Satu tahun pacaran mereka sudah lewat, dan hubungan Ayla-Reza terasa semakin kokoh. Mereka mulai terbiasa dengan rutinitas kecil yang membuat hidup terasa lengkap: Reza mengantar Ayla ke kantor tiap Senin pagi karena hari itu selalu paling berat, Ayla yang diam-diam menyiapkan bekal nasi goreng kalau tahu Reza ada meeting sampai malam, dan malam Minggu yang selalu mereka sisihkan hanya untuk berdua—entah nonton film di kontrakan atau sekadar jalan kaki di Car Free Day Sudirman.
Semua terasa sempurna. Terlalu sempurna, mungkin.
Konflik kecil kedua datang tak terduga, dari masa lalu Reza yang selama ini hanya disinggung sepintas.
Suatu Sabtu sore, mereka sedang duduk di kafe Kopi Kenangan—tempat yang selalu jadi saksi perjalanan mereka. Hujan lagi-lagi turun deras, membuat jendela kafe berembun. Reza tampak agak gelisah sejak tadi, memutar-mutar gelas kopinya berkali-kali.
“Ada apa sih?” tanya Ayla akhirnya, tak tahan melihat wajah Reza yang biasanya tenang kini seperti menyimpan beban.
Reza menarik napas panjang. “Besok… ada acara ulang tahun temen lama. Dia ngajak aku dateng. Aku mau bilang ke kamu dulu, soalnya… mungkin kamu bakal denger nama dia dari orang lain.”
Ayla mengerutkan kening. “Siapa?”
“Nadia.”
Nama itu langsung membuat Ayla diam. Nadia. Mantan kekasih Reza yang pacaran dengannya hampir empat tahun sebelum Ayla muncul dalam hidupnya. Reza pernah cerita sekilas—bahwa hubungan itu berakhir karena beda visi, bahwa Nadia pindah ke Singapura untuk kerja, dan sejak itu mereka tak pernah kontak lagi.
“Tapi kenapa tiba-tiba ngajak kamu sekarang?” tanya Ayla, berusaha terdengar biasa saja meski dadanya mulai sesak.
Reza menggeleng pelan. “Katanya dia lagi di Jakarta cuma seminggu, mau ketemu temen-temen lama sekalian ulang tahun. Aku awalnya mau nolak, tapi… dia bilang cuma makan malam biasa, banyak temen kampus yang dateng juga. Aku pikir nggak enak kalau nolak mentah-mentah.”
Ayla menunduk, memainkan sendok di gelasnya. “Kamu mau dateng?”
Reza menatap Ayla lama. “Aku nggak mau kalau kamu nggak nyaman. Serius.”
Ayla ingin bilang “jangan pergi”. Tapi ia tahu itu egois. Reza bukan tipe yang suka kumpul-kumpul, jarang sekali mau datang ke acara reuni. Kalau dia sampai mempertimbangkan, berarti ada rasa sungkan yang dalam.
“Aku nggak nyaman,” akui Ayla jujur. “Tapi aku juga nggak mau jadi pacar posesif yang melarang-larang. Pergi aja, Za. Asal… cerita ya nanti gimana.”
Reza meraih tangan Ayla di atas meja. “Janji. Aku pulang paling lambat jam sepuluh, terus langsung ke sini cerita ke kamu.”
Malam berikutnya, Ayla menghabiskan waktu di kontrakan sendirian. Ia mencoba sibukkan diri dengan desain proyek baru, tapi pikirannya melayang terus. Bayangan Nadia—yang pernah ia lihat fotonya di medsos teman kampus Reza—cantik, berkarir cemerlang, dan pernah jadi bagian besar dari hidup Reza selama bertahun-tahun.
Jam sembilan lewat, pesan dari Reza masuk: “Masih di resto. Banyak yang dateng, rame banget. Nadia banyak cerita soal kerjaan di Singapura.”
Ayla membaca pesan itu berkali-kali. Kenapa harus cerita detail? Kenapa nggak cukup “aku baik-baik aja”?
Jam sepuluh lewat, Reza belum pulang. Jam sebelas, baru ada pesan lagi: “Maaf molor, ada yang ngajak foto-foto lama. Sebentar lagi pulang.”
Ayla tak balas. Ia matikan ponsel, tidur dengan hati penuh pertanyaan yang tak berani ia tanyakan pada diri sendiri.
Pagi harinya, Reza muncul di depan kontrakan membawa sarapan favorit Ayla—bubur ayam Cikini dengan cakwe extra. Wajahnya tampak lelah, tapi matanya penuh penyesalan.
“Maaf banget semalem molor,” katanya langsung sambil memeluk Ayla. “Aku tahu aku salah janji.”
Ayla balas peluk, tapi pelukannya kaku. “Gimana acara semalem?”
Reza duduk di sofa kecil, cerita panjang lebar. Nadia ternyata sudah tunangan dengan bule di Singapura, datang ke Jakarta untuk fitting gaun pengantin. Acara kemarin benar-benar reuni biasa, banyak teman lama yang sudah berkeluarga. Mereka ngobrol soal kampus, soal pekerjaan, tak ada yang aneh.
“Tapi aku ngerasa nggak nyaman di sana,” akui Reza. “Aku sadar, aku udah nggak cocok lagi sama dunia mereka. Aku cuma pengen cepet pulang ke kamu.”
Ayla diam lama. “Aku nggak suka kamu cerita detail sama dia soal hidup kamu sekarang.”
Reza mengerutkan kening. “Aku nggak cerita apa-apa soal kita. Serius.”
“Bukan itu. Pesan kamu bilang ‘Nadia banyak cerita soal kerjaan di Singapura’. Kayak… kamu masih peduli detail hidup dia.”
Reza terdiam. Ia baru sadar nada pesannya bisa disalahartikan.
“Aku bodoh,” katanya pelan. “Aku cuma mau kasih tahu kamu suasana biar kamu nggak khawatir. Tapi malah bikin kamu tambah overthinking. Maaf, sayang. Mulai sekarang aku nggak akan dateng ke acara kayak gitu lagi kalau ada mantan.”
Ayla menatap Reza lama. Air matanya jatuh tanpa suara. “Aku takut, Za. Aku takut suatu hari kamu sadar aku nggak secantik dia, nggak sepintar dia, nggak se-level dia. Aku cuma… Ayla biasa.”
Reza langsung tarik Ayla ke pelukannya erat-erat. “Dengerin aku baik-baik. Nadia itu masa lalu. Kamu itu sekarang dan masa depan aku. Aku nggak pernah bandingin kalian, karena nggak ada yang perlu dibandingin. Kamu yang bikin aku mau pulang setiap hari. Kamu yang bikin aku takut kehilangan. Bukan dia.”
Mereka berpelukan lama di sofa itu, sampai sarapan sudah dingin tak termakan.
Konflik kecil ini tak langsung hilang dalam semalam. Beberapa hari setelahnya, Ayla masih agak pendiam. Reza berusaha ekstra: mengantar jemput setiap hari, menelepon tiap istirahat siang, dan malam hari selalu pulang ke kontrakan Ayla walau hanya sebentar.
Perlahan, bayang-bayang Nadia memudar. Ayla belajar percaya lagi sepenuhnya. Reza belajar bahwa transparansi bukan hanya soal cerita segalanya, tapi juga soal memahami apa yang bisa membuat orang yang dicintai insecure.
Satu minggu setelah kejadian itu, Reza mengajak Ayla ke tempat favorit mereka—taman kecil dekat masjid. Hujan gerimis lagi, tapi kali ini mereka bawa payung besar.
“Aku mau janji satu hal,” kata Reza sambil memegang kedua tangan Ayla. “Masa lalu aku udah selesai. Yang ada cuma kita sekarang. Kalau suatu hari ada lagi yang bikin kamu ragu, langsung bilang. Aku nggak mau ada rahasia atau salah paham di antara kita.”
Ayla mengangguk, matanya berkaca-kaca tapi kali ini karena bahagia. “Aku juga janji bakal lebih percaya sama kamu. Maaf ya aku cemburuan.”
Reza tersenyum, mencium kening Ayla pelan. “Cemburu boleh, asal jangan sampe kita berantem lama. Aku nggak kuat kalau kamu diem-dieman.”
Mereka tertawa bersama di bawah payung, hujan kecil membasahi sepatu mereka tapi tak ada yang peduli.
Bayang-bayang masa lalu memang pernah muncul, tapi tak cukup kuat untuk merusak apa yang sudah mereka bangun.
Dan di saat itu, Ayla semakin yakin: Reza adalah rumah yang ia cari selama ini.