Diva mengerutu sebal, bagaimana tidak ia kalah taruhan dengan Angkasa. Perempuan itu mendapat kan nilai 9,7 sedangkan Angkasa? lelaki itu mendapatkan nilai 100. Diva hanya menopang dagunya di meja. Sintia dan Putri masuk kedalam kelas Diva.
"Diva kenapa, muka udah kayak cucian yang udah setaun nggk di cuci." cetus Sintia, sembari duduk di kursi depan Diva.
"Ck, tau lo mending kita ke kantin makan." timpal Purtri. Diva menatap kedua sahabatnya Putri dan Sintia yang takut di tatap oleh Diva pun hanya tersenyum manis.
"Gue benci hari ini!" seru Diva membuat Putri dan Sintia saling memandang.
"Kenapa lagi dia?" tanya Putri seakan tau siapa yang membuat mood Diva buruk.
"Gue kalah taruhan sama dia." jawab Diva sebal.
"What? Taruhan apaan?" tanya Sintia menatap Diva serius.
Dengan wajah yang benar-benar kusut. Diva menceritakan semuanya kepada Sintia dan juga Putri. Membuat keduanya diam dan saling pandang.
"Terus si kutu kupret udah ngajuin permintaan apa?" tanya Putri dengan raut wajah khawatir.
"Belum tuh anak kudanil itu belum bilang apa-apa sama gue.." lirih Diva membuat Sintia yang sedari tadi diam untuk berpikir. Akhirnya berbicara.
"Gimana kalau Angkasa ngajuin permintaan yang aneh-aneh. Kayak minta Diva buat jadi babunya gitu. Kayak novel novel yang Sintia baca!" tutur Sintia membuat Diva mengerutu sebal.
"Sintia Winarya! Kalau lo cuma mau nakut-nakutin gue! Mending diem deh!" kesal Diva membuat Sintia memajukan bibirnya.
"Eh tapi kalau misalnya apa yang di bilang sama Sintia bener gimana?" sambung Putri Sintia yang merasa di belapun, mengangguka kepalanya.
Bukannya membuat Diva menyetujui ucapannya. Perempuan berbandana putih itu menatap tajam kearah kedua sahabatnya. Putri dan Sintia pun mengacungkan kedua jarinya di udara. Ia memilih jalur damai dari pada harus mendapat tatapan mematikan Diva.
Saat sedang hening, di ambang pintu terlihat Angkasa yang mebawa bola basket Lelaki itu memainkan bolanya sembari berjalan kearah Diva. Diva menetralkan wajahnya, sebisa mungkin ia harus menampilkan wajah tanpa ekspresi.
"Mama Diva!" panggil Angkasa dengan senyuman jahil.
"Ayo ikut Papa!" sambung Angkasa menarik tangan Diva.
Diva menghempaskan tangan Angkasa kasar. "Diva lo lupa?" tanya Angkasa. Diva memejamkan matanya lalu membiarkan Angkasa menarik tangannya. Mereka berjalan di koridor, banyak sekali tatapan dari murid-murid yang lain.
Angkasa membawa Diva ke rooftop sekolah, semilir angin menyambut mereka. "Jadi ngapain lo bawa gue kesini?" tanya Diva to the poin.
"Gue mau bahas soal taruhan sama lo!" seru Angkasa, membuat Diva menatap kearahnya.
"Sa lo nggak akan jadiin gue babu lo, kan? Kayak yang ada di novel novel.." lirih Diva menatap Angkasa, beberapa helai rambut Diva di terbangkan oleh angin. Membuat rambutnya mentupi sebagian wajah Diva.
Tangan Angkasa terulur untuk merapihkan rambut Diva. Senyuman manis terukur di sudut bibir Angkasa. Diva terdiam, terpaku melihat tingkah Angkasa. Jantungnya berdetak lebih kencang, ia takut jika Angkasa mendengar detak jantungnya.
"Lo itu terlalu cantik untuk jadi Babu," ucap Angkasa menatap manik mata Diva.
Diva menelan silvahnya kasar, tatapan mata Angkasa mampu membutanya terpaku. "Gue mau, lo jadi pacar gue selama 3 bulan." ucap Angkasa.
Diva membulatkan matanya. "Gila lo!" seru Diva perempuan itu membuang mukanya.
"Lo nggak bisa nolak! Lo lupa kalau kita itu taruhan?" ujar Angkasa. "Oh atau lo mau jadi Babu gue ya?" sambung Angkasa sembari tersenyum jahil.
Mata Diva melebar mendengar ucapan Angkasa. "Terus nanti kalau kita kejebak sama permainan kita gimana?" tanya Diva membuat Angksa mengkerutkan keningnya.
"Maksud lo?" tanya Angkasa.
"Maksud gue kalau lo baper beneran gimana?" tanya Diva membuat Angkas tertawa.
"Kok lo malah ketawa sih!" ucap Diva kesal.
"Diva, Diva lo tuh lucu tau nggak!" ujar Angkasa mencubit pipi gembul Diva.
"Sakit! Angkasa resek lo!" kata Diva kesal ia melepaakan tangan Angkasa dari pipinya.
"Ya kalau gue baper dan lo baper, kita lanjutin aja hubungan kita." ujar Angkasa tersenyum jahil.
"Tapi kayaknya gue nggak akan baper sama lo deh. Tapi kalau lo sudah pasti akan baper sama gue!" seru Angkasa, tangan Angkasa menarik pinggang Diva agar merapat kepadaa nya. Angkasa menatap Diva dengan lembut, angin nakal masih menerbangkan helai demi helai rambut Diva.
Tangan kanan Angkasa menyibakkan Rambut Diva, sementara Tangan kiri Angkasa masih merengkuh pinggang Diva.
"ANGKASA! DIVA KALIAN KERUANGAN SAYA SEKARANG!" suara pak Joko guru BK membuat Diva mendorong bahu Angkasa.
"Eh pak kita nggak ngapa-gapain kok!" elak Diva.
"Sudah Diva kalian jelaskan di ruang BK! Angkasa kamu ikut juga!" tegas pak Joko lalu pergi meninggal kan mereka.
Diva menatap Angkasa tajam. "SEMUA GARA GARA LO ANGKASA!" teriak Diva menghentak hentakan kakinya.
"Tapi, Lo suka, kan?" godaAngkasa mencolek dagu Diva.
"ANGKASA RADJA SEMESTA! BENER-BENER YA, LO NGESELIN!" teriak Diva membuat Angkasa terkekeh sembari menutup telinganya.
****