6. SAM & DEAN

1082 Kata
Alif menyesal mengajak Ina kerumah pohon. Lihatlah sekarang Ina terlelap dengan tenang di pundaknya sejak satu jam yang lalu. Ck, Merepotkan saja. Alif mencoba membangunkan Ina sembari menepuk-nepuk pipi gembul milik Ina, namun hasilnya nihil, cewek o'on itu hanya bergumam tidak jelas. Melihat posisi mereka sekarang ini mengingatkan Alif dengan masa lalunya. Orang yang sudah menemaninya selama 2 tahun dalam suka maupun duka lalu meninggalkannya dikarenakan perjodohan yang dilakukan oleh Ayah sang gadis. Alif sama sekali tidak menyalahkan gadis tersebut. Masih melekat dengan jelas diingatan Alif saat gadis tersebut mengutarakan keputusan Ayahnya-- jika ia sudah dijodohkan oleh anak sahabat Ayahnya. Ingin sekali gadis itu berontak, namun mengingat keadaan Ayahnya yang sedang sakit-sakitan mengurungkan niatnya itu. Ia rela mengorbankan cintanya bersama Alif demi kebahagiaan sang Ayah. Alif tersenyum miris. Padahal sudah setahun yang lalu, namun entah kenapa hatinya masih saja terasa nyeri saat mengingat masa lalunya. Alif mencoba mengenyahkan semuanya. Kini tangannya terulur untuk menggendong Ina. Sang matahari sudah menenggelamkan diri dengan sepenuhnya. Tak terasa Alif sudah sampai di pekarangan rumah. Namun matanya seketika memicing saat ada mobil yang terparkir di bagasi. Mendengar suara keributan dari ruang tamu, Alif sudah dapat menebak siapa empunya mobil. Alif berdehem sebentar. Mengalihkan perhatian dua manusia yang sedang berebutan remot Tv. "Eh, tuan rumah udah dateng." Cengenges seorang cowok yang memiliki gingsul. Alif menyebutnya  vampire. Sedangkan cowok satunya salah fokus. "Lo nyulik anak orang?" tunjuk cowok yang memiliki rambut gondrong. Seoalah tersadar Alif cepat-cepat berlalu menuju kamar yang di tempati Ina. "Dasar b**o!" dengkus Alif sembari menutup tubuh Ina menggunakan selimut hingga batas dagu. Sekembalinya Alif keruang tamu, ia dilempar  pertanyaan oleh dua sahabatnya. "Itu pacar lo?" tanya cowok bergingsul itu. Namanya Sam. Tapi bukan Samsudin ya, jika ada yang memanggilnya dengan nama Samsudin, siap-siap saja kau masuk dalam daftar buku hitamnya. "Sejak kapan lo jadi penculik?" tanya Dean. Cowok gondrong dengan bulu mata lentik. Ia menopang dagunya sambil memandang Alif tanpa minat. "Lo udah move on?" "Gue kira lu ga demen cewe lagi." "Gue tikung boleh?" "Gue yakin, lo nyulik anak orang, kan?" Alih-alih menjawab, Alif melempar keduanya dengan tatapan sebal. "Ngapain lo kerumah gue?" Alif mencoba mengalihkan pembicaraan. "Numpang makan." Dean dengan wajah lempeng menjawab seadanya. "Kalo gue numpang b***k," jawab Sam santai sembari melahap potongan donat coklat yang dibelinya tadi. Dean memandang Sam jijik. Bisa-bisanya Sam mengatakan hal seperti itu di saat ia sedang makan. Alif menyunggingkan senyum kecil. Sejujurnya ia senang atas kehadiran kedua sahabatnya. Masalahnya, bagaimana ia menjelaskan tentang keberadaan Ina di rumahnya. "Gue ada info buat lo." Dean tersenyum misterius saat mengatakan hal itu. "Apa?" tanya Alif sedikit penasaran. Catat! Hanya sedikit. "Lo yakin mau tau?" ucap Dean memancing kekesalan Alif. Alif berdesis kesal. "Lo niat gak, sih, ngasih tau?" Sam mengangkat bahu tidak peduli. Ia tetap melanjutkan makannya. Kali ini ia sudah menghabiskan dua kotak donat. Sam memang terkenal dengan perut karetnya. Anehnya, ia tetap kurus walaupun makan sebakul. "Aulia ...."  ucapan Dean terpotong karena Sam di sampingnya tersedak. Dean menghentikan ucapannya saat Sam di sampingnya tersedak hingga terbatuk. Cepat-cepat Dean meraih kotak tisue lalu memberikannya ke Sam. Dean bergidik jijik saat melihat air yang keluar dari hidung Sam saat tersedak. ---00--- "ALIIIIIIFFF. ADA MALIIING!!!" Gedubrak. "KALO MAU MALING PAKE OTAK DONG. MAU MALING KOK PAGI-PAGI! KETAHUAN, KAN, KAMU!" Baru saja Alif melangkahkan kakinya menuruni tangga. Ia terhenyak mendengar pekikan Ina dari arah Dapur. Sesampainya ia di dapur, ia dikejutkan oleh keadaan dapur yang berantakan. Dapat ia lihat Ina yang memegang sapu. Sam memegang panci dan Dean  memegang spatula. Melihat kehadiran Alif, cepat-cepat Ina menghampiri Alif. "Alif, mereka mau maling di rumah kamu." Ina menunjuk-nunjuk Sam dan Dean dengan sapu di tangannya. Sedangkan Sam dan Dean hanya melongo tidak mengerti. Niatnya hanya ingin memasak telor ceplok, tapi tiba-tiba ia dikagetkan dengan pekikan Ina yang mengatakan mereka maling. Yang benar saja! Alif menunduk memandang Ina datar. Lalu tangannya terangkat menghapus bulir keringat di kening Ina. Semua itu tentu saja tidak lepas dari perhatian Sam dan Dean. Mereka semakin yakin jika Alif dan Ina ada hubungan terselubung. Ina meneguk salivanya kasar. Ia gemetar. Entah kenapa dari perlakuan kecil Alif itu menimbulkan efek luar biasa untuk jantungnya. "Beresin dapur gue sekarang!" titah Alif. Ina masih tercenung di tempatnya. Ia masih belum mencerna apa yang terjadi. "Alif, gimana sama maling ini?" pekik Ina sambil menunjuk Sam dan Dean. "Bakar aja!" Ina memalingkan wajahnya sambil tersenyum miring. "Woii Alif, lo gak-" "Diem!" Ina memotong ucapan Sam dengan suara yang digalak-galak an. "Gue bukan-" "Diem atau Ina bakar beneran?" Dean memutar matanya sebal. Gadis di depannya ini membuatnya geram dan gemas di saat bersamaan. ---00--- Dan di sinilah mereka sekarang. Di halaman belakang rumah Alif. "100, 101, 102, 103, ah capek gue!" dengkus Sam kesal. "Gak boleh capek!" bentak Ina berlagak galak. Mereka sedang menghitung pasir yang sudah disediakan oleh Ina di dalam wadah kecil. "Gila!" desis Dean yang sedari tadi kesal dengan butiran pasir di depan matanya. Ingin sekali ia melemparkan pasir itu di muka Ina. Tidak jauh dari tempat mereka, Alif sedang duduk santai di bawah pohon sambil membaca buku. Sudah sejak tadi Sam meminta pertolongan Alif, namun tidak digubris. "Alif manggil lo," ucap Dean mengalihkan fokus Ina yang sedang mengawasinya. "Ina dipanggil Alif?" tanya Ina memastikan dan dijawab anggukan mantap oleh Dean. Paham dengan maksud Dean, Sam mengangkat jempolnya ke arah Dean dan dijawab senyum miring oleh Dean. "Iya," jawab Dean tidak sabaran. "Kapan?" "Tadi. Lo nya aja yang budek." Kali ini Sam yang menjawab. "Ina gak b***k!" jawab Ina tidak terima. "Iya, iya." "Iya apa?" tanya Ina mengerutkan dahinya. "Iya lo gak b***k!" jawab Sam greget. "Ina emang gak b***k kok." "Kan gue udah bilang tadi," ucap Sam sedikit geram. "Bilang apa?" tanya Ina dengan mata menyelidik. Kali ini Sam dan Dean yang dibuat bingung. Sam jadi khawatir jika Alif berpacaran dengan mantan penghuni rumah sakit jiwa. "Nama lo Ina?" tanya Dean. Ina menganggukan kepala. "Ina dipanggil sama Alif tuh." Dean mencoba sedikit  bersabar. "Tapi Ina gak ada dengar tuh." Ingin sekali Sam  dan Dean menjedotkan kepalanya. Dean menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tidak sadarkah gadis ini jika ia sedang dibohongi. "Yaudah, Ina ke Alif dulu. Selesaiin hukuman kalian." Sepeninggal Ina, Sam dan Dean dapat bernapas lega. Mereka berdua beranjak masuk rumah, secara diam-diam pastinya. Namun belum jauh mereka melangkah, Sam dan Dean dikejutkan oleh suara pekikan Ina. Spontan Sam dan Dean memalingkan kepala kearah suara. Di sana,  Ina sudah dalam  posisi berlutut. Tidak jauh dari Ina terpeleset, Alif tergesa-gesa menghampiri gadis itu lalu membantunya berdiri. "MAMPUSSS!!!" gumam Sam dan Dean bersamaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN