Awal Yang Baik

2948 Kata
Hari pertama berseragam putih abu. Membawa warna tersendiri bagi generasi muda. Ada yang mulai siap meninggalkan sikap kekanakannya, ada yang mulai coba- coba mendekati cinta, ada yang merasa sudah cukup umur untuk lakukan apapun dalam hidupnya, ada yang mulai siap menanggung tanggung jawab baru, namun ada pula yang justru makin kekanakan. Dan masih banyak lagi lainnya... Seperti halnya juga dengan tekad yang diambil Mario. Yang jika ia tak salah menyimpulkan jenis ketertarikannya pada sosok Anisha adalah cinta, maka ia putuskan untuk mencintainya dalam diam, melambungkan cintanya dalam bait- bait do'a, merayu Sang Maha Kasih dengan membisikkan asanya pada bumi. Hingga Sang Maha Cinta kan menjawabnya melalui sang waktu. *** Meskipun tak ada perubahan kelas, tapi ternyata formasi letak kelas berubah. Sehingga beberapa siswa tampak masuk ke kelas yang salah. Termasuk Anisha.. "Hei Nisa, di sini..!" Teriak Sri. Menghentikan langkah Nisa yang hampir masuk dikelas yang kemarin digunakannya semasa MOPD. Nisa mengangguk paham. "Sini duduk sebelah ku". Tunjuk Sri lagi. Begitu Nisa masuk kelas barunya. Nisa mengangguk dan tersenyum. "Gimana kabarnya sepulang kemah kemarin Sri?" Nisa membuka pembicaraan.. "Aduh, sumpah I'm very very tired Nis.. Sampe rumah langsung tidur. Gak ngapa- ngapain lagi". "Hehehehe... Sama Sri..". Obrolan ringan itu pun terhenti saat bel masuk berdering. Tak lama Wali kelas mereka pun datang. Memberi beberapa arahan untuk kelancaran proses belajar mengajar. Tanpa Nisa sadari ada sepasang mata yang menatapnya penuh kerinduan sejak tadi. Merasa diperhatikan, Nisa menoleh. Dan ternyata tepat di sebelah kirinya si SKSD menatap dengan sorot yang sulit diartikan. Dahi Nisa berkerut tanda heran. Tapi di sisi lain hatinya merasa lega, yang entah karena apa. Ada secercah rasa asing yang menyusup di relung kalbunya... Entahlah apa itu. Nisa tak ingin simpulkan apa pun. Segera Nisa kembali fokus pada penjelasan sang wali kelas yang ternyata bernama Ibu Sri. Sama seperti sahabat yang duduk di sebelahnya. Seulas senyum ia lempar pada sahabatnya itu, yang di balas delikan jengah. "Kenapa namanya harus sama sih? Menyebalkan!" bisik Sri yang hanya bisa Nisa dengar. Nisa pun terkekeh geli dengan tingkah sahabatnya itu. *** Mario POV on Hari ini aku bergegas. Semangat ku kembali untuk menuju sekolah. Ternyata lega rasanya setelah berdamai dengan diri sendiri. Lebih tepatnya dengan egoku sendiri. Aku merasa lebih siap menghadapi kenyataan apapun yang akan terjadi nanti. Ku lajukan si zein dengan kecepatan sedang. Mengimbangi arus lalulintas yang cukup padat dihari senin ini. Tak lama akhirnya tiba di tempat tujuan ku. Aku melangkah ke area komplek kelas, setelah terlebih dahulu memastikan si zein aman di tempatnya. Seperti biasa sekolah masih lengang saat ku tiba. Karena memang aku suka berangkat lebih awal, meski pun aku dijuluki "Drama King of malas sekolah" oleh Ayuna, kakak perempuan ku. Tapi setiap kali aku berangkat, maka awal waktu tetap jadi pilihan ku. Ternyata ada perubahan formasi letak kelas. Dan segera ku pastikan bahwa aku dan Nisa berada di kelas yang sama. Aku mendesah lega setelahnya. Begitu tiba di ruang kelas, Aku letakan tas di meja tengah paling depan, setelah ku lirik tas Sri, Sahabat Nisa di meja sebelah. Aku yakin pasti Lisa duduk di sebelahnya. Ah.. Sebaiknya aku standby di depan kelas untuk pastikan Nisa tak salah masuk kelas. Dan benar saja, dia hampir masuk ke dalam kelas tempat kami MOPD kemarin. Aku hampir berseru, hingga teriakan Sri terdengar, memanggil Nisa, secara otomatis mengurungkan niat awal ku. Nisa pun menggangguk faham. Setelah memastikan Nisa aman terkendali, aku beranjak masuk kelas, meninggalkan Ferdi yang sempat menemaniku tadi di teras kelas. Dan benar apa dugaan ku. Nisa menempati kursi sebelah Sri, Al hasil kami duduk bersebelahan. Dalam diam ku perhatikan interaksi Anisha dengan Sri. Hingga Wali kelas kami tiba. Tapi itu tak menghentikan ku curi- curi pandang ke arah Nisa. Tampangnya yang serius. Buat ku gemas, tanpa sadar menerbitkan seulas senyum tipis di bibirku. Sepertinya dia mulai sadar ku perhatikan sedari tadi, karena tiba-tiba ia melirik ke arah ku. Ku sambut dengan senyuman termanis ku. Eh ternyata dia malah merespon dengan raut datarnya, dan kembali fokus dengan penjelasan Wali kelas. Seolah aku ini tembok. "Huhff..." Ku hela nafas panjang... Baru kali ini aku bertemu gadis aneh macam dia. Dimana rata- rata gadis seusianya berebut perhatian lawan jenis dan dia selurus itu...?! Ckck... Ternyata perkiraan ku yang pernah menganggap bahwa gadis macam itu punah meleset. Dan fakta itu terbukti dengan adanya Anisha Shanum. Gadis aneh yang mampu menarik perhatian ku dan runtuhkan segala pemikiran ku dalam sekejap. Pikiran ku melayang kemana- mana, padahal di depan kelas Wali Kelas kami sedang memberi pengarahan. Aku malah asyik dengan duniaku sendiri. Anisha.. Ternyata dia manis sekali saat tersenyum... Dan sepertinya senyumnya itu keajaiban dunia yang tak semua orang bisa dapatkan begitu saja... Entah apa yang diperbincangkannya dengan Sri hingga saat ini dia seperti terkekeh menahan tawa. Tampak dari bahunya yang bergerak.. "Hei giliran Lo bro..." Ferdinand menyenggol lenganku.. Aku berlagak pilon, karena tanpa sadar terlewat satu adegan. Hehe... "Perkenalkan diri Lo bro, Waka mo tau nama kita.." bisik Ferdinand. "Nama saya Mario.." aku gerak cepat begitu dapat bisikan Ferdinand. Astagfirullah Rio, Mario.. Hampir saja... Dalam hatiku terkikik geli mengingat kelakuan ku sedari tadi.. Mario POV end *** Anisha POV on Hampir saja aku malu, karena salah masuk ruang kelas. Untung sahabatku Sri memanggil. Dan... Eh... Apa itu, kulihat si SKSD hampir membuka vokal dengan tatapannya terarah padaku. "Hei Nisa, di sini..!" Teriak Sri. Menghentikan langkah ku yang hampir masuk dikelas yang kemarin ku gunaka semasa MOPD. Aku mengangguk dan mengikuti petunjuk Sri. Ah sudahlah Nisa, pasti itu hanya pikiran mu saja. Tapi tak bisa ku pungkiri, ada rasa lega di salah satu sudut hatiku saat melihatnya, seolah terisi sudah rasa kosong dihatiku beberapa hari kemarin. Ah.. Kenapa aku ini? "Sini duduk sebelah ku". Tunjuk Sri lagi. Pada meja tengah paling depan. Setelah kami sampai di kelas. Aku mengangguk dan tersenyum. "Gimana kabarnya sepulang kemah kemarin Sri?" aku membuka pembicaraan.. "Aduh, sumpah gue lelah banget Nis.. Sampe rumah langsung tidur. Gak ngapa- ngapain