Bab 6. PERTEMUAN TAK TERDUGA

1304 Kata
Sassy memutuskan untuk menelepon tante Rara. Biarlah dimarahi habis-habisan. Daripada masuk masuk penjara? Dengan jantung berdegup kencang, dan merapal do’a dalam hati, Sassy mengambil ponselnya. Tapi tiba-tiba seseorang menabrak bahunya dan PRAK!! Ponselnya terjatuh ke lantai, tutup baterainya terbuka, dan baterainya terlepas. “Aduh! Ya Allah maaf dek maaf banget. Kamu nggak apa apa kan?” seorang perempuan cantik menghampiri Sassy, lalu memungut ponselnya. “Yaaah baterainya lepas, maaf yaa.. Nanti aku ganti ya dek. Maaf banget ya, bener-bener nggak sengaja. Bahu kamu tadi sempat kebentur agak keras, tapi kamu nggak apa-apa kan? Apa ada yang sakit? Kamu kok nangis?” tanyanya lembut sambil menyentuh bahu Sassy. Sassy yang masih dalam keadaan kalut, entah mengapa malah jadi mellow saat ditanya dengan nada lembut dan penuh perhatian seperti itu. Ia jadi emosional dan malah menangis tersedu-sedu. Sassy menelungkupkan tangan ke muka dan terus menangis, membuat sang penabrak jadi salah tingkah dan panik. “Ya Allah, Dek. Kamu kenapa? Sakit bahunya? Mau aku antar ke dokter? Atau.. eh, kamu nangis gara-gara HP nya rusak ya? Nanti aku ganti kok. Merk apa itu? Aku ganti baru ya? Jangan nangis ya, Dek. Aduh.. Maafin ya, Dek. Bener-bener nggak sengaja.” “Bu.. Bukan.. Huuuhuuuu..” Sassy bermaksud menjelaskan kalau dirinya tidak apa-apa, dan ponselnya juga tidak perlu diganti, karena memang sering jatuh tapi baik-baik saja. Tapi yang keluar dari mulutnya lagi-lagi cuma sedu sedan. Akhirnya Sassy memilih untuk menenangkan dirinya dulu. Sassy baru tenang setelah perempuan yang menabraknya berinisiatif memberinya air minum dan duduk menenangkannya. “Sudah tenang? Kenalan dulu yuk? Nama aku Airin. Maaf ya tadi nggak sengaja. Maaf banget ya. Kamu nggak apa-apa kan?” “Oh iya Kak Airin, aku Sassy. Nggak apa-apa kok, Kak. Maaf aku jadi nangis kayak anak kecil tadi.” sahut Sassy malu. Airin tergelak, membuat lesung pipitnya langsung terlihat. Wajahnya yang cantik dan ramah seolah langsung menghisap semua kesedihan Sassy. “Nggak apa-apa. Aku juga kalau jadi kamu pasti nangis, HP jatuh sampe pecah gitu. Maaf banget ya. Tapi aku janji nggak akan kabur, pasti aku ganti HP kamu. Tapi nggak sekarang ya, kartu ATM ku ketinggalan di rumah. Uang tunai nggak cukup buat ganti. Tapi beneran ada kok di rekening. Kalau kamu nggak percaya, nanti kamu bawa aja KTP aku buat jaminan.” jelas Airin dengan raut wajah sesal. Salah Airin yang tidak menuruti kata-kata Ibu semalam. Pulang dari ATM, kartunya tergeletak begitu saja di meja kamarnya. Ibu sudah mewanti-wanti Airin untuk segera memasukkan kartu itu ke dompet, tapi Airin malah mengabaikan. Paginya, Airin kesiangan dan berangkat dengan terburu-buru. Alhasil, ia lupa mengembalikan kartu ATM itu ke dalam dompet dan langsung menyambar kunci mobil dan dompetnya, lalu pergi tanpa sempat sarapan. Untung di dalam dompetnya ada uang tunai meski tidak banyak. “Atau gini aja deh, kalau kamu nggak buru-buru, kamu ikut aku aja sebentar, aku nggak lama kok, lagi audisi aja, sebentar lagi giliranku tampil. Nanti kalau sudah selesai, kamu ikut aku ambil kartu ATM di rumah. Rumahku nggak jauh kok dari sini.” imbuh Airin. “Nggak apa-apa kok, Kak. Nggak usah diganti juga nggak apa-apa. HP ku memang udah sering lepas gini tutup baterainya, Kak. Nggak rusak kok.” jawab Sassy sambil memaksakan senyum, berusaha terlihat baik-baik saja. Menyembunyikan perasaan kalutnya. Tapi gagal, mata Airin yang jeli keburu melihat selapis air mata yang menggenang dan siap jatuh kalau Sassy mengerjap sekali saja. Raut wajahnya yang murung dan sikapnya yang gelisah juga terlihat jelas di mata Airin, membuat gadis itu kasihan sekaligus penasaran. “Terus, kalau bukan karena HP yang rusak, kenapa kamu kelihatan sedih gitu? Ada masalah? Mmm.. kalau mau cerita sama aku nggak apa-apa kok, siapa tau aku bisa bantu.” ujar Airin pelan, antara kasihan dan bingung dengan kondisi remaja di depannya ini. Dari rok seragamnya yang berwarna biru tua, Airin tau dia siswi SMP. Entah kelas berapa. Dan melihat anak SMP menangis sendirian di tengah-tengah pusat perbelanjaan seperti ini, Airin sungguh tak tega. Berbagai pertanyaan bermunculan di benaknya. Apa anak ini baru saja kecopetan? Atau orang yang mengganggu? Jangan-jangan korban pelecehan? Batin Airin. “Sassy? Ada yang bisa Kakak bantu?” kali ini Airin bertanya dengan nada yang lebih lembut. Ia sungguh kasihan. Melihat sikap Airin, pertahanan Sassy bobol. “Aku harus gimana, Kak? Huhuhuuuuu...” Sassy menangis tersedu-sedu sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah. Seketika Airin panik. Apalagi orang-orang di sekitar mereka jadi memperhatikan. Airin buru-buru menepuk ringan bahu Sassy, menenangkannya. “Ssst.. jangan nangis.. Ini kamu minum dulu deh, terus coba cerita pelan-pelan sama aku.” ujar Sassy sambil lagi-lagi mengangsurkan sebotol air mineral pada Sassy, menyuruhnya minum agar lebih tenang. Setelah membasahi tenggorokannya, Sassy pelan-pelan mulai menceritakan semuanya pada Airin. Mulai dari tugas biologi, sampai dirinya yang dituduh mencuri di toko milik ibunya Meirin, padahal ia hanya menuruti perintah Meirin yang katanya hanya mengambilkan barang. Sassy sendiri menyesali kebodohan dan kecerobohannya. Kok mau-maunya diperintah Meirin tanpa berpikir sama sekali. Padahal seharusnya diteliti dulu, kenapa Meirin menyuruhnya, bukan ambil sendiri? Kalau saja dia lebih teliti, pasti semua ini tidak akan terjadi. Semua ini karena tugas biologi. “HAH!! ANAK KURANGAJAR!” Airin bangkit dari kursinya dan berteriak marah. Sassy sampai kaget dan nyaris jatuh melihat reaksi Airin yang tiba-tiba. “Aku juga salah, Kak. Kenapa mau-maunya diperintah begitu sama Meirin.” “Jadi dia nyuruh kamu sendirian ke butik buat ngambil uang dan perhiasan di laci, sementara dia dan Vera nunggu di food court?” “Iya, Kak.” “Terus, beberapa menit kemudian Maminya telepon dan dia buru-buru ngajak kamu masuk ke butik? Terus sampai di sana, kamu dituduh maling dan dia cuci tangan? Bilang nggak tau apa-apa dan bukan dia yang suruh?” “Iya kak...” “Waaaah... kecil-kecil sudah jadi sampah tu anak! Eh.. Sebentar.. Sebentar.. Anak yang namanya Meirin dan Vera itu tadi pakai kaos hitam tulisan Harry potter bukan? Rambutnya yang satu panjang lurus, yang satu pendek, agak ikal?” tanya Airin. “Nah, iya! Kok Kakak tau?” “Tadi ibunya Meirin itu nyuruh kamu apa?” Airin malah balik bertanya. “Nyuruh orangtuaku ke sini, Kak. Itu yang bikin aku nangis. Aku udah nggak punya mama, Kak, dan papaku sekarang sedang sibuk di pasar induk. Barusan aku telepon papa, dan belum sempat ngomong apa-apa, papa udah nyuruh aku tutup telepon karena papa sibuk banget.” jelas Sassy nyaris terisak lagi. “Di rumah ada Nenek dan Tante Rara. Tapi aku takut, Kak. Nanti pasti aku dipukulin sama Tante Rara, bukannya dibela. Tante Rara pasti nggak percaya penjelasanku. Makanya aku tadi nangis, Kak. Aku bingung.” imbuh Sassy dengan raut wajah cemas. “Kalau orang tua kamu nggak datang gimana?” “Aku mau dilaporin ke polisi kak.” “Nggak perlu, Sas. Kamu nggak usah telepon papa atau tantemu. Biar aku aja yang nemenin kamu, pura-pura jadi tante kamu. Aku punya rencana. Oh iya, aku tau kok kamu bukan pencuri, aku percaya banget kalau itu bukan salah kamu. Aku malah tau banget kejadian aslinya gimana.” jelas Airin tak terduga. “Kok Kakak tau?” tanya Sassy bingung. “Aku taunya juga nggak sengaja. Jangan tanya dulu aku tau dari mana, nanti aku jelasin. Sekarang, kamu ikutin aja semua instruksiku ya, kita harus kasih pelajaran si Vera, si Meirin, dan mamanya yang sombong itu. Aku tau caranya!” “Tapi, kak.. Kalau Maminya Meirin nggak percaya kakak itu tanteku gimana? Kalau aku tetap dibawa ke kantor polisi gimana?” tanya Sassy takut. “Aduuuh. Kamu bukan maling kan? Kamu nggak ngerasa mencuri apapun kan? Nggak usah takut! Aku punya rencana buat membalikkan keadaan. Kamu nggak bakalan ditangkap polisi. Malah justru si Meirin dan Vera yang bakal ngemis-ngemis minta maaf sama kamu. Aku jamin itu! Ayo Sas! Nanti keburu giliranku tampil!” tukas Airin cepat dengan raut wajah marah. “I..Iya, Kak...” Sassy hanya menurutinya, tanpa tau apa yang akan dilakukan Airin selanjutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN