Chapter 5

793 Kata
"Thank's Ash. Thank's for loving this old uncle." Ucap Sean membuat Ashley tersenyum senang. Ia sama sekali tak mempermasalahkan jarak umur mereka yang terpaut14 Tahun. "You're welcome uncle" balas Ashley lalu tanpa diduga, ia memberikan sebuah kecupan di pipi kiri Sean. Sedikit membuat Sean lupa diri dan menahan nafasnya selama beberapa detik. Hanya dengan sebuah kecupan ringan dipipinya yang gadis itu berikan padanya, dapat membuat kembang api meletup-letup dalam benaknya hingga membuat senyuman itu tak pernah luntur dari bibirnya. "Well, malam ini aku tak mengizinkanmu kembali kekamarmu. Karena mulai malam ini, kau harus tidur disini. Menemaniku, dan tidur bersamaku." Cerocos Sean dengan seringai tipisnya, membuat kadar ketampanannya semakin nampak. "What? Are you crazy huh?" desis Ashley membuat Sean mengecup sekilas bibir mungilnya. "No darl, I'm not crazy. Dan jangan mendesis padaku atau aku akan membuatmu kehabisan nafas karena ciumanku." Ancam Sean tepat didepan telinga Ashley, dengan suara yang ia buat se-sexy mungkin, hingga Ashley sedikit bergidik mendengarnya. Melihat reaksi itu pun membuat senyum jail mulai menghiasi wajah Sean, ia pun mendaratkan bibirnya dileher jenjang Ashley, kemudian memberikan banyak kecupan-kecupan kecil, berusaha membuat si empunya bergidik. "Uncle... what.. shit.. what are you doing?!" kesal Ashley diselingi dengan umpatan. Ia masih berusaha menahan desahan yang hampir lolos dari bibirnya dengan umpatannya pada Sean. Mendengar itu pun Sean terkekeh geli. Gadisnya ini benar-benar polos dan lucu, ia pun memindahkan Ashley untuk merebahkan tubuhnya di ranjang, dan ia pun juga menempatkan diri untuk merebahkan tubuhnya tepat disamping Ashley lalu membawa Ashley menuju dekapannya. "You have to sleep now, tomorrow is your final test. Aku akan membantumu belajar satu minggu kedepan selama kau melaksanakan ujian itu." Ucap Sean dengan tangan kanannya yang bergerak mengelus surai panjang Ashley secara lembut. "Thank's uncle, you're the perfect old man that I ever know except my dadd" Ashley memeluk tubuh Sean setelah mengatakannya, membuat Sean merasa bahwa ia menjadi seorang laki-laki terberuntung di dunia yang dapat merasakan pelukan hangat gadis kecilnya ini. "You're welcome my love, dan jangan memanggilku uncle lagi. Aku milikmu, jadi panggil aku dengan panggilan sayang lainnya dear." Protes Sean hingga Ashley pun terkikik geli, ia pun mengangkat wajahnya yang berada didada Sean dan menatap Sean dengan senyuman manisnya. "No!! I can't uncle, kau pantas dipanggil uncle daripada panggilan sayang lainnya" goda Ashley, Sean pun menghela nafas sebalnya. "No Ash, call me darling!" saut Sean dengan tatapan sengitnya. "No Uncle!!" "Call me darling!" "No!!" "Call me!!" "No!" "Ashley.." "No uncle, I can't! I want to call you mine!" seru Ashley dengan senyum manisnya. "Ashley.. kufikir aku menyukai suaramu ketika memanggilku seperti itu. Im yours, that means you're mine. Right?" Senyum pun juga mengembang dibibir Sean, ia kembali meraup bibir Ashley. Menciumnya dengan lembut dan beritme, membuat Ashley benar-benar terbuai ketika lidah milik Sean bergerak membuai bibir serta rongga mulutnya hingga ia benar-benar kehabisan nafas, barulah mereka menyudahi ciuman manis itu. "I take your first kiss right? And I promise that I will became your last kiss dear. Karena aku tak akan membiarkan lelaki lain menyentuhmu selain aku dan daddy mu. Remember it!" ucap Sean dengan wajah seriusnya, yang dibalas anggukan kepala dari Ashley dengan pipi yang merona, ia malu bahwa Sean mengetahui fakta jika itu adalah ciuman pertamanya. Malam itu pun mereka berdua memulai sebuah hubungan yang awalnya mereka fikir salah dan tabu untuk dijalani karena jarak umur mereka berdua serta status Sean yang hanya sebagai sahabat karib Steven Clarkstone Levine, daddy Ashley. Meski tidak menutup kemungkinan bahwa kedua orangtua Ashley akan menentang hubungan mereka, namun cinta serta rasa sayang diantara mereka telah menutupi rasa khawatir dan takut mereka akan masalah yang akan mereka hadapi di depannya. - #At morning Jam dinding telah menunjukkan pukul 6.05, Ashley dan Sean pun telah duduk bersebelahan dengan senyum yang terukir lekat dibibir mereka berdua, membuat seorang wanita paruhbaya berseragam kepala pembantu yang tengah menata menu breakfast dimeja makan pun ikut mengulas senyumnya. "Sepertinya kalian berdua sangat berbahagia, melihat wajah kalian yang berseri-seri membuatku merasa ada banyak malaikat yang beterbangan disekitarku." Ucap wanita paruhbaya itu. "Really? Aku memang benar-benar sedang merasa bahagia Dellean, kau memang pandai menebak suasana." Saut Sean sambil mengedipkan sebelah matanya pada Ashley, membuat pipi Ashley merona. Sean pun terkikik melihat Ashley yang nampak malu-malu. "I'm glad to hear it. Kuharap kalian berdua akan selalu seperti ini." Wanita paruhbaya itu mengatakannya dengan tulus, ia sudah menganggap Sean, tuannya itu sebagai putranya sendiri karena sikap baik Sean meski Sean sering bertingkah dingin dan otoriter. Setelah itu mereka berdua pun makan dalam diam, namun sesekali Sean memperhatikan Ashley yang tengah makan kemudian mengusap lembut pipi gadis itu dan membuat Ashley ikut tersenyum, entahlah.. Sean tak tau apa yang terjadi padanya, yang ia tau ia hanya tengah benar-benar mencintai Ashley. Tak ada seorang wanita pun yang pernah benar-benar membuatnya memiliki perasaan sebesar ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN