Suatu pagi yang cerah di Kota Seoul,Korea Selatan. Seorang gadis cantik yang terkenal riangnya bagai matahari yang bersinar, hari ini ia tengah tersenyum menatap kakek dan neneknya yang mengantarnya peegi ke sekolah dasarnya. Di usianya yang menginjak 7 tahun dia sudah dikatakan memenuhi syarat masuknya ke jenjang sekolah dasar.
"Kakek? Nenek? Apa masih lama?" Tanya Myung Hee kecil yang tersenyum manis menatap kakek dan neneknya yang duduk disamping kanan dan kirinya.
"Sebentar lagi sayang,kamu pasti senang bukan bisa datang dan bersekolah untuk pertama kalinya?" Ujar nenek Lee tersenyum menatap cucunya.
"Sangat nek, apakah disana Myung Hee bisa memiliki banyak teman dan belajar bersama?" Tanya Myung Hee dengan tatapan berbinar.
"Tentu sayang,kamu akan mendapatkannya"
Perjalanan yang mereka tempuh berakhir tepat di depan gedung sekolah dasar Myung Hee belajar nantinya. Banyak anak dan orang tua saling berlalu lalang melewati gerbang sekolah. Myung Hee turun dari mobil didampingi oleh kakek dan nenek Lee. Tatapan berbinar terpancar indah di mata seorang Myung Hee.
"Ayo nek,kek! Myung Hee ingin cepat-cepat masuk ke sekolah...ayo!" Ajak Myung Hee menggenggam tangan nenek dan kakeknya.
"Iya sayang pelan-pelan,kakek tak mau kamu terjatuh nantinya. Sekolah akan dimulai pukul delapan jadi janganlah terburu-buru" nasehat kakek Lee yang khawatir melihat cucunya berlari-lari menuju arah lobby sekolah.
"Ayo kek lebih cepat jalannya" kata Myung Hee sambil melambaikan tangannya menggemaskan.
'Aigoo..anak ini sangat menggemaskan dan periang' batin kakek Lee tersenyum tipis.
Setelah kakek dan nenek Lee pulang dari sekolahnya,Myung Hee memulai belajar bersama temannya dengan gembiranya. Hidup seorang Myung Hee sangatlah sulit ditebak bagai labirin yang tak ada habisnya. Setelah pulang sekolah bersama salah satu supir yang dibayar untuk menjemputnya oleh kakek dan neneknya. Baru saja ia membuka pintu utama bisa terdengar panggilan dari seorang wanita yang tak lain ibu dari Myung Hee.
"Untuk apa kau pulang kesini? Pulanglah ke rumah kakek dan nenek,mereka mencarimu tadi. Dasar anak nakal!" Kata nyonya Lee pada anaknya.
Myung Hee kecil yang selalu diperlakukan seperti itu hanya menundukkan kepalanya takut dan tangan yang bergetar memegang dasi sekolahnya. Myung Hee memang sudah diperlakukan berbeda oleh nyonya dan tuan Lee yang tak lain orang tua Myung Hee. Gadis kecil itu hanya bisa mengangguk, menunduk dan diam saat diperlukan tak adil. Semua yang dilakukan olehnya baik atau buruk akan selalu dipandang buruk oleh mereka kecuali nenek dan kakeknya.
"Kenapa kau diam?! Cepat sana pergi! Sebelum mereka marah padaku karena mengganggu mu dan memarahi mu" Kata Nyonya Lee mendorong Myung Hee hingga terjatuh di lantai yang dingin. Hingga teriakan dari lantai atas menghentikan aksi nyonya Lee pada Myung Hee.
"Eomma?!" Panggil seorang gadis kecil yang tak lain Lee Yuna,anak sulung dari keluarga Lee.
"Iya sayang?" Jawab nyonya Lee lembut pada anak kesayangannya.
Myung Hee yang melihat interaksi keduanya hanya bisa diam dan menunduk menahan rasa sakit di siku maupun lututnya.
"Eomma? Pekerjaan rumah Yuna sangatlah susah" rengek Yuna pada ibunya.
"Iya sayang, tenang saja" ujar Nyonya Lee membelai rambut anak sulungnya penuh kasih sayang.
"Kau! Kerjakan lah pr dari Yuna hingga selesai. Setelah selesai kau baru boleh makan siang. Paham?! Dan ingat! Jangan katakan apapun pada kakek dan nenek" perintah Nyonya Lee menatap tajam Myung Hee yang masih duduk terdiam dilantai.
"I-i-iya eomma,aku akan mengerjakannya" lirih Myung Hee menganggukkan kepalanya pasrah.
"Baguslah kau mau, sebelum aku berbuat kasar padamu. Kalau begitu kita pergi ke mall sayang untuk membeli peralatan sekolah dan mainan untukmu" ujar Nyonya Lee meninggalkan Myung Hee.
Myung Hee bangku dari duduknya sambil menatap kedua orang itu dengan tatapan sayu. Rasa sakit yang seharusnya ia tidak rasakan harus ia rasakan karena dimasa lalunya. MyungHee berjalan menuju sofa ruang tamu dan mulai mengerjakan pekerjaan rumah Yuna.
Senja pun tiba..
Myung Hee yang masih berkutat menulis pekerjaan rumahnya. Myung Hee telah mengerjakan tugas Yuna lebih dulu tadi dan baru mengerjakan tugasnya sekarang. Wajahnya yang pucat tanda kalau ia mulai lemah,dari siang ia belum makan apapun kecuali air putih dan buah di sekolahnya.
Bruk...
Myung Hee pingsan dengan beberapa pelayan yang tengah berada di dapur berlari mendekatinya. Lalu mereka menghubungi kakek dan nenek Lee untuk mengabari keadaan Myung Hee.
Kakek dan nenek Lee yang khawatir akan keadaan dari cucunya pun langsung datang dan membawakan seorang dokter keluarga. Setelah diperiksa ternyata Myung Hee telat makan dan kurang istirahat,kakek dan nenek Lee yang marah dengan perilaku dari menantu mereka.
Malam hari pun datang, Nyonya Lee dan Yuna pun kembali dari berbelanja. Kakek dan nenek Lee yang sedari pagi duduk disana sambil menatap tajam setiap langkah keduanya,mereka tahu ini semua ulah menantu dan cucu mereka.
"Appanim? Eommanim? Bagaimana kabar kalian?" Sapa nyonya Lee dengan ramahnya.
"Tidak usah basa-basi, silahkan duduk. Dan kau Yuna kembalilah ke kamarmu" kata kakek Lee dingin dan tegas seakan tak ingin dibantah oleh siapapun.
"Tapi-" ucapan Yuna terpotong.
"Masuk!" Perintah kakek Lee tegas tanpa memedulikan Yuna yang ingin menyapa kakeknya.
"Iya kakek" patuh Yuna menganggukkan kepalanya pasrah saat melihat raut wajah kakeknya yang tengah dilanda kemarahan.
Perginya Yuna dari ruang keluarga pun menyisakan aura penuh kemarahan dari kedua pasangan lanjut usia ini.
Bagaimana tidak? Cucu yang sangat mereka sayangi tidak pernah diperlakukan layak sebagaimana mestinya. Yuna memang cucu pertama mereka tapi Myung Hee adalah cucu yang sangat pengertian dan periang,mungkin ini cukup tak adil. Dibalik tak sukanya kehadiran Yuna mereka memiliki alasan yang akan terbongkar mungkin bukan sekarang melainkan suatu hari nanti.
"Apakah kamu layak dikatakan sebagai seorang eomma? Kau menelantarkan Myung Hee yang tak tahu menahu kebencian mu itu. Bersikaplah adil dalam berkasih sayang,jikalau tahu kebenarannya. Maka kau adalah orang yang paling menyesal dikemudian hari" kata kakek Lee menatap menantunya remeh.
"Yuna adalah anakku,aku akan menganggap Yuna sebagai anakku satu-satunya. Myung Hee? Dia hanya anak pungut! Aku tidak peduli! Bawa dia kalau perlu. Aku tak membutuhkannya disini" timpal nyonya Lee dengan nada tinggi seakan dia tidak terima disudutkan.
"Baiklah! Kami akan bawa Myung Hee bersama kami. Jangan harap kamu akan bahagia dikemudian hari setelah tahu kebenarannya" Ujar kakek Lee dingin nan tajam.
Kakek dan nenek Lee memutuskan untuk pergi dari ruangan itu lalu membawa Myung Hee untuk tinggal bersama mereka untuk selamanya. Anggap saja Myung Hee adalah cucu satu-satunya mereka bukan Yuna.
7 tahun telah berlalu...
Hari ini Myung Hee memasuki sekolah menengah pertama. Dimana ia akan bersekolah yang sama dengan Yuna, semenjak kematian nenek dan kakeknya meninggal dunia 2 tahun yang lalu. Ia mulai tinggal bersama tuan Lee, nyonya Lee dan Yuna di kediaman mereka.
Myung Hee bangun pagi yang sudah menyiapkan bekal dan minum untuknya. Ia memang selalu membawa bekal untuknya agar bisa hidup hemat, Myung Hee beranjak dari ruang makan lalu berpamitan untuk bersekolah menggunakan bus yang biasa ia naiki.
"Appa? Eomma? Yuna eonnie? Myung Hee pamit ya?" Kata Myung Hee dengan senyuman hangat.
"Pergilah!" Kata nyonya Lee tak peduli.
Mereka tetap melanjutkan sarapannya tanpa peduli pamitan Myung Hee. Karena ini adalah hal biasa baginya,ia memang terbiasa melakukan semuanya sendiri. Ia berangkat berjalan kaki untuk menuju bus yang akan ia naiki nanti.
Hingga...
"Hai Myung Hee?" Sapa seseorang lelaki dengan melambaikan tangannya pada Myung Hee.
"Hai Kyuhyun? Kamu ingin naik bus?" Sahut Myung Hee tersenyum manis.
"Iya, seperti biasa" jawab Kyuhyun menganggukan kepalanya.
"Baguslah, setidaknya aku ada teman selama di bus" kata Myung Hee terkekeh.
"Tentu saja,ayo naik" ajak Kyuhyun menggandeng tangan Myung Hee lalu masuk ke bus.
Mereka memang berteman dari kelas pertama di sekolah menengah pertama. Hingga sekarang pun mereka berteman akrab, saking akrabnya mereka seringkali dikatakan memiliki hubungan khusus tapi nyatanya tidak.
Sesampainya mereka di sekolah,mereka turun dengan bergandengan tangan. Mereka berjalan menuju kelas mereka dengan sesekali bercanda gurau yang membuat mereka sama sama terkekeh dan tertawa.
"Apakah kamu sudah sarapan?" Tanya Kyuhyun pada Myung Hee.
"Sudah tadi,kamu sudah?" Ujar Myung Hee yang mendudukkan dirinya di bangkunya.
"Belum" jawab Kyuhyun singkat.
"Nanti kamu sakit,ayo makan! Mau aku temani?" Ujar Myung Hee terheran-heran dengan sikap Kyuhyun yang acuh dengan kesehatannya.
"Baiklah, ayo" ujar Kyuhyun berdiri dan merangkul Myung Hee menuju kantin untuk sarapan.
Hari mereka berlalu dengan bahagia selayaknya seorang sahabat yang saling melindungi. Hingga suatu ketika Kyuhyun menyatakan perasaannya pada Myung Hee,jujur ia juga merasakan yang sama. Tapi nyatanya...
"Putuskan hubungan mu dengan Kyuhyun" kata Min Soo menatap tajam Myung Hee.
"Tapi eomma.. Kyuhyun adalah sahabatku namun..aku juga mencintainya" jawab Myung Hee dengan menundukkan kepalanya takut.
"Kebahagiaan mu adalah kebahagiaan Yuna juga. Ingat itu! Eomma hanya ingin Yuna bahagia,apa susahnya untuk memutuskan hubungan itu" kata Min Soo menatap Myung Hee tajam.
"I-iya eomma" jawab Myung Hee menganggukkan kepalanya.
"Baguslah" kata Nyonya Lee yang langsung pergi meninggalkan Myung Hee.
Keesokan harinya Myung Hee berangkat sekolah dengan menghindari Kyuhyun yang telah berada di halte bus yang biasa mereka tunggu. Berjalan sesekali melirik kearah lain,ini juga untuk kebaikan dirinya dan kakaknya, Yuna.
"Syukurlah Kyuhyun sudah pergi. Aku harus naik bus itu" gumam Myung Hee berlari dan menaiki bus selanjutnya.
Sesampainya ia di sekolah..
Myung Hee sengaja menggunakan jalan lain untuk pergi ke kelasnya. Setidaknya bisa membuang waktu agar ia tidak berbicara dan menatap Kyuhyun.
Selama pelajaran pun Myung Hee memilih menatap papan tulis dan bukunya. Kyuhyun yang merasa Myung Hee menghindarinya pun berencana untuk berbicara pada Myung Soo pulang sekolah nanti.
Pelajaran pun berakhir dengan waktu menandakan pukul 5 sore, seluruh siswa bersiap meninggalkan sekolah untuk pergi ke rumah masing-masing.
"Myung Hee-ya?" panggil Kyuhyun yang sudah berada di gerbang sekolah agar bisa menemui Myung Hee.
Myung Hee yang merasa namanya terpanggil pun menoleh lalu pergi menjauhi Kyuhyun yang berjalan mendekatinya. Tapi...
"Kenapa kamu menghindari ku?" Tanya Kyuhyun yang menggenggam pergelangan tangan Myung Hee.
Myung Hee yang telah berjanji kemarin pun langsung melepaskan genggaman Kyuhyun dan beranjak pergi tanpa berkata-kata apapun. Tapi Kyuhyun yang sadar dengan gerak gerik Myung Hee langsung menarik lengannya.
"Jawab pertanyaan ku! Aku tidak suka kamu menghindari dan menjauh dariku. Apakah aku memiliki salah padamu? Jika ada katakan..aku akan meminta maaf padamu" ujar Kyuhyun menatap Myung Hee gugup sambil menatap sekeliling.
Kyuhyun yang tak mendengar jawaban dari Myung Hee pun semakin terheran-heran dengan sikap dan perilaku Myung Hee selalu menatap sekeliling seakan ada yang mengawasinya.
"Siapa yang kamu cari? Yuna?" Kata Kyuhyun yang membuat Myung Hee tergagap.
"T-t-tidak...aku hanya ingin cepat pulang. Eomma telah memintaku untuk pulang lebih awal untuk belajar" kata Myung Hee gugup.
"Kamu yakin? Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan? Katakanlah Myung Hee! Aku hanya ingin kamu jujur saja" ujar Kyuhyun menatap Myung Hee dalam.
"Yakin! Lebih baik kamu jauhilah aku. Itu yang terbaik untukku dan kamu. Aku pamit pulang, selamat tinggal" ujar Myung Hee melepaskan genggaman Kyuhyun dari lengannya lalu pergi dari tempat itu.
'apa yang terjadi padamu? Apa ini berkaitan dengan Yuna?' batin Kyuhyun menatap kepergian Myung Hee.
Hari demi hari berlalu tapi Myung Hee semakin menjauh darinya. Kyuhyun yang merasakan itu semakin geram dan merasa marah, seseorang yang sangat penting baginya malah pergi meninggalkan dirinya.
"Myung Hee? Kali ini aku tak akan melepaskan kamu" kata Kyuhyun saat melihat Myung Hee berjalan menuju perpustakaan.
Kyuhyun berjalan cepat sesekali berlari lalu mencekal pergelangan tangan Myung membawanya ke perpustakaan sekolah.
"Lepaskan!" Teriak Myung Hee yang ingin di lepaskan oleh Kyuhyun.
"Tidak! Aku akan melepaskan kamu, setelah aku tahu apa alasan dibalik perilaku mu ini" ujar Kyuhyun menghimpit Myung Hee di antara rak-rak buku besar.
"Apa maksudmu? Aku hanya ingin kamu menjauh dariku" ujar Myung Hee yang kesal.
"Hanya itu? Apa aku membawa pengaruh buruk bagimu? Tidak bukan? Lalu untuk apa kamu memintaku menjauh? Katakan saja,aku akan berusaha mendengarkan alasanmu" ujar Kyuhyun menatap Myung Hee penuh arti.
"Baiklah..itu maumu. Aku akan mengatakannya,tapi dengan satu syarat. Kamu harus mengabulkan persyaratan itu" ucap Myung Hee menatap Kyuhyun penuh keinginan.
"Baiklah,katakan saja" jawab Kyuhyun menganggukan kepalanya.
Dikala hanya diam dan menerima menjadi pilihan diriku saat ini hingga akhir dimana menyerahnya aku diatas takdir yang terasa tak adil untukku. Tak bisakah dunia ini adil dan menerimaku dalam sebuah ikatan cinta dan kasih sayang didalamnya?
(Lee Myung Hee)
To Be Continue...