyum sebelum membalas lumatan Makiel dengan intensitas yang sama. Sharena mamajukan tubuhnya, mendekatkan tubuh bagian bawahnya dengan tubuh bagian bawah Makiel. Lidahnya berinisiatif untuk masuk lebih dulu ke dalam mulut Makiel, berputar di sana dan menjilati lidah Makiel. Sharena menjauhkan wajahnya, menatap mata menggelap Makiel dengan mata berkaca miliknya. "Steak yang kau beli sangat enak. Aku bisa merasakannya dari dirimu. Tapi, bukannya kau lebih memilih memasak sendiri?" Makiel menelan ludah. "Sudah kubilang kan? Jika kedatangan mendadak, kemungkinan aku diracuni itu sedikit." Sharena tertawa kecil mendengarnya. Tangan Makiel kemudian berpindah, menyentuh sisi leher Sharena, dan kembali mendekatkan wajah mereka. Mencium bibir Sharena kembali, melumatnya dengan rakus dan tidak terkendali. Mengikuti nafsu binatangnya yang sangat kehausan akan pergumulan. Tangan Makiel beralih, melingkar di pinggang Sharena, makin melekatkan tubuh mereka. Sharena sendiri hanya menggerakkan tangannya di kepala Makiel, dan membalas ciuman Makiel dengan sama rakusnya. Makiel benar-benar handal dalam berciuman. Dia benar-benar tahu rasa apa yang diinginkan wanita. Bahkan dengan tubuh mereka yang melekat seperti ini, membuat Sharena merasakan kenyamanan dan rasa terangsang yang kuat. Jika saja Sharena tidak profesional dalam hal ini, dia pasti akan mendesah. "Ah..." Mata Sharena terbuka saat mulutnya dengan refleks, mendesah di dalam mulut Makiel saat salah satu tangan Makiel yang berada di punggungnya mengusap lembut punggung Sharena. Makiel ini... Sharena yang berprofesi sebagai jalang, tapi kenapa Makiel yang seperti gigolo? Kalau begini, Sharena akan kalah dan tidak pantas disebut jalang berkualitas tinggi. Sharena melepaskan ciumannya. Dia beralih mengecup pelan leher Makiel. Menjilat bekas kecupannya dengan gerakan memutar. "Erm..." Geraman Makiel membuat Sharena tersenyum. Mulut Sharena kemudian beralih, mengecup telinga Makiel, dan meniupkan udara pada telinga Makiel. Pelukan Makiel yang mengerat di pinggangnya membuat Sharena melebarkan senyumnya. Dia menjilati cuping telinga Makiel, dan memasukkan cuping telinga Makiel ke dalam mulutnya. Melumatnya dengan lembut dan membuat Makiel kali ini mendesah. Sharena tersenyum. Dia melepaskan cuping telinga Makiel, dan menjauhkan wajahnya. Mata miliknya kembali beradu dengan manik menggelap milik Makiel. "Kali ini biarkan aku yang memuaskanmu, Tuan." Godanya. Tangan Sharena kemudian meraih ujung pakaian Makiel, membuka kaos yang digunakan oleh Makiel. Matanya sekali lagi menatap Makiel yang malah terfokus pada d**a Sharena. Dasar pria. Sharena menundukkan kepalanya, meraih d**a Makiel, menjilati d**a bidang pria itu. Mencium bau maskulin yang malah menambah gairahnya. Sayang sekali kejantanan Makiel belum bisa berdiri. Lidah Sharena terjulur, menjilat p****g d**a Makiel dengan lembut. Dapat Sharena rasakan tubuh Makiel berjengit. Tangan Makiel menyentuh rambut Sharena, mengusapnya pelan. Sementara Sharena terus menggoda gairah Makiel dengan mengulum p****g Makiel dan menjilatinya di dalam mulutnya. Sharena menurunkan tubuhnya, berlutut di antara paha Makiel. Ia menjulurkan lidahnya, menjilati d**a Makiel, otot perut, pusar, terus turun hingga hampir menyentuh s**********n Makiel. Sharena menjauhkan wajahnya. Dia membuka resleting celana Makiel, membuka kancing celananya. Sharena tahu bahwa kejantanan Makiel belum sepenuhnya terbangun. Namun Sharena tidak mau menyerah dulu. Dia pasti bisa. Sharena membuka celana dan celana dalam milik Makiel. Dan benar saja, kejantanan Makiel masih mengerut padahal Sharena sudah menggodanya sedemikian rupa. "Dosa karena terlalu banyak melakukan s*x," gumam Sharena, tidak sadar diri. "Kau mengatakan sesuatu?" Tanya Makiel. Sharena tersentak karena ketahuan mengejek Makiel. Dia mendongakkan kepalanya pada Makiel, dan tersenyum semanis mungkin. "Tidak, aku tidak mengatakan apapun. Hehe..." Katanya dengan senyum yang ia paksakan. Makiel menelan ludahnya dengan susah payah. Sial, senyum dan pandangan mematikan itu lagi. Dan sial, jantungnya kembali berdetak terlalu kencang. Apalagi Makiel sedang dirundung gairah seperti ini. Laju jantungnya semakin tak terkendali. "T-tuan..." "Um?" Respons Makiel, mencoba santai saat Sharena tiba-tiba memanggilnya. "Ini...?" Tunjuk Sharena pada sesuatu di depannya. Mata Makiel membulat seketika saat melihat kejantanannya yang sudah berdiri dengan gagahnya. Mata Makiel mengedip tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sial! Sial! Sial! Padahal, Sharena sudah menggodanya dengan lihai namun kejantanannya tidak terpengaruh sedikitpun! Tapi, saat Sharena tersenyum manis di bawahnya, sukses membuat Sharena terlihat seksi dan sukses membuat gairah Makiel membumbung tinggi. Sial!! Makiel akan mati karena terlalu malu jika teman-temannya tahu kalau dia bisa sangat b*******h hanya karena senyum menawan Sharena! "Sial! Aku tidak tahan lagi!" Umpat Makiel, mendorong Sharena hingga tertidur di lantai. Menempelkan tubuhnya yang sudah telanjang bulat dengan tubuh Sharena yang masih terbalut kain. Bibirnya kembali menerjang bibir Sharena dengan rakus. Lebih rakus, lebih keras, lebih dalam daripada sebelumnya. Makiel menjauhkan wajahnya, namun bibir mereka masih sangat dekat saat Makiel berucap, "Aku akan membuatmu berteriak kencang di bawahku." Napas Sharena terengah. Dia tidak menjawab dan hanya menatap Makiel dengan pandangan yang memburam. Sial, Sharena selalu jatuh dalam ciuman Makiel. Pria di depannya ini sangat lihai dalam berciuman. Makiel kembali mencium bibir Sharena, melumat bibir wanita itu dengan keras, menghisapnya dan menjilati bibir Sharena dengan lidahnya. Sekali bercinta dengan Sharena, Makiel bisa tahu jika titik rangsang Sharena adalah bibirnya. Sharena akan merespons dengan sebuah remasan tangannya saat Makiel mencium bibirnya. Dan pinggul Sharena selalu bergerak kecil saat Makiel menciumnya. Sudah dipastikan jika titik rangsang Sharena adalah bibirnya. Seperti wanita polos saja. Tangan Makiel masuk ke dalam pakaian Sharena. Satu yang Makiel sukai dari wanita ini adalah kebiasaannya yang tidak menggunakan bra jika di dalam rumah. Beberapa kali bertemu Sharena, Makiel sering menemui wanita itu tanpa bra di rumahnya. Dengan ini, Makiel bisa menyentuh payudaranya dengan mudah tanpa halangan. Makiel menggerakkan jarinya dengan lihai. Memutar p****g p******a Sharena, menggerakkan jari telunjuknya dengan cepat di titik rangsang p****g p******a Sharena, membuat wanita itu mendesah kuat dan meremas bahu Makiel dengan erat. Makiel membuka kaos Sharena. Wajahnya mendekat di p******a Sharena, mencium p******a bulat wanita itu sekilas, dan mengulum p****g p******a Sharena. "A-Ah!" Desahan Sharena makin tidak terkendali. Dia sudah seperti cacing kepanasan yang hanya bisa menggeliat dan mendesah. "Makiel... Hh..." Makiel membuka celana Sharena dengan sekali sentakan. Tangan satunya segera meluncur ke bawah. Jari telunjuknya menggesek bibir kewanitaan Sharena. "AH! Makiel!" Desah Sharena saat Makiel memasukkan jari tengahnya ke dalam kewanitaan Sharena. Makiel mengocok kuat di sana, membuat Sharena makin kuat mendesah dan menggeliat. Makiel memang luar biasa dalam hal s*x. Dia sangat tahu apa yang bisa membuat wanita kehilangan akalnya dan hanya dapat mendesahkan namanya. Makiel ada di mana-mana. Payudaranya, kewanitaannya. Seluruh tubuh Sharena sudah sangat ngilu apalagi dengan jari Makiel yang bergerak sangat cepat di dalamnya. Sangat cepat, membuat Sharena harus meremas bahu Makiel lebih kuat. Lebih cepat, dan Sharena tidak dapat membuka matanya lagi. Lebih dalam, hingga tubuh Sharena menegang saat merasakan ngilu di tubuhnya sudah tidak tertahankan lagi. "AH!! MAKIEL!!" Teriak Sharena kuat. Tubuhnya tersentak berkali-kali saat ia mengeluarkan cairannya tanpa henti. Napasnya tersengal. Makiel benar-benar luar biasa. Makiel mengeluarkan jarinya, mengusap dan menepuk kewanitaan Sharena yang masih ngilu, membuat Sharena berjengit karenanya. Makiel melepaskan celana Sharena sepenuhnya, lalu melepaskan celana miliknya sendiri yang masih tergantung di ujung kaki. Saat ini, di lantai rumah Makiel, mereka benar-benar telanjang bulat. Makiel melebarkan kaki Sharena. Tanpa harus memposisikan kejantanannya, Makiel menekuk sikunya di samping kepala Sharena, mencium bibir Sharena kembali dengan kasar. "AH!!" dan Sharena kembali berteriak kuat saat Makiel memasukkan kejantanannya dalam sekali sentakan. Sial, ini dimulai lagi. Saat-saat menyenangkan ketika Makiel sudah memasukkan kejantanannya. Sekali bercinta dengan Makiel sebelumnya, membuat Sharena tidak bisa melupakan kejantanan milik Makiel. Selain besar dan panjang, Makiel memiliki cara sendiri dalam menggerakkan kejantanannya, hingga Sharena bahkan tidak dapat mengeluarkan suaranya sendiri. Hingga Sharena bahkan bisa bergerak sangat liar di bawah Makiel. "Ah..." Desah Makiel tepat di samping telinga Sharena. Makiel mulai menggerakkan kejantanannya maju mundur, memasuki kewanitaan Sharena. Sedangkan Sharena hanya dapat membuka mulutnya tanpa suara saat merasakan kejantanan Makiel yang gagah, memasukinya dengan keras dan menyentuh titik terdalamnya. Sekali lagi, Makiel menyentak dalam-dalam kejantanannya, membuat Sharena meremas bahu Makiel makin kuat. Makiel meraih pinggang Sharena, membuat kejantanannya masuk lebih dalam dari sebelumnya. Membuat Sharena mengerut dalam pelukan Makiel. Makiel berdiri dengan Sharena yang berada di gendongannya. Dia beralih duduk di atas sofa dengan Sharena yang berada di pangkuannya. Dengan kemaluan mereka yang masih menyatu. Makiel menikmati wajah yang terlihat letih itu. Tangannya terulur, menyentuh wajah Sharena yang memerah padam. "Kau sangat polos sekali jika dibandingkan dengan jalang-jalang lainnya." Kata Makiel, menjurus pada wanita-wanita yang ada di dunia ini yang pernah ditidurinya. Sharena hanya menatap Makiel dengan matanya yang sayu dan berkaca-kaca. Makiel mengecup dalam bibir Sharena, mengemutnya sejenak. Menjauhkan wajahnya, dan kembali menatap mata berkaca-kaca itu dengan mata menggelap milik Makiel. "Akan kuberikan, s*x yang luar biasa untukmu. Selama kau di sini..." Sharena hanya menjawab dengan napasnya yang tersengal. Makiel meraih Sharena ke dalam pelukannya, menyimpan kepala wanita itu di bahunya. "Kau boleh menggigitku, jika kau tidak tahan dengan sensasi nikmat yang kuberikan." Kata Makiel sebelum meraih pinggang Sharena, memeluknya. "AH!! YA TUHAN!! MAKIEL!!" Keinginan Makiel terkabul. Sharena sukses berteriak kencang saat Makiel menggerakkan tubuhnya dengan keras, cepat dan dalam. Sharena kewalahan. Dia mendesahkan ribuan nama Makiel, saat merasakan kejantanan Makiel di titik terdalamnya. Mencakar punggung Makiel, menjambaknya, dan terakhir menggigit bahu Makiel ketika tubuhnya bergetar akibat gerakan cepat yang Makiel lakukan. Namun Makiel belum sampai pada puncaknya. Makiel hanya memberikan istirahat pada Sharena dengan ciumannya sebelum kembali melajukan kejantanannya dengan cepat dan keluar di dalam diri Sharena.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN