9. Kerja Paruh Waktu

1777 Kata
Senja mengusap batu nisan yang bertuliskan nama Mentari Maharani Maheswara. Dia adalah adiknya yang selama ini Senja rindukan. Sudah sejak lama dia tidak mengunjungi makam Mentari. Rindu terus menguak di dalam hatinya, hingga tak tertahan. "Maaf kakak baru berkunjung, Dek," ucapnya. Senja menatap batu nisan itu dengan sendu. Jika saja dulu dia tidak lalai memperhatikan Mentari, pasti adiknya itu masih hidup. Kepergian Mentari menjadi boomerang untuk Senja sendiri. Semua orang membencinya karena dia tidak sengaja membunuh orang yang mereka banggakan. Sedikit cerita tentang Mentari. Dia adalah gadis yang penurut, tidak sama sekali dia membantah ucapan orang tuanya. Dia juga anak yang pintar di sekolahnya, padahal umurnya waktu itu masih 10 tahun, tapi dia sudah mengikuti banyak ke juaraan. Kehilangan Mentari membuat dunia Senja menjadi gelap. Namanya saja Mentari, jika pergi tentu saja seperti tak ada cahaya. Senja tak kuasa menahan air matanya ketika mengingat senyuman ceria di wajah Mentari. Waktu telah begitu lama berlalu, tapi seperti baru kemarin dia melihat adiknya itu tidur di sampingnya. "Kakak kangen sama kamu, Dek," ucap Senja di tengah isakannya. "Hidup kakak berat. Rasanya di sini begitu menyesakkan. Kakak gak bisa lagi nahan semua ini, semua orang masih membenci kakak, Dek." Senja meluapkan apa yang selama ini dia rasakan. Hanya di sini dia bisa begitu. Karena tak ada tempatnya untuk menumpahkan semua isi hatinya selain di makam ini. "Kakak harap, kamu maafin kakak." Senja menghapus air matanya. Dia tidak boleh menangis di depan adiknya itu. Setelah meluapkan isi hatinya, dia menceritakan tentang seseorang yang selama ini dikaguminya. Siapa lagi jika bukan Raksa. Senja terlalu antusias bercerita hingga dia baru saar tersadar, bahwa dia harus pergi bekerja paruh waktu karena sekarang jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore. Senja pamit pada Mentari. Dia harus pergi saat ini juga, jika tidak dirinya akan terlambat di hari pertama bekerja. Saat sampai di Kedai, suasana begitu ramai. Dia langsung pergi ke tempat ganti pakaian untuk mengganti seragamnya dengan baju pegawai kedai itu. "Kamu pegawai baru'kan?" tanya seorang perempuan yang lebih tua darinya. Senja mengangguk dengan ramah. "Iya, mbak." "Kenalin, nama saya Kania. Pak Ringgo suruh saya bimbing kamu." Senja membalas jabatan tangan Kania. "Senja, Mbak." "Oke kalo gitu, kamu bisa nyuci piring, terus buang sampah yang udah numpuk. Lalu bantu saya anter pesanan, ya?" Senja mengangguk patuh. Dia melaksanakan apa yang tadi Kania sebutkan. Setelah semua selesai dia kerjakan. Dia membantu seniornya itu untuk mengantarkan pesanan. "Kamu anter ini ke meja nomor tiga ya?" pinta Kania. Senja mengangguk. Dia kini menyangga nampan yang berisi beberapa minuman dan mengantarkan ke meja yang Kania sebutkan. "Loh? Senja?" Senja menoleh. Dia terkejut, ternyata yang pesan minuman itu adalah Aster dan beberapa temannya. Di sana juga nampaknya ada Vano dan Vania. Senja menghiraukan Aster. Dia fokus kembali menyajikan pesanan mereka di meja. Dan itu jelas membuat Aster heran. Vania yang tengah duduk di samping Vano, memandangnya tidak suka. Senja semakin segan untuk berbincang dengan Aster ketika melihat tatapan kakaknya itu. Setelah selesai menyajikan pesanan, Senja membungkuk kecil hingga akhirnya dia meninggalkan tempat itu. "Kenapa Senja kerja di sini, No? Dia'kan adik lo, bukannya keluarga kalian kaya?" tanya Pandu. Vano tak mengindahkan pertanyaan Pandu. Ia terus memperhatikan pergerakan Senja. Sama halnya dengan Aster. "Kenapa lo gak nyapa dia, No?" Kali ini Noah yang bertanya. Vania berdecak kesal. "Banyak bacot banget sih kalian!" "Lo juga, Nia. Kenapa gak nyapa dia? Bukannya Senja adik kalian ya?" Pertanyaan yang keluar dari Noah membuat Aster mengalihkan perhatiannya pada Vania. Cowok itu merasakan ada yang aneh di antara mereka. Tak sepatutnya adik-kakak bersikap tak saling mengenal, kecuali jika ada sesuatu di dalamnya. Sementara di meja lain, Raksa tengah duduk memperhatikan pergerakan Senja. Entah apa yang membuatnya memasuki tempat ini. Ia benar-benar reflek. Untung saja Alga dan Ervin mau menemaninya di sini. "Jadi... kenapa lo undang kita berdua ke tempat ini?" Pertanyaan Ervin membuat Raksa mengalihkan fokusnya. "Kita santai-santai aja di sini," jawabnya. Alga mengerutkan keningnya heran. Tidak biasanya Raksa mengajak mereka untuk bersantai-santai seperti ini. "Sumpah, Sa. Lu kenapa sih? Aneh banget." "Ada Senja di sini ternyata," tunjuk Ervin dengan dagu kearah Senja, posisinya di samping Raksa. Alga yang berada di depan mereka langsung berbalik ke belakang. Ia manggut-manggut paham. Jadi ini alasan Raksa tiba-tiba datang ke Kedai. Alga memasang senyum penuh arti. "Jangan-jangan lo udah mulai tertarik sama Senja, iya'kan?" tebaknya. "Gak mungkin. Gue ke sini cuma mau duduk aja," elak Raksa. Alga dan Ervin saling tatap. Aneh dengan sikap Raksa akhir-akhir ini. Siapapun pasti tahu temannya itu menyimpan hati untuk Senja, meskipun perasaan itu sedikit. Setidaknya ada. Senja menghampiri meja mereka dengan ekspresi kagetnya. "Wah, lo di sini, Sa?" "Kalo lo ganggu, gue bakalan pergi dari sini," ucap Raksa tak berperasaan. Senja mendesah kecewa. "Sayang banget, gue gak bisa ganggu lo, Sa. Gue lagi kerja." "Ngapain lu kerja di sini, Ja?" tanya Alga. "Nyari uanglah, masa nyari jodoh. Kan jodoh gue Raksa," jawab Senja yang masih memperhatikan Raksa dengan terang-terangan. "Pede banget lo jadi cewek," sahut Ervin. Senja tersenyum angkuh. "Liat aja, nanti Raksa bakalan jadi pacar gue." "Oke, gue liatin," balas Ervin. "Oh ya. Kalian mau pesan apa?" kilah Senja. Mereka menyebutkan satu persatu pesanannya. Dengan sigap Senja mencatat pesanan mereka. Selesai dengan urusannya, ia berlalu dari meja itu. *** Hari sudah mulai larut malam. Senja baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ternyata mencari uang itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Cukup melelahkan ketika Senja harus mondar-mandir mengantarkan pesanan setiap pelanggan. Tepat saat Senja keluar dari kedai, hujan turun dengan begitu derasnya. Dia tidak mau jika memaksakan diri untuk menembus hujan. Senja tidak sekuat itu. Jadi, dia akan berteduh di depan kedai sampai hujan mereda. Tatapan Senja tertuju pada setiap rintik hujan yang turun. Rasanya begitu menenangkan. Bahkan dia sampai terhanyut dengan suara hujan yang menghibur telinganya, sehingga tidak sadar di sampingnya kini berdiri seorang yang selama ini ia kagumi. "Kenapa lo gak nunggu di dalam kedai?" Senja agak tersentak mendengar pertanyaan itu. Saat menoleh, ia membeo, "Raksa?" "Kenapa?" Senja tersenyum kesenangan. "Gue gak pernah nyangka sebelumnya kalo kita bakalan neduh bareng." "Gue gak sengaja lewat." "Lo gak bawa mobil?" "Mobil gue di bengkel." Senja manggut-manggut. "Gimana kalo kita main hujan?" usulnya. Raksa mendengus. "Gue bukan bocah." "Emang ada larangan buat orang dewasa main hujan?" "Tapi itu yang sering dilakuin anak kecil." Senja tersenyum jahil, hingga Raksa menatapnya heran. Dengan spontan Senja mendorong tubuh jangkung itu ke tengah hujan. "JA!" sentak Raksa yang kini sudah dibasahi air hujan. Bukannya takut, Senja malah tertawa karena ulahnya sendiri. "Gimana? Asik gak?" Raksa mendelik tajam. "Gak adil!" ucapnya sebelum akhirnya ia juga menarik Senja ke tengah hujan. "Aaakhh!" jerit Senja. "SA, LO BUAT BAJU GUE JADI BASAH!" "GUE JUGA BASAH! GAK ADIL KALO BAJU LO KERING!" Senja tertawa kesenangan. Dia menari-nari di tengah hujan. Merasakan setiap tetesan air yang jatuh di wajahnya. Tak peduli dengan kondisinya nanti, yang penting ia bisa bersenang-senang dengan Raksa. Raksa terpaku melihat senyuman Senja. Tak pernah ia temukan senyuman seindah itu di dunia ini sebelumnya. Kenapa baru sekarang dirinya menyadari kalo Senja itu manis? "SA! TAS LO BASAH! GAK PAPA EMANG KALO SOAL-SOAL MATEMATIKA KESAYANGAN LO KEBASAHAN?" sindir Senja. "TAS GUE ANTI AIR!" "KALO GITU AYO KITA NEDUH DI TEMPAT LAIN!" Senja langsung menarik tangan Raksa untuk berlari menembus hujan. Sesekali Senja menoleh pada Raksa. Tak pernah senyum itu lepas dari bibirnya. Sehingga Raksa bingung, terbuat dari apa wajah cewek itu sampai bisa tersenyum semanis tadi. Mereka akhirnya menemukan tempat untuk berteduh lagi. Lebih tepatnya di halte bus. "Gimana, Sa? Seru'kan?" tanya Senja. Raksa tak menjawab, ia menepis air yang bersarang di tubuhnya hanya untuk melakukan hal yang sia-sia karena bajunya sudah basah semua. Dengan seenaknya Senja mengusap dahi Raksa yang bercucuran air. "Lo kedinginan ya, Sa?" Raksa langsung menepisnya. "Apaan sih lo?" desisnya. Senja terperangah dengan perlakuan cowok itu. "Gue cuma bantu lap air di dahi lo." "Gue bisa sendiri." Senja mengangguk. Lagi-lagi dirinya merasa tertolak. Apakah ia terlalu percaya diri bahwa Raksa memiliki perasaan padanya? Jika iya, dia akan menepis perasaan itu. "Sa? Gak bisa ya lo buka hati buat gue?" tanya Senja tiba-tiba. "Gue gak tertarik sama cewek kayak lo," jawab Raksa lugas, namun mampu membuat hati Senja tertusuk. "Meskipun gue bukan kriteria cewek idaman lo, gue akan tetap mencintai lo, Sa." "Terserah. Mencintai seseorang itu hak semua manusia." "Gak papa. Lo gak perlu balas perasaan gue, gue cuma pengen liat lo bahagia, itu aja udah cukup," ungkap Senja, "Apa yang lo bilang emang bener, mencintai seseorang itu adalah hak. Tidak menerima balasan adalah konsekuensinya. Dan... itu konsekuensi yang gue dapatkan sekarang." Raksa terdiam. Ia merasa aneh saat hatinya seolah teriris ketika mendengarkan penuturan Senja. Apakah ia mulai menyukai cewek pengganggu itu? Jika iya, kenapa baru sekarang? Dan kenapa perasaan ini kerap kali membuatnya bingung. "Mulai sekarang, lo berhak untuk deket sama siapapun. Jangan perdulikan gue, Sa. Anggap gue gak ada jika keberadaan gue menganggu. Tapi gue mohon, jangan pernah suruh gue untuk pergi dan berhenti suka sama lo," tutur Senja. "Gak perlu lo suruh pun, kalo gue mau dan kalo udah waktunya, gue bakalan pergi dan berhenti tanpa lo minta." Raksa tak berkutip di tempatnya. Lagi-lagi hatinya tertohok. Jujur saja, setiap kalimat yang Senja lontarkan, membuat hatinya terasa ngilu. Senja dan Raksa kini sama-sama diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Kecangguan juga terjadi di antara mereka, sampai hujan mereda. Namun, bukan Senja namanya jika tahan dengan keadaan seperti ini. "Sa, kita sekarang pulang naik apa ya?" tanya Senja tiba-tiba. "Naik taksi aja. Lo bisa pulang bareng gue," jawab Raksa. Senja menggeleng. "Gue jalan kaki aja deh. Lagian kalo naik taksi ongkosnya pasti mahal," tolaknya. "Bahaya kalo lo pulang sendirian. Gue yang bayar," sergah Raksa. Tanpa menunggu jawaban Senja, ia sudah menghentikan taksi yang kebetulan lewat. "Masuk," suruh Raksa, membukakan pintu mobil untuk Senja. Senja menggeleng lagi. "Lo aja, Sa. Gue gak mau ngerepotin lo." "Ck! Sejak kapan lo jadi sungkan kayak gini?" decak Raksa yang langsung menarik paksa Senja agar masuk ke dalam taksi. Setelah mereka masuk dan duduk dengan nyaman, Mobil mulai melaju dengan tenang di tengah basahnya aspal bekas hujan. Senja menggigil kedinginan. Dia lupa, tubuhnya sekarang tak sekuat itu untuk hujan-hujanan seperti tadi. Kenapa juga ia harus memaksakan diri? Raksa yang menyadari hal itu langsung mengeluarkan hoodie dari dalam tasnya. Ia sampirkan di tubuh Senja. Senja yang tengah terpejam seketika membuka matanya, ia melirik Raksa dengan tatapan bertanya. "Gak usah sok-sok-an kuat," ketus Raksa. Senja yang mendengar itu lantas tersenyum. Perlakuan Raksa saat ini mungkin hal yang kecil. Namun, mampu membuat Senja yakin bahwa Raksa mengkhawatirkannya. "Lo tau rumah gue, Sa. Kalo udah sampai, bangunin gue ya?" pinta Senja yang sudah menaruh kepalanya di pundak Raksa. Raksa sama sekali tak menolak. Setelah melihat Senja sudah terlelap, ia berkata dengan pelan, "Omongan lo tadi buat gue sakit hati."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN