πŸ’œ19. GHSI πŸ’œ

1053 Kata
"Wanita dan pria memang sering kali tak memahami, sering kali tak mengerti. Tapi, begitulah jalannya cinta. Mereka akan merasa tanpa perlu banyak berkata-kata." ******* **** * * *Author POV** . . . Reya menatap Manager Do yang berdiri menunggu di depan pintu kamarnya. Ia memerhatikan Reya yang kini menangis. Pria itu terlihat khawatir, lalu berjalan mendekati Reya dan menggenggam pergelangan tangan gadis itu, kemudian mengajaknya segera meninggalkan ruangan. Yunki yang mengejar Reya melihat semuanya. Ia menatap kesal pada Manager Do, ia berusaha menggapai lengan Reya. "Tetaplah bersamaku di sini," pinta si pucat menatap gadis dihadapannya memohon. Reya terdiam sejenak, saat ini ia tak ingin bersama Yunki. Ia benar-benar kesal dan tak tau kesalahan apa yang ia buat sehingga Yunki semarah itu padanya. Saat Itu Reya melihat kerumunan orang yang berjalan dari ujung lorong hotel. Ia melepaskan tangan Yunki yang memegangi lengannya. Manager Do menatap Yunki sesaat sampai kemudian mengajak Reya pergi dari sana. Mereka berpapasan dengan Jeon-gu, Heosok dan Namjun yang baru saja kembali dari kegiatan bersama beberapa staf. Blam! Tiiiiiiiiiiiiiittttttt Yunki menutup pintu hotel dengan sangat kencang. Sampai alat pengaman berderit mengeluarkan suara, dengan kesal berjalan ke kamarnya. Seojin, Jimmy dan Tae yang sedang asik makan terkejut. Si tertua menghela napasnya berjalan ke depan dan mencoba membuka kembali pintu dan kembali menutupnya. Beruntung pintu itu berhenti berbunyi. "Hyeong!" panggil Jeon-gu sambil berlari kecil menghampiri Seojin. Jeon-gu, Heosok dan Namjun berjalan memasuki kamar. Tanpa memperdulikan wajah Tae dan Jimmy yang masih syok. Mereka cuek saka dan berjalan menghampiri makanan yang tersedia di meja. "Kalian membelinya?" tanya Namjun. "Tidak, ini semua dari Reya nunna," jawab Tae sambil menatap Namun penuh arti. Semua saling tatap dalam diam sementara Heosok dan sang bungsu dalan grup itu sibuk menyantap makanan. "Aku melihatnya tadi bersama ajushi yang kita temui tadi di lift." ucap Jeon-gu cuek. "Hyeong! Yunki hyeong! Apa kau tak menemuiβ€”" Jeon-gu berteriak memanggil Yunki. Jimmy tau ke mana arah pertanyaan itu segera membekap mulut Jeon-gu dengan tangannya. Sampai sebagian makan yang sedang ia makan tumpah di tangan Jimmy. "Diamlah." bisik Seonin. Jimmy melihat tangannya dengan tatapan jijik. "Aaissh!" keluhnya. "Kau yang membekap mulutku hyeong." "Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Heosok. Tae bergerak seperti berteriak tapi tanpa suara, kemudian ia membuat mimik wajahnya seperti menangis. Semua menatap Tae seperti tersihir oleh pantomim dari si senyum kotak. Tae lalu membuat gerakan berlari, dan terakhir membuat gerakan seperti keluar dan menutup pintu dengan kesal. "Aah, jadi begitu," gumam Namjun, Heosok dan Jeon-gu bersamaan. Sementara Jimmy dan Seojin menatap heran bagaimana ketiga orang ini bisa memahami apa yang di lakukan Tae? "Kalian benar-benar mengerti?" tanya Seojin. Ketiga orang itu mengangguk. Dan Tae kini tersenyum simpul ia bangga pada dirinya sendiri. Yunki berjalan cepat keluar dari kamarnya mengenakan jaket lengkap dengan topi dan masker. Seojin bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri. "Kau mau ke mana?" "Aku akan menemuinya." jawab Yunki ketus. "Hentikan, apa yang akan kau lakukan setelah bertemu dengannya? Kau sedang emosi begitu juga Reya ssi, kalian tak akan menyelesaikan apapun." Seojin berucap lagi. Si pucat menghela nafasnya. "Maafkan aku, hyeong." kemudian berjalan cepat keluar dari ruangan itu. "Omo! Aku merinding melihat Yunki hyeong. Ia benar-benar terlihat seperti laki-laki sejati," ucap Heosok diiringi semyuman khasnya. "Jatuh cinta itu mengerikan," oceh Jeon-gu dengan mulutnya yang penuh dengan makanan. ****** *** * ________________ **Yunki POV** . . . . Aku berjalan keluar dari kamar hotel, semua aman tak ada yang mengikuti. Ke mana gadis itu? Aku mengambil ponselku segera menghubunginya, dan ia tak menjawab panggilan. _________ Aku: Aku menunggumu di taman belakang hotel. Aku akan menunggu sampai kau tiba. Aku benar-benar menunggumu. _______ Aku berjalan cepat menuju taman dan duduk di sana sambil mendengarkan musik dari ponsel. Saat sedang kesal musik adalah penyembuh terbaik. Entah mengapa aku menjadi seperti ini. Aku cemburu? Ternyata seperti ini rasanya. Apa dengan laki-laki itu? Aku tau ia menyukai Reya. Laki-laki mana yang begitu perhatian pada seorang sekretaris. Bahkan ia juga yang menolong Reya saat ada penyusup masuk ke apartemen beberapa waktu lalu. Ia seolah mencari perhatian pada Reya membuatku benar-benar tidak menyukainya. Sudah setengah jam tapi Reya belum juga datang. Sudah aku katakan akan menunggu. Seraya memerhatikan sekitar taman yang sepi. Malam hari di Jepang cukup sepi. Hanya beberapa anak muda yang sedang ngobrol dan minum sake. Aku memejamkan mata. Sejujurnya saat ini tubuhku terasa sangat lelah. Setelah hampir dua minggu ini kami memenuhi semua jadwal di sini. Seseorang melepaskan earphoneku. Aku membuka mata dan melihat Reya dengan mata sembab. Aku melepas masker yang aku kenakan, agar ia bisa menatap ketulusanku. "Bagaimana jika wartawan menemukanmu?" tanyanya dengan suara yang masih terisak. Maaf. Ia merapikan kerah sweater yang tertekuk aku terlalu terburu-buru kemari tanpa mengenakannya dengan baik. Maaf. "Kenapa kau nekat sekali?" Tanyanya lagi dan ia masih saja mengkhawatirkan ku yang jelas-jelas melukainya. Aku hanya terdiam menatapnya sambil berucap maaf dalam hati. Maaf. Ia mengeluarkan sebungkus penghangat dari kantungnya dan meletakkan di tanganku. "Aku akan pergi jika memang tak ada yang harus di bicarakan." Aku menatapnya. "Reya." Ia menatapku penasaran, tatapannya membuat jantungku berdetak dengan cepat. Cup! Aku mengecup bibirnya singkat. Singkat benar-benar singkat. Sebenarnya, aku ingin mencium, melumatnya seraya memeluknya erat. Tapi, ia bukan gadis yang akan aku perlakukan seperti itu. Ia terdiam entah apa yang ia pikirkan. Aku tau ini salah, tapi aku tak bisa menahannya. "Aku mencintaimu, sungguh." ucapku kemudian menatapnya serius. Ia masih terdiam. Aku memegang kedua pipinya yang memerah. "Aku marah karena aku cemburu. Dan karena kau mengacuhkanku." "Yunki-ya." "Jangan katakan apapun karena aku tau kau akan menolak. Kau tak perlu membalas biarkan aku mencintaimu. Sampai kau menyadari perasaanmu." Aku tau jelas perasaanmu akan ku buat kau tak bisa menolakku. Haacceekkhh! Aku menatapnya yang malu setelah bersin. "Maaf," ucapnya malu. Aku tersenyum menatap lalu menggenggam kedua tangannya yang dingin kemudian menghembuskan nafas hangat ku. Aku meletakan kantung penghangat di antara tangannya. "Yunki-ya," panggilnya. Ia akan mengatakan sesuatu lagi untuk menolakku? Kau masih sama. Aku mengenalmu dengan sangat baik. Aku tak akan membiarkannya. "Diam, atau aku akan mengecup bibirmu lagi." ancamku. Ia menaikkan bibir bawahnya. Aku tau ia kesal tapi, ia tak bisa mengalahkanku? Aku berdiri kemudian mengajaknya pergi dari sana gadisku ini kedinginan. Aku menggenggam tangan kirinya dan meletakkannya di kantung jaketku. "Kau sekarang milikku," ledekku. "Tidak akan," jawabnya singkat sambil berusaha menarik tangannya yang ku genggam di dalam jaket, tentu saja aku menahan dan menatapnya senang. ***** ** *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN