Senja berjalan di koridor sekolah yang masih sepi. Ia hendak pergi ke kelas Raksa seperti biasanya. Kali ini dengan membawa kotak bekal yang isinya nasi goreng buatan sendiri.
Tak sengaja Senja berpapasan dengan Amara. Senyum meremehkan terlihat di bibir cewek itu. Tentu saja membuat Senja merasa aneh. Kenapa juga Amara harus meliriknya seperti itu?
"Raksa," panggil Senja saat ia melihat keberadaan Raksa di kelas.
Raksa hanya menoleh sekilas. Kelasnya terlihat sepi karena ini masih pagi. Dengan antusias Senja duduk di samping cowok yang tengah memainkan ponselnya.
"Nih, Sa!" Senja menaruh kotak bekal itu di depan Raksa. "Gue buatin lo nasi goreng."
"Gue udah sarapan."
"Kalo gitu, simpen aja dulu buat istirahat nanti," usul Senja.
Raksa tak menjawab, ia masih sibuk dengan ponselnya.
"Lo lagi ngapain sih, Sa? Sibuk banget perasaan." Senja yang penasaran lantas menengok ke arah ponsel Raksa.
"Ganggu banget sih lo," desis Raksa.
"Gue bakalan tetep ganggu lo sampe lo suka sama gue," balas Senja.
"Kenapa sih, Ngab? Suram banget muka lo."
"Hancur hati gue, Vin."
Senja menoleh pada Ervin dan Alga yang baru saja datang. Ketika melihat wajah muram Alga, Senja bertanya, "Kenapa lo, Ga?"
Bukannya menjawab, Alga malah menghela napas lelah.
"Bau-bau orang yang gagal move on nih pasti," cetus Senja.
"Tadi dia liat Elijah. Dia dianterin sama doi barunya," ujar Ervin.
Bibir Senja berkedut, berusaha untuk menahan tawa yang pada akhirnya lepas juga. Pasalnya, sudah berbulan-bulan Alga putus dengan Elijah, tapi Alga masih belum move on juga.
"Keselek baru nyaho lu!" celetuk Ervin.
"Idup lo ngenes banget, Ga. Mau gue bantuin lo balikan gak?" tawar Senja tanpa menghiraukan Ervin.
Alga yang semula murung, kini menjadi antusias. "Mau, Ja. Lo mau bantuin gue?"
Senja mengangguk pasti. "Tapi ada syaratnya."
"Apa? Apa?" heboh Alga.
Senja memberikan kode dengan tangannya agar Alga mendekat. Ia membisikan sesuatu di telinga Alga.
"Gak baik bisik-bisik di depan orang," ketus Ervin yang mereka hiraukan.
Alga manggut-manggut sebelum akhirnya berujar, "Sip. Lo tenang aja, semua aman."
"Yaudah kalo gitu, gue mau ke kelas dulu. Babay, sayangku...," pamit Senja pada Raksa.
Raksa yang mendengar itu lantas menatap Senja tajam, tapi cewek itu malah terkikik sebelum akhirnya keluar dari kelasnya.
Ervin melirik kotak bekal di depannya. "Wah, kebetulan gue lagi laper. Lo kasih ini ke gue aja ya, Sa?"
Plak!
Alga langsung memukul tangan Ervin yang hendak menyentuh kotak bekal itu, sehingga Ervin meringis akibat ulahnya.
"Apaan sih, lo?" kesal Ervin.
"Jangan disentuh, itu buat Raksa!" tegur Alga.
"Emang Raksa mau nerima?"
Raksa langsung meraih kotak bekal itu dan memasukannya ke dalam laci meja. Tentu saja tindakkannya itu membuat Ervin melongo. Sedangkan Alga tersenyum puas.
Akhirnya misi yang Senja berikan pada Alga terselesaikan tanpa harus mengerahkan tenaga. Alga telah memenuhi syarat untuk menerima bantuan dari Senja agar bisa dekat lagi dengan Elijah.
"Lah? Sa, kok-?" Ucapan Ervin tak tersampaikan sepenuhnya.
"Kenapa?" tanya Raksa.
"Itu gak dikasih ke gue aja?"
"Nanti mau gue makan."
Ervin menatapnya dengan ekspresi tak percaya. Baru kali ini Raksa mau menerima pemberian dari Senja. Kecurigaan tiba-tiba menghampiri Ervin. Tapi kecurigaannya itu tak berlangsung lama karena seorang guru masuk ke kelas bertepatan dengan bel yang berbunyi.
***
Baru saja Senja keluar toilet, tapi suasana hatinya langsung hancur ketika dirinya berpapasan lagi dengan Amara. Kali ini tidak hanya berpapasan, Amara berhenti tepat di hadapan Senja.
Senja memutas bola matanya kesal. "Minggir!"
"Pembunuh," cetus Amara dengan tersenyum culas.
Tubuh Senja langsung menegang ketika satu kata itu keluar dari mulut Amara. Kata itu berpengaruh pada perasaannya saat ini. Perasaan ketakutan tanpa alasan yang jelas.
"Maksud lo apa?" tanya Senja mencoba untuk tenang.
"Lo pembunuh. Masih mau ngelak?"
Tatapan Senja kini menajam. Emosinya benar-benar tersulut. Dia mengepalkan tangannya untuk mencoba meredam emosi.
"Kenapa diam? Ternyata bener ya?"
PLAK!
Emosinya tak bisa lagi Senja tahan. Tangannya spontan menampar pipi mulus Amara dengan keras. Amara yang tak terima dengan perlakuan kasar itu langsung menjambak rambut Senja.
Tentu saja Senja juga membalas jambakkan itu. Kini mereka saling menjambak dan saling mencakar hingga menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.
"KENAPA LO TAMPAR GUE?" teriak Amara.
"HARUSNYA GUE YANG TANYA KENAPA LO GANGGU GUE?!" jerit Senja tak mau kalah.
Tangan Senja yang lain mencakar wajah Amara hingga terdengar suara jeritan lawannya itu. Sebelum akhirnya ia kembali menguatkan jambakan di rambut Amara.
"LEPAS, JA! LO BUAT GUE KESAKITAN!"
"GAK! SEBELUM LO LEPAS TANGAN KOTOR LO ITU DARI RAMBUT GUE, GUE GAK AKAN LEPAS!"
Amara meringis kesakitan. Kini mereka saling menarik satu sama lain. Sampai-sampai kerumunan tercipta dengan melingkar di antara mereka.
"SENJA!"
Sentakkan seseorang itu membuat Senja terdiam tanpa melepaskan jambakannya di rambut Amara, meskipun cewek itu sudah menyerah terhadapnya.
"Lepasin tangan lo dari rambut Amara!" titah Raksa yang tiba-tiba datang.
"Gak!" bantah Senja yang mengeraskan jambakkan hingga Amara meringis kesakitan.
"Gue bilang lepas!" Tatapan Raksa menajam kearahnya.
Senja melepaskan jambakkannya dengan kasar sampai Amara kesakitan. Dengan cepat Raksa membawa Amara ke belakang tubuhnya.
"Kenapa lo lakuin itu?" tanya Raksa.
"Maksud lo?" heran Senja, "Lo salahin gue?"
"Kenapa lo jambak rambut Amara?!" sentaknya.
"Amara juga jambak rambut gue, lo gak liat rambut gue juga berantakan?!" Senja balas membentak Raksa.
"Sekarang lo ikut gue ke ruang OSIS!" perintah Raksa.
Mau tak mau Senja ikut ke ruang OSIS bersama Amara. Terpaksa, lebih tepatnya. Jika ia tidak menuruti Raksa, pasti akan lebih berat hukumannya. Bisa-bisa ia diseret langsung ke ruang BK.
Yang semulanya ruang OSIS di isi oleh beberapa anggota, kini kosong karena Raksa menyuruh mereka semua keluar. Lalu, Raksa duduk di depan Amara dan Senja yang tengah berdiri bersampingan.
"Jadi, kenapa kalian berdua bertengkar?" tanya Raksa memulai pembicaraan.
Bukannya menjawab, Senja malah mendelik sinis kearah Amara. Senja sampai jijik melihat Amara yang seolah menjadi korban. Wajahnya yang lugu sangat berbeda jauh dengan yang Senja temui saat di depan toilet tadi.
"Gak ada yang mau jawab?" tanya Raksa lagi saat Senja dan Amara sama-sama diam.
"Senja tiba-tiba serang gue, Sa," adu Amara.
Senja sontak mengaga tak percaya dengan apa yang Amara katakan. Jelas itu kebohongan, padahal dia sendiri yang mencari masalah padanya.
"Sialan lo!" desis Senja yang akhirnya mendapat tatapan tajam dari Raksa.
"Apa yang dia ucapin itu, bohong. Gue gak sama sekali nyari gara-gara sama dia. Dia sendiri yang mulai duluan." Senja berusaha melakukan pembelaan.
"Jadi, apa yang buat lo marah sampai bisa sekasar itu sama Amara?"
Pertanyaan Raksa tiba-tiba membuat Senja bungkam. Tidak mungkin Senja memberitahu cowok itu. Raksa pasti akan semakin membenci Senja jika mengetahui tentangnya.
"Kenapa lo diem?"
"Gue beneran gak salah, Sa. Dia yang mulai duluan!" tunjuk Senja pada Amara.
"Kalo gitu jawab pertanyaan gue, apa yang buat lo marah sampai sekasar itu sama Amara?" Suara Raksa naik beberapa oktap.
Raksa menghela napas pasrah ketika melihat Senja yang malah terdiam lagi. "Minta maaf sama Amara!"
Senja jelas tak terima. "Gak mau, gue gak salah!"
"Kalo lo gak salah, kenapa lo gak jawab pertanyaan gue?"
Senja menghela napasnya berat. Ia tidak tahan dengan semuanya. Apalagi saat Senja melihat Amara yang seolah-olah menderita karenanya dan Raksa malah membelanya. Padahal jelas-jelas Senja tidak bersalah.
"Seharusnya lo yang minta maaf sama gue!" sentak Senja pada Amara.
Sedangkan Amara ketakutan saat Senja hendak menyerangnya lagi.
"SENJA!" bentak Raksa.
Tindakkan Senja yang hendak menjambak Amara lagi terhenti oleh bentakan Raksa.
Mata Senja menatap tajam kearah Raksa saat ini. Sangat jauh berbeda dengan Senja yang Raksa kenal. Kini cewek itu memiliki aura yang berbeda dari sebelumnya.
"Denger gue baik-baik, gue gak bersalah dan gue gak mau minta maaf sama cewek ini!" tekan Senja sebelum keluar dari ruangan OSIS.
Teriakan Raksa yang terus memanggilnya, Senja hiraukan. Sekarang ia hanya butuh ketenangan untuk mendinginkan kepalanya sendiri. Ia cukup tertekan dengan ucapan Amara beberapa waktu lalu. Kenapa bisa cewek itu mengetahui masalalunya?
Tanpa Senja sadari, kakinya melangkah ke tempat yang sering ia jumpai. Rooftop. Ia menenangkan diri di sana. Menghirup udara sebanyak-banyaknya ke dalam rongga paru-paru yang terasa sesak.
Sementara di ruang OSIS, Raksa tak lagi mengeluarkan kata-kata lagi semenjak Senja keluar. Ia melirik Amara yang masih berdiri di tempatnya.
"Sa, gue beneran gak salah," elak Amara.
"Kali ini kalian gue maafin. Tapi kalo hal ini terjadi lagi, gue pastiin bukan OSIS lagi yang tangani, tapi guru BK," papar Raksa.
"Lo boleh pergi," lanjutnya.
Amara keluar dari ruang OSIS. Kini hanya Raksa sendiri yang berada di ruangan itu. Ia merasa tidak enak sudah berkali-kali membentak Senja.
Sedari dulu, perasaan ini belum pernah muncul di hatinya. Tapi kenapa perasaan ini baru muncul sekarang? Berkali-kali ia merasakan hal aneh di hatinya.
Raksa keluar dari ruang OSIS, segera menyusul kemana perginya Senja. Ia berniat meminta maaf. Tapi sebelum itu, Raksa mampir ke UKS untuk mengambil plester karena tadi ia sempat melihat luka goresan di dagu Senja.
Apakah Raksa kini tengah memperdulikan Senja? Tidak mungkin ia mulai menyukai Senja. Jika benar, kenapa perasaan itu baru muncul sekarang?
Raksa tahu kemana perginya Senja. Rooftop. Ya, Raksa yakin Senja pergi ke tempat itu. Saat ini, rooftop adalah tempat ternyaman untuk melarikan diri.
Namun, saat kakinya sampai di ambang pintu rooftop, suara gelak tawa masuk ke dalam pendengarannya. Dengan hati yang terasa disentil, Raksa meremas plester yang ada di tangannya.
"Gila lo, gimana kalo nyokap lo marah?"
"Dia gak bakal marah sama anaknya yang ganteng ini."
Senja sekarang tengah bersama Aster. Raksa merutuki kebodohannya karena sudah membuang-buang waktu untuk memperdulikan cewek itu.
"Kemarin gue berantem sama sepupu gue," ucap Aster.
"Terus?"
"Nyokap gue liat. Dan akhirnya kita dihukum. Lo tau apa hukumannya?"
"Apa?" tanya Senja antusias.
"Gue di suruh cium pipi dia, begitupun sebaliknya. Jijik anying beneran!"
Tawa Senja pecah mendengar cerita Aster. "Lo beneran cium dia?"
Aster mengangguk. "Bukan cuma sekali, sepuluh kali. Lo bayangin gimana kita berdua saling cium pipi."
Lagi-lagi Senja membalasnya dengan gelak tawa yang terlihat puas.
Sedangkan Raksa yang memperhatikan mereka menahan kekesalan tanpa alasan. Tak mau berlama-lama melihat keakraban itu, dia pergi sebelum melempar plester ke sembarang arah. Jika dia terus berada di sana, hatinya tidak akan baik-baik saja.
"Lagi-lagi. Buruan lo cerita lagi!" seru Senja.
"Pasang dulu plesternya!" titah Aster.
Sebelum menyusul Senja kesini, Aster sempat mampir terlebih dahulu ke UKS untuk mengambil plester. Ia tadi melihat pertengkaran Senja dan Amara. Jadinya, Aster siap siaga, karena Senja pasti akan terluka.
Senja nurut. Ia memasang plester itu di dagunya yang sedikit lecet. Tapi ternyata cukup susah menempelkannya sendiri tanpa melihat cermin.
"Sini biar gue aja." Aster mengambil alis plester itu.
Tubuh Senja tiba-tiba menegang melihat wajah Aster dalam jarak sedekat ini. Meskipun tatapan cowok itu terarah pada dagunya, tapi ia menjadi kikuk.
Aster menempelkannya dengan pelan dan penuh ke hati-hatian.
"Udah belum?" tanya Senja.
"Udah," ujar Aster, kambali ke posisi semula.
Senja bernapas lega dan membiasakan kembali tubuhnya yang kurang sinkron. Bagaimanapun juga, Aster itu termasuk cogan. Wajar jika ia grogi ketika berada di posisi sedekat tadi dengan Aster.
"Gue gak nyangka bisa seakrab ini sama lo," ucap Senja.
"Siapa yang sangka. Kita jadi teman sekarang, bener gak?" balas Aster.
Senja tersenyum senang dan mengangguk. Mereka bertos ria.
"Gue seneng bisa temenan sama lo."