Bab 1. SI PONGAH DAN TUGAS NEGARA
Februari 2012
“Hei, kamu, yang kudungan. Sini maju, masuk ke ruangan itu. Di sana ada si Pongah, nanti kamu diperiksa. Nah, tas mu kemarikan. Itu bagianku, biar ku obok-obok, mana tau ada inex atau ganja di dalam gulungan BH mu di dalam sana.” seorang perempuan dengan make up tebal dan mengenakan semacam rompi berwarna pink terang, menyambut dengan kalimat panjang dan mengagetkan, membuat Airin mematung.
“Hei! Kenapa malah diam saja? Masih ngefly kamu ya? Sudah jalan sana! Cari si Pongah. Gampang, kamu cari perempuan kurus giginya ompong di tengah. Makanya namanya Pongah. Hahaha…” penjelasannya disertai gelak semua yang ada di sana. Tapi sama sekali tak memancing tawa Airin, bahkan untuk segaris senyum pun tidak. Memang tidak lucu, atau aku yang terlalu takut untuk tertawa? Airin bertanya pada diri sendiri.
“Hoi! Pingpong! Apa-apaan kamu? Buka aib orang. Kamu sendiri dipanggil Pingpong karena apa? Gigimu yang pinggir ompong! Pingpong, alias pinggir ompong! Hahaha…” tawa renyah dari dalam sana sepertinya milik si Pongah. Lagi-lagi semua orang tertawa. Dan sekali lagi, hanya Airin seorang yang terdiam.
“Buka kudungmu, bajumu, celana mu, BH mu. Sisakan saja celana dalam. Kurasa tak mungkin kau sembunyikan sabu di sana kan?” tuduh si Pongah.
Airin terperangah. Hah? Sabu-sabu? Di celana dalam?
“Pongah! Periksa yang benar! Kalau sampai ada sabu, kamu yang kusetrum!” suara lain tiba-tiba menimpali. Suara itu milik sipir bertubuh tambun yang baru saja duduk di sebuah kursi besi dekat mereka. Kaki kursi berderit, seperti tak kuasa menahan bobot tubuh si sipir. Lemak di perut dan pinggangnya seolah memberontak, membentuk gundukan dan lipatan yang terlihat jelas menyembul di bawah ketiaknya, berlipat-lipat, menggelambir sampai ke pinggul, meski dia mengenakan seragam tebal, lemaknya masih mencuat kemana-mana.
Sekilas, sipir itu melirik Airin dengan tatapan dingin. Airin ketakutan, jantungnya berdegup kencang. Dalam benaknya, muncul adegan sinetron dimana dirinya adalah pemeran utama dengan karakter lemah, tertindas, berurai air mata, sementara si sipir, yang pemeran antagonis, membawa-bawa pentungan untuk menganiaya narapidana yang baru datang seperti dirinya. Sementara disekililingnya banyak narapidana senior bertindak layaknya dayang-dayang dan dia adalah tuan putri yang bisa memerintah mereka seenaknya. Adegan berikutnya adalah Airin dikepung di tengah-tengah, lalu dua orang narapidana memegang tangan kanan dan tangan kirinya, sementara sang sipir menamparnya bertubi-tubi. Ouch!
“Mana mungkin ada sabu, bu. Tampang mirip bini teroris begini bawa sabu? Sudah gila apa? Ibu lihat sendiri kudungnya, mirip selimut si Ubeng. Sama lebarnya. Cuma yang ini rada wangi rinso, punya si Ubeng apek!” sangkal Pongah. Airin tersadar dari lamunannya. Suara Pongah kencang sekali sampai telinga Airin berdenging.
“Jangan salah kamu! Ingat kan si Tina ganja? Waktu baru datang pakai kudung panjang. Kukira taplak meja. Tampangnya mirip guru ngaji dusun pinggiran. Taunya, bawa ganja lima linting di celana dalam. Lupa kamu?” kali ini si sipir gemuk menjawab tak kalah kencang.
Airin tak habis pikir, ruangan ini tak lebih besar dari ruang kelasnya waktu SMA, tapi semua orang di sini berteriak-teriak seolah sedang ada di stadion sepakbola, dengan posisi yang satu di tribun timur dan yang lainnya di tribun barat.
“Ah iya! Benar juga ibu.” Pongah menepuk jidat. “Kalau begitu, buka celana dalammu juga!” Pongah berpaling dan memerintahkan melepas lembar terakhir yang tersisa.
Airin mendelik kaget. Dia merasa jengah dan langsung memalingkan wajah. Gugup, malu, kaget, kesal, takut, jadi satu tumpang tindih di benaknya. Sepertinya si Pongah menangkap ekspresi Airin dan langsung tersenyum geli.
“Maap ya non, kalau malu tutup mata saja. Saya juga jijik sebenernya, liat barang mirip punya kita tapi modelnya beda-beda, ada yang kecil, ada yang lebar, ada yang tebal, ada yang bentuknya nggak beraturan. Mana baunya buseeet! Terasi campur tai kuda juga masih kalah. Geli kan ya non?” Pongah terkekeh. Airin menahan muntah. Sialan si Pongah! Malah diperjelas! Lagian, harus ya memperhatikan detail bentuk, ukuran dan aroma ‘benda pusaka’ orang saat memeriksa? Bikin mual saja!
“..tapi yaa.. namanya juga menjalankan tugas negara. Saya cuma ikut peraturan non. Kalau kata Bu Wati, ini namanya prod.. pros.. apa ya? Produser?”
“Prosedur, mbak…” ralat Airin pelan. Kali ini dia tersenyum dalam hati. Sudah tidak setegang tadi. Pongah dan tugas negaranya mampu mencairkan kekakuan Airin. Si Pongah tampak ramah dan tidak berbahaya. Padahal tadinya Airin takut sekali, karena selain suaranya yang keras, alis si Pongah kelewat tegas. Ditattoo, dengan bentuk tipis, melengkung tajam dengan ujung yang runcing. Membuat ekspresinya selalu seperti sedang marah. Judes, kejam dan bengis. Persis pemeran antagonis di sinetron bertema azab yang bernuansa mistis.
“Aaah iyaa ituu.. prosedur! Jangan panggil mbak, ah. Umurmu berapa memangnya?”
“Dua puluh lima tahun, mbak.” jawab Airin.
“Laah.. Seumuran sama anak sulung saya. Umur saya empat puluh dua tahun. Panggil aja tante. Di sini, yang lebih tua atau seumuran manggil saya Pongah. Kalo yang mudaan, manggil saya tante. Panggil tante aja.”
“Oh.. Iya tante..” Airin nurut.
“Pongah! Lama banget siih?” sipir itu berteriak tak sabar. Pongah terkejut dan buru-buru mendorong perempuan berjilbab lebar di depannya. Padahal perempuan itu yang diperiksa dari tadi, tapi entah kenapa Airin yang hampir mati ketakutan, bulu kuduknya lagi-lagi meremang.
“Heh! Kamu lagi? Kamu si Pelet kan? Peni Silet?” tiba-tiba sipir itu berdiri dari kursinya dan menarik lengan perempuan berjilbab tadi. Seketika kursi besi yang tadi di dudukinya berderak. Seolah berteriak lega setelah terbebas dari beban tubuh tambunnya.
“Kamu Pelet kan? Jangan pura-pura blo’on kamu ya! Belum enam bulan kamu bebas. Kamu pikir aku tak ingat?”
“I..iya bu.. Saya Peni..”
“Ngapain pake jilbab lebar begini? Kurangajar kalian ini memang! Jilbab jadi kedok. Kalian pikir aparat bisa ditipu? Ini lagi! Heh! Kamu Agan kan? Ani Ganja? Masuk lagi kamu? Mangkal dimana kamu bisa keciduk hah? Pake-pake kudung lagi! Buka! Biasa mangkal di depan hotel melati pake kutang sama celana dalam saja, sekarang sok sok pake jilbab biar keliatan alim? Buka!” makin keras suara si sipir melihat dua orang di depannya. Barusan si Pelet, dan ada satu lagi perempuan berjilbab yang tadi dipanggil Agan.
Airin meringis miris. Atribut bernuansa religius seringkali disalah gunakan oleh makhluk-makhluk seperti ini.
“Banyak orang yang pake jilbab betulan jadi kena getahnya gara-gara orang macam kalian ini! Orang berjilbab sering dicibir, dibilang percuma pake jilbab tapi masih maksiat. Itu karena sampah macam kalian ini! Kalian yang maksiat, wanita muslimah di luar sana yang dihujat! Makan ni kudung!” sipir itu menarik paksa jilbab dan menjejalkannya ke dalam mulut mereka.
“Pingpong! Ambil ember di kosong tujuh! Siram ke kepala si Pelet! Kamu, Agan, masuk sana! Biar diperiksa si Pongah! Awas kalau ada yang macam-macam!”
“Bu.. Jangan Bu.. Baauu buuu…” Pelet mulai menangis.
“Apa? Bau katamu? Kamu lebih busuk tau! Cepat ke sebelah sana, mumpung aku masih sabar. Atau kamu mau kusuruh Pingpong ambil yang diluar?”
“Ampuuun buuuuu…” Pelet terbirit-b***t mengikuti Pingpong. Airin ikut ketakutan.
“Tenang non. Kalo nggak salah apa-apa nggak akan disiram ember di kosong tujuh. Apalagi ember luar. Biasanya yang disiram itu penjahat kambuhan. Kerjaannya keluar masuk penjara. Nggak ada kapoknya. Atau yang banyak ulah. Tu.. si Pelet contohnya. Kalo si Pelet pantas digituin. Biar bau sekalian! Non tau isi ember di kosong tujuh? Air got dari kamar kosong tujuh. Bekas cucian, mandi, kencing, cebok, air kumuran abis sikat gigi, air cucian pembalut, ngumpul di dalam situ. Hiiih.. Tikus got saja pilih-pilih, mana ada tikus yang sudi nyemplung kesitu!” jelas si Pongah. Airin seketika mual. Mendadak makan siangnya seolah naik lagi ke tenggorokan.
“Itu belum seberapa non, tau nggak ember luar itu isinya apa? Air sepiteng non! Tau kan? Tampungan tai dari WC!” bisik Pongah dengan ekspresi jijik. Astaga septic tank! Airin hampir saja muntah. Untung saja teriakan Pongah mengagetkannya dan mualnya seketika lenyap.
“Bu Fitriiiiiii!!! Si Agan luarnya doang pake jilbab tapi dalemnya nggak pake k****t sama behaaaa!!!! Pasti dia abis gituan dalem mobil tahanaaaaaan!!!”
“KURANGAJAAAAARRR!! PONGAAAAAH!!! SIRAM DIA PAKE EMBER LUAAAAARRRR!!!”