Senja merintih kesakitan. Selesai memakai seragam, tiba-tiba rasa sakit menyerang kepalanya. Kini wajahnya sudah pucat. Baju seragam pun sepertinya sudah kusut akibat dia yang kini tersungkur di atas karpet.
Yang Senja harapkan sekarang hanyalah rasa sakit itu berhenti menggerogoti kepalanya. Deruan napas semakin mengeras bersamaan dengan rintihan yang ia tahan. Senja Takut orang rumah mendengarnya.
Hidupnya begitu tidak beruntung. Di saat seperti ini pun, tidak ada yang menemaninya. Senja harus benar-benar mandiri. Rasa sakit yang sering datang itu, selalu ia nikmati.
Pasrah. Itu yang Senja lakukan saat ini. Memejamkan mata adalah satu-satunya cara untuknya menikmati rasa sakit.
Beberapa butir obat sudah Senja minum tanpa air. Ia hanya harus menunggu rasa sakit itu mereda. Bulir keringat yang menetes di dahinya tak lagi ia pedulikan.
Beruntungnya, perlahan demi perlahan rasa sakit itu akhirnya mereda juga. Ya, yang harus ia lakukan hanyalah bersabar.
Setelah rasa sakit itu hilang. Senja bangkit, ia harus menguatkan tubuhnya kembali. Ia tidak boleh lemah di depan siapapun apalagi di depan keluarganya. Ia paksakan dirinya untuk pergi ke sekolah meskipin tubuhnya masih lemah.
Ketika Senja hendak keluar rumah, ia berpapasan dengan Vano. Senyuman ramah Senja perlihatkan pada kakaknya itu. Tahu apa eskpresi Vano sekarang? Seperti biasa, cowok itu akan meliriknya dengan sinis.
Di saat kedua kakaknya menaiki mobil mewah untuk pergi ke sekolah, Senja hanya akan berjalan kaki menuju halte untuk menunggu bus yang akan ia tumpangi.
Tak ada basa-basi dari kedua kakaknya untuk sekedar mengajaknya berangkat bersama. Kehadiran Senja di rumah ini seperti benalu, bahkan sama sekali tak dianggap.
"Gak papa. Cuman lihat kalian bahagia aja, hati Senja udah senang. Kalian harus selalu bahagia ya," ucap Senja dengan menatap sendu kearah mobil yang sudah melaju jauh di depannya.
Senja sampai di sekolah setengah jam setelahnya. Matanya berbinar ketika melihat Raksa yang kebetulan baru saja keluar dari mobilnya di parkiran.
"RAKSA!" teriak Senja.
Raksa menoleh, tapi hanya sekilas. Setelahnya cowok itu melanjutkan langkah untuk memasuki gedung sekolah.
"RAKSA!" teriak Senja lagi, kali ini ia menyusul Raksa dengan langkah cepat.
"Raksa!" Akhirnya Senja sudah berjalan beriringan di samping Raksa.
"Sa? Gimana tidur lo tadi malem? Nyenyak gak? Pasti lo mimpiin gue."
"Jangan mimpi."
Senja menggeleng dengan cepat. "Enggak kok. Semalem gue gak mimpi."
Raksa mendengus mendengar ocehan Senja. Dan Senja dengan sigap berdiri di depan cowok itu tiba-tiba, sehingga Raksa harus ngerem langkahnya mendadak.
Yang pertama kali Raksa lihat adalah senyuman ceria di bibir Senja. Ia sempat terpana beberapa detik. Namun kembali tersadar.
Senja memperlihatkan sesuatu di tangannya. "Buat lo. Bagus gak?"
"Gak."
"Ihh, ini tuh bagus tau. Gue kemarin beli di pinggir jalan," ucap Senja yang mengamati gelang yang ada di tangannya. "Gue sengaja beli dua. Biar kita kapelan," lanjutnya.
"Tapi gue gak mau," tolak Raksa.
"Lo harus mau!"
"Gue bilang, enggak."
Senja meraih tangan Raksa. Senja Meletakan gelang itu di telapak tangan lebar Raksa dan menutupnya agar benda itu diterima.
Namun seperkian detik, Raksa mengangkat tangannya ke udara hingga benda itu terjatuh ke lantai, dan selanjutnya cowok itu berlalu dari hadapan Senja yang tiba-tiba terdiam.
Hati Senja mencelos melihat gelang yang sekarang tergeletak di lantai. Sakit, itu yang ia rasakan di hatinya sekarang. Apakah sesulit itu Raksa menerima pemberian dari Senja?
Setelah mengambil gelang itu dari lantai, Senja berbalik. Ia memperhatikan punggung Raksa yang perlahan-lahan menjauh.
"Gue bisa bertahan hanya dengan liat punggung lo, Sa. Kalo lo keberatan buat suka sama gue, maka lo harus bahagia buat gue."
***
"Ter, cewek yang waktu lo temuin itu siapa? Gue liat-liat lo sering bareng sama dia?" Pandu, teman Aster bertanya ketika mereka tengah duduk di pinggir lapangan basket.
"Gak biasanya lo deket sama adik kelas, Ter," timpal Noah.
"Gak sengaja deket gue sama dia," jawab Aster.
"Eh bentar. Bukannya dia adiknya Vano ya?" tanya Pandu.
Aster mengangguk. Memang benar, Senja adalah adik Vano, temannya. Ia sudah mengetahui itu sejak lama.
"Kok lo tau dia adiknya Vano, Ndu?" tanya Noah.
"Waktu itu gue pernah liat dia di rumah Vano," jawab Pandu.
Noah manggut-manggut mengerti. "Kebetulan gue tadi liat Senja," ujarnya.
Pandu dan Aster menoleh.
"Dia pucet banget mukanya. Buru-buru masuk ke toilet. Sakit kali ya?" lanjut Noah.
Aster yang awalnya duduk, tiba-tiba bangkit. Dengan langkah cepat ia meninggalkan Pandu dan Noah yang sempat memanggilnya dan menatapnya heran.
"Kan, gue bilang apa? Dia pasti suka sama tuh cewek," celetuk Noah.
Pandu mangangguk, ia menghela napas pasrah karena sudah kalah taruhan dengan Noah.
"Mana duit lo?" pinta Noah
Terpaksa Pandu harus memberikan uang berwarna merah muda ke temannya itu dengan berat hati.
Aster pergi ke tempat yang Noah sebutkan tadi. Ia sempat terdiam di depan toilet wanita, hingga akhirnya keluarlah Senja dengan wajah yang basah dan memakai baju olahraga.
Senja yang melihat keberadaan Aster lantas keheranan. Ia mengerutkan keningnya. "Ngapain lo berdiri di depan toilet cewek?"
Aster tidak menjawab, ia memperhatikan wajah Senja yang sama sekali tidak pucat. Apakah ia sedang dibodohi oleh temannya?
"Gu-gue cuma lewat dan gak tau kenapa gue berdiri di sini," gagapnya.
Senja menatapnya dengan penuh selidik. "Lo mau ngintip ya?"
"Bukan!" elak Aster dengan cepat.
"Ngaku!"
Pletak!
"Awwhh!" ringis Senja ketika keningnya disentil oleh Aster.
"Sakit dodol!" dumelnya.
"Makanya jangan nuduh yang engga-engga. Bisa jatoh harga diri gue kalo ada yang denger," omel Aster.
Senja berdecak kesal. "Ya terus lo ngapain di sini?"
"Gue cuma lewat."
Senja mengangguk. "Kalo gitu gue pergi dulu."
Senja hendak pergi, tapi rambutnya yang dikuncir ditarik oleh Aster.
"Aakhh- Woy, rambut gue!" jerit Senja.
"Lap dulu muka lo," titah Aster yang tiba-tiba memberikannya sapu tangan.
Senja menerima sapu tangan itu dan menggunakannya untuk mengeringkan wajahnya. "Makasih."
"Yaudah, sapu tangannya buat lo aja," balas Aster sebelum berlalu meninggalkan Senja.
Senja tersenyum simpul melihat kepergian Aster. Apakah cowok itu memperdulikannya? Jika iya, maka Senja akan bersyukur. Ternyata ia mempunyai orang yang peduli.
"Senja!" panggil Elijah.
Senja menoleh.
"Ihh, gue cariin juga. Ternyata lo di sini?" dumel Elijah.
"Gue'kan udah bilang kalo gue pergi ke toilet. Telinga lo aja yang gak denger!" balas Senja.
Elijah nyengir akibat kesalahannya. "Yaudah ayo balik lagi ke lapang!" ajaknya.
Elijah menggaet lengan Senja. Namun, saat mereka hendak pergi ke lapang, Alga dan Ervin tiba-tiba muncul.
"Hai, Ijah?" sapa Ervin dengan wajah genitnya.
Elijah memandangnya tidak suka. Apalagi melihat keberadaan Alga membuatnya semakin kesal saja.
"Ngapain lu berdua kesini?" tanya Senja.
"Kita gak ngapa-ngapain," jawab Alga.
"Eh, Ja. Katanya lo mau bantuin gue? Mana? Sampe sekarang kok belum juga ada hilal," lanjutnya.
"Senja udah bilang sama gue. Lo mau balikan sama gue'kan?" sela Elijah.
Senja mengiyakan ucapan Elijah dengan mengangguk.
"Jawaban gue, GAK-MAU!" tekan Elijah.
Alga mendesah kecewa. "Kok gak mau sih, Jah?"
"Gak ada alasan. Pokoknya gue gak mau!"
"Tapi'kan-"
"Oh ya! Jangan kirim gue pesan buat nyuruh makan. Percuma kalo lo gak nyuruh gue minum. Bikin seret tau gak?" cela Elijah sebelum pergi dan menarik lengan Senja untuk meninggalkan kedua cowok itu.
Kini Alga menekuk wajahnya dengan muka masam. Malu bukan main menerima penolakan Elijah secara terang-terangan.
Sementara Ervin, ia sudah tak kuasa menahan tawanya melihat itu semua. "Parah anjir! Tuh cewek emang top!" pujinya.
"Puas lo ketawain gue?" kesal Alga yang langsung meninggalkan Ervin di sana.
"Tungguin gue, b**o!"
***
Raksa berjalan menuju parkiran. Ia hendak memasuki mobilnya, tapi pergerakannya terhenti ketika melihat Senja yang tengah dibentak-bentak oleh seseorang.
Padahal sekolah sudah sepi. Tapi kenapa cewek itu masih di sini? Apa mungkin dia menunggu Raksa?
"GUE BILANG JANGAN DEKATI DIA! LO b**o APA GIMANA?" Teriakan itu sampai terdengar oleh Raksa.
Senja hanya menunduk tak berani menjawab.
"JANGAN PULANG KE RUMAH! ITU HUKUMAN BUAT LO KARENA GAK PERNAH DENGERIN OMONGAN GUE!"
Itu teriakan terakhir untuk Senja karena setelahnya, cewek yang membentak Senja berlalu dan menaiki taksi di depannya.
Senja menatap kepergian cewek itu. Begitu taksi itu hilang dari pandangannya, mata sayunya tiba-tiba bertemu dengan Raksa.
Wajah Senja yang awalnya terlihat murung, seketika berbinar karena ada Raksa. Senja hanya tersenyum dari tempatnya.
Raksa pun masih tetap di tempatnya. Ia mengharapkan cewek itu datang dan menghampirinya. Namun, ia cukup kaget ketika Senja berlalu begitu saja setelah melambaikan tangannya.
Ada yang aneh. Tidak biasanya Senja seperti itu. Di manapun Senja berada, ia pasti akan antusias melihat wujud Raksa. Tapi nyatanya sekarang Senja agak berbeda.
Raksa tak lagi memperdulikan Senja. Ia masuk ke dalam mobilnya dan pulang dengan pikirannya yang tidak tertata rapi.
Sementara itu, Senja berjalan menyusuri jalanan trotoar. Hari sudah mulia gelap. Ia ingin menaiki angkutan umum, tapi uangnya hanya tinggal sedikit. Senja memikirkan hari besok. Jika uangnya habis hari ini, besok ia tidak bisa jajan di kantin.
Pulang dengan jalan kaki mungkin akan membuatnya kelelahan, tapi itu lebih baik dari pada besok ia kelaparan.
Selama beberapa hari ini, Senja tak kunjung di beri uang jajan oleh ayahnya. Sudah sering Senja tidak diberi uang jajan. Oleh karena itu, ia benar-benar harus menghemat uangnya.
"Apa gue kerja paruh waktu aja ya?" gumamnya.
Matanya tertuju pada seseorang yang membagikan selebaran kertas promosi. Dia tiba-tiba berpikir untuk bekerja seperti itu. "Apa gue kerja kayak gitu aja kali ya?"
Dengan langkah pasti. Senja memasuki kedai yang berada di selebaran kertas promosi itu. Kebetulan sekali, saat ia masuk, ada seorang lelaki yang berpakaian rapi. Dapat Senja ketahui bahwa lelaki itu adalah manajer di kedai ini.
"Permisi," sapa Senja.
Lelaki paruh baya itu menoleh. "Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya ramah.
"Apa di sini tersedia lowongan pekerjaan untuk seorang pelajar?"
Lelaki itu sempat terdiam sebentar sebelum akhirnya menjawab. "Ada."
Mata Senja langsung berbinar.
"Kamu bisa bekerja di sini. Kebetulan sekali ada pegawai yang baru saja mengundurkan diri," ucap lelaki paruh baya itu.
"Kamu bisa bekerja dari jam tiga sore sampai jam sembilan malam. Dan kamu juga bisa mulai bekerja besok."
Senja mengangguk dengan antusias. "Terima kasih, Pak!"
"Saya mengharapkan kerja keras kamu."
Lagi-lagu Senja mengangguk sebelum akhirnya ia pamit untuk pulang.
"Yesss! Gue bisa dapet uang di sini!" serunya kesengangan saat ia sudah di luar kedai tersebut.
Di tempat yang agak jauh dari tempat Senja berada, seseorang di dalam mobil tengah memperhatikan dengan senyum simpul di bibirnya.
Entah sejak kapan ia mulai menyukai senyum ceria yang selalu Senja perlihatkan. Yang pasti, senyuman itu mampu membuatnya ikut tersenyum meski terlihat samar.
"Buat hati gue bergetar, Ja."