"Aku memiliki janji pada seseorang agar menjauhi mu. Ada seseorang yang mencintai mu,jadi jauhi aku lalu cintai dia seperti mana kamu mencintaiku" ujar Myung Hee.
Kyuhyun terdiam sesaat mencernanya,apakah ia ingin memutuskan hubungan ini?
"Jadi kamu ingin memutuskan hubungan ini?" Tanya Kyuhyun menatap Myung Hee tak percaya.
"Yah! Aku ingin memutuskan hubungan ini, cintailah kakakku Yuna!" ujar Myung Hee tegas namun ada guratan sedih diantara matanya.
"Kenapa? Aku berhak untuk memilih,aku mencintaimu. Maka aku hanya ingin kamu,bukan yang lain" ujar Kyuhyun menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya ingin menepati janjiku,aku mohon bantu aku untuk menjauhi dan mencintai Yuna. Aku mohon" pinta Myung Hee dengan gurat keterpaksaan.
"Baiklah,aku akan menjauh darimu. Tapi untuk mencintainya...aku tak bisa. Maaf,aku pergi" ujar Kyuhyun meninggalkan Myung Hee yang menatapnya nanar.
'maafkan aku...aku hanya ingin kamu memilih seseorang yang setara denganmu' batin Myung Hee menitikan air mata.
Keesokan harinya...
Myung Hee berangkat seperti biasanya tapi anehnya... Kyuhyun tidak kunjung masuk hingga bel pelajaran dimulai.
"Kalian tahu Kyuhyun tak berangkat sekolah?" Tanya Myung Hee pada teman Kyuhyun.
"Kamu tidak tahu?" Tanya balik mereka yang heran dengan Myung Hee.
"Tidak tahu, apakah kamu tahu?" Tanah Myung balik yang sangat ingin tahu apa yang terjadi saat ini.
"Kyuhyun pindah ke luar negeri untuk melanjutkan impiannya yang sempat tertunda" jawab teman Kyuhyun.
"Terimakasih" ujar Myung Hee meninggalkan mereka.
Ada rasa bersalah dan sakit yang Myung Hee ciptakan juga rasakan. Biarkan takdir yang akan berkata-kata... akankah mereka bisa bertemu dikemudian hari?
4 tahun berlalu...
Aku terkenal sebagai trouble maker di sekolahku yaitu Seoul High School. Walaupun aku trouble maker aku juga memiliki hati yang baik.
"Yak... bangunlah dasar anak tak tahu diuntungkan" teriak eomma yang mulai meninggikan suaranya.
Setelah kesal dibuatnya.
Aku memilih berpakaian untuk menuju sekolahku. Setelah selesai berpakaian aku menuju meja makan untuk sarapan tentunya.
"Yak... cepatlah makan" Teriak eommaku padaku.
"Iya eomma" jawab Myung Hee menganggukkan kepalanya patuh.
Aku mulai turun dari tangga untuk duduk disalah satu kursi di sana.
Setelah duduk...
"Sayang ini makanannya,makan yang banyak" ujar eomma lembut pada kakakku.
"Iya eomma" jawab kakakku tersenyum.
'aku juga ingin merasakan kasih sayang itu. Mungkin itu mustahil untukku' batinku menahan diri untuk tak menangis.
Bruk...
Kakak terjatuh dari kursi dengan keadaan pingsan dan wajahnya yang pucat.
"Yuna?! CEPAT bawa putriku ke rumah sakit. CEPAT....."panggil eomma dan perintah pada beberapa pengurus rumah.
Nyonya Lee dan Myung Hee membawa Yuna ke rumah sakit yang menjadi rumah sakit pengobatan Yuna. Yuna dilarikan ke ruang gawat darurat untuk dicek oleh dokter lebih lanjut.
"Maaf ibu dilarang masuk ke dalam. Ini IGD,jadi lebih baik itu tunggu disini saja " terang perawat pada eomma.
"Tolong selamatkan putriku,saya mohon" pinta Nyonya Lee yang sudah menangis keadaan Yuna.
"Baik bu" ucap suster kemudian masuk dalam IGD.
Tak berselang waktu lama dokter dan salah seorang suster keluar dari ruang gawat darurat tersebut untuk berbicara dengan Nyonya Lee dan Myung Hee yang berstatus sebagai anggota keluarga
"Keluarga pasien?" Panggil dokter pada Nyonya Lee dan Myung yang tengah duduk di kursi tunggu.
"Saya ibunya" ujar Nyonya Lee mendekati Dokter.
"Bagaimana keadaan putri saya?" Tanya Nyonya Lee khawatir.
'bagaimana jika aku diposisi eonnie? Apakah eomma akan sekhawatir ini?' batinku menahan tangis.
"Dia memerlukan transfusi darah sekarang juga. Kebetulan sekarang golongan darah yang sesuai dengan nona Yuna. Jika tak secepatnya maka dia akan koma atau kritis" ujar dokter menjelaskan.
"Bagaimana dengan Myung Hee? Dia punya golongan darah yang sama dengan Yuna? Apakah bisa dok?" Ujar eomma berharap berhasil.
"Tentu saja. Tapi nona Yuna memerlukan dua kantong darah. Manw mungkin nona Myung Hee mentrasfusi darah dengan sebanyak itu? Saya tak bisa mengambil resiko" ujar dokter menolak.
"Saya tak peduli. Saya hanya ingin putri saya baik-baik saja. Cepat transfusi darah untuk anak saya" ucap Eomma mulai menangis dan mendorongku kearah dokter.
"Dok,saya sanggup melakukan transfusi darah ini" ujar ku pada dokter dengan menyakinkan.
"Tap-"
"Saya mohon' pinta ku.
"Baiklah,ikut saya" putus dokter dengan menganggukan kepalanya.
Aku pun ikut berlalu bersama dokter untuk melakukan transfusi darah untuk Eonnie.
'sampai kapan aku terus-menerus melakukan transfusi darah pada eonnie. Apakah sampai aku kehabisan darah?' batinku hanya meratapi nasib.
Sampai diruang transfusi darah, suster nampak ragu-ragu untuk mengambil darah Myung Hee untuk Yuna.
"Apakah nona Myung Hee yakin?" Tanya suster memastikan.
"Iya, saya yakin" jawab Myung Hee menganggukkan kepalanya yakin.
Hatiku ingin menolak ini. Tapi apa daya aku yang hanya sebagai nyawa cadangan oleh eonnie. Aku tahu ini akan membuatku semakin lemah. Tapi aku hanya ingin membuat eomma dan appa bahagia. Walau dengan cara merelakan nyawaku untuk Eonnie.
Setelah di transfusi darah aku keluar menuju lobby rumah sakit untuk menghindari eomma. Aku lelah berpura-pura baik-baik saja. Aku juga manusia,aku ingin seperti anak yang lain mendapatkan kasih sayang sebagaimana semestinya.
Langkah gontai bagai hati ini memendamnya. Apakah aku tak bisa mendapatkan kasih sayang dan cinta didalamnya?
Walaupun aku lelah tapi itu tak mengubah yang ada menjadi kenyataan sesuai keinginan.
Setelah melakukan donor darah untuk Yuna eonnie,aku memilih pergi dari rumah sakit untuk mengunjungi makam nenek dan kakek Lee..
"Annyeong haraboji, annyeong halmoni. Myung Hee datang nih. Apakah kalian bahagia disana? Jika haraboji dan halmoni bahagia,Myung Hee juga bahagia. Hari ini eonnie masuk rumah sakit lagi dan hari ini juga aku transfusi darah sebanyak dua kantong. Lemas si,tapi aku tak mungkin biarkan eonnie kritis. Walau itu hanya dianggap sebagai kewajiban ku di mata eomma-"
"Aku ingin merasakan dipanggil dengan 'nak', pelukan hangat orang tua,kasih sayang, perhatian mereka dan cinta mereka. Tapi aku tahu itu mustahil,jika aku dibandingkan eonnie yang sempurna. Aku hanya gadis trouble maker Yangs selalu membuat mereka malu. Hari ini aku bolos sekolah,jadi mungkin aku langsung ke minimarket untuk kerja paruh waktu. Jadi halmoni dan haraboji istirahat yang tenang,Nee? Sampai jumpa" ucapku dengan hati berat.
Melangkah keluar pintu pemakaman. Aku selalu menggunakan motor sport kemana-mana. Aku bukanlah gadis feminim tapi aku gadis tomboy dengan selalu pakai celana training di dibalik rok pendekku. Jujur aku tak suka pakai rok pendek.
Yah itulah aku....
Unik atau aneh?
Setelah selesai mengatakan apa yang ingin aku ucapkan,aku pergi dari makam lalu menuju mini market. Aku bekerja di salah satu mini market semenjak kelas satu sekolah menengah atas.
"Annyeong paman Choi" sapa Myung Hee pada pemilik minimarket.
"Eoh? Aku sudah datang? Apakah kau bolos lagi? Jangan keseringan bolos itu tidak baik, arraseo?" Tanya Paman Choi sambil menceramahi Myung Hee.
Jujur aku senang dengan perhatian dari paman Choi yang menganggap ku seperti keponakannya. Yah keponakannya seusiaku.
"Aku tak bolos,tadi eonnie sakit jadi aku mengantar eonnie ke rumah sakit dan langsung kesini. Tak mungkin aku berangkat sekolah jam 10 pagi,bukan?" Jelas ku pada paman Choi.
"Semoga eonnie mu cepat sembuh,tapi kenapa wajahmu pucat. Ini,kamu minum ini" ujar paman Choi sambil mengambil minuman penambah darah.
"Eoh? Gomawo paman Choi"
"Iya sama-sama. Yasudah paman mau pergi mengecek stock barang di gudang" ujar paman Choi mulai masuk kedalam.
"Hah...untung paman Choi tidak bertanya kenapa aku bisa pucat seperti ini" gumamku lega.
Aku mulai masuk untuk ganti baju dan melayani beberapa pembeli disana.
Tak terasa sekarang pukul 13.00...
Krukkk.....krukkk...
Suara perut yang ingin diisi oleh makanan. Tapi apa dayaku aku hanya punya uang untuk beberapa waktu.
Tiba-tiba....
"Ini makanlah..." Ucap paman Choi sambil meletakkan beberapa makanan.
"Eoh? Tapi paman-"
"Makanlah,tadi istriku masak terlalu banyak. Jadi sekarang makanlah, paman tahu kau pasti lapar bukan?"
Ujar paman Choi tersenyum.
"Gomawo paman Choi. Aku akan habiskan" ujarku semangat.
'terima kasih tuhan kau datang seseorang yang baik seperti Paman Choi saat aku memerlukan bantuan' batinku bersyukur.
Setelah selesai makan...
Kring ... kring....
Suara ponselku yang berdering...
"Eoh? Siapa yang telepon? Bu Areum? " Gumamku dengan mengangkat telepon.
Di dalam telepon....
"Yeoboseo?"
"Myung Hee-ya kenapa kau tak datang ke sekolah? Apakah kamu baik-baik saja? Atau ada masalah? Ayo jawab ibu" pertanyaan Bu Areum dengan cepat mungkin sekali nafas.
"Cie...Bu Areum kangen Myung Hee ya?" Godaku.
"Kau ini,ibu sedang bertanya. Cepat jawab"
"Mianhe,aku tak bisa datang ke sekolah hari ini karena eonnie Yuna sakit dan dirawat di rumah Sakit. Jadi aku mengantar eonnie untuk di rawat jalan di rumah Sakit. Selesai periksa ternyata pukul 9 pagi. Jadi aku pergi saja untuk bekerja" ujar jelas pada Bu Areum.
"Lain kali hubungi ibu, Nee? Ibu khawatir padamu. Jadi jagalah kesehatan jangan keluyuran apalagi buat masalah. Ingat itu. Yasudah ibu harus mengajar lagi. Sampai jumpa" nasihat Bu Areum.
"Sampai jumpa Bu" ucapku lega.
"Untung aku tak diceramahi. Seperti inilah aku sang trouble maker" gumamku heran pada diriku sendiri.
Waktu tak terasa menandakan pukul 5 sore. Saatnya aku pulang.
"Paman Choi aku pulang dulu,Nee?"pamitku pada paman Choi.
"Iya,hati hati dijalan. Jangan buat masalah dijalan dan berhati hatilah saat naik motor, arraseo?" Peringatan paman Choi.
"Siap paman Choi" ucapku patuh.
"Sampai jumpa paman"
"Nee hati-hati"
Diperjalanan....
Mataku teralihkan pada seorang gadis yang sedang digoda oleh beberapa preman.
"Dasar beraninya sama cewek" gumamku menghentikan motor dan berjalan mendekati mereka.
"Hai,jangan beraninya sama cewek doang ko pada. Sini maju satu" teriakku tanpa melepas helm.
"Ck...ada pahlawan kesiangan. Kau juga wanita Noona" ujar salah satu dari mereka meremehkan ku.
"Baiklah,mari kita olahraga sore"
Dan....
Bugh....bugh...bugh....
"Huh... selesai. Lumayan buat olahraga sebentar. Kalian baik-baik saja bukan?" Tanyaku memastikan mereka.
Kulihat wajahnya yang kebingungan dengan mulut sedikit terbuka.
"Yah, aku baik-baik saja. Kau hebat, apakah kamu superhero?"
"Tidak,aku manusia biasa.Lain kali kamu berhati-hatilah. Arraseo?"
"Terimakasih"
"Ayo aku antar kau pulang" ajak ku padanya. Aku tak tega melihatnya ketakutan.
"Iya"
Sampai di rumah gadis itu...
"Gomawo sudah membantuku tadi dan juga mengantar aku pulang" ucapnya tulus.
"Iya sama-sama"
"Namaku Kim Jae Ra. Namamu siapa?"
"Namaku Lee Myung Hee. Bisa dipanggil Myung Hee. Kau sekolah di Seoul High School? Kelas apa?"
"Nee,aku masuk kelas XII IPA 4. Kamu sekolah dimana?"
"Aku sekolah di Seoul High School kelas XII IPA 4"
"Benarkah?! Jadi kita satu kelas?"
"Nee,tapi aku tak pernah melihatmu sebelumnya"
"Aku pindahan dari Busan. Karena kedua orang tua ku dipindahkan bekerja ke Seoul. Aku juga tak melihatmu masuk ke sekolah tadi?"
"Aku ada urusan keluarga tadi. Jadi tak bisa masuk sekolah. Aku pamit, sampai jumpa"
"Dada...."
Aku mengendarai motorku ke rumah dengan badan lelah wajah kusam,pakaian tak jelas.
Saat masuk rumah...
"Dari mana saja kau anak tak tahu diri. Hanya bisa buat ulah, dan tak bisa membantu saudara mu sendiri. Dasar anak tak berguna" ujar eomma dengan mata tajam.
"Eomma, aku hanya-"
"Ck... sudahlah. Aku tak peduli, pergi sana" ucap Eomma terus menatap diriku tajam.
Aku melangkah masuk ke kamar lalu merebahkan diri di kasur dengan perasaan kecewa yang seakan menjadi temannya hingga diusianya menjelang dewasa.
"Serendah itukah aku dimata eomma. Aku juga membutuhkan kasih sayang. Sampai kapan aku bisa bertahan lagi. Jika aku bisa memilih aku akan memilih pergi bersama halmoni dan haraboji. Mereka menyayangi ku melebihi diri mereka. Pelukan hangat, panggil lembut, perhatian untukku tak pernah kudapatkan selain Halmoni, haraboji dan Bu Areum. Mereka menyanyangi ku tulus. Apakah aku ini tak pantas mendapatkan kasih sayang dan cinta dari mereka?" Ucapku terisak.
Aku lelah berpura-pura baik-baik saja. Aku juga wanita lemah yang terlihat tegar diluar.
Sampai kapan aku bisa bertahan oleh takdirku, Tuhan....