Cahaya di Balik Jendela

894 Kata

Pagi di Jakarta selalu memiliki ritme yang sama: deru mesin yang jauh, klakson yang tak sabar, dan kabut tipis polusi yang menyelimuti gedung-gedung beton. Namun, di dalam apartemen lantai dua belas itu, waktu seolah bergerak dalam dimensinya sendiri. ​Ayla duduk di kursi kayu di sudut studionya. Rambutnya yang kini berhias helai perak disanggul rapi dengan tusuk konde kayu. Di depannya bukan lagi kanvas raksasa, melainkan sebuah buku sketsa kecil. Matanya tak lagi setajam dulu saat membedakan gradasi warna, namun rasanya indra perasanya justru semakin peka terhadap detail-detail emosi yang luput dari pandangan mata biasa. ​Reza masuk dengan langkah yang sedikit lebih lambat, membawa dua cangkir kopi panas. Ia meletakkan satu di samping Ayla, lalu duduk di kursi lipat di sebelahnya. ​"L

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN