💜20. GHSI💜

1452 Kata
"Cinta tak hanya butuh perhatian dan perasaan. Tapi, juga nalar dan pemahaman. Tapi sering kali kita melupakan nalar dan membuang pemahaman, untuk menarik sebuah perhatian dan mendapatkan sedikit perasaan." **** *** * ____________________ **Reya POV** . . . Sudah tiga hari ini aku di Jepang. Jadwal di sini lumayan padat. Dimulai dari pagi kami harus segera mendatangi beberapa perusahaan yang mungkin bisa kami tarik sebagai investor. Berlanjut sampai siang dan malam kami menyusun ulang bahan promosi atau membuat surat perjanjian kesepakatan. Keberangkatan Ku ke Jepang bersama Manager Do dan dua lagi karyawan AT Yaitu, Woozi dan Eunha. Pagi ini aku sudah melakukan pertemuan kecil di lobby. Setelahnya kami akan ke lantai tujuh untuk melakukan rapat dengan salah satu perusahaan konfeksi besar di Jepang. Aku menyukai kerja Manager Do ia bisa dengan mudah meyakinkan para petinggi. Tentu dengan bahasa jepangnya yang fasih. Aku hanya bisa terdiam. Tapi, karena kami bersama Eunha aku dengan mudah memahami karena ia mengartikan semua pembicaraan kami. Aku rasa aku perlu belajar bahasa Jepang darinya. Manager Do dan Eunha berjalan lebih dulu ke lantai 7 sementara aku masih menunggu Woozi di lantai bawah. Sampai kemudian Woozi mengirimiku pesan untuk lebih dahulu ke lantai 7. Karena ia masih akan beberapa menit lagi sampai. Aku berjalan menuju lift. Pintu terbuka, aku masuk ke sana juga seorang laki-laki berlari menuju lift. Aku menahan pintu lift. Laki-laki itu masuk sambil tersenyum padaku. Menunjukkan senyum kotaknya. Tunggu ... sepertinya aku mengenalnya. Aku melirik dari bias di lift karena badan lift terbuat dari situ aku bisa melihat pantulan wajah pria itu. Tae? Dia Taetae BTL?! Ya ampun!! Dia tampan sekali. Kyaaa! jiwa Fansgirlku muncul seketika. Rasanya aku ingin tersenyum di lift itu. Jika ada Tae ... berarti? Pintu lift terbuka, kami sampai di lantai 5. Manager Do masuk ke lift sambil tersenyum. "Kau sudah naik? Aku baru saja mau memanggilmu." "Iya," jawabku sambil mengangguk. Aku berharap hanya bertemu Ta dan tidak bertemu dengan yang lain. Pintu lift lagi-lagi terbuka kami sampai di lantai tujuh. Aku melihat Jeon-gu di sana. "Jeon-gu-kie," Aku mendengar Tae emanggil Jeon-gu, aku memilih diam dan membiarkan Tae keluar lebih dahulu. "Reya nunna?" Sapa Jeon-gu heran. "Jeon-gu aa, anyeonghaseo?" Sapaku sambil melangkah keluar mengikuti manager Do berjalan lebih dahulu. Jeon-gu tersenyum dan membungkuk. "Apa kau mau bertemu dengan—" "Ah tidak." jawabku cepat sambil membalas senyumannya dan berjalan cepat untuk menyusul manager Do. "Aku permisi." Reya Aku mendengar suara Yunki memanggil membuatku sempat terhenti sesaat. Kemudian menjatuhkan map, tak mau ia mengira aku terhenti karena panggilannya. Manager Do berdiri tidak jauh, ia segera mengambil map dari tanganku. "Kau lelah?" Aku hanya menggeleng. Kami berjalan masuk, beruntung untuk kali ini kami menggunakan bahasa inggris. Aku bisa mengerti dan mengartikan tidak memerlukan bantuan Eunha. Selesai rapat saat masih sore dan kini sudah di kamarku. Setelah selesai mandi dengan air hangat kemudian aku merebahkan tubuh. Ini pertama kalinya kami menyelesaikan sebelum malam. Karena sejak di sini kami selalu kembali ke kamar malam karena rapat yang cukup panjang. Eunha malam ini meminta ijin untuk keluar karena ia memiliki keluarga di sini. Saat itu ponselku berdering segera menerima panggilan dari Manager Do. Manager Do mengajakku untuk membeli sesuatu di luar. Apa dia akan mencari contoh kain? Aku segera berganti pakaian dan berjalan keluar. Menuju lantai 3 dan aku sudah melihat Manager Do menunggu di lift lantai tiga. Karena Manager Do dan Woozi tidur di lantai 5 kelas satu. Sementara aku dan Eunha di lantai 3 karena kami kehabisan di kamar lantai 5. "Ayo," ajaknya. Aku mengikuti langkahnya. Ternyata, Manager Do mengajakku menikmati malam di Tokyo. Semua di sini serba cepat. Kami berjalan menuju stasiun kereta bawah tanah. Sedikit ramai karena ini jam pulang kerja, aku nyaris ketinggalan langkah Manager Do. Tapi, ia berjalan kembali dan memegang tangan. Sedikit berdebar tapi rasanya ia hanya takut aku hilang dan membuat masalah baru baginya. Kereta tiba, semua keluar dan masuk hanya dalam hitungan tidak sampai semenit. Ah, benar-benar rapi dan tepat waktu. Di Korea sama ketatnya seperti di sini. Kita benar-benar harus bergerak cepat palli palli. Setelah turun aku melihat banyak orang membuang buku di tempat sampah. Ah gila?! Mereka membacanya ketika sudah tamat mereka akan membuangnya. Kebanyakan yang dibuang adalah koran dan majalah paling banyak majalah dewasa. Kalau, di Indonesia habislah semua bisa untuk membungkus gorengan kan? Kami melangkah ke sebuah restoran. Manager Do memesankan makanan untukku. Bahkan ia menambahkan pesan pada pelayan agar masakan untukku tidak di masak menggunakan sake. (Minuman beralkohol dari Jepang) Tidak butuh waktu lama sampai pesanan kami tiba. Aku menyempatkan mengabadikan makanan yang dipesan. Dan menguploadnya ke twitter. "Ayo, Ambil gambar bersama," ajak manager Do. "Nde?" Ia mengambil ponselku dan mengambil gambar kami berdua. Aku memperhatikan foto yang ia ambil dan juga menguploadnya. Sebenarnya, ingin pamer Kalau aku foto sama oppa korea. Gantengnya mirip sama Kim Soo Hyun pula. "Apa itu mengganggumu?" tanya Manager Do. "Maksudku saat aku meminta foto tadi?" "Tidak, itu tidak menggangu aku senang karena berfoto denganmu." ucapku sambil terkekeh, sesaat aku lupa dan malah berbicara non formal pada manager Do. "Maafkan aku," Manager Do tersenyum, dan menatapku. "Aku senang kau akhirnya menganggapku temanmu. Ayo, makanlah." Saat itu ponselku berbunyi. _____________ Myunki: Oeddiseo? (Di mana?) Aku: Aku sedang di luar. Wae? Myunki: Katakan di mana kamarmu? _____________ Aku tak segera menjawab pesannya. Mengapa ia menanyakan kamarku? Apa ia ingin menanyakan mengapa aku tak mendengar panggilannya. Saat itu ia meneleponku. Aku terdiam sesaat, apa aku harus menerimanya? "Yeoboseo?" "Mengapa kau tak menjawab pesanku?" tanya tanpa membalas salam "Aku bukannya tak mau memberitahu—" belum menyelesaikan kata-kataku ia segera memotong pembicaraan. "Kalau begitu katakan!" suaranya meninggi. Aku terdiam sejenak. Karena, tak mungkin ia ke kamarku. Ada banyak wartawan dam para penggemar yang sengaja menginap di sana. "Aku akan ke kamarmu," "Kau tak bisa kemari, butuh kartu khusus untuk naik ke sini," jawabnya aku tau ia sangat kesal. "Berikan saja nomernya. Tunggu—" ucapku aku memintanya menunggu, aku ingat manager Do juga ada di lantai 5. "Manager Do bisakah aku ikut bersama anda naik ke lantai 5?" "Tentu saja, ada sesuatu?" Aku baru saja berusaha menemukan jalan agar bisa menemui si white cat itu. Tapi ia malah membuatku kesal. "Aku sedang berbicara padamu, bisakah kau lebih sopan denganku?" "Percayalah dan berikan nomer kamarmu." "506," Ia mematikan ponselnya setelah menjawab pertanyaanku. "Ada apa?" tanya Manager Do. "Temanku—" "Apa kita harus segera kembali?" tanya Manager Do. Aku menggeleng dan memintanya kembali melanjutkan makan malamnya. Aku juga memesan beberapa lagi. Untuk kubawa menemui Yunki, ia sangat suka makan daging. *** Aku berjalan bersama Manager Do menuju lantai 5. Aku hanya terdiam sepanjang jalan. "Dimana kamar temanmu?" tanyanya. "506," jawabku singkat. Langkah Manager Do terhenti. Ia menunjukkan kamar 506. "Aku harap kalian berbaikan." Ia kemudian membuka pintu kamarnya yang berada tepat berhadapan dengan kamar 506. Manager Do tersenyum menatapku yang keheranan. "Ini kamarku, 505," ia masuk dan menutup pintu kamarnya. Aku segera mengetuk pintu walau ada bel di sana. Tidak lama aku melihat Yunki membuka pintu, dan berusaha tersenyum padanya. Ia menarik masuk memaksaku berjalan mengikuti. Aku melihat ada Seojin oppa, Jimmy dan Tae. "Ah, anyeonghaseo," sapaku. Ketiganya membalas salamku sambil menunjukkan senyum manis mereka. Setidaknya ini asupan tenaga setelah seharian ini aku lelah dengan pekerjaan mereka kiyowo (imut) sekali. Aku mencolek pundak Yunki ia menoleh. Kutunjukan beberapa kantong plastik berisi makanan yang tadi aku beli untuk mereka. "Makanlah bersama yang lain," ucapku. Ia hanya terdiam menatap kemudian dengan wajah dinginnya mengambil kantung yang kubawa dan menyerahkan pada Tae. "Kamsahamnida ( Terima kasih)," ucap Jimmy dan Tae kompak. Aku tersenyum dan mengangguk, kemudian mengayunkan tangan mempersilahkan mereka makan. "Kenapa kau tak memberitahuku kamarmu?" tanya Yunki. Aku menatapnya heran kenapa ia begitu ingin mengetahui kamarku, "aku takut kau akan ke sana," "Kenapa? Kau menyembunyikan sesuatu?" Menyembunyikan apa maksudnya? Apa ia masih marah saat terakhir kali aku bertemu dan bilang akan membuat dinding pemisah? "Tidak!" jawabku tegas. "Lalu kenapa kau tak menjawabnya saja?!" suaranya mulai meninggi. Aku menatap yang lain kini terhenti makan karena pertanyaannya tadi. "Apa kita harus bertengkar di sini?" tanyaku. "JAWAB SAJA JANGAN BERALASAN!" Deg! Aku paling tidak suka di bentak dan tak bisa di bentak. Jika orang lain yang tidak aku kenal melakukannya mungkin aku akan marah dan memakinya. Tapi, jika itu orang yang dekat denganku. Aku akan menangis semarah apapun. Aku menghela nafas mengatur perasaan berusaha menahan air mata. "Aku takut, di hotel ini ada banyak wartawan dan fansmu menginap. Bagaimana jika mereka melihatmu? Aku tak ingin kau dalam masalah." Aku kemudian berjalan cepat untuk keluar dari kamar sambil menahan tangis yang sudah lolos keluar dari mataku. Yunki menahan ia memegangi tanganku, sementara aku coba melepaskan. "Lepaskan." Ia masih memegangi tanganku. "Maafkan aku." Aku mendorongnya dan berjalan keluar. membuka pintu dan melihat Manager Do masih berdiri di depan kamarnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN