**Reya pov**
.
.
.
Hari ini aku nyaris tak bisa bernapas, setelah pagi aku mengerjakan susunan proposal untuk keberangkatan ke Jepang. Segera bagian pengecekan sampel kain yang diibuat untuk pengiriman bulan ini, juga yang akan kami bawa ke Jepang.
"Kau sudah menyusunnya?" tanya Manager Do, ia duduk masih sibuk dengan pekerjaan lain. Tak kalah sibuknya denganku, seolah kami saling berlomba menumpuk laporan.
"Nde, saya akan segera mengirimkan filenya. Beberapa data detail kain dan total harga sudah saya kerjakan. Tapi, ada beberapa perbaikan untuk detail penjelasan."
"Penjelasan?" tanya Manager Do.
Aku mengangguk kemudian berjalan ke meja Manager Do sambil membawa laporan dari tim pengecekan, kutunjukkan sampel kain yang akan di tawarkan di Jepang. Aku merasa ada perbedaan jenis kain dari yang seharusnya.
"Kain ini, bukankah menggunakan serat yang berbeda dengan yang dituliskan?" Aku menunjukkan pengetikan di laporan. "Di sini di tuliskan ini serat kode Tulle65 tapi jika dirasakan ini tulle60 jaraknya memang dekat dan berbeda sedikit. Tapi, akan jadi kebohongan jika kita menuliskan tulle65 di sini. Meskipun perbandingan perbedaanya tidak sampai setengah." Jelasku kemudian menatap Manager Do yang fokus menatapku penuh tanda tanya.
"Bagaimana kau mengetahui perbedaannya?"
"Ah, karena kakek saya dulu adalah pekerja di sini. Saya terbiasa mengecek detail kain dan juga membantu memasukan data laporan keuangan sejak saya Sekolah menengah awal."
Manager Do mengangguk. "Jadi, itu alasanmu mudah mengerjakan semua laporan yang kuberikan?"
"Bukan seperti itu, saya hanya terbiasa melakukannya dan juga ada metode untuk memilah setiap surat masuk dan keluar yang sepertinya tidak berubah sampai sekarang,"
Ia terdiam sejenak, kemudian menunjukkan senyumnya. Sejujurnya baru kali ini aku melihat ia tersenyum cerah seperti itu.. "Setelah kembali dari Jepang. Kau juga akan membantuku mengawasi pabrik."
"Maaf?" .
"Aku butuh laporan langsung dari sana bukan hanya data. Itu adalah tugas khusus ku dan aku yang akan menghakimi untuk itu."
"Baik." Jawabku, ya aku harus banyak mengumpulkan uang sebelum kembali ke Indonesia.
Aku segera kembali dengan lesu menuju meja kerjaku setelah selesai dengan manajer Do. Pagi ini aku telah menyiapkan diri dengan meminum obat pereda nyeri karena ini adalah hari pertama datang bulan dan ini cukup menyakitkan. Aku putuskan meminum satu lagi, aku tak akan bisa bekerja jika merasa seperti ini.
"Kau sakit?"
"Ti-tidak, ini hanya sedang masa emβ"
"Ah, aku mengerti, datang bulan?"
Kujawab dengan anggukan.
***
Aku duduk di halte sambil memperhatikan twitter rasanya sudah cukup lama tak mengeceknya. Aku melihat berita BTL yang tadi pagi berangkat ke Jepang.
"Jadi, ia ke Jepang?" Aku bernarasi.
"Reya ssi!" panggil Manager Do dari dalam mobilnya. "Aku akan mengantarmu,kita searah kan?"
Sejujurnya, aku merasa tak enak karena ada beberapa karyawan lain di sana.
"Ayo, aku akan mengantarmu karena jarak rumah kita dekat kan?"
Akhirnya, aku berjalan cepat dan segera masuk ke dalam mobil. Tak menampik jika ini lebih baik untukku yang merasa sakit di hampir seluruh tubuh. Mobil melaju dan kami tak banyak bicara. Manager Do menepikan mobilnya ke sebuah apotek.
"Tunggu sebentar," ucapnya kujawab anggukan.
"Apa anda sakit?" tanya Reya.
Manager Do tersenyum sambil menggeleng, "aku harus membeli sesuatu. Tunggulah." Ucapnya sambil berjalan keluar dengan cepat masuk ke apotek.
Aku menatapnya sampai ia masuk, kupejamkan mata sesaat mencoba menahan rasa nyeri yang datang di tubuhku. Sampai, kudengar suara pintu terbuka. Manager Do tersenyum meletakan sebuah kantung di dashboard, kembali memasang sabuk pengaman dan menjalankan kembali mobilnya.
"Reya-ssi."
"Nde?"
"Minumlah itu," tatapannya mengarah ke arah kantung yang ia bawa dari dalam apotek tadi.
Aku mengambil dengan ragu, isinya adalah satu pak obat herbal sachet. Sama seperti tolak angin versi Korea menurutku..
"Minum obat kimia bukankah itu tidak terlalu baik untuk tubuh?"
"Nde, tapi itu cara paling cepat meredakan nyeri."
"Minumlah itu, terdiri dari gingseng merah dan tanaman herbal lain. Adik perempuanku juga punya masalah yang sama dan ia sering minum untuk meredakan nyeri."
Sejujurnya, ini pertama kalinya ia banyak bicara, dan tersenyum. Tanpa sadar aku terus memperhatikan manager Do.
"Ada sesuatu?" tanya Manager Do ia terlihat canggung. Aku tau sisi yang berbeda darinya kini. Ia tak terlalu cuek dan kejam seperti yang sering kulihat. Ia baik dan perhatian.
"Ini pertama kalinya anda berbicara banyak pada saya,"
"Benarkah?"
***
Note;
Halooooo
Adakah yang menunggu cerita Absurd ini?
.
^^