Kurang dari jam delapan malam, tangan Nayla lepas dari keyboard di depannya. Menarik napas lega, tidak lupa ia meregangkan otot-ototnya. Tubuh lelah, pikiran lepas tanpa beban dari berkas menumpuk dihadapannya. Disaat semua orang sudah selonjoran, tidur nyenyak, makan malam, dia masih berada di kantor yang dipimpin oleh lelaki paling ngeselin sedunia.
Sudah menjadi mantan, masih saja merepotkan dirinya. Pada hal sudah lama putus, semenjak putus pun tidak pernah bertemu. Sekalinya bertemu malah petaka baginya. Andai saja Nayla memberi wewenang untuk memecat karyawan, orang yang pertama yang akan dia pecat, yaitu Miko! Lelaki yang berstatus mantannya sekaligus memimpin perusahaan ini.
"Aduuhh capek bangat," keluh Nayla."Malah lapar juga. Dia pasti sengaja nih ngerjain aku. Masa di hari pertama kerja udah dikasih seberat ini pekerjaannya. Untung saja dia itu bosnya. Kalau nggak udah aku layangkan bugam mentah padanya."
"Eh, ngomong-ngomong dia udah pulang belum ya?" Nayla celingak-celinguk melihat keruang Miko. Sebab dia sendiri tidak melihat lelaki itu keluar dari ruangannya. Tiba-tiba terdengar pintu ke buka. Sontak Nayla gelagapan. Ia buru-buru memperbaiki posisinya kembali.
Miko keluar melewati meja kerjanya. Tentu saja itu sangat aneh oleh Nayla."Maaf Pak, ini sudah selesai semua." Wanita itu menggeserkan beberapa berkas dihadapannya pada Miko.
Lelaki itu melirik sebentar, sebelum kemudian di mematri Nayla yang tampak kusut. Lelaki itu mengangkat tangannya yang melingkar sebuah jam mahal elegan."Baru selesai? Udah malam loh. Nggak takut pulang sendirian. Apa lagi kamu wanita."
Nayla yang tersulut emosi, dia mengepalkan tangan. Sempat jari telunjuknya mengarah pada Miko. Namun seketika terpaksa ditarik kembali, mengingat dia sebagai karyawan dikantor ini dan Miko bisa saja kapanpun memecatnya.
Nayla menarik dan membuang napasnya. Mengatur kembali emosi di dalam dadanya. Kalau dia terpancing, dan meledak, yang ada Miko akan menekannya. Wanita itu memaksakan tersenyum dihadapan Miko."Maaf Pak Miko yang terhormat, bapak nggak lihat setumpuk dokumen di meja saya. Kalau nggak di selesaikan hari ini juga, lalu menanti hari esok? Apa tidak apa-apa saya lelet dalam pekerjaan? Kan, dah saya bilang, saya bukan wanita manja."
"Ya sudah, kamu silahkan pulang. Udah malam, tidak baik wanita pulang malam," Miko pergi meninggalkan Nayla begitu saja.
"Iiihhhh, ini juga kan gara-gara dia! Kenapa dia malah seperti orang tidak berdosa saja? Iiihhhh!!" Nayla mengepalkan tangannya."Ngeselin!!"
Nayla menendang kursinya."Aaauukkh, aauukkhhh, sakit!" Rengeknya.
Diluar, Nayla mengedarkan pandangan. Seraya melangkahkan kaki untuk mendapatkan kendaraan yang akan mengantarkan dia ketempat kos.
Miko melihat Keysha sedang kebingungan di pinggir jalan, ia tertawa senang. Keysha cemberut, menjadi hal yang menggelikan baginya. Jahat? Tentu saja jahat tertawa dalam kesulitan orang itu tidak baik. Hanya sebuah masa lalu yang tidak enak dikenang, menjadikan Miko seseorang yang mulai menekuni sifat jahilnya. Mengerjai Nayla sampai wanita itu pulang malam.
Miko menurunkan kaca mobil, setelah sampai di dekat Nayla."Mau pulang? nggak ada taksi? Awas loh, udah malam gini nggak ada taksi yang lewat. Naik angkot, banyak kriminalnya sekarang. Apa lagi kamu wanita, iihhh seram!!'
"Apa sih? Ada ya, atasan jahat seperti kamu? Ini juga karena menyelesaikan tugas dari atasan yang nggak punya hati nuraninya. Kalau nggak, aku sudah pulang dari tadi. Kalau nggak niat kasih tumpangan, mendingan pulang sana! Nyebelin bangat jadi orang!" gerutu Nayla, membalikkan bola matanya.
Miko mencabik."Ya sudah, hati-hati di sini. Dah!"
Miko menaikan lagi kaca mobilnya. Meninggalkan Nayla seorang diri. Setelah kepergian Miko, Nayla mulai risih karena memang nggak ada taksi yang lewat.
"Eh, kenapa aku lupa, pakai ojek online aja kali ya," Nayla mengeluarkan ponselnya, lalu memesan ojek online.
Bersyukur, ojek online yang ia dapati tidak jauh dari tempat ia berdiri. Menunggu selama 15 menit, ojek itupun tiba dan berhenti tepat didepannya. Sekali lagi, Nayla memastikan plat nomor motor yang ada di aplikasinya dengan motor yang datang. Sama, tidak ada yang berbeda termasuk motor yang dipakai. Nayla pun menaiki ojek online tersebut.
Satu jam lamanya di jalan, akhirnya Nayla tiba di tempat kos. Membayar ojek itu sesuai tarif yang tertera, ojek itupun pergi dari hadapan wanita itu.
Sesampai di teras rumah, Nayla mendarat duduk di kursi. Dengan punggung tersandar lelah di kursi. Memejamkan matanya sejenak dalam lelah ditubuhnya.
"Baru pulang?" tanya Marsya menyambar dibalik pintu. Melihat sahabatnya tersandar, sampai mengadahkan kepala dengan mata terpejam. Nayla membuka mata, menoleh pada Marsya yang mulai menghampirinya.
"Baru juga kerja, udah lembur saja," ejek Marsya pada Nayla yang baru saja masuk kerja hari ini. Sebagai sahabat yang tinggal satu kos--an, tentunya Marsya tahu jabatan apa yang diterima Nayla di tempat kerjanya yang baru.
Nayla semakin mendongkol dalam hati."Gimana nggak kesal coba, kalau ternyata pimpinan di perusahaan baru tempat gue kerja itu ...lo tahu siapa?"
"Siapa?" Alis Marsya terangkat. Tidak sabar mendengar kelanjutan Nayla yang terlanjur menarik etensinya.
"Miko!" ucap Nayla lantang. Marsya membulatkan matanya.
"Miko? Gue nggak salah dengarkan? Miko--mantan lo itu?" Marsya tidak percaya dengan yang dia dengar.
"Iya! Siapa lagi," cetus Nayla kesal.
"Kok bisa? Pada hal kalian kan sudah lama nggak ketemu? Kenapa bisa satu kantor dan dia, sebagai atasan lo?" Marsya tertawa lebar."Ternyata dunia itu sempit ya. Bisa-bisanya kalian dipertemukan lagi."
"Lo malah ketawa sih? Ya mana tau gue. Kalau tahu dari awal, nggak bakal gue mau. Tapi, gue butuh pekerjaan sih. Apa lagi jabatan sebagai sekretaris. Siapa yang tidak mau? Baru pertama kerja, udah di kasih kerjaan yang banyak dan gitu, dia nggak nganterin gue pulang. Malah ngejek gue pulang nggak ada taksi," rasanya Nayla ingin mencakar wajah Miko.
"Kenapa lo marah segitunya?" sembur Marsya.
"Maksudnya?" Nayla gagal paham.
"Kalau menurut gue sih, ya wajar. Namanya juga lo kerja di sana. Dikasih pekerjaan banyak itu udah tugas lo,"
"Kok lo malah membela dia sih? Ah, nggak asyik lo," Nayla tidak terima dengan pembelaan Marsya yang menurut Nayla berpihak pada Miko. Wanita itu membentak kan kakinya, ia beranjak dari kursi kemudian memilih masuk ke kos--an.
"Nay, tunggu dulu! Bukan gitu maksud gue, Nay!" seru Marsya, namun Nayla sudah terlanjur menghilang dibalik pintu. Marsya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tapi jarang juga yang gitu. Ketemu sama mantan, dan sebagai atasannya lagi. Kira-kira Nayla masih ada rasa nggak ya? Apa lagi berinteraksi langsung dengan Miko. Kemana-mana sudah kayak prangko mereka nanti. Lengket! Untung-untung mereka jadian lagi," Marsya tertawa kecil."Setahu gue, cinta pertama itu tidak bisa dilupakan. Apa mungkin mereka jodoh? Siapa yang tahu coba masalah jodoh?"
Selesai bermonolog, Marsya bangkit dari kursi. Dia pun masuk ke kos--an.
Bersambung ...