bc

Anisha, biarlah Waktu yang Menjawab

book_age16+
4
IKUTI
1K
BACA
others
drama
tragedy
like
intro-logo
Uraian

Siapa sangka jika hari pertama masuk Sekolah Menengah Atas menjadi awal kisah baru yang lebih berwarna untuk seorang gadis yang mulai merangkak meninggalkan masa remaja yang tidak pernah dinikmatinya, menuju fase kedewasaan yang sebenarnya.

Menuntunnya menemukan jawaban sebenarnya atas pertanyaan yang selama ini dicarinya.

Anisha Shanum Bramantyo.

Dialah Gadis itu, sosok dingin, kaku, nyaris tanpa ekspresi.

Cenderung sulit menjalin sebuah hubungan, terlebih lagi dengan lawan jenis, apalagi jika mulai menjurus ke arah Cinta.

Tapi jangan bayangkan dia gadis kasar dan arogan, karena pada kenyataannya dia hanya sesosok tubuh rapuh, yang menyembunyikan segala keterbatasannya di balik imej yang sengaja dia ciptakan.

---

Mario Dewantara...

Hanyalah bagian dari remaja kebanyakan, bukan anak berandal, juga tak terlalu polos terhadap hal semacam itu.

Tapi untuk terlibat lebih jauh dalam kenakalan remaja? Bukan dia orangnya.

Ia sosok hangat yang supel, mudah bergaul, namun masih tau batasan dan tak suka menghakimi siapa pun. Itulah mengapa teman- temannya beragam.

Namun BIG NO untuk urusan cinta.

Dia kan jadi sosok yang sangat sulit disentuh.

Namun hadirnya Anisha mampu membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.

Lantas...

Apakah ketulusan cinta seorang Mario dapat meluluhkan hati Anisha?

Biarkan Waktu yang Menjawabnya...

chap-preview
Pratinjau gratis
Pertemuan Pertama
Hidup mengajari kita, bahwa tak ada kisah yang sempurna. Karena sejatinya kesempurnaan itu hanya milik-Nya. Tak ada yang lain yang berhak menyandang gelar itu... ***Butiran Debu*** Seorang gadis bergerak di tengah hiruk pikuk kota yang terasa asing baginya. Mulai menata hati dan harinya, di hari pertamanya masuk Sekolah Menengah Atas (SMA). Anisha Shanum Bramantio... Itu namanya, nama indah yang memiliki makna betapa besar harapan kedua orang tuanya agar Nisa, begitulah nama panggilannya, selalu ada dalam lindungan Sang Maha Pemilik sebaik- baiknya perlindungan. Dianyunkan langkah menapaki setapak demi setapak jalan menuju sekolah barunya. Tepat. SMA Negeri 3. Pikirannya sibuk menerka- nerka apa yang akan di temuinya kali ini. Sungguh semua ini hal baru baginya.. Bagi seorang gadis yang besar di sebuah desa, lebih tepatnya perkampunngan kecil, yang sangat kental dengan segala aturan dan budaya yang berbeda dengan kehidupan kota. Membuatnya merasa sangat berbeda. --- "Ckk... Seharusnya Putri yang ikut, bukan kamu". Ujar seorang guru yang mengatur pasukan supporter perlombaan pidato. Mengikis percaya diri yang hampir tidak tersisa di diri Anisha. --- "Kamu gak usah pilihan satu SMA 2 segala. Langsung aja ke SMA 3. Nilai kamu gak akan sampai.. " Ujar guru yang mengurus pendaftaran Sekolah Lanjutan Tingkat Atas. Sedikit banyak menggerus nyali Nisa lagi. --- "Nis, kenapa kamu harus sekolah jauh- jauh?! Tempat yang jadi sekolah kamu itu jauh, hampir dekat perbatasan kota.., sudahlah cari yang dekat saja" Ujar Bramantio. Saat Anisha memberikan surat bukti dirinya di terima dari SMA Negeri 3. --- "Bi, titip adik- adikku ya..." Anisha memeluk Bibinya, sebelum berangkat. Bulir bening mengiringi prosesi perpisahan itu, dengan rasa yang hanya dia sendiri yang tahu. "Ck.., kaya yang mo pergi kemana aja, pake nangis segala.." Cibrian tetangga mendarat sempurna di telinga Anisha. Namun diabaikannya. Ada hal jauh lebih penting daripada mengurusi semua nyinyiran itu. Dipeluknya satu persatu ketiga adiknya. Dibisikan pesan khas seorang kakak terhadap adiknya. Tak ada air mata lagi yang menemaninya. Seolah semua air matanya habis mengering. --- Semua kilasan itu berputar begitu saja di benak Anisha. Seperti kaset rusak yang tak bisa dikendalikan. Tapi kali ini hatinya bertekad untuk lebih kuat hadapi semua ini. Rasa gugup, itu pasti dirasakan. Mengingat tak pernah ia pergi sejauh ini seorang diri. Tapi semua itu ia sembunyikan dibalik sikap diamnya, yang mungkin cenderung datar. Tak sampai hati ia tunjukkan segala kegundahannya, di depan Bapaknya, Bramantio. Yang termasuk seorang penata rambut yang di perhitungkan di kotanya. Fakta yang timpang itulah yang menghantuinya, 'Takut Tak Mampu Imbang Nama Besar Bramantio'. Lantas.. Haruskah dia mundur dan kembali lagi ke desanya...? Oh tidak mengingat apa yang telah mereka korbankan... --- Lalu lalang para siswa mendominasi begitu ia tiba di tempat tujuan. Ia lanjutkan langkahnya menuju tempat yang selama 3 tahun ke depan akan menjadi tempatnya menuntut ilmu. Sebagian murid telah memenuhi lapangan upacara, membuatnya bergegas menuju kelas yang telah diketahui saat rapat bersama hari lalu. Semakin mantap ia ayunkan langkah menuju pintu masuk, dengan seberkas senyum tipis dan mengedarkan pandangan mencari dimana kiranya ia duduk nanti. Hingga pandangannya tertuju kepada pemilik bola mata yang entah perasaannya benar atau tidak, saat ini sedang tertuju padanya, dengan senyuman manis yang menurutnya terasa... berlebihan. 'Ih..., SKSD...'. Kesalnya memupus senyumnya dan mengalihkan tatapan dari si pemilik senyum manis berlebihan itu. Segera Ia melesat ke tempat kosong tujuannya. 'Dia akan menjadi orang yang spesial untuk mu Nisa' Bisikkan yang entah berasal dari mana hingga terngiang ditelinganya. Namun ia abaikan semua itu.. "Hai, kosong?" tanya Nisa pada gadis di sebelah kursi kosong itu, yang kemudian dianggukinya.. "Aku Anisha, panggil saja Nisa..." "Sri..." Perkenalan singkat itupun terjalin. Hingga kelas MOPD tersebut dimulai. Rangkaian kegiatan pun berjalan hingga Nisa didesak seorang guru seni musik untuk maju memimpin lagu di depan kelas. "Pak, sungguh saya ga bisa..." rengeknya.. "makanya kamu belajar sekarang.." bujuk sang Guru.. "Ta... Tapi Pak Saya belum pernah.." "Dan ini kesempatan pertama mu. Ayo.." Situasi kelas riuh mundukung sang guru hingga Nisa kalah telak, tak lagi melakukan perlawanan, dan bangkit untuk menunaikan mandat yang diterimanya. Walaupun terpaksa. Dari tempatnya saat ini dapat dilihatnya, ada teman yang tertawa, tersenyum, bahkan cuek. Tapi hanya satu yang memancing emosinya. Entah mengapa Nisa merasa tatapan pria SKSD itu begitu geli menatap ketidak berdayaannya menolak mandat itu. Dan itu sangat menyebalkan dimatanya. Tidak! Bukan tak bisa, Ia hanya tak ingin dan tak suka menjadi point of interest. Dia merasa tidak nyaman berada di atas panggung. Kalaupun harus berkaitan dengan hal semacam itu, maka ia puas hanya menjadi bagian di belakang layar. Walaupun di sekolah sebelumnya dia pun aktif di berbagai bidang organisasi eksrakulikuler, akademik dan lainnya, hanya saja ia akan segera menarik diri jika mulai berkaitan dengan segala macam publikasi, kesenangan masa remaja, terlebih lagi jika menjurus ke arah cinta. Bukan tanpa sebab... Tapi untuk saat ini biarkan saja dia menata hatinya terlebih dahulu. Hingga satu saat nanti dia sendiri yang akan berbagi tentang semua itu dengan senyum yang tak pernah pudar.. *** Anisha POV on.. Ku hembuskan nafas gusar. Berharap sedikit beban di d**a ku terangkat, hingga d**a ku tak terlalu sesak. "Ckk... Seharusnya Putri yang ikut, bukan kamu". --- "Kamu gak usah pilihan satu SMA 2 segala. Langsung aja ke SMA 3. Nilai kamu gak akan sampai.. " --- "Nis, kenapa kamu harus sekolah jauh- jauh?! Tempat yang jadi sekolah kamu itu jauh, hampir dekat perbatasan kota.., sudahlah cari yang dekat saja" --- "Bi, titip adik- adikku ya..." "Ck.., kaya yang mo pergi kemana aja, pake nangis segala.." --- Semua kilasan itu berputar begitu saja di benak ku. Seperti kaset rusak yang tak bisa dikendalikan. Ku langkahkan kaki memulai perjalanan menuju sekolah baruku. 'Apakah aku harus mundur?' lirih otakku. 'Tidak!' jawab batinku cepat.. Mengingat apa yang telah kami korbankan. Biarkan ku tekan ketakutan ku yang tak beralasan ini. Itu dia, angkutan umum yang akan membawa ke tempat tujuan ku, yakni sekolah baru ku. SMA Negeri 3. Di dalamnya sudah penuh berjubel murid sekolah seperti ku, masih memakai seragam putih biru dengan lokasi yang berbeda- beda. Lengkap dengan kelengkapan seperti yang ku bawa pula. Mungkin mereka satu tujuan dengan ku, pikirku.. Hampir 20 menit perjalanan, dan tibalah kami di tempat tujuan. Ku edarkan pandangan mencari petunjuk kearah mana kakiku lanjutkan langkah. Hingga ku temukan papan informasi, dan tertera namaku di kelas... 'X...6' gumamku. Kembali ku edarkan pandangan, mencari rute terdekat. Dan... 'Akhirnya sampai juga' lirihku 'Bismillah... Kamu pasti bisa Nisa' Sugestiku pada diri sendiri. Abaikan segala pikiran negatif yang sedari tadi memenuhi kepala ku. Ku ulas senyuman tipis dilangkah pertama memasuki ruang kelas. Ruangan yang mungkin akan ku huni 1 tahun ke depan. Hingga senyumku memudar, saat pandangan ku tertuju kepada pemilik bola mata yang entah perasaan ku benar atau tidak, saat ini sedang tertuju padaku, dengan senyuman manis yang menurutku, terasa berlebihan. 'Ih..., SKSD...' Kesalku dalam hati. Memupus senyum dan mengalihkan tatapan dari si pemilik senyum manis berlebih itu. Segera ku melesat ke tempat kosong tujuanku. "Dia akan menjadi orang yang spesial untuk mu Nisa" Bisikan yang entah berasal dari mana hingga terngiang ditelingaku. Namun ku abaikan semua itu.. "Hai, kosong?" Tanya ku pada gadis di sebelah kursi kosong itu, yang kemudian dianggukinya.. "Aku Anisha, panggil saja Nisa..." ku tersenyum sambil mengulurkan tangan. "Sri..." jawabnya singkat. Menyambut uluran tanganku. Rangkaian kegiatan pun berjalan, hingga aku didesak seorang guru seni musik untuk maju memimpin lagu di depan kelas. "Pak, sungguh saya gak bisa..." rengekku coba bernegosiasi.. "makanya kamu belajar sekarang.." bujuk Sang Guru, tak mau kalah.. "Ta.. Tapi.. Saya belum pernah.." "Dan ini kesempatan pertama mu. Ayo..." Seketika situasi kelas riuh mundukung Sang Guru hingga aku kalah telak dan tak lagi melakukan perlawanan, lalu bangkit untuk menunaikan mandat yang ku diterima. Walaupun terpaksa. Entah mengapa aku merasa tatapan pria SKSD itu begitu geli menatap ketidak berdayaanku menolak mandat itu. Dan itu sangat menyebalkan dimata ku. Anisha POV end *** Mario POV on Hari pertama masuk sekolah baru. Sebentar lagi ku ganti warna kostum ini. Mungkin satu minggu lagi, tepatnya setelah MOPD ini selesai. Malas... Itu yang ku rasa saat harus pergi menuju sekolah. Entahlah... Orang bilang masa SMA adalah masa yang paling mengesankan. Ah..., mungkinkah itu juga berlaku untuk ku? Secara rasa malas ini rasanya bergelayut manja di pundakku. Tapi terus ku paksakan melangkah. Ga lucu kan harus bolos di hari pertama masuk sekolah. Terlebih di masa MOPD... Hello apa kata dunia Rio...?! Setibanya di tempat tujuan, segera ku dapati papan informasi, dan... "Ruang X-6.." Mengayun langkah kembali. Masih cukup lengang ruang kelas saat ku tiba. Dan segera menuju tempat yang menurut ku paling strategis. Satu, dua murid lain mulai berdatangan. Hingga hampir 10 menit menjelang aktivitas MOPD dimulai, mata ku yang sedari tadi memantau kondisi kelas tertuju pada seorang gadis yang baru saja masuk kelas dengan senyum yang menurut ku, lain dari pada yang lain... Manis...? Beberapa saat aku terpaku, hingga pendanganan kami bersibobrok, dan dia seolah buang muka dari ku.. 'Oh My God... Ego ku terluka oleh gadis aneh itu...' Otak ku memprovokasi.. 'Eh tunggu Rio, sejak kapan lo jadi melow?' Debat batinku.. 'Sejak kapan kulkas berjalan punya hati??' Lanjut batinku lagi.. 'akh...!' Otakku menggeram prustasi.. --- Tak lama aktivitas MOPD di mulai, dengan aku yang masih anteng dengan pikiran sendiri dan entah kenapa rasa penasaran membuatku curi- curi pandang ke arah gadis itu. Gadis sederhana, bahkan tak tampil mencolok, cukup manis, meski dia sembunyikan semua kecantikan fisiknya dibalik seragam longgar panjangnya, dan... Dia pun berkerudung... 'Hei, apa- apaan ini Rio? Kemana arah pikiran lo?' Lirihku dengan seulas senyum penuh arti menatap gerak- geriknya.. Hingga dia tak bisa berkutik saat guru seni musik menyuruhnya memimpin lagu di depan kelas. Aku tersenyum geli sendiri menyaksikan reaksinya yang tak berdaya menolak mandat itu, meski ia merengek tak mau, tapi Guru selalu punya jawaban tepat atas rengekannya. Jika saja itu bukan di ruang kelas, mungkin aku sudah terpingkal- pingkal terbahak. Hingga..., tatapan membunuhnya ku tanggkap saat pandangan kami kembali bersibobrok.. Bukannya takut, justru aku gemas menyaksikannya. 'Gadis aneh, dan... Menarik?' aku bingung dengan isi kepalaku sendiri saat ini... 'O My God... Apa ini... Virus apa yang menyerang otak ku?' 'Apa sejenis virus yang mampu mencuci otak?' Mario POV end.. *** Sejak pulang dari sekolahnya Mario nampak selalu mengulum senyum. Kilasan peristiwa yang terjadi hari ini kian menggoda hatinya, memenuhi isi kepalanya. Membuat heran mama dan kakaknya. Hari ini pun lain dari hari- hari sebelumnya. Tak ada lagi drama malas ke sekolahan. Sebaliknya Mario nampak tak sabar ingin segera sampai di sekolahnya.. "Rio.., makan yang tertib, hati - hati". Ujar sang mama memperingatkan, saat Mario tersedak, menyodorkah segelas air pada putra tampannya itu. Rio tersenyum geli dengan tatapan heran mereka yang tertuju padanya. "Tumben ga da drama pagi berjudul 'malas pergi sekolah'" goda Ayuna.. "Ada deh..." Rio mengedikn bahu, tersenyum penuh arti, asyik dengan segala pemikirannya sendiri. "Masih pagi loh Rio, pelan- pelan makannya..." Sang mama kembali mengingatkan.. Tak lama tuntas acara sarapan pagi Rio. Ia pun segera beranjak, mencium tangan mama dan kakaknya, tanpa menghiraukan kerutan di kening mereka yang penasaran dengan tingkah yang menurut mereka "aneh" untuk seorang Mario yang tiba-tiba semangat pergi ke sekolah. *** Rio bersenandung riang. Langkah pastinya kian mantap, menuju tempat strategis menjemput pemandangan indah yang dia nantikannya.. Ya, kedatangan Anisha, gadis sederhana yang mampu mengalihkan dunianya.. --- Mario... Ia hanya bagian dari remaja kebanyakan, bukan anak berandal, juga tak terlalu polos terhadap hal semacam itu. Tapi untuk terlibat lebih jauh dalam kenakalan remaja? Bukan dia orangnya. Ia sosok hangat yang supel, mudah bergaul, namun masih tau batasan dan tak suka menghakimi siapa pun. Itulah mengapa teman- temannya beragam. Namun BIG NO untuk urusan cinta. Dia kan jadi sosok yang sangat sulit disentuh dalam urusan cinta. Entah apa yang ada dalam benaknya tentang cinta hingga bersikap seperti itu. Namun semua berubah sejak pertama kali bertemu Anisha. Semua pemikiran tentang cinta versi Mario Dewantara seolah luntur begitu saja. Akhirnya yang dinantinya menampakkan diri. Gugup dan salah tingkah. Itu yang terjadi saat lagi dan lagi ia tertangkap basah oleh Anisha. *** Mario POV on 'Issh.. Kenapa gue harus gugup sih...? Malu- maluin aja' Rutukku sendiri saat beradu tatap sekilas dengan Anisha. 'Bodoh..., bodoh..., Mario bodoh...' Aku terus merutuk diri. Menggaruk tengkuk yang sama sekali tak gatal.. Mario POV end *** Anisha POV on 'Kenapa si SKSD itu?' Aku mengerutkan kening heran dengan tingkah laki- laki SKSD itu, yang nampaknya salah tingkah. 'Ah masa bodoh'. Ku lanjutkan langkah menuju kursi ku. Tak sampai disitu rasa heranku. 'Loh.., si SKSD pindah alamat?' Kembali mengernyitkan kening. Saat ku dapati tas si SKSD itu ada di samping meja ku dan Sri. Tepatnya di samping kanan ku. Tak lama kegiatan MOPD hari ke dua dimulai. Entah hanya perasaan ku saja atau memang benar, serasa Si SKSD itu terus memperhatikan gerak gerik ku. Terbukti saat aku salah dalam menafsirkan kalimat teka teki.. "Ayo silahkan simpan di atas meja Chiki Balls 2 Taro 1" arahan dari kakak kelas kami yang memandu proses pelaksanaan MOPD. Sementara aku kebingungan saat hanya membawa 2 Chiki Balls saja. 'Mati aku.., sudah pasti dapat hukuman lagi...' Keluhku lirih menepuk keningku.. Hingga tiba- tiba... "ini.., sengaja bawa lebih..." Beberapa saat aku membeku, antara heran, kaget dan senang solusi masalah ku terpecahkan. Karena sumpah demi apapun. Berdiri di depan kelas untuk hal- hal konyol dan jadi bulan- bulanan, sungguh sangat tidak ku sukai.. "hmmm.. Ini..." lanjut si SKSD. Mengembalikan ku ke alam nyata. "setelah ini ku kembalikan..." jawab ku dengan ragu- ragu. Sungguh aku tak ingin berhutang. "tak perlu.. Sengaja bawa lebih ko.. " balasnya, menggelengkan kepala disertai senyuman khasnya. 'Ish kenapa aku ini...' lirihku. Merutuki diri sendiri yang tiba- tiba gugup dan begitu mudah terima pertolongannya.. "Ayo ambil.." aku terhenyak kembali ke kesadaran ku. Dan rupanya dia masih setia dengan uluran tangannya. Tanpa mengulur waktu ku terima begutu saja, karena rombongan kakak kelas yang memeriksa tugas MOPD hampir sampai di dekat kami. "Lusa sekolah kita akan mengadakan perkemahan selama tiga hari, dalam rangka Penutupan kegiatan MOPD. Dan besok surat pemberitahuan kepada orang tua ini sudah harus terkumpul kembali. Di harapkan semua calon siswa dan siswi bisa mengikuti kegiatan tersebut" Jelas Sang Ketua OSIS yang sepertinya berkeliling ke setiap kelas untuk menyampaikan informasi ini kepada seluruh calon siswa siswi baru. Menutup kegiatan kami di hari ini. Entah kenapa aku penasaran apa si SKSD juga ikut serta dalam kegiatan tersebut? 'Ish... Apa kamu ini Nisa..!' Anisha POV end *** *** Bismillah... Semoga ini adalah awal yang baik untuk kembali menemukan jarum emasku. Agar bisa kembali mengudara di cakrawala. Mohon maaf jika masih banyak sekali kesalahan dalam penulisan. Mohon kritik dan masukan dari para readers.. Thanks for your attention...

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Rise from the Darkness

read
8.6K
bc

FATE ; Rebirth of the princess

read
36.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.8K
bc

Rebirth of The Queen

read
3.7K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.0K
bc

TERNODA

read
198.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook