Kejutan Kintan berhasil. Sudah lima hari Geo tidak berselera melakukan dan menyantap apa pun. Berkali-kali, di tengah kesibukannya pria itu selalu menatap gambar yang menjadi sumber caruk-maruk hatinya. Dan hari ini, Geo sudah tidak mampu menahannya lagi untuk menemui Kintan segera, demi meluruskan apa pun yang harus diluruskan oleh mereka.
Geo, memencet Bel beberapa kali. Namun, si pemilik rumah belum juga menampakkan dirinya. Pria itu, sempat akan berbalik pergi memutuskan untuk datang di lain hari, sebab menyadari kunjungan kali ini terlalu larut. Akan tetapi, suara pintu terbuka membuat badannya berbalik kembali. Apa dua bulan selama itu? Geo hampir tidak percaya dengan perubahan wajah Kintan. Gadis itu tampak pucat dan lebih kurusan dari sebelumnya. Dia spontan merasa sangat bersalah tidak langsung datang saat menerima pesan.
"Hay?" sapa Geo lirih.
Kintan yang saat itu sempat menampilkan ekspresi terkejut, buru-buru akan kembali menutup pintu rumahnya. Namun, dengan cekatan Geo mencegahnya.
"Gue mau bicara."
"Gue uda kasih tahu lo, kan? Enggak perlu ribet, gue bakalan gugurin ini cebong."
"Cebong? Lo, gila? Itu anak gue!"
Kintan tertawa walau hampir tanpa mengeluarkan suara. "Jangan, bercanda! Lucu banget. Lo bilang apa? Cebong ini anak, lo?"
"Mau lo apa sih, sebenarnya? Lo, mau mainin gue atau apa?"
Kintan melipat kedua tangannya di d**a. Walau terlihat lemah dan sangat pucat tetap saja gadis itu masih memiliki banyak pesona. Geo, bahkan berulang kali merapalkan mantra, agar bisa menahan diri untuk tidak berhambur memeluknya.
"Jujur ya, Ge. Dulu, gue cuma penasaran aja sama lo yang katanya anak baik-baik itu. Ternyata, lo sama aja sama kayak laki-laki pada umumnya."
"Penasaran?"
Agak nyeri sebenarnya mendengar, jika dia hanya sebagai bahan penasaran seorang gadis.
"Lo berharap apa emang? Diem aja begitu saat disodori tubuh seorang gadis? Gue bukan Tom Sang Cong, ya yang imannya gede digoda siluman! Gue pria normal!"
"Apa! Lo ngatain gue silu—“
Mendadak Kintan tidak mampu menyeimbangkan dirinya. Gadis itu hampir saja terjatuh, jika tidak ditangkap oleh Geo. Pria itu membopong Kintan lalu merebahkan tubuh Kintan pada sova ruang tamu dengan perasaan campur aduk.
"Kita ke rumah sakit, ya?"
Geo kebingungan. Keadaan ini awam baginya.
"Lo, gila!" seru Kintan.
Geo mencoba mengais-ngais kesabarannya. "Lo, uda makan?" tanyanya.
Kintan menggeleng lemah. Sudah dua bulan ini dia tidak sanggup memasukkan makanan apapun ke dalam mulutnya dengan mudah.
"Mau makan, apa? Gue, pesenin."
Kintan mengusap air matanya. Kenapa tiba-tiba dia menangis?
"Kenapa menangis? Ada yang sakit?" Geo semakin dilanda kecemasan.
Ditanya seperti itu, air mata Kintan malah semakin deras keluar. Dia sesenggukan.
Geo pun memberanikan diri merengkuh Kintan sambil menepuk-nepuk punggung gadis itu sambil berharap, jika apa yang dilakukan bisa menenangkan. Walau pun, perasaannya sendiri sekarang, juga sangat tidak tenang.
"Tiba-tiba gue pengen sate."
"Ya, udah gue pesenin. Emang ibu hamil boleh makan sate?"
"Bodo amat, gue pengen sate!"
"Oke-oke, tapi punggung lo enggak bolong, kan?"
"Serius, lo bercanda di situasi kayak gini?" Kintan melepas paksa pelukan Geo.
"Yaudah-yauda, gue pesenin."
Kintan menggeleng.
"Kenapa?"
"Gue mau beli langsung. Mau makan di sana sama liat abangnya."
Tanpa menunggu Kintan akan berubah menjadi singa betina, kembali. Buru-buru Geo membantu gadis itu, untuk beranjak dari sova dan jongkok membelakangi Kintan sambil melakukan kuda-kuda.
"Lo, ngapain?"
"Naik sini, gue gendong," tunjuk Geo pada punggungnya.
Menyembunyikan kecanggungannya, tangan Kintan bergerak memukul kepala Geo dari belakang. Gadis itu berjalan mendahului sambil menutupi jantungnya yang mulai tidak terkendali.
"Sumpah? Lo, mau makan sate segini banyaknya? Lo, enggak takut jadi siluman sate habis ini?"
"Lo bisa diam enggak, si?"
"Pelan-pelan makannya. Ngga ada yang minta. Udah nanti perut lo sakit, Kintan."
Kintan, mengabaikan Geo. Gadis itu sendiri sebenarnya juga bingung, kenapa nafsu makannya mendadak kembali, setelah dua bulan rasanya seperti mau mati.
"Gue mau ke toilet."
Geo menoleh ke kanan dan ke kiri. Untungnya, tak jauh dari mereka terdapat pom bensin di seberang jalan. Belum sempat pria itu menjawab, Kintan sudah berlari meninggalkannya. Buru-buru, Geo membayar sate-sate tadi dan langsung mengejar Kintan yang lebih dulu meninggalkannya.
"Gue masuk, ya?" pinta Geo saat mendengar suara Kintan yang kesakitan. Pria itu tahu, saat ini Kintan sedang memuntahkan semua isi yang ada di dalam perutnya.
"Gue bunuh, ya lo! Sampai lo berani masuk!"
"Iya, bunuh aja gue nanti," balas Geo sudah berdiri memegang leher belakang Kintan dan memijatnya. "Ini, gue tadi sempat beli minyak kayu putih," sambungnya masa bodoh.
Kintan mengusap bibirnya. Matanya berkaca-kaca. "Ini semua gara-gara lo! Gue kayak gini gara-gara lo!"
Geo, tercekat. Pria itu kacau. Bahkan, seolah ia ikut merasakan apa yang saat ini dirasakan oleh Kintan. Apa, orang hamil semenyakitkan ini?
Kintan tergugu. "Sate gue ... sate gue jadi terbuang sia-sia, kan?"
"Iya, nanti gue beliin lagi satenya. Kalau perlu sama abang-abangnya."
Kintan, berdecak. "Kenapa, sih gue pakai hamil segala! Kenapa, lo hamilin gue!"
"Lo lupa? Lo sendiri kan yang nyamperin gue?" Tangan Geo tak lepas memijat leher belakang Kintan.
"Cuma sekali, anjir! Kenapa, sama lo malah jadi?"
"Ya mana gue tahu! Lo sendiri yang suruh gue gak perlu pakai pengaman? Lo bilang lo uda profesional masalah ginian?"
"Gue harus segera nyingkirin cebong ini!"
Tangan Geo berhenti memijat. Bibir pria itu, bergetar. "Lo bisa berpikir ulang, enggak? Gue bakal tanggung jawab. Apa pun yang terjadi gue pasti tanggung jawab."
"Gue gak butuh tanggung jawab, lo!"
Geo mengusap wajahnya. "Kenapa, lo nyamperin gue waktu itu?"
"Udah gue bilang kan, gue cuma penasaran sama lo!"
"Ada emang ya yang kayak gitu? Terserahlah, apa kata lo. Sekarang kita ke rumah sakit."
"Ngga! Gue gak mau ke rumah sakit!"
"Lo batu amat, sih! Kalau lo kenapa-kenapa, gimana? Kalau anak gue kenapa-kenapa, gimana?"
"Pokoknya, gue gak mau ke rumah sakit!"
Geo, memijat pelipisnya frustrasi. "Oke, kalau gitu mau lo apa?"
"Gue mau bubur ayam."
"Ha? Oke-oke, besok gue beliin."
"Mau sekarang."
"Mana ada bubur ayam jam satu pagi, Kintaaaaan."
"Ngga mau tau!"
"Oke, ke apartemen gue sekarang. Gue buatin lo di sana."
"Lo bisa?"
"Lo enggak tau ada teknologi yang namanya youtube?"
Kintan, benar-benar bingung. Kenapa, mendadak nafsu makan dia bertambah? Apalagi saat melihat Geo. Apakah cebong di dalam perutnya tahu, jika pria di depannya itu adalah papanya. Papa? Pipi Kintan langsung bersemu membayangkannya.
"Lo, kenapa? Rasanya aneh, ya?"
Kintan menggeleng. Bahkan bubur ini adalah bubur terenak yang pernah ia makan selama tiga puluh tahun ini.
"Lo, bisa masak?"
"Lumayanlah," Baru kali ini Geo bersyukur mamanya selalu menyetok bahan makanan untuknya.
"Abis ini lo tidur aja di kamar gue. Ini sudah malam. Besok aja gue antar ke rumah lo, sekalian gue berangkat kerja."
"Lo mau tidur sama gue?"
"Lo gila!" Geo hampir tersedak ludahnya sendiri mendengar pertanyaan Kintan yang tidak masuk akal. Gadis itu memang sungguh ajaib. Dia benar-benar tidak takut dan merasa terancam satu ruangan dengan pria asing. Apa, jangan-jangan Kintan memang tidak pernah benar-benar menganggapnya seorang pria?
"Gue cuma pengen peluk."
Geo menggelengkan kepala. Setelah dirasa mangkok bubur tadi sudah bersih tidak tersisa. Dia mendorong tubuh Kintan untuk segera memasuki kamarnya. Mungkin, ini sudah terlalu larut jadi membuat pikiran gadis itu tidak berfungsi sebagaimana fungsinya.
Namun, bukan Kintan kalau menyerah begitu saja. Gadis itu malah menarik paksa Geo memasuki kamar. Beberapa saat mereka saling adu, siapa yang menang dan kalah hingga gigitan Kintan melemahkan pertahanan Geo. Pria itu didorong dan ditendang hingga terjatuh di atas ranjangnya. Sebelum Geo sempat melarikan diri tubuhnya sudah ditindih oleh Kintan. Mereka saling berhadap-hadapan persis drama-drama percintaan.
"Please, Kintan ... jangan kayak gini. Ini uda jam tiga pagi. Besok gue juga harus kerja." Geo masih berusaha keras melepas cengkeraman Kintan. Agak heran sebenarnya, kenapa seorang gadis dengan wajah pucat dan lemah tadi mendadak memiliki banyak kekuatan seperti ini?
Wajah Kintan bergerak maju mendekat, namun Geo segera menghindarinya.
"Lo mau godain gue, lagi?" tanyanya tanpa melihat wajah Kintan. Posisi mereka bukan posisi wajar untuk saling berbicara. Bergerak sedikit saja, Geo pasti akan menyesalinya.
"Kalau ngomong itu liat lawan bicaranya."
Namun, Geo tetap pada pendiriannya. Dia sudah tidak mau kembali mengulangi kesalahan yang sama.
"Lo, bisa turun dulu enggak dari sini?"
Kintan menggeleng.
"Gue cuma mau peluk tahu."
Geo menghela napas panjang-panjang. "Iya iya gue peluk lo. Tapi, lo turun dulu dari sini."
"Lo nggak bohong, kan? Kayaknya, cebong yang ada di dalam perut gue ini yang pengen dipeluk deh sama papinya."
Wajah Geo memanas. Pria itu menoleh dan bertemu tatap dengan Kintan. Mereka masing-masing saling diam. Mungkin, terlalu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hampir saja Kintan keceplosan mendorong maju bibirnya untuk menyambangi bibir pria di bawahnya. Untung saja Geo mulai bersuara.
"Papi, ya?"
Kintan berdehem. "Iya, lo kan yang punya spermanya, kan?"
Geo memejamkan mata kemudian menarik tubuh Kintan untuk berada di sampingnya selanjutnya memeluk gadis itu erat. Rancu, dia benar-benar tidak bisa berpikir jernih sekarang. Pria itu, bahkan tidak bisa membedakan mana benar mana salah, sekarang.