3. Dava Danaraja

1020 Kata
"Lo tau gak sih, Rin? Gue baru aja ditembak sama Dava!" Raut wajah bahagia ditampilkan dari senyum yang terus mengembang. Naya bahagia. Menjadi pacar dari salah satu most wanted di sekolah tentunya merupakan impian Naya dari dulu. "Ya terus gue harus respon apa?" tanya Rintik dengan tatapan bodo amat. Rintik melanjutkan mengetik beberapa artikel supaya bisa dipublikasikan sesegera mungkin di web sekolah. Naya cemberut, semua yang Naya ceritakan pasti selalu dibalas ucapan seperti itu oleh Rintik. Naya jadi sebal sendiri dibuatnya. Apa susahnya membalas dengan ucapan selamat, senyuman, atau apapun hal yang bisa membuat Naya bahagia? "Lo ucapin selamat kek, atau senyum dikit gitu, responnya gini mulu," tegur Naya dengan tangan yang dilipat di depan d**a. Naya mengerucutkan bibirnya, sebal dengan apa yang menjadi respon Rintik. "Congratulation," timpal Rintik dengan nada jutek, masih sibuk dengan laptopnya sendiri, masih sibuk dengan dunianya sendiri, tanpa menoleh sedikit pun ke arah Naya. "Terserah." Naya berdiri, keluar dari ruang jurnalistik, bercerita tentang cinta ke Rintik itu salah, membuat Naya kesal dan sebal. Tak hanya itu, mood Naya jadi tak karu-karuan. *** Rintik duduk di salah satu bangku kafe yang ada di pojok dekat jendela. Gadis itu memesan kentang goreng dan cokelat panas favoritnya. Dengan laptop yang masih menyala di hadapan Rintik, Rintik menjentikkan jarinya, tadi sepulang sekolah Bu Novi meminta tolong kepada Rintik untuk membuatkan cerpen dengan kisaran dua ribu kata. Rintik pun mengangguk, menyetujui hal tersebut. Selain Rintik sudah menguasai materi cerpen di luar kepala, gadis itu juga setiap harinya selalu membuat cerpen untuk diunggah di web sekolah. Apalagi sebagai editor di salah satu penerbit besar, tak perlu diragukan lagi kinerjanya seperti apa. Tema yang Bu Novi minta adalah tema mencintai diri sendiri, cukup sulit untuk anak anti sosial seperti Rintik. Rintik hampir tidak pernah merasakan insecure ataupun melihat kehidupan teman-temannya jauh lebih sempurna darinya. Justru teman-teman Rintik yang insecure melihat Rintik. Bukannya Rintik merasa paling sempurna atau apa, Rintik hanya merasa bersyukur saja. Bisa mempunyai anggota tubuh yang lengkap, bisa menjadi anak emas guru, mempunyai keluarga yang sempurna, selalu mendapatkan juara kelas, cukup menyenangkan bagi Rintik. Oleh karena itu, Rintik selalu berusaha bersyukur. Rintik memutar otak, mencoba mencari ide untuk cerpen satu ini. Ah iya, kafe yang saat ini Rintik singgahi adalah kafe favoritnya. Kafe yang berada di seberang sekolah. Jam empat tentu saja masih ramai disinggahi anak-anak SMA Insan Muria. Bedanya mereka kebanyakan ke sini dengan pacar atau sahabat, sedangkan Rintik sendirian dengan laptop kesayangan. "Hai, boleh join tempat duduk? Tempat duduk lainnya penuh," pinta salah satu laki-laki yang memakai seragam sama seperti Rintik. Rintik mendongak, menatap ke arah laki-laki itu.  Mulut Rintik hampir saja mengumpat, mengapa harus bertemu dengan lelaki yang tidak ingin Rintik temui? "Duduk aja, ini bukan kafe punya gue yang harus gue larang siapapun. Cuma satu yang gue minta, jangan ribut. Gue lagi fokus bikin cerpen, jangan sampai bikin gue gak fokus." Rintik mengizinkan, memberikan beberapa syarat supaya lelaki di hadapannya ini tidak ribut. Rintik sedang memasuki mode fokus. "Oke, thanks, ya." Gadis dengan rambut yang dikucir itu diam, tak membalas ucapan terima kasih dari lelaki yang ada di hadapannya, malah fokus mengetikkan beberapa kata untuk dibuat prolog cerpen. Dua ribu kata cukup mudah, bisa diselesaikan beberapa jam saja. Rintik cukup percaya diri untuk menyelesaikan cerpen ini sebelum petang tiba. "Rintik, ada yang boleh gue tanya?" Rintik menoleh, lelaki di hadapannya ingin menanyakan sesuatu, jujur dari lubuk hati yang paling dalam Rintik ingin menolak karena malas menjawab. "Tanya aja." "Nama gue Dava Danaraja kalau lo lupa, gue pacarnya Naya. Kata Naya, jurnalistik lagi butuh orang buat seksi dokumentasi? Gue boleh daftar? Soalnya gue lumayan berpengalaman di bidang itu. Kalau lo gak setuju juga gapapa, kok. Lo bisa nolak, tapi lo juga bisa liat hasil-hasil dari dokumentasi gue, sebentar." Yap, benar! Lelaki tersebut adalah Dava Danaraja. Pacar dari seorang Nayara. Dengan beraninya Dava memberikan ponselnya ke Rintik, menunjukkan beberapa hasil dokumentasinya. Rintik terkesima, cukup bagus untuk diangkat menjadi seorang seksi dokumentasi. Sepertinya juga Rintik tidak bisa selamanya merekap semua tugas. Rintik harus buka pendaftaran lagi. "Lumayan, lo bisa daftar aja besok. Minta formulir ke Teratai, setelah lo isi formulir, datang dan temui gue, nanti gue bakal liat formulir lo." Dava tersenyum, bersyukur akhirnya bisa satu ekstrakurikuler dengan Naya. Salah satu keinginannya dari dulu. Apalagi bisa mendapatkan ekskul yang benar-benar passion. "Thanks, ya, Rin. Sebagai ucapan terima kasih gue ke lo, gue traktir semua makanan lo aja gimana? Mau?" Dava itu tipikal orang yang menghargai terima kasih dengan memberikan apapun, ya walaupun tidak sebanding harga barang tersebut, tapi tetap saja. "Gue gak semiskin itu sampai gak bisa bayar makanan ginian. Lo gak usah berterima kasih ke gue, yang penting sekarang lo diem, gue mau bikin cerpen." Dava bungkam, Rintik tetaplah Rintik. Dingin, kaku, datar, dan tidak friendly. Rintik tetaplah Rintik yang tidak suka direcoki kehidupannya. Rintik kembali ke laptop, mengerjakan cerpennya sampai selesai. Menuliskan bagaimana alur cerita, menyelesaikan sampai koda, bahkan mengambil nilai pelajaran yang sangat berharga. Cukup mudah untuk seorang Rintik Ranayla Carisha, seorang yang mahir di bidang sastra. *** Rintik memakan nasi goreng dengan telur mata sapi, laptopnya sedang diisi daya, perut Rintik juga sudah meronta-ronta minta diisi. Sudah hampir selesai, Rintik membuat dua cerpen sekalian, supaya Bu Novi bisa memilih mana yang mau digunakan. Di hadapan Rintik masih ada Dava. Entah apa yang dilakukan lelaki itu, duduk diam sambil main ponsel, mungkin mencari Wi-Fi sambil menyesap kopi. Rintik bodo amat, tidak ingin masuk lebih dalam ke kehidupan siapapun. Hidupnya sendiri saja masih rumit. Banyak yang bilang Rintik itu cuek, memang itu adanya. Banyak yang bilang Rintik tidak peduli, memang benar faktanya. Malas saja terlalu ikut campur masalah orang lain. "Lo gak pulang?" tanya Rintik yang mulai jenuh, sebenarnya Dava ini nunggu apa? "Lo aja belum pulang." Bukannya menjawab pertanyaan Rintik dengan kata belum, nanti, atau apa, Dava malah meribetkan segalanya. "Tugas gue masih belum selesai, lo pulang aja, udah mau Maghrib." Risih, itulah sebabnya Rintik meminta Dava pulang. Niat ingin me time jadi terganggu karena kehadiran Dava Danaraja. "Gue bukan cewek yang harus pulang sebelum Maghrib. Lo yang cewek, harusnya lo yang pulang, gih. Gak baik cewek udah Maghrib belum pulang, nanti orang tua lo nyariin."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN