"Untung lo gak kenapa-napa." Alif mengusap wajahnya kasar. Masih terbayang kejadian yang hampir merenggut nyawa Ina. Ina masih terisak dengan bahu bergetar. Niatnya hanya ingin menyebrang jalan, tapi karena tidak fokus ia hampir saja menjadi korban kecelakaan. Untungnya ada Alif yang menariknya dalam dekapan. "Kalau Ina tau bakal kayak gini, Ina gak bakal nyebrang jalan, kok." Ina masih setia menatap lantai, enggan melihat cowok di hadapannya. "Lagian Alif pake kabur segala, sih!" Alif berdecak sebal. "Lo bukan cenayang atau peramal yang bisa tau apa yang akan terjadi kedepannya. Stop dengan pemikiran gila lo itu!" Ina mencebikkan bibir sebal di sela sisa tangisnya. "Alif kapan, sih, bisa bersikap manis sama Ina? Mau sampai kapan Alif gak menganggap keberadaan Ina? Apa perlu Ina menghi

