Airin melewati pintu yang terbuat dari jeruji besi. Empat pintu yang lebarnya hanya sekitar satu meter, disatukan bersilangan dengan besi bulat di tengahnya, dan jarak antar pintu hanya cukup untuk satu orang saja. Untuk melewatinya, pintu harus didorong berputar. Sebab itulah namanya pintu putar. Bentuknya mirip pintu kaca di gedung-gedung besar, hanya saja yang ini sedikit lebih kecil dan terbuat dari jeruji besi.
Menurut Sisil, pintu ini diciptakan di zaman Belanda. Katanya dulu sekali pintunya tidak seperti ini, melainkan pintu gerbang biasa yang hanya perlu digeser kalau mau membukanya. Tapi dulu di zaman penjajahan terjadi kerusuhan dalam tahanan. Awalnya terjadi karena pintu gerbang. Para tahanan merusak kunci gerbangnya, lalu berbondong-bondong meloloskan diri. Penjaga penjara tak bisa berbuat banyak, karena mereka sekaligus mendobrak. Maka, pintu gerbang dengan mudah terbuka lebar. Maka dari itu, agar tidak terjadi kesalahan yang sama, maka dibuatlah pintu putar.
“Nih.. lihat, kalau mau masuk atau keluar, pintunya harus diputar, dan keciiiil sekali ini, hanya selebar badan satu orang dewasa. Bu Fitri saja harus tahan perut kalau lewat sini. Hahaha…” Sisil menjelaskan sambil meledek Fitri. Tawanya baru berhenti saat papan alas laporan Fitri menghantam kepalanya.
“Cicak-cicak di dinding bu.. Jangan marah just kidding.. Hahaha…” dia tertawa lagi, sementara Fitri bersiap mendaratkan papannya lagi kalau tawa Sisil tak berhenti.
“Jadi dek, walaupun kuncinya dirusak, napi tetap tidak bisa keluar sekaligus. Harus satu-satu. Mana bisa kabur, keburu ketangkep gara-gara kelamaan antri.. Hahaha…” Sisil tertawa lagi. Ah, orang ini senang sekali tertawa. Airin tersenyum kecil menanggapi cerita Sisil. Entah darimana dia dapat cerita zaman Belanda itu. Entah benar entah tidak. Jangan-jangan hanya karangan napi dari zaman ke zaman.
“ARTISSS…” Airin terkejut dengan teriakan tiba-tiba dari arah kanannya.
“PENYIAR TIPI, g****k!!” bantah seseorang.
“SAMA AJA WOEY!”
“BEDA!”
“NENGOK DOOOOOONG!!!”
“BUKAN KAU, SILIKON!!” teriakan terakhir ditujukan untuk Sisil, tepat setelah dia melempar ciuman jarak jauh ke sumber suara.
“Mwaaaah… I lop yu beybeh... Tanda tangan sama foto barengnya nanti ya... Bilang dulu sama manajer saya, si Pongah...” canda Sisil sambil berjalan lenggak lenggok layaknya pemenang kontes kecantikan sedang berjalan catwalk, lengkap dengan gerakan melambai cantik ala Miss Universe.
“Itu kamar kosong tujuh. Kasta terendah di penjara, kalau kata Bu Waty. Kecuali kepala kamarnya, semua isinya adalah tahanan yang belum dijatuhi hukuman. Nanti kalau sudah dapat putusan, mereka dipindahkan ke kamar belakang.” Jelas Sisil sambil menunjuk sebuah pintu besi yang sedang dalam keadaan terbuka beberapa meter di depan mereka. Oh.. tembok dan pintu besi itu memisahkan kamar kosong tujuh dan kamar-kamar lainnya. Itu yang Sisil maksud dengan kamar belakang.
Airin memperhatikan sekilas kamar kosong tujuh. Kamar berisi puluhan orang tahanan, yang nyaris saja menjadi ‘asrama’ nya kalau ia tak punya uang tiga juta. Puluhan pasang mata menatapnya penasaran dari balik pintu dan jendela berjeruji. Penuh rasa ingin tahu. Ada yang sekedar mengintip, ada yang terang-terangan berteriak menyuruhnya menoleh.
Airin memperhatikan lagi lebih detail. Bangunannya lumayan besar, sebagian dindingnya sudah berlumut dan catnya mengelupas, sementara sebagian lagi terbuat dari kayu. Atapnya terbuat dari seng yang setengahnya sudah berkarat. Letak bangunan itu sedikit menjorok ke bawah. Lebih rendah dari permukaan tanah di sekitarnya. Tanah merah dan sebagian kecil rumput mengelilingi kamar itu. Airin sedikit mengerti mengapa disebut kasta terendah. Dengan kondisi seperti itu, terbayang panas dan lembabnya di sana, dan betapa berisiknya kalau hujan. Ditambah lagi jumlah penghuninya yang banyak, tentu jauh dari kata nyaman.
“Nah, kalau masuk pintu besi itu, sebelah kanan nanti kamar kita dan kamar kosong enam.” Sisil menunjuk sebuah pintu jeruji. Airin mengikuti arah telunjuknya. Dibalik pintu itu ada sebuah ruangan, dan ada pintu jeruji lainnya di sebelah kanan ruangan itu. Pasti pintu itulah yang menuju ke kamarnya.
“Kalau terus, melewati lorong itu, disitulah kamar belakang. Kamar sel satu, sel dua, kamar kosong satu sampai kosong lima. Kamar disana bersih dan bagus-bagus, tapi yang paling bagus ya di sel, karena isinya sedikit, jadi lebih nyaman. Kamar yang orang sedikit dan lantainya bersih, sudah dikeramik, ya kamar kosong enam dan kosong lima. Kamar kosong lima itu kamar khusus tamping. Dua kamar itu menduduki kasta kedua setelah sel. Kalau kasta berikutnya, ya kamar kosong satu sampai kosong empat. Hahaha.. lucu ya, ada kasta-kasta nya.. Itu kata Bu Wati. Ada bangsawan, ada rakyat biasa ada rakyat jelata.” jelas Sisil panjang lebar, membuat Airin terpukau. Airin melirik lagi. Ada semacam lorong kecil di depan pintu jeruji. Airin tak bisa melihat ujung lorongnya karena tertutup tembok.
“Dek, periksa di komandan dulu ya. Hari ini komandannya bu Linda besar. Kalau ditanya jawabnya singkat saja, jangan macam-macam, jangan menyinggung dia, jangan kelihatan sok tau, bisa dilibas nanti. Apalagi kamu artis dan cantik, bu Linda kuadrat paling benci sama napi cantik.” bisik Sisil cepat saat mereka sudah mendekati ruang jaga komandan.
Duh, apalagi ini. Tak habis-habis olahraga jantung. Bahkan di sini cantik pun tak boleh? Lalu perkataan apa yang bisa menyinggungnya? Bisakah aku bersikap normal saja di sini? Batin Airin lelah.
Mereka tiba di ruang komandan jaga. Letaknya setelah pintu besi, di sebelah kiri, berseberangan dengan kamar sel tiga dan kosong enam yang letaknya di sebelah kanan. Sebuah meja dan kursi ada di sana. Di dinding tergantung sebuah papan tulis berisi nama petugas jaga, jumlah tahanan, dan isi per kamar. Di atas meja, ada sebuah handy talkie yang dipegang seorang sipir cantik berambut pendek, berwajah galak, tengah menatap Airin dari atas ke bawah.
“Ini dia penyiar yang ditunggu-tunggu. Bagaimana rasanya? Biasanya menyiarkan berita, sekarang malah masuk berita? Pasti aneh ya, biasanya memberitakan penjahat, eh, sekarang malah jadi salah satu penjahat yang diberitakan.” katanya datar dengan senyum sinis. Airin serba salah. Ingat kalimat Sisil tadi. Kalau dijawab, nanti dia kesal, tidak dijawab, nanti disangka kurang ajar.
Untungnya, belum sempat Airin merespon, beberapa sipir tiba-tiba berkerumun mengawasinya. Ada yang sekedar penasaran, ada yang menatapnya dengan tatapan menilai, ada yang melirik sedikit, lalu kembali berkutat dengan ponselnya.
“Airina Siddiqa Amanah? Namanya bagus, sayang perilaku tidak sesuai arti ya. Siddiq artinya benar, jujur. Amanah artinya bisa dipercaya. Sifat Rasulullah loh itu. Kamu keberatan nama kali. Sudah Siddiq, Amanah lagi. Eh, kelakuannya kebalikan dari nama, tidak jujur, tidak dapat dipercaya.” Kata-kata setajam silet itu datangnya dari sipir kecil mungil di samping Linda. Airin melirik name tag nya. Namanya juga Linda. Linda dan Linda sama-sama bermulut tajam. Tapi Airin diam saja, menahan segala perih sambil berdo’a. Ya Allah.. semoga sakit hati ini bisa jadi penggugur dosa..
***
“Teh.. minta tolong ambilkan mukenahku di sana ya...” pinta Sisil pada Yuni. Yuni beringsut mengambil satu set mukenah di sudut. Sisil baru selesai mandi, rambutnya yang masih basah dililit handuk merah. Airin melirik jam dinding, sudah hampir pukul tujuh. Tapi Sisil baru masuk kamar lima belas menit yang lalu, dan baru saja mau menunaikan shalat maghrib.
“Sisil ini tamping kunci. Jadi tugasnya pegang kunci, buka tutup pintu. Mengeluarkan napi dari kamar-kamarnya. Dan kalau urusan mereka sudah selesai, dia juga yang mengembalikan lagi. Kadang jam segini baru masuk kamar kalau lagi diminta sipir mengerjakan sesuatu.” Jelas Yuni sambil berbisik. Airin mengangguk-angguk tanda paham. Sementara yang dibicarakan baru saja memulai rakaat pertama.
Airin memandang berkeliling sambil mengingat lagi semua kejadian. Airin masih merasa ini mimpi. Baru beberapa jam yang lalu dia dipindahkan dari sel tahanan polisi, diinterogasi lagi di kantor kejaksaan, diangkut dengan mobil tahanan, lalu sekarang sudah di sini. Airin bersandar di dinding. Mencoba melepas penat. Tubuhnya baik-baik saja. Tapi kepalanya berdenyut, satu persatu pikiran-pikiran mulai tumpang tindih dalam benaknya. Terutama kenyataan bahwa ada satu fase dalam hidupnya yang harus dihabiskan di penjara. Kenyataan hidup yang tidak pernah terlintas dalam benak Airin sebelumnya.
Sisil baru mau melepas mukenahnya. Di saat yang sama, sayup-sayup suara adzan isya mulai berkumandang. Mereka lalu sholat isya berjamaah.
Selepas sholat isya, dua sipir yang bertukar jam kerja mulai melakukan apel malam. Petugas yang baru datang memandangi Airin dari atas ke bawah dengan tatapan menyelidik. “Penyiar BERANTAS ya?” tanya sang sipir tanpa basa basi kepada Airin.
Merasa judul acara TV yang dibawakannya dulu disebut, Airin menangguk pelan. Anggukannya dibalas dengan senyum sinis sang sipir. “TV boleh nyala sampai jam sembilan kok, kalau mau nonton BERANTAS masih bisa. Anak-anak di sini setiap malam nonton BERANTAS, eh, sekarang malah ketemu penyiarnya. Kamu masih ada di BERANTAS loh, jangan kecil hati. Walaupun bukan penyiarnya, tapi penjahatnya. Yang penting kan masih ada di BERANTAS.” Ujarnya menyindir telak Airin. Airin diam saja sambil melirik name tag sipir itu. Astri Asmawati.
“Naah, tadi sore mbak Linda juga bilang gitu sama dia As. Dari penyiar jadi penjahat! Tampang baik-baik, muka cantik, tapi sayang, koruptor.” tukas Linda yang tadi sore mengartikan nama Airin dan menghubungkannya dengan kelakuan Airin yang berbanding terbalik dengan arti namanya.
“Bu Astri. Orangnya agak sinis, tapi baik. Nah, kalau yang satunya, judes dan sadis memang. Yang tadi sore itu loh, Bu Linda kecil. Sama aja tuh Linda kuadrat, Bu Linda kecil dan Bu Linda besar sama-sama pedas mulutnya. Kalau Bu Astri, agak sinis sedikit, tapi hatinya baik.” Bisik Sisil setelah kedua sipir itu menjauh.
“Heh! Sisil!” tiba-tiba teriakan melengking terdengar. Ketiganya terkejut dan mematung. Sisil sampai menahan nafas ketakutan.
“Mau pesen makan apa? Ada artis masa makan nasi ompreng!”
“Oooh.. anu.. itu.. nasi goreng Bu..”
“Satu?”
“Tiga Bu” kali ini Airin yang menjawab.
“Naaah.. gitu dooong. Kasta tertinggi penjara, ada artisnya, masa pesen makan sebungkus doang. Artis korupsi lagi. Pasti duitnya banyak!” tukas Linda sambil melenggang pergi. Tak sadar barusan lidahnya sudah melukai Airin lagi dan lagi. Sabar Airin, sabaaar. Inilah buah dari perbuatan jahatmu di masa lalu. Nikmati saja semua hukuman yang kau terima. Anggaplah ini penebus dosa. Batin Airin perih.
“Waaah.. kaget aku! Kupikir tadi dia dengar aku menyebutnya judes dan sadis. Hampir saja tamat riwayatku.” Sisil mencoba memecah keheningan dan memudarkan kecanggungan karena kata-kata menyakitkan Linda barusan. Airin dan Yuni tertawa pelan. Airin bersikap santai, mengabaikan perkataan Linda.
Ayah bilang, sakit hati itu sebuah pilihan, dan orang bijak memilih untuk tidak sakit hati dengan mengabaikannya. Airin terus mengafirmasi dirinya dengan kata-kata positif dari ayah. Yang paling penting, dirinya harus menerima. Semua adalah proses, ibaratnya jika hidup adalah kereta api, maka penjara hanyalah salah satu stasiun yang mau tidak mau harus dilewati. Tak apa, toh, singgahnya hanya sebentar, untuk kemudian kembali berjalan ke tujuan akhir. Airin menghela nafas dan tersenyum.