"Manusia punya 100 cara untuk memisahkan. Tapi, Tuhan punya lebih dari 1000 cara untuk mempertemukan."
****
**
*
________________
**Reya POV**
.
.
Malam ini aku sudah bersiap untuk ke Jepang esok hari dan sudah hampir seminggu ini juga Via tinggal di apartemenku. Senang rasanya ada yang menemani.
Sebulan ini aku malas jika pulang terlalu cepat. Karena berfikir tidak akan menemui siapapun saat tiba di rumah. Tapi, aku selalu segera pulang setelah bekerja karena tak memiliki tempat yang bisa aku kunjungi. Juga berfikir mungkin Yunki akan menunggu di depan apartemen. Aish, apa yang ada di pikiranku sebenarnya?!
Setelah berkemas aku berjalan ke luar. Aku melihat Via yang sedang asik dengan tugasnya. Aku berjalan menghampirinya, kemudian duduk di sampingnya.
"Vi menurut kamu pacaran beda agama itu gimana?" tanyaku tiba-tiba.
Sebenarnya, beberapa hari ini aku terus memikirkan Danish. Ia jadi sering menghubungi, walaupun hanya sekedar basa-basi seperti mengingatkan agar aku berhati-hati atau mengingatkan agar tak lupa makan. Jujur itu membuatku sedikit merasakan perasaan padanya lagi.
Aku paham betul, kalau lawan cinta sebenarnya itu bukan benci tapi, tidak perduli. Walaupun, perduli juga tak berarti cinta.
"Hmm, masalah Kak Danish ya Kakk?"
Aku mengangguk.
"Aku rasional banget sebenernya. Tapi, baliknya ke pedoman agama,
Islam melarang hubungan beda kepercayaan. Entah, nasrani atau agama lain seperti apa. Kalo emang saling suka, mungkin harus ada yg mengalah," jawab Via.
Diplomatis menurutku, tapi aku sadar sebagian besar berfikir seperti itu. Perasaan itu memang hal yang kadang tidak bisa di cerna oleh nalar.
Ah, entah. setidaknya, jawaban Via sedikit meyakinkanku. Bahwa keputusan meninggalkan Danish benar.
"Aku tidur duluan ya Vi, aku berangkat subuh soalnya." aku bangkit lalu berjalan menuju kamar.
Segera merebahkan tubuh setelah sampai di kamar. Setelahnya, tak segera tidur, saat ini asik membaca timeline twitter dan mencoba melewati berita tentang BTL, walaupun pada akhirnya aku tetap membacanya.
Mereka masih di Jepang, sebenarnya, bukan hanya memikirkan Danish tapi juga Yunki. bagaimanapun, aku pernah menyukainya selama 5 tahun. Ya, yunki itu cinta pertamaku. Tapi itu sudah berakhir.
Bagaimanapun, aku tak bisa memikirkan lagi hubungan dengan Yunki dan Danish. Aku hanya berpikir realistis. Jika hubungan seperti itu akan sulit jika terlalu lama menjalaninya. ah, entahlah. Aku tak mau lagi memikirkannya.
*****
***
*
_____________________
**Yunki POV**
.
.
Aku baru saja menyelesaikan shooting di Jepang. Juga melakukan pengambilan gambar untuk chanel siaran langsung kami.
Aku berjalan cepat ke kamar. Di luar hotel masih banyak penggemar yang menunggu. Aku selalu suka melakukan aktivitas. Karena saat itu aku hanya fokus untuk menunjukkan penampilan terbaikku dan akan melupakan perasaan yang kacau. Aku akan bergerak dan berkata sesuai keinginan. Hanya satu dalam pikiranku memberikan yang terbaik bagi orang-orang yang mendukung. Aku sebenarnya tak terlalu suka banyak bicara, akan lebih banyak diam. Walaupun sekarang sudah lebih banyak bicara dari sebelumnya. Itu karena anggota BTS lain membuatku nyaman berada bersama mereka.
Setelah membersihkan tubuh aku beranjak tidur, besok kami akan melakukan kegiatan lainya. Lelah, namun masih sibuk memeriksa ponsel. Saat ibu aku sangat ingin menghubungi Reya. Walaupun masih cukup kesal dengan caranya memperlakukanku sebagai orang asing.
***
Bangun di pagi hari setelah mandi dan sarapan, Jeon-gu segera mengajak untuk ke ruang pertemuan membahas kembali jadwal kami di sini. Karena ada beberapa tawaran tambahan untuk hadir di beberapa acara. Aku Jeon-gu dan Jimin berjalan menuju ruang pertemuan ada di lantai 7. Menggunakan lift tentunya.
Setelah itu kami menunggu yang lain di sudut ruangan sambil menatap ke arah lift.
Lift terbuka, Jeon-gu berjalan menghampiri untuk melihat apa Tae ada di sana. Aku melihat seorang gadis berkerudung keluar dan berbicara dengan Jeon-gu. Bukankah itu Reya?
Aku berjalan mendekati mereka. Saat itu aku lihat Reya segera berjalan bersama. Laki-laki itu, managernya?
"Reya ...." panggilku dengan suara pelan namun aku yakin ia mendengar.
Langkahnya terhenti bukan untuk menoleh, hanya mengambil map-nya yang terjatuh. Aku berusaha mendekat. Tapi, Jeon-gu menahan tanganku, kutatap Jeon-gu, ia mengarahkan pandangannya ke arah lain. Pandanganku mengikuti arah tatapannya ada beberapa wartawan di sana.
Aish! Sial!
***
Malam ini aku sedang bersama Jimmy, Tae dan Seojin. Sementara Namjun, Heosok dan Jeon-gu melakukan siaran di salah satu radio swasta di Jepang.
"Hyeong, apa benar tadi itu Reya nunna?" tanya Tae.
"Kau bertemu dengannya?" tanya Seojin hyeong.
Aku hanya mengangguk. Sambil menatap ponsel memerhatikan timeline Reya. Aku melihat ia baru saja mengunggah foto. Ia sedang berjalan-jalan sepertinya dan menikmati jajanan malam di sini. Aku masih memperhatikan dan kembali merefresh timeline profilnya. Apa ini? Ia berfoto bersama Manager itu?
Aku mengirimkan pesan, harusnya ia mengatakan jika ia ada di sini.
_______________
Aku:
Kau ada dimana?
Reya03:
Aku sedang di luar. Ada apa?
Aku:
Katakan di mana kamarmu?
_____________
Ia tidak segera membalasnya. Aku kesal sekali dan segera menghubunginya. Cukup lama sampai ia mengangkat panggilanku.
"Mengapa kau tak menjawab pesanku?"
"------"
"Kalau begitu katakan!" suaraku meninggi karena ia menyebalkan sekali.
"_______"
"Kau tak bisa kemari, butuh kartu khusus untuk naik ke sini."
"______"
Aku mendengarnya berbicara dengan seseorang aku yakin itu manager itu.
"Aku sedang berbicara padamu, bisakah kau lebih sopan denganku?"
"_____"
"506."
Aku mematikan panggilan.
***
Cukup lama aku menunggu sekitar tiga puluh menit sampai aku mendengar suara ketukan di pintu kamar. Taeh baru bergerak untuk membukakan pintu tapi aku melarangnya.
Aku membuka pintu melihat Reya berdiri di sana sambil tersenyum padaku. Dengan cepat kutarik ia masuk.
"Ah, anyeonghaseo," aku bisa mendengarnya menyapa yang lain di sana.
Tae, Seojin dan Jimmy juga membalas salamnya. Ia mencolek pundak ku. Aku sebenarnya kesal sekali. Menghela nafas, kemudian menoleh. Ia tersenyum sambil menunjukan beberapa kantong plastik berisi makanan ia mengangkat dihadapan ku.
"Makanlah bersama yang lain," ucapnya.
Aku terdiam sejenak menatapnya, lalu mengambil kantung dan menyerahkan pada Tae.
"Kamsahamnida," ucap Jimmy, Seojin hyeong, dan Tau kompak.
"Kenapa kau tak memberi tahuku kamarmu?
Ia menatapku, "aku takut kau akan ke sana,"
"Kenapa takut? Kau menyembunyikan sesuatu?" tanyaku lagi.
"Tidak."
"Lalu kenapa kau tak menjawabnya saja?!"
"Apa kita harus bertengkar di sini?" tanyanya sambil menoleh ke arah member lain.
"JAWAB SAJA JANGAN BERALASAN!" Ah sial, suaraku meninggi mengikuti emosi aneh yang ku rasakan.
Ia menatapku matanya berkaca-kaca, sadar dan tahu jika ia tak bisa di bentak. Ia sangat terluka jika seseorang yang penting baginya membentak atau berkata dengan suara keras.
Ia menghela nafasnya. "Aku takut, di hotel ini ada banyak wartawan dan fansmu yang menginap. Bagaimana jika mereka melihatmu? Aku tak ingin kau dalam masalah."
Ia kemudian berjalan cepat untuk keluar dari kamar. Aku mendengar ia menangis, segera berjalan mengejar Reya, memegang pergelangan tangan untuk menghentikan langkahnya.
"Lepaskan," pintanya lirih.
Aku masih memegangi tak memperdulikan ucapnya barusan.
"Maafkan aku."
****
***
*