Kejutan
Bunyi alarm yang saling adu dengan dering ponsel tidak lantas membuat pria dua puluh lima tahun itu membuka matanya. Geo baru bergerak mengucek kedua matanya saat teriakan sang mama terdengar menggema menggedor-gedor pintu kamarnya. Sungguh, suara sang mama lebih horor dari film horor mana pun yang pernah dilihatnya.
"Mama hitung sampai sepuluh ya, kalau pintu ini enggak segera dibuka mama dobrak biar enggak usah pakai pintu sekalian!"
Geo buru-buru berlari sembari memakai kaosnya. Pria itu tahu sang mama tidak hanya sekedar menggertaknya. Pemegang kendali di keluarganya itu akan benar-benar mengenyahkan pintu kamarnya, jika dia tidak segera menyetorkan muka. Apa, Geo sudah pernah bercerita, bahwa mamanya adalah mantan atlet judo? Sudah bisa dibayangkan, bukan? Seberapa besar kekuatannya?
"Mama, kenapa pagi-pagi sudah ada di apartemen Geo, si?"
Wajah sang mama berubah menjadi sedih sambil berlagak mengusap air mata yang tidak ada. Ok, Geo harus memasang ancang-ancang segera. Tidak ada kata melo bagi sang mama, jadi dia harus waspada.
"Sedihnya, kenapa sih anak-anak enggak ada yang mau dekat mamanya?" Ranti mengambil sapu yang ada tak jauh darinya. Ekspresi sedih tadi sepersekian detik berubah. "Pulang enggak pernah, telepon enggak pernah, ditelepon juga enggak diangkat! Terus ditemui malah tanya, kenapa? Dasar anak durhaka! Mau mama kutuk kamu jadi batu! Hah? Punya anak dua semua sama saja!"
Geo berlari ke sana kemari menghindari sapu yang menjadi saksi betapa kekerasan dalam rumah tangga adalah hal yang biasa saja di keluarga mereka.
"Mama ih, uda. Ampun!"
Perempuan berusia lima puluh tahun itu menghela napas. "Itu tadi uda mama masakin. Jangan makan roti terus! Bule juga, bukan! Noh, uda mama masakin ayam kecap kesukaan kamu."
Geo cuma mangut-mangut saja. Masalahnya, hanya roti yang sat-set, mudah, dan bisa langsung dimakan.
"Kamu, enggak kerja?"
Geo melebarkan mata saat baru mengingat bahwa ada kegiatan yang namanya bekerja. Buru-buru ia berlari menyiapkan diri agar tidak terlambat nanti.
Pria itu mengecek ponsel miliknya sebelum pergi. Pandangan matanya tertuju pada dua puluh sembilan panggilan suara tak terjawab dari tunangan kakaknya. Dia mengernyit keheranan. Untuk apa gadis itu meneleponnya? Bukannya, dia bilang sudah tidak mau menemuinya lagi setelah kejadian itu? Apa, dia berubah pikiran? Jadi, kembali akan mengganggu Geo seperti beberapa bulan yang lalu?
Iya, hidup Geo yang lempeng dan damai tiba-tiba harus menanggapi keanehan gadis yang dua tahun ini menjadi tunangan dari kakaknya. Dan sialnya, walau Geo sudah berusaha keras menghindarinya, namun pada akhirnya dia kalah juga.
"Papa peri kita tumbenan baru sampai? Apa di kayangan lagi ada demo jadi macet jalanannya?"
Sindiran langsung ia terima, padahal baru saja Geo mendaratkan bokongnya.
"Hahaha! Lucu sekali," balas Geo sekenanya menanggapi Rendra, teman kantornya.
Ponsel milik Geo lagi-lagi bersuara. Ada nama sama yang tadi menghadiahinya dengan dua puluh sembilan panggilan tadi. Sengaja pria itu hanya menatapnya saja sampai bunyi ponselnya berhenti.
"Minimal lo silent, Best! Ini ruangan bukan milik lo doang kali. Bagi dong kopinya." Tanpa menungu persetujuan, Rendra langsung menyerobot kopi Geo.
Geo tidak benar-benar mendengar apa yang diucapkan Rendra saat sebuah pesan gambar diterimanya. "Ini gambar apa ya, Ren?" tanyanya sembari menunjukkan sebuah pesan gambar benda pipih yang memiliki strip garis dua horizontal pada ponsel miliknya.
Rendra mengusap dagunya seolah berpikir. "Ooh, itu kan alat buat cek kalau kita kena covid, Ge," balas pria itu dengan sok pintarnya.
"Covid? Masih zaman ya emang covid, sekarang?"
"Laah, lo kira? Masih banyak ege yang covid di Jakarta. Lo ke mana aja?" Rendra tampak berpikir lalu buru-buru mengusap mulut dan menyemprot Geo dengan hand sinitizernya. "Lo, kenak covid? Anjir! Gue barusan minum kopi lo!"
Raya yang juga pacar Rendra memukul lengan pria itu. "Udah gue bilangin juga, jangan suka menyerobot minuman orang! Gak mau gue deket-deket sama lo!"
Geo mengerutkan keningnya. Pria itu, sebenarnya kurang begitu yakin dengan jawaban Rendra. Tapi, dia juga tidak percaya diri dengan apa yang dipikirkannya.
"Jangan dong, Sayang ... aku enggak bisa kalau enggak deket sama kamu...."
"Apa, si ribut-ribut?" Firly yang juga teman kerja Geo mulai terganggu dengan kealay-an pasangan baru.
"Itu si Geo kena covid. Liat deh di ponselnya," tunjuk Rendra pada ponsel milik Geo.
Firly, terdiam beberapa saat menatap ponsel dan si pemiliknya bergantian. "Siapa yang hamil?"
"Hamil?" tanya Geo, Rendra, dan Raya serempak.
"Iya itu test pack, pe-ak! Kalian pikir, apa?"
"Rendra bilang itu alat buat cek, kalau kita kena covid?"
"Sejak kapan omongan Rendra lo percaya?"
Geo mengambil ponsel miliknya menatap saksama gambar yang dikirimkan oleh Kintan. "Hamil, ya?" tanyanya lebih kepada dirinya sendiri.
"Siapa yang hamil, Ge? Nyokap, lo?" tanya Raya yang mulai penasaran dengan gambar barusan.
Geo menggeleng lemah dengan masih menatap gambar yang baru saja dibuat perdebatan mereka tadi. Rasanya kepalanya mendadak kosong.
"Terus? Lo yang hamil?"
"Si t***l!" seru Raya kepada pacarnya sendiri.
Geo memijat pelipisnya mendongak menatap ketiga temannya. "Gimana ini, Guys?"
"Gimana, apanya?"
"Masalahnya, bukan nyokap gue yang hamil." Ada jeda beberapa saat, hingga pada akhirnya Geo memejamkan mata erat-erat kemudian menatap Raya, Firly, dan Rendra bergantian. "Tunangan kakak gue yang hamil."
Raya menghela napas. "Gue kira pacar lo. Terus gue tadi sempat mikir, lo kan jomblo dari orok. Enggak, mungkinlah. Ya uda, si. Lagian, kakak lo juga bentar lagi nikah, kan?"
"Iya, kayak enggak tau gimana anak muda aja sih, lo?" lanjut Rendra.
"Masalahnya, Guys. Bukan kakak gue yang ngehamilin tunangannya. Tapi, gue."
"Apa!" teriak ketiga temannya bersamaan.
"Kok bisa si, Ge?"
"Ya masak gue harus ceritain detailnya si, Fir?"
"Bukan itu maksudnya bapak Geo g****k Dirgantara!" Sepertinya, Firly mulai frustrasi menghadapi kawan-kawannya.
"Habisnya dia nawari gue buat gituan. Gue, kan mauan anaknya."
"Geooo, sing eling Geoo!" seru Raya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Gak bisa berkata-kata gue. Cuma tepuk tangan yang bisa gue lakuin untuk mengapresiasi kegoblokan Anda yang haqiqi." Rendra dengan semangat empat lima bertepuk tangan di tengah kegundahan ketiga kawannya.
Ponsel Geo kembali berbunyi. Dengan berbekal semangat dari ketiga temannya. Pria itu pun memberanikan diri untuk menekan tombol hijau pada layar ponsel miliknya. Agak lama dia diam saja, begitu pula Kintan di seberang sana. Kemudian walau ragu Geo pun bersuara.
"Halo?"
"Enggak usah ribet. Gue bakalan gugurin ini cebong!" Dan panggilan itu pun diputus secara sepihak.
Bahu Geo melorot. Otaknya tiba-tiba beku. Dia tidak bisa berpikir jernih sekarang. Ini terlalu mendadak buatnya.