5. RUMAH POHON

994 Kata
Saat ini Ina sedang sarapan pagi, bersama Alif tentunya. Hanya suara dentingan sendok dan piring yang mengisi heningnya ruangan tersebut. Setelah merasa cukup, Ina menyudahi makannya. Tetapi, ia masih bertahan di tempat duduk. Ina melirik Alif dengan ekor matanya. Tampak cowok itu sangat menikmati makannya. Ina memilih untuk menunggu cowok tersebut selesai makan. Ina yang sedari tadi menunduk, seketika menegakkan kepalanya saat mendengar suara kursi berderit. "Alif." Dengan suara pelan Ina memanggil cowok berwajah tampan, tapi dingin itu. Merasa dipanggil, Alif membalikkan badan dan memandang Ina dengan tatapan datar, melihat itu nyali Ina menciut. Takut-takut Ina memandang wajah sosok tampan di depannya. "Ina mau pulang," cicit Ina sambil menggigit bibir bawahnya. "Pulang aja. Pintu rumah gue terbuka lebar." Masih dengan ekspresi datar. "Tapi Ina belum mau pulang." Alif mengerutkan dahinya heran. Jelas-jelas tadi ia mengatakan jika ingin pulang, dasar labil! "Jadi lo mau apa?" tanya Alif kembali bersuara. "Sebenernya Ina takut ...," lirih Ina kembali menundukkan kepalanya. "Takut diperkosa sama kamu," tambah Ina. Kali ini suaranya lebih kecil dari sebelumnya. Alif melongo. Pasti gadis ini salah paham. Alif teringat kejadian tadi pagi. Ina terbangun dengan tangis yang pecah. Ina mengira jika Alif sudah melakukan pelecehan terhadapnya. Tentu saja Alif tidak terima, enak saja! Jelas-jelas Ina yang meminta untuk memeluknya. Butuh satu jam Alif meyakinkan Ina jika tidak terjadi apa-apa di antara mereka berdua. Bahkan Ina masih sempat menampar pipi Alif saat Alif mengatakan jika d**a Ina datar. Walaupun itu benar adanya, pemirsah. "Kalau lo engga betingkah, mungkin gue bakal pertimbangin biar engga perkosa lo," ucap Alif dengan senyum miring. Ina melihat itu langsung bergidik ngeri. Setelah itu Alif meninggalkan Ina yang sedang tenggelam dengan lamunannya. ******* Siang ini Venus berinisiatif untuk meminta bantuan polisi atas hilangnya Ina. Mengingat hilangnya adiknya itu sudah masuk dalam waktu 24 jam. Dengan memakai jeans hitam ditambah kemeja yang digulung hingga siku, Venus merasa penampilannya sudah cukup. Venus berangkat menggunakan mobil pribadi yang baru saja ia beli tadi malam. Agar memudahkan untuk mencari keberadaan adik tersayangnya. Pukul 11 siang ia baru keluar dari kantor polisi. Setelahnya Venus pergi untuk mengisi perutnya yang belum diisi apa-apa dari tadi pagi. "Niat kita kesini cuma mau liburan Na, tapi malah jadi gini. Lo kemana sih, Na." Alif menghela napas. Ia benar-benar tidak tau harus mencari Adiknya kemana lagi. ********* "Kamu tinggal berdua doang di rumah ini?" tanya Ina ke Tia. Saat ini mereka sedang menikmati sore hari di teras rumah sambil menikmati pemandangan kebun teh yang memanjakan mata. Tia mengangguk. "Alif engga grepe-grepe kamu, 'kan?" Ina menatap Tia dengan tatapan curiga. "Gr-epe- gr-repe i-tu a-apa?" Tia mengerutkan dahi, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh lawan bicaranya. "Kamu gak tau?" seru Ina heboh. Tia menggeleng. "Grepe-grepe itu kayak wikwikwik gituloh ...," jelas Ina sambil berbisik. Tia mengerutkan alisnya hingga menyatu. Ia sungguh tidak paham. "Auhhhh," ringis Ina saat sentilan tangan besar mendarat di keningnya. Saat tau pelakunya siapa, Ina menegakkan tubuhnya yang hanya setara dengan bahu Alif. "Cowok gak boleh kasar sama cewek!!!" cibir Ina sambil bertolak pinggang. "Cewek gak boleh ngomongin hal m***m!!!" balas Alif tidak mau kalah. "Ina gak ngajarin Tia hal m***m kok," bela Ina tampak kikuk. "Emang gue ada bilang kalau lo ngajarin Tia hal m***m? Terciduk lo!" Ina bungkam. Benar juga apa yang dikatakan Alif. Lagi-lagi ia merutuki kebodohannya. "Ikut gue!" Ina terkejut saat Alif sudah menyeretnya kesuatu tempat yang tidak ia ketahui. Terlebih Alif menyeret dirinya  dengan baju ditarik. Sungguh tidak ilegan! "Kita mau ke mana?" "Kuburan." Ina menghentikan langkahnya. Matanya membulat saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Alif. "Plissssss, jangan kubur Ina hidup-hidup. Ina masih pengen hidup, Ina juga belum punya suami. Ina juga baru tamat SMA, Ina masih muda," cerocos Ina tanpa jeda. Alif menggeleng-gelengkan kepala. Gadis ini mudah sekali dibohongi. Alif jadi ragu melepas gadis berwajah bulat ini. Eh, apa yang baru saja Alif pikirkan? "Gue bercanda." "Beneran?" "Hm ...." "Syukurlah. Soalnya Ina belum mau mati. Ina belum siap. Kalau boleh, Ina matinya pas nenek-nenek aja. Pas Ina punya banyak anak dan cucu, pasti seru." "Lo bisa diem gak sih? Berisik!" ucap Alif tidak suka. Ina mencebikkan bibirnya. "Engga. Ina gak bisa diem!" Alif memilih diam. Jika ia berbicara pasti gadis ini terus menjawab. Membuat telinganya berdenging mendengar suara cempreng milik Ina. Tidak lama kemudian Alif menghentikan langkahnya di depan sebuah pohon besar. Dapat Ina lihat dari atas pohon tersebut terdapat sebuah rumah mungil. "Rumah pohon," gumam Ina. Alif menggulung kaos lengan panjangnya hingga siku, lalu menaiki tangga yang sudah disediakan untuk mencapai rumah pohon. "Mau sampai kapan lo di bawah?" teriak Alif dari atas rumah pohon. Ina yang sedari tadi asik melamun seketika tersentak kaget. "Loh, sejak kapan kamu di atas?" tanya Ina sambil mendongakkan kepalanya. "Sejak lo ngelamun. Hobi kok melamun," dengkus Alif dari atas. Ina mengerucutkan bibirnya. Namun, tak urung ia tetap menaiki tangga demi tangga untuk mencapai rumah pohon. Sesampainya Ina di atas, Ina dibuat takjub oleh pemandangan yang terhampar luas di depan matanya. Yang Ina tau, tidak ada rumah di daerah ini selain rumah milik Alif, namun ternyata dugaannya salah besar. Yah, walaupun jaraknya terbilang cukup jauh. Semua itu tidak luput dari perhatian Alif. Alif menyunggingkan senyum tipis, sangat tipis malah. Puas melihat pemandangan kebun teh dan sunset, Ina melirik Alif yang sedari tadi diam. Ina memberanikan diri menusuk-nusuk pipi Alif menggunakan telunjuknya. Alif berjingkat kaget dan memandang Ina datar. "Ina boleh nanya?"  Ina  menatap Alif penuh harap. Alif memalingkan wajahnya ke arah lain. "Ina anggap boleh deh. Emm, umur Alif berapa?" tanya Ina basa-basi. Sebab, Ina sangat tidak suka keheningan. Baginya keheningan itu membosankan. Berbeda dengan Alif yang lebih menyukai hening dan ketenangan. "Dua puluh," jawab Alif tanpa minat. Ina membulatkan bibirnya membentuk huruf O. "Kalo umur Ina tujuh belas," jawab Ina semangat dengan senyum lebar. Alif melirik Ina sebentar lalu kembali membuang muka. "Gue gak nanya!" jawab Alif datar. "Ina, kan, ,gasih tahu." "Gue gak peduli." "Gak peduli kesiapa." Alif mengerutkan dahi heran. "Ke lo lah!" "Loh, emang Ina kenapa?" "Kumat lagi begonya," desis Alif kesal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN