“Sudah diperiksa?” sipir bertubuh subur yang bernama Fitri itu bertanya pada Pongah. Pongah memeriksa tas Airin sekali lagi. Lalu mengacungkan jempol tanda bahwa tas Airin aman dan tidak ada benda terlarang di dalamnya. Hanya compact powdernya disita, karena ada cermin di dalamnya. Besok, kalau cermin itu sudah dipecahkan dan dibuang, Airin boleh mengambilnya kembali.
Airin benar-benar lega, dia tak disuruh telanjang bulat seperti Pelet dan Agan. Hanya bajunya saja di suruh lepas, underwearnya tetap di posisi semula. Pongah tak tega. Dia pura-pura memeriksa, lalu cepat menyuruh Airin berpakaian sebelum dilihat Bu Fitri. Airin bersyukur, di tempat ini masih ada orang baik.
“Pong, bawa dia ke Sisil. Aku sudah bilang ke Bu Linda kalau dia masuk kosong enam. Suruh Sisil lapor ke Bu Linda. Nanti aku menyusul setelah si Pingpong selesai memeriksa.”
“Siap, ndan!” pongah mengangkat tangan posisi hormat. “Yok, non, kuantar ke Sisil”
Airin mengangguk. Tapi, baru beberapa langkah mereka menjauh, datang seorang wanita berompi biru berjalan cepat ke arah Fitri. Perempuan rompi biru itu membisikkan sesuatu ke telinga kanan Fitri. Fitri balas berbisik. Sejurus kemudian, Airin disuruh duduk lagi.
“Kamu tunggu dulu di sini, Bu Wati mau ngomong.”
“Oh.. iya bu..”Airin menjawab gugup dan hanya berdiri canggung di sudut.
Tak lama berselang, datang seorang petugas lagi. Berambut pendek, badannya tegap, kulit sedikit gelap, bibinya dipulas lipstik merah terang. Pembawaannya terlihat garang, tapi wajahnya ramah.
“Halo warga baru.. Loh? Kok mojok di situ? Duduk sini, kita kenalan dulu. Saya Wati Sulastri. Saya kepala KPLP di sini. KPLP itu Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan. Saya bertanggung jawab dengan keamanan di sini.” Bu Wati menjelaskan dengan senyum merekah ramah.
“Airina Siddiqa Amanah, kan? Aduh.. cantik sekali namanya, secantik orangnya. Persis yang sering saya lihat di TV. Kita di sini setiap hari loh nonton acara beritanya Airin. Pas liat aslinya gini, eh, ternyata lebih cantik dari yang di TV.” Bu Wati menyapa ramah.
Airin duduk dengan perasaan ringan. Seolah puluhan ton beban dipundaknya jatuh ke tanah. Perlahan-lahan ketegangan Airin memudar. Nada bicara bu Wati yang pelan membuat Airin lega dan tenang. Apalagi Bahasa bu Wati santun sekali. Menyebut namanya sebagai lawan bicara. Airin. Bukan kamu, kau, elo, situ, seperti yang selama ini ditunjukkan petugas lainnya seperti Fitri yang kasar dan terkesan memandang rendah. Padahal bu Wati ini, ditilik dari penampilannya, mungkin usianya sekitar pertengahan tiga puluhan, sekitar tujuh sampai sepuluh tahun di atas Airin. Berbeda dengan Fitri tadi, sekilas saja Airin tau dia masih belia. Mungkin awal dua puluhan. Lebih muda darinya tapi tak ada sopan santunnya. Apa yang kamu pikirkan Airin? Berharap sopan santun heh? Ingat, kamu itu sekarang penjahat. Mana ada sopan santun untuk penjahat hina sepertimu! Masih untung tidak kena bogem mentah! Batin Airin pada diri sendiri.
“Fiit..”
“Iya bu?”
“Airin di kamar kosong enam ya?”
“Iya bu.”
“Coba kamu cek, sel ada yang kosong, nggak?” bu Fitri bertanya santai. Tapi Airin ketakutan lagi. Sel? Apa jangan-jangan dia mau dimasukkan ke sel hukuman seperti di film-film? Ya Allah.. Apalagi ini?
“Sebentar ya Airin, di cek dulu ya sama bu Fitri. Oh iya, sambil nunggu, ibu mau jelasin sesuatu sama Airin. Tadi kata bu Fitri Airin kan mau ditempatkan di kamar kosong enam, seharusnya tahanan itu masuknya di kamar kosong tujuh. Kalau kosong enam itu untuk narapidana, yang sudah dapat putusan sidang dan sudah divonis. Airin kan masih berstatus tahanan, sebenarnya harus masuk kamar kosong tujuh. Tapi ibu nggak tega. Kamar kosong tujuh itu isinya puluhan orang. Dan karena status mereka masih tahanan, masih baru, belum adaptasi, masih sensitif. Sering berantem pukul-pukulan. Apalagi kan berdesakan begitu, jadi makin sensitif mereka.” Jelas bu Wati panjang lebar. Airin bergidig ngeri. Wajahnya langsung pucat.
“Nah kalau kamar kosong enam itu, isinya sepuluh orang. Rata-rata kasusnya narkoba. Jadi jangan heran ya kalau ngomongnya banyak yang ngaco, namanya juga pecandu, otaknya sudah nggak beres. Kalau kamarnya sih bersih, lumayan besar, tapi ya, kamar mandinya hanya satu. Jadi Airin harus rela antri dari sebelum subuh ya kalau mau mandi. Soalnya, jam tujuh pagi sudah harus senam pagi di lapangan. Dan sepuluh orang begitu, pasti lama antrinya.” jelas bu Wati lagi. Airin menelan ludah pasrah. Mau bagaimana lagi, dia harus terima, daripada dimasukkan ke kamar kosong tujuh?
“Tapi.. ibu ada solusi. Mudah-mudahan nanti Bu Fitri bawa kabar baik ya. Tunggu sebentar ya..” Bu Wati, tetap dengan senyum ramahnya, menyuruh Airin menunggu Bu Fitri. Solusi? Semoga ini solusi dariMu Ya Allah.. Airin berdoa dalam hati, mudah-mudahan bu Fitri bawa kabar baik.
“Sel satu sama sel dua penuh bu..” Fitri melapor. Airin meringis.
“Sel tiga?” tanya Bu Wati.
“Sel tiga sih isinya cuma Sisil dan Yuni. Tapi kapasitasnya kan untuk du…”
“Suruh Sisil ke sini.” Potong Bu Wati cepat.
“Siap, Bu.” Tergopoh-gopoh Fitri memanggil Sisil.
Tak lama, perempuan berompi biru yang dilihat Airin tadi memasuki ruangan. Airin mengamati. Mungkin usianya sekitar akhir tiga puluhan. Kulitnya putih pucat hanya di wajah dan sebagian leher. Sementara lengannya terlihat berwarna gelap. Bibir dan hidungnya terlihat ganjil. Bibir tebal tapi terlihat seperti habis digigit serangga besar, bengkak, agak merah, sementara hidungnya mancung di bagian tertentu, dan lubang hidungnya seperti turun, sedikit besar hanya di bagian ujung. Kalau dagunya, terlihat runcing dan panjang, sedikit lebih panjang dari ukuran dagu pada umumnya.
“Airin?” suara Bu Wati mengagetkan Airin. Menghentikannya memperhatikan detail kecil pada wajah Sisil. Airin buru-buru memfokuskan pandangan pada bu Wati.
“Kenalin, ini Sisil. Namanya Siti Sriyati. Tapi dipanggilnya Sisil, Siti Silikon.” Bu Wati memperkenalkan sambil menahan senyum. Sementara Sisil tertawa malu. Ah! Airin mahfum, kenapa wajah Sisil terlihat aneh.
“Tak paham ya dek? Ini nih, yang bikin semua orang memanggilku Siti Silikon. Hahahaa…” Siti tertawa sambil menunjuk hidung, bibir dan dagunya. “Operasinya di salon murah dek, makanya meleyot begini bentuknya. Sudah lama tak dirawat pula. Makin lembek lah muka oplosanku ini. Hahaha..” Sisil tertawa santai. Menjadikan wajahnya sendiri sebuah lelucon. Sama sekali tak tersinggung meski dijuluki seperti itu.
“Aku tamping KPLP dan tamping kunci, dek. Tamping paling seksi di Lapas.. Nih, bibirku udah sensual mirip Ayu Azhari kan? Hahaha…” imbuhnya. Lagi-lagi ia tertawa. Airin ikut tertawa meski tak paham tamping itu apa.
“Tamping itu singkatan dari Tahanan Pendamping, Rin. Tahanan berkelakuan baik, yang sudah menjalani lebih dari setengah masa pidananya. Mereka ini banyak membantu mendampingi para pegawai sehari-hari disini.” Jelas Bu Wati seolah bisa telepati.
“Nah Si Sisil ini anak kepercayaan ibu, Rin.” Bu Wati berujar lagi di sela-sela tawanya.
“Orangnya baik dan asik, iya nggak, Sil?”
“Yo’i do’i to’i Bu.” Sisil mengedipkan sebelah matanya ke arah bu Wati.
Setelah cukup lama bercanda, Bu Wati pun mulai menceritakan maksud dan tujuannya pada Sisil. Di depannya, Airin menunggu dengan tegang.
“Jadi gini, Sil. Langsung saja ya. Airin ini rencananya mau Ibu masukkan ke sel tiga. Kamu tau sendiri kan, gimana kondisi kosong enam? Apalagi kosong tujuh? Ibu kasihan sama Airin. Tapi.. Ya gimana ya, Sil. Sel tiga kan sudah penuh, isinya kamu sama Yuni. Kalau ditambah Airin jadi bertiga, agak sempit nanti tidurnya. Ibu sih kasihan juga sama kamu. Sekarang, terserah kamu sama Yuni saja.” jelas Bu Wati panjang lebar.
Airin pasrah. Ternyata kamar yang menurut bu Wati layak dihuni sudah penuh terisi, menyisakan satu kamar kecil yang ditempati Sisil dan seorang narapidana lainnya. Itupun seharusnya hanya dihuni dua orang, kalau Airin masuk, jadi tiga, pasti tak nyaman rasanya.
“Oooh.. Ya sudah bu, tidak masalah, nanti aku tidur di lantai saja, gelar kasur depan pintu kamar mandi. Lagian enak disitu, Bu. Depan pintu persis, anginnya semriwing. Adem.” jawaban tak terduga Sisil otomatis membawa Airin mengucap syukur dalam hati. Tapi di satu sisi, Airin dilemma. Tak tega ia membiarkan Sisil tidur dengan menggelar kasur di lantai. Apalagi di depan pintu kamar mandi.
“Nanti coba kupanggil teh Yuni dulu ya, Bu.” Sisil izin memanggil roommate nya yang langsung diiyakan Bu Wati.
“Rin.. Sisil itu single parent. Yuni Juga. Anak Sisil yang sulung kelas satu SMP, yang tengah kelas tiga SD, dan yang kecil baru lima tahun. Sekarang dirawat nenek dan kakeknya. Suami Sisil sudah meninggal. Makanya itu, Sisil terjerumus ke lingkaran narkoba, katanya sih terpaksa demi menghidupi tiga anak dan juga kedua orang tuanya.” tiba-tiba Bu Wati menceritakan latar belakang kehidupan Sisil. Airin terdiam.
“Kalau Yuni, sudah bercerai dengan suaminya. Yuni itu pas ditahan polisi badannya penuh lebam dan luka. Berdarah-darah dikeroyok massa. Dia dihakimi warga lantaran menganiaya istri muda suaminya. Madunya itu mantan pegawainya sendiri, anak umur sembilan belas tahun yang dipercaya jaga toko kelontongnya. Toko itu milik Yuni dari masih gadis, hasil tabungannya pas jadi TKW di Malaysia. Ketika menikah, toko kelontong itu dikelola suaminya yang pengangguran, sementara Yuni sibuk mengurus empat orang anaknya, dan juga mertuanya yang sakit sakitan di rumah. Siapa sangka suaminya ada main dengan pegawainya itu. Nah, yang membuat Yuni tega mendatangi rumah madunya itu dan membacoknya karena ternyata uang hasil jerih payah Yuni menjahit dan membuka toko kelontong dihabiskan suaminya untuk membelikan macam-macam untuk perempuan itu. Sementara anak-anaknya terpaksa pulang pergi sekolah jalan kaki demi menghemat ongkos. Dan dia sendiri, rela makan lauk seadanya demi membeli obat mertuanya. Ibu dari laki-laki yang tega mengkhianatinya itu. Kasihan ya..”
Airin tercekat mendengar penuturan bu Wati. Ternyata dirinya jauh lebih beruntung dari mereka. Meski masa lalunya membuat Airin nelangsa, dan hidupnya seolah sudah porak poranda.
Tak lama kemudian, Sisil datang lagi. Kali ini bersama seorang perempuan berkulit putih bersih dan berwajah manis. Kalau Airin tebak, usianya mungkin sekitar empat puluhan. Pasti ini yang namanya Yuni. Airin tak menyangka, tubuh mungil itu sanggup melukai dengan sebilah parang, sampai yang dibacok menderita banyak luka. Yuni tersenyum ramah pada Airin dan Bu Wati
“Kenalin dek, ini teman sekamarku. Panggil saja teh Yuni.” Sisil mengenalkan.
“Yuni.”
“Airin, teh.” Airin menyambut uluran tangan Yuni sambil tersenyum ramah.
“Sudah tau kenapa ibu panggil, Yun?” tanya Bu Wati.
“Sudah, Bu. Tadi sudah diceritakan Sisil.” jawab Yuni singkat.
“Jadi gimana Yun? Nggak apa-apa Airin bergabung di sel tiga?” tanya Bu Wati lagi.
“Kalau saya sih tidak masalah, Bu. Malah senang ada teman baru. Selebriti lagi.” Yuni tersenyum senang. Airin jadi malu bukan kepalang. Selebriti? Duh!
Airin bersyukur sekali kedua orang itu mau menerimanya. Begitu banyak orang baik. Petugas Lapas, bahkan narapidana yang dicerca di luar sana, ternyata baik hatinya. Selintas Airin malu. Malu pada Tuhan terutama. Bagaimana Tuhan masih sudi memberikan kemudahan padanya setelah serangkaian dosa dan kesalahan yang telah Airin perbuat di masa lalunya. Ampuni aku Ya Allah.. Batin Airin pilu.
“Ya sudah, kalau begitu, Sisil dan Yuni sudah setuju, Airin boleh bergabung di sel tiga. Kalian masuk saja dulu ya, ibu mau bicara dengan Airin.”
“Baik, Bu.”
Sepeninggal Sisil dan Yuni, bu Wati menutup pintu ruangannya. Hanya tinggal Airin dan bu Wati duduk berhadapan. Tangan bu Wati merogoh saku seragamnya, mengeluarkan ponsel. Lalu menatap penuh makna pada Airin. Airin tak paham.
“Sekarang, Airin telepon keluarga, ya. Minta siapkan uang untuk Sisil dan Yuni. Hitung-hitung sedekah. Mereka sudah mau berbaik hati memberikan satu tempat lagi di sel sempitnya untuk Airin tempati.” Tiba-tiba Bu Wati memberi perintah. Hah? Uang? Airin terkejut dan nyaris tak mempercayai pendengarannya sendiri.
“Lalu, nanti minta tolong lebihkan sedikit uangnya ya. Untuk keperluan macam-macam. Yah, namanya juga fasilitas, tentu ada sedikit kompensasi yang bisa diberikan yang Airin rasa pantas. Nominalnya tidak banyak kok, tiga juta saja. Tapi uang tunai ya. Nanti suruh keluarga langsung kasih ke Airin pas kunjungan besok.” Bu Wati, tanpa tedeng aling-aling, menjelaskan maksudnya sambil tetap tersenyum. Tapi kini, di mata Airin, senyum itu seperti seringai serigala lapar. Jadi ini perumpamaan serigala berbulu domba yang sebenarnya? Batin Airin yang langsung terperangah dihempas kenyataan pahit, benar bahwa makin lama makin sulit menemukan ketulusan di dunia.
“Nih, telepon keluarga. Maaf ya, ibu tidak basa-basi lagi. Langsung saja. Kita toh sudah tau sama tau kan ya? Ibu sih tidak memaksa, terserah Airin mau atau tidak. Ini yang namanya lancar luncur, kalau urusan mau lancar, ya harus ada hadiah yang meluncur. Begitu biasanya. Ah, Airin pasti lebih paham yang begini kan? Kalau tidak salah, Airin juga masuk ke sini gara-gara lancar luncur juga kan?”
PLAK! Fakta dan kata-kata bu Wati tadi seolah berkolaborasi menampar Airin. Sakit rasanya. Tapi dia tak bisa membantah, sebab memang saat ini Airin yang salah dan posisinya tengah di bawah.
Airin menimbang-nimbang. Dirinya sungguh ingin bertaubat, tak lagi ingin terlibat suap. Baik itu pelaku, maupun penerima. Tapi Airin tak siap. Bayangan kamar berjeruji yang penuh sesak, bayangan dirinya berada ditengah orang asing yang tengah dihukum karena berbagai kejahatan, dan bayangan tentang perundungan dirinya membuat Airin gentar. Biarkan aku sekali ini saja Ya Allah.. Ampuni aku.. Airin berdo’a dalam hati, menahan getir sambil mengigit bibir.
Akhirnya, setelah perang batin yang cukup lama, nurani Airin dikalahkan oleh rasa takutnya. Dengan sangat terpaksa, diterimanya ponsel bu Wati, ditekannya serangkaian tombol. Lalu, suara seseorang yang dirindukannya menggema di seberang sana.
Ayah.