lagi". "Hehehehe... Sama Sri..". Obrolan ringan kami pun terhenti saat bel masuk berdering. Tak lama Wali kelas kami pun datang. Memberi beberapa arahan untuk kelancaran proses belajar mengajar. Entah mengapa rasanya aku tak nyaman, merasa gerak gerik ku diperhatikan. Dan saat ku menoleh. Ternyata tepat di sebelah kiriku si SKSD menatap ke arahku dengan sorot yang sulit diartikan. Dahi ku berkerut tanda heran. Segera ku tarik kembali fokusku pada penjelasan sang wali kelas yang ternyata bernama Ibu Sri. Sama seperti sahabatku. Seulas senyum ku lempar pada sahabatku Sri itu, yang di balas delikan jengah. "Kenapa namanya harus sama sih? Menyebalkan!" bisik Sri yang hanya bisa ku dengar. Aku pun terkekeh geli.. Hingga tiba giliran kami yang menyebutkan nama masing- masing. Dan si SKSD nampak kebingungan begitu tiba gilirannya, sepertinya kena amnesia, sampai lupa nama sendiri. Aku berdecak tak habis fikir.. "Nama saya Mario.." ujar si SKSD. menggaruk tengkuk, yang ku yakin tak gatal. "Oh ternyata namanya Mario..." gumamku. Anisha POV end *** Hari berganti hari, minggu bergulir menjadi bulan... Masa masih dengan setia menemani setiap episode dari anak anak manusia ini.. Mario mulai memberanikan diri menyambangi meja Nisa, entah itu bertanya seputar materi pelajaran, atau hanya sekedar nangkring. "Nis, Kenapa ga ke kantin?" Tanya Mario.. "Ga Laper. Kamu sendiri?" jawab Nisa. Kembali fokus dengan buku di depannya. "Lagi M.." bisik Mario. Kening Nisa berkerut.. "Males.." sambung Mario paham dengan reaksi Nisa.. Dari arah belakang terdengar nada nada sumbang menggoda kedekatan Nisa dan Mario. Tapi Nisa tak ambil pusing, meskipun ia yakin wajahnya pasti saat ini sudah merah padam, karena malu. Berbanding terbalik dengan Mario. Ia tampak sangat menikmati back sound tersebut. Hingga tiba- tiba Aldiano mengetuk pintu dan melambai ke arah Nisa. Nisa faham dan beranjak menuju Aldi. "Ada apa Di" begitu sampai di depan Aldi. "Melin kabarnya sakit, katanya sih lumayan parah sampai harus bed rest segala" jelas Aldiano. "di rawat?" "kata temen- temen yang satu sekolah dia sih..., dah balik ke rumahnya sekarang. Aku dan Teguh rencana mau nengok. Kamu mau ikut sekalian?" "Ok, aku ikut Di. Kapan?" "Sepulang sekolah ku tunggu di gerbang utama ya..." Anisha pun mengangguk. *** Mario POV on Setelah sekian lama ku pupuk keberanian untuk jalin interaksi dengan Anisha, akhirnya hari ini ku berhasil. Beralasan bertanya materi pelajaran. Ku tarik kursi ke arah meja Anisha. "Nis, Kenapa ga ke kantin?" Tanya ku basa basi. Padahal ku tahu, Nisa tak pernah beranjak dari kursinya di jam istirahat. Dia labih suka bergelut dengan buku- bukunya. Entah mengapa. Ku perhatikan memang Nisa sosok yang tertutup, bicara pun irit, apalagi bercanda dengan teman yang lain. "Nis..." "Eh...?" "dari tadi aku tanya loh, kenapa gak ke kantin..? "Emm... Ga Laper. Kamu sendiri?" jawab Nisa. Kembali fokus dengan buku di depannya. "Lagi M.." bisikku. Kening Nisa berkerut.. Dan itu sangat lucu dimataku. "Males.." sambung ku, sedikit terkekeh, paham dengan reaksi Nisa.. "O..." sahutnya, nyaris tanpa ekspresi. Dari arah belakang terdengar nada- nada sumbang menggoda kedekatan kami. Tapi Nisa tampak tak mau ambil pusing, meskipun wajahnya saat ini sudah memerah padam, karena malu dengan godaan teman- teman kami itu. Berbanding terbalik dengan ku. Aku begitu sangat menikmati back sound tersebut. Dengan tak hentinya meng-Aamiin-kan kata- kata mereka. Hingga tiba- tiba ada yang mengintruksi kami. Seorang pria yang tempo hari membuatku kalang kabut terbakar api cemburu kini tengah mengetuk pintu dan melambai ke arah Nisa. Nisa faham dan beranjak meninggalkan ku menuju pria itu. Aku beranjak kembali ketempat ku. Sambil menajamkan pendengaran. "Ada apa Di" tanya Nisa begitu sampai di depan pintu. "Melin kabarnya sakit, katanya sih lumayan parah sampai harus bed rest segala" jelas pria yang entah siapa namanya itu. "di rawat?!" "kata temen- temen yang satu sekolah dia sih..., dah balik ke rumahnya sekarang. Aku dan Teguh rencana mau nengok. Kamu mau ikut sekalian?" "Ok, aku ikut Di. Kapan?" "Sepulang sekolah ku tunggu di gerbang utama ya..." Anisha pun mengangguk. *** Setelah kelas berakhir, Nisa bergegas bereskan barang- barangnya. Ku perhatikan dari jarak aman. Dan, ternyata benar. Pria yang tadi di panggil Nisa dengan sebutan "Di" itu menunggunya di gerbang utama. Aku hampir kembali terjebak dalam kubangan cemburu. Tapi ku sugestikan pada diri sendiri. "Sadar Yo, bukankah Lo mo cintai Anisha dengan cara istimewa Lo itu?" "Ya benar dia istimewa dimata ku... Entah dengan orang lain menilainya... Tapi akan kuberikan dia rasa yang istimewa dari ku, hingga tiba saatnya nanti..". Lirihku, entah mengapa terasa begitu mantap. Lantas melanjutkan langkah menuju si zein berada.. Mario POV end *** Anisha POV on . "Nis, Kenapa ga ke kantin?" Tiba- tiba saja Mario berbasa basi. Menggeser kursinya mendekat. Padahal ku memang tak pernah beranjak dari tempat ini di jam istirahat sekali pun. Aku labih suka bergelut dengan buku- bukuku. Berharap waktu kan lekas membawa ku segera ke penghujung hari. "Nis..." "Eh...?" "dari tadi aku tanya loh, kenapa gak ke kantin..? "Emm... Ga Laper. Kamu sendiri?" jawab ku. Kembali fokus dengan buku di tangan ku. "Lagi M.." setengah berbisik. Kening ku berkerut.. "Males.." sambung Mario, terkekeh, seolah paham dengan reaksi ku.. "O..." gumamku begitu mengerti apa maksudnya. Dari arah belakang terdengar nada- nada sumbang menggoda kedekatan kami. Tapi Aku tak mau ambil pusing, meskipun sepertinya wajahku saat ini sudah memerah padam, karena malu dengan godaan teman- teman kami itu. Sementara Mario hanya tersenyum menanggapi kata- kata mereka. Hingga tiba- tiba ada yang mengintruksi interaksi kami. Aldiano muncul di ambang pintu. Memberi pada ku isyarat untuk mendekat. Aku faham dan beranjak meninggalkan Mario dengan tatapannya yang sulit ku artikan. "Ada apa Di" tanya ku begitu sampai di depan pintu. "Melin kabarnya sakit, katanya sih lumayan parah sampai harus bed rest segala" jelas Aldiano. "di rawat?!" "Kata temen- temen yang satu sekolahnya sih dah balik di rumahnya sekarang. Aku dan Teguh rencana mau nengok. Kamu mau ikut sekalian?" "Ok, aku ikut Di. Kapan?" "Sepulang sekolah ku tunggu di gerbang utama ya..." Aku mengangguk paham. *** Setelah kelas berakhir, Aku bergegas bereskan barang- barang. Tanpa buang waktu segera menuju tempat yang tadi Aldi katakan. "Hai Nis, jadi? Sekarang?" Aku mengangguk. Melangkah di belakang Aldi. Membiarkan Aldi dan Teguh berjalan di depan. Mereka asyik dengan bahasanya. "Jadi kapan Lo mo ngomong ke Melin tentang perasaan Lo itu?" Tanya Teguh.. Deg... Dadaku tiba- tiba sesak seperti terhimpit beban ribuan ton. "Memang Lo gak marah Guh?" sahut Aldi, balik bertanya. "Gue sih terserah Melinnya aja. Lagian, gue dah putus ma Melin.." Aldiano mencibir, tak lama mengangguk. Seolah tengah mengatur strategi di otaknya. 'Ya Rabb... Sungguh aku menyesal bersedia ikut dalam perjalanan ini. Ya Rabb, apa yang baru saja ku dengar ini?' Lirih batinku. Namun tetap meyakini pasti ada hikmah dibalik semua ini. 'Apa benar dia, Aldiano yang Engkau takdirkan jadi penyembuh luka ku? Melin sahabat ku, tapi tak mungkin aku sanggup bersaing dengannya. Biarlah, lagi- lagi aku yang akan mengalah...' *** Tak terasa, akhirnya kami sampai di rumah Melin. Setelah dalam perjalanan tadi asyik dengan pikiran masing- masing. "Kenapa sebenarnya Melin Mah?" Tanyaku pada mamanya Melin. "Kata dokter kecapean, dan gejala demam berdarah. gak apa- apa kok. Semua dah teratasi dan istirahat beberapa hari lagi juga In Syaa Allah pulih.." Jelas beliau. "Ya Rabb.., Mey... Cepet sembuh ya.." ujarku. Mengelus lengan Melin yang masih nampak lesu itu. "Gak papa aku Nis, tenang aja. Ni lihat masih kuat kan..?" kelakar Melin berlaga kuat. Seperti binaraga yang memamerkan ototnya. Aku berdecak, menyaksikan kelakuan sahabat ku ini. "Eh, BTW makasih dah nyempetin nengok ya.." ujar Melin. Anisha POV end *** Pagi ini seluruh siswa kelas X-G sibuk mempersiapkan quiz, tak terkecuali dengan Nisa. Nisa tengah asyik dengan bukunya, saat Taufik mendekat. "Eh Nis, siapa yang kemarin?" Nisa mengernyitkan dahi. "Maksudnya?" Tanya Nisa. "Itu yang kemarin manggil Lo waktu Lagi sama Mario". "O..., Aldi..., Aldiano namanya, tuh anak kelas X-2.." papar Nisa sembari menunjuk lokasi kelas X-2. "Cowok Lo?" kejar Taufik.. "Hah...?" "...Habisnya Gue lihat Lo akrab banget sama tu Cowok.." jelas Taufik. "O..., dia tu temen SMP gue, kami satu organisasi yang sama, and dia ketuanya. Makanya kami akrab". Jelas Nisa. "Gak da niatnya gitu jadian kedepannya?" kejar Taufik lagi. Nisa tersenyum singkat. Merasa sedikit aneh dengan pertanyaan tersebut. Diliriknya Mario duduk tak jauh dari mereka yang nampak sedang fokus dengan sesuatu. Tapi sepertinya bukan pada buku di tangannya. Begitulah kira- kira pemikiran Nisa. "Aldi, bukan Cowo gue, kami teman, dan selamanya akan menjadi teman. Tak akan lebih dari itu..." entah mengapa kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Nisa. Padahal sejak lama Nisa mencari keabsahan tentang Aldiano kah yang jadi jawaban atas tanyanya atau bukan. Disisi lain tak lepas dari pandangan Nisa, Mario nampak menghela napas lega. "Tu. Lo denger Yo. Masih da kesempatan buat Lo?" kalimat terakhir Taufik sebelum kemudian beranjak, menepuk pundak Mario yang duduk di sampingnya. Menerbitkan tanda tanya di benak Nisa. *** Mario POV on Pagi ini seluruh siswa kelas X-G sibuk mempersiapkan kuis, tak terkecuali Aku dan Nisa. Nisa tengah asyik dengan bukunya, saat tiba- tiba Taufik mendekat. "Eh Nis, siapa yang kemarin?" Nisa mengernyitkan dahi. "Maksudnya?" Tanya Nisa. "Itu yang kemarin manggil Lo waktu Lagi sama Mario". "O..., Aldi..., Aldiano namanya, tuh anak kelas X-2.." papar Nisa sembari menunjuk lokasi kelas X-2. "Cowok Lo?" kejar Taufik.. "Hah...?" "...Habisnya Gue lihat Lo akrab banget sama tu Cowok.." jelas Taufik. "O..., dia tu temen SMP gue, kami satu organisasi yang sama, and dia ketuanya. Makanya kami akrab". Jelas Nisa. "Gak da niatnya gitu jadian kedepannya?" kejar Taufik lagi. Nisa tersenyum singkat. Meski nampak kurang nyaman dengan pertanyaan Taufik, tapi dia berusaha tenang. Sekilas pandangannya tertuju ke arah ku. Apa dia tahu kalau sedari tadi aku mencuri dengar obrolannya dengan Taufik? Ah masa bodoh.. "Aldi, bukan Cowo gue, kami teman, dan selamanya akan menjadi teman. Tak akan lebih dari itu..." kalimat itu meluncur bebas begitu saja dari mulut Nisa. Aye... Dan tahukah kalian wahai semesta, betapa leganya dadaku saat mendengar klasifikasi Nisa. Sampai rasanya aku ingin melompat setinggi langit. "Tu. Lo denger Yo. Masih da kesempatan buat Lo?" kalimat terakhir Taufik sebelum kemudian beranjak, menepuk pundak ku yang duduk di sampingnya. Menerbitkan kerut di kening Nisa. Lagian apa lagi maksudnya Si Taufik, beri kesan seolah aku yang nyuruh dia wawancara Nisa. Tapi tak apalah, biar nanti ku traktir Taufik, sebagai apresiasi atas kreatifitasnya jadi wartawan amatir.. Hehe... Sungguh sejak saat itu, aku tak bisa untuk tidak berhenti tersenyum. Seolah mendapatkan berlian yang tidak ternilai harganya. Ah, ku rasa ini lebih berharga dari sekedar berlian.. Mario POV end *** Anisha POV on Pagi ini seluruh siswa kelas X-G sibuk mempersiapkan kuis, tak terkecuali Aku. Aku tengah asyik dengan buku ku, saat Taufik mendekat. "Eh Nis, siapa yang kemarin?" Aku mengernyitkan dahi. "Maksudnya?" Tanya ku. "Itu yang kemarin manggil Lo waktu Lagi sama Mario". "O..., Aldi..., Aldiano namanya, tuh anak kelas X-2.." papar ku sembari menunjuk lokasi kelas X-2. "Cowok Lo?" kejar Taufik.. "Hah...?" "...Habisnya Gue lihat Lo akrab banget sama tu Cowok.." jelas Taufik. "O..., dia tu temen SMP gue, kami satu organisasi yang sama, and dia ketuanya. Makanya kami akrab". Jelas ku. "Gak da niatnya gitu jadian kedepannya?" kejar Taufik lagi. Aku tersenyum singkat. Tanpa sengaja pandangan ku tertuju pada Mario yang duduk tak jauh dari kami. Dia nampak sedang fokus dengan sesuatu. Tapi sepertinya bukan pada buku di tangannya. Pikirku... "Aldi, bukan Cowo gue, kami teman, dan selamanya akan menjadi teman. Tak akan lebih dari itu..." entah mengapa kalimat itu meluncur begitu saja meluncur dari mulut ku. Padahal sejak tempo hari aku kian mencari fakta dari pertanyaan ku. Tanpa sengaja pandangan ku tertuju lagi pada Mario. Dia nampak menghela napas. Entah apa sebabnya. "Tu. Lo denger Yo. Masih da kesempatan buat Lo?" kalimat terakhir Taufik sebelum kemudian beranjak, menepuk pundak Mario yang duduk di sampingnya. Menerbitkan tanda tanya di benak ku. Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa maksudnya Taufik? Dan, mengapa pula aku harus jelaskan semua ini pada Taufik? Mengapa kalimat- kalimat ku meluncur begitu saja dari mulutku? Ah..., Entahlah... Anisha POV end ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN