7. GAK MAU PULANG

1120 Kata
Dengan telaten Alif membersihkan luka di lutut Ina dan sesekali meniupnya agar mengurangi rasa perih yang Ina rasa. Setelah itu dengan cekatan Alif membalut lutut Ina dengan perban. Lalu ia mengelusnya pelan membuat empunya lutut tersenyum malu. Posisi Ina duduk di sofa dan Alif menekuk lututnya di lantai dan berhadapan dengan Ina. Tidak jauh dari mereka, ada Sam dan Dean yang mengintip Alif dan Ina dengan tatapan yang sulit diartikan. "Udah jangan nangis lagi. Lo jelek kalo lagi nangis," ucap Alif sambil menghapus jejak air mata di wajah Ina menggunakan tangannya. Ingin sekali rasanya Alif menyemburkan tawanya saat Ina terjatuh di belakang rumahnya yang sedikit becek itu. Namun melihat ekspresi Ina yang menyedihkan dan menggemaskan membuat Alif menahan tawanya mati-matian. "Ina jelek?" tanya Ina dengan bola mata yang mengerjap. Bukannya menjawab, Alif malah beranjak pergi. Ina melihat itu hanya memandang Alif dengan tatapan kecewa. 'Dasar Alif kamvret' desisnya dalam hati. *** "Kriteria cewek yang lu suka yang kayak gimana, Lif?" tanya Sam kepo. "Tinggi, rambut pendek, pinter masak, dan cantik pastinya." Ini bukan Alif yang menjawab melainkan Dean. "Itu mah Aulia banget!" ucap Sam heboh. Sedangkan Alif hanya mendengkus dengan pandangan yang tetap fokus di layar HP-nya. "Lo kok tahan sih tinggal di daerah perkebunan gini?" tanya Dean sambil menopang dagunya di sisi jendela. Ia tampak menikmati udara pagi yang menyejukkan. "Nyaman," jawab Alif singkat. Dean mencibir. Selalu saja Alif seperti itu. Menjawab seadanya. Padahal berbicara panjang lebar tidak ada salahnya. Jika bicara panjang lebar akan terkena denda mungkin Dean akan mempertimbangkannya. Tapi ini tidak! "Guys," panggil Sam yang tampak sedang mengutak-atik HP-nya. "Kenapa lo?" tanya Dean yang sudah berpindah duduk di samping Sam. "Aulia, lagi otw kesini." Sam berucap dengan suara yang tercekat. Alif menegakkan tubuhnya. Wajahnya tampak tegang. "Lo jangan bercanda!" desis Alif tajam. Sam menggeleng kuat. Dengan cepat Alif menyambar HP milik Sam. Dapat dilihatnya isi obrolan Sam dengan Aulia di aplikasi w******p. "Lo bilang sama dia kalo gue di sini?!" ucap Alif tajam. "Maap," cicit Sam. Setelah itu Alif melempar Hp Sam begitu saja. Untung saja ia melemparnya di atas sofa. Jika tidak, Sam tidak dapat membayangkan nasib Hp kesayangnnya itu. "Bagus," ucap Dean setelah Alif beranjak pergi. "Bagus kenapa?" tanya Sam tidak paham. "Liat aja nanti." *** Selesai mandi, Ina sibuk memilih baju yang akan dipakainya. Dia tampak mencoba satu persatu baju yang ada di Almari kamar yang di tempatinya itu. Yang Ina herankan dari mana Alif mendapatkan baju sebanyak ini atau milik siapa baju-baju ini. "Gue mau masuk," ucap seseorang dari luar pintu. Dengan cepat Ina menyambar baju asal-asalan dan berlari ke kamar mandi. Setelah ia selesai memakainya, barulah ia membuka pintu kamarnya. "Alif mau ngapain?" Alif mengabaikan ucapan Ina. Ia memilih langsung masuk dan menutup pintu rapat-rapat. Sam yang tidak sengaja melihat Alif masuk kekamar Ina, seketika jiwa kekepoannya bangkit. Pelan namun pasti Sam mendekati kamar Ina dan menempelkan telinganya di daun pintu. "Siap-siap sekarang! gue antar lo pulang." Ina membelalakkan matanya mendengar penuturan Alif. "Tapi Ina gak tau jalan pulang," alibi Ina. Ia menggigit bibirnya kuat. Ada rasa tak rela untuk pergi dari rumah ini. "Rumah Orang tua lo di mana?" tanya Alif. "Alif mau ngelamar Ina ya?" Dengan wajah polos Ina menatap Alif tanpa kedip. "Gak! Gak akan pernah!" Ina mengepalkan tangannya. Niatnya hanya ingin bercanda, namun jawaban Alif kenapa terasa mencubit ulu hatinya. Sebenarnya Ina kenapa? "Pasti keluarga lo nyariin lo." Dalam hati Ina membenarkan ucapan Alif. Jujur, ia merindukan Abangnya, Venus. "Ina gak mau pulang!" desis Ina sambil berdiri menjauh dari hadapan Alif. "Gue gak bisa nampung lo lebih lama lagi!" "Tapi Ina gak mau pulaaaaaang!" pekik Ina. "Ini rumah gue!" bentak Alif. "Bodoamad. Pokoknya Ina gak mau pulang! kalo kamu gak suka Ina di sini, kamu aja yang pergi sana!" ucap Ina sambil bersedekap d**a. Alif terkejut mendengar ucapan cewek o'on itu. "Lo ngusir gue, heh?!" desis Alif tajam. Alif tidak terima ia disuruh pergi dari rumahnya sendiri. Dasar konyol. "Kalau Ina pergi, Alif juga harus ikut Ina pergi." Dengan kepala tertunduk Ina mengatakan hal yang terdengar egois itu. Alif semakin dibuat tidak mengerti oleh cewek di hadapannya ini. Ada apa dengannya? "Lo gila, ya? Inget lo bukan siapa-siapa gue!" desis Alif geram. Lagi dan lagi Ina merasa hatinya tercubit. Seharusnya Ina sedari awal sadar jika ia hanya orang baru bahkan tidak dikenal yang tiba-tiba masuk di kehidupan Alif. Harusnya kamu sadar Ina!!! "Ina gak bakal mau pulang! Ina mau tetap di sini!" Alif mengusap wajahnya frustasi. Aulia pasti sebentar lagi akan sampai. "Ina nyaman di samping Alif ...," lirih Ina. DEG. Apa? Ina nyaman padanya? Ini tidak boleh terjadi! "Lo gak kasihan sama keluarga lo?" Alif berusaha bersabar dan mengalibikan keluarga Ina. "Ina tetep gak mau pulang," isak Ina. Susah payah Ina menahan air matanya agar tidak terjatuh namun sekuat apa pun ia menahannya, nyatanya sekarang pipi nya sudah banjir oleh buliran air mata. Hati Alif mencelos melihat Ina menangis. Alif mendekat ingin merengkuh tubuh mungil itu dipelukannya. Namun ia mengurungkan niatnya dan beranjak keluar. "Hehehe. Gak sengaja," cengenges Sam saat ketahuan menguping. Hampir saja ia terjungkang saat Alif tiba-tiba membuka pintu. Sepeninggal Alif, Sam melirik Ina yang sedang terisak-isak. Sam dan Dean memang sudah tahu kronologi mengapa Ina bisa sampai di rumah Alif yang jauh dari keramaian ini. Awalnya Sam dan Dean tidak percaya. Terlebih Dean, ia tetap mengira jika Alif menculik Ina. "Gak usah nangis," bujuk Sam yang sudah duduk di tepi ranjang Ina. "Lo gak patut nangisin cowo kayak Alif," jeda. "Lo suka sama Alif?" Ina spontan memalingkan wajahnya kearah Sam. Sedangkan Sam hanya terkekeh melihat ekspresi Ina yang menurutnya menggemaskan. "Dari pada sama Alif, mending lo sama gue aja," ucap Sam sambil tersenyum jahil. "Gue gak kalah ganteng kok sama Alif." "Kalo suka sama seseorang karena bermodalkan ganteng, mungkin Ina udah gak jomblo lagi," ucap Ina sembari tersenyum kecut. "Kalau karena gantengnya seseorang bisa bikin Ina suka sama dia, mungkin Ina sekarang udah jadi playgirl, Sam. Tapi untuk Ina tampang itu gak penting dan menurut Ina, Alif itu berbeda." Ina memalingkan wajahnya ke luar jendela. Malas melihat kearah Sam yang terus-terusan memandangnya. "Jadi apa alasan lo suka sama Alif?" tanya Sam mengorek informasi. Ina tersenyum. "Ina gak sebatas suka doang sama Alif, tapi Ina juga sayang," jeda. "Alasan Ina suka sama Alif, yahh ... gak ada alasannya." Sam diam. Ternyata benar, sayang tak butuh alasan. "Ah, iya, Ina suka liat roti sobek punya Alif. Mungkin itu alasan Ina suka sama dia." Seolah yang diucapkannya hal wajar, Ina tampak tidak malu sedikit pun. Terbukti dengan bibirnya yang sudah melengkungkan senyum lebar. Sedangkan Sam menelan salivanya susah payah, bahkan kini kupingnya sudah memerah. Itu artinya Ina sudah pernah melihat perut Alif, kan? Ah, ternyata benar, Ina tidak waras. Membuat Sam ingin cepat-cepat beranjak dari sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN