7||HUKUMAN AGAIN

835 Kata
Disini lah mereka berada, di perpustakaan dengan kemoceng di tangan masing-masing. Setelah di sidang di ruang BK. Angkasa dan juga Diva harus memberiskan buku-buku perpustakaan dari Debu. Sedari tadi ekspresi Diva sangat mengemaskan, bibirnya mangkrucut lucu, sedangkan pipi gembulnya tampak sangat mengemaskan. Angkasa hanya curi-curi pandang, untuk melihat wajah dari Diva. Lelaki itu kadang menjulurkan bulu kemoceng di pipi Diva. Diva menyibakan bibirnya kesal. "Angkasa! Itu tuh kotor!" seru Diva galak. Bukannya takut, Angkasa malah tertawa. Tangan Angkasa terulur untuk mengelus pipi Diva, hanya mengelus tapi setelah itu Angkasa malah mencubit Pipi Diva. Diva naik pitam perempuan itu memukul Angkasa dengan kemoceng miliknya. "Aw! Sakit..kekerasan dalam dunia perpacaran ini mah." ucap Angkasa sembari mengelus lengannya yang di pukul oleh Diva. "Bodo amat!" seru Diva. Mereka kembali hening, dan juga mulai membersikan buku-buku itu. Diva berdiri, perempuan itu sedikit berjinjit untuk mengambil beberapa buku di rak yang paling atas. Satu jangkuan tidak berhasil, dua jangkaun pun masih sama hingga Diva meloncat lebih tinggi, perempuan itu mendapatkan bukunya namun lantai yang sedikit licin membuat Diva terpeleset. Angkasa hanya diam menyaksikan Diva yang masih terkurap di lantai. Ia masih syok. "Shhh, aw. Kaki gue." ringis Diva, perempuan itu  masih tengkurap di lantai. Angkasa sadar lalu memabantu Diva. "Kanapa lo nggak tangkep gue sih kayak di tv-tv. " sunggut Diva dengan wajah merahnya. Angkasa diam, lalu sedetik kemudian ia tertawa keras. Membuat Diva bertambah kesal. "Ck! Lo pikir ini dunia sinetron yang sudah di atur sama skenario! Ini dunia nyata jadi mana tahu gue kalau lo mau jatuh." timpal Angkasa. "Dan kalau pun gue tau lo mau jatuh. Nggak akan gue tangkep, badan lo berat ya!" cibir Angkasa. "Pliss deh BB gue cuma 57kg nggak sampek 75kg." kata Diva, membela dirinya sendiri. Dengan seenak jidatnya, Angkasa menyentil kening Diva. "Itu udah masuk setengah kwintal ya!" seru Angkasa. "Aneh, katanya pacaran tapi demen banget nyiksa gue. Kening itu di cium bukan di sentil." cibir Diva, membuat Angkasa tersenyum penuh arti. "Oh jadi lo mau gue cium. Sini dengan senang hati!" balas Angkasa menarik dagu Diva. Diva melebarkan matanya, bibir Angkasa sudah dekat dengan bibirnya. "ANGKASA DIVA HUKUMAN KALIAN BAPAK TAMBAH!" seru Pak Joko dari ambang pintu. ***** Diva menghentak-hentakkan kakinya kesal. Harusnya sekarang ia sudah pulang kerumah dan berjumpa dengan kasur kesayangannya. Tapi lihatlah sekarang di berada di toilet cewek untuk membersihakan toilet tersebut. "Semua gara-gara Angkasa! Bener-bener ya, tuh anak!" geram Diva sembari menyikati kloset dengan brutal. Diva membilasnya dengan air di ember setelah itu ia pun keluar dari bilik toilet. Diva menatap pantulannya di cermin toilet, wajahnya nampak basah dengan keringat. Bukan hanya itu rambutnya pun sudah acak-acakan. Diva membasuh wajahnya dengan air, setelah itu mengambil ikat rambut di saku bajunya dan mencepol asal rambutnya. Setidaknya dengan seperti ini membuatnya tidak terlalu gerah. Diva keluar dari toilet cewek, ia melihat Angkasa yang hanya mengunakan kaos putih polosnya dan celan abu-abu yang masih ia kenakan. Angkasa tampak sexy dengan bilir-bulir keringat di kening dan tunggu...Angkasa punya Abs? Abs itu tercetak jelas di tubuhnya! Kenapa Diva baru mengetahuinya. "Ati-ati nanti lo napsu lagi sama gue." cibir Angkasa membuat Diva membuang mukanya. "Sembarangan lo kalau ngomong. Gue udah selsai dan gue mau pulang!" kata Diva lalu meninggalkan Angkasa yang masih duduk bersandar pada tiang. "Ehhh Diva tunggu." teriak Angkasa sembari berlari. "Pulang sama gue ya." kata Angkasa tersenyum manis. 'Oh tuhan kenapa senyum nya manis.' batin Diva sembari menatap Angkasa. "Pulang sama gue ya! Nanti gue beliin es doger yang ada di gang sana." tawar Angkasa merangkul bahu Diva. "Tangan lo mau gue potong!" ketus Diva. "Iya-iya sayang ayo. Gue beliin Es Doger." ucap Angkasa menarik tangan Diva. Diva sudah berada di jog belakang motor Angkasa. "Kanapa kok nggak jalan-jalan, bengsin lo abis?" cibir Diva. "Perlu gue isi?" lanjut Diva tersenyum mengejek. "Sembarangan kalau ngomong. Tangan lo nggak mau meluk orang tertampan di Dunia ini?" tanya Angkasa. "Gak!" jawab Diva singkat. "Sayang, gue nggak mau lo jatuh untuk kedua kalinya. Gue mau ngebut soalnya."  ucap Angkasa dengan nada selembut mungkin. Diva tak mengubrisnya. Perempuan itu masih diam, hingga Angkasa benar-benar mengegas full motornya dengan kecepatan Tinggi. Secara otomatis tubuh Diva menabrak bahu Angkasa. Dan dengan sangat terpaksa Diva melingkarkan tangannya di pinggang Angkasa. "ANGKASA SETAN LO!" teriak Diva dengan keras di kuping Angkasa. Angkasa hanya tertawa, ia pun merendahkan kecepatannya ketika sampai di depan penjual Es Doger. Mereka turun untuk membeli Es Doger. "Pak es doger specialnya 2 ya!" pesan  Angkasa lalu duduk di salah satu kursi. Diva belum mendudukan pantatnya, ia masih menatap tajam Angkasa. "Sayang, duduk nanti lo capek lagi." ujar Angkasa santai. Diva hanya bergidik jijik ketika Angkasa memanggilnya dengan sebutan Sayang. Es doger yang mereka pesan pun sudah datang membuat keduanya hanya fokus untuk menikmatinya. Setelah selsai dengan es dogernya. Keduanya melanjutkan perjalanan tanpa di suruh Diva sudah melingkarkan tangannya di pinggang Angkasa. Membuat Angkasa tersenyum senang. Diva menyandarkan kepalanya di bahu Angkasa aroma parfum yang tercampur dengan keringat Angkasa malah seakan membuat Div tenang. Ia suka perpaduan 2 bau itu membuat Diva memejamkan sejenak matanya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN