Qiandra merasa dirinya tidak baik-baik saja. Ah, lebih tepatnya ia merasa sangat tidak baik saat ini. Mimpi-mimpi itu kembali. Semua yang sudah coba ia kubur dalam-dalam muncul kembali ke permukaan. Dahinya kembali berkeringat dan ia kembali meracau. Beberapa hari setelah kondisi Qiandra yang seperti ini, Albert dan Eva memilih mengajak sang adik untuk tinggal saja di rumah mereka. Karena ketakutan yang dialaminya, Qiandra akhirnya mengiyakan. Ia juga takut mungkin sesuatu akan terjadi kepadanya. "Ma... Mama... Jangan tinggalin aku." Qiandra mencengkram seprai dengan keras. Ia masih terus meracau tapi matanya masih begitu sulit untuk terbuka. "Ian, Ian." Albert menepuk pipi Qiandra berkali-kali sampai sang empunya bangun. Pria itu membuka matanya meski agak sulit. Ia terengah-engah s